Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Menakutkan

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Emma bangun terlambat.

Cahaya matahari sudah memenuhi kamar ketika matanya perlahan terbuka.

Emma mengerjapkan mata.

Kepalanya terasa berat.

Semalam ia terlalu banyak berpikir.

Tentang percakapannya dengan Ella.

Tentang Ralph yang mendengar sebagian pembicaraan mereka.

Tentang apakah pria itu benar-benar tidak memahami maksudnya...

Atau sebenarnya hanya berpura-pura tidak tahu.

Pikiran itu terus berputar sampai larut malam.

Akibatnya, pagi ini ia benar-benar kehilangan kebiasaan bangun tepat waktu.

Emma menguap lalu merenggangkan tubuh.

Rambut pirangnya berantakan di atas bantal.

Baju tidur sutra yang dikenakannya juga sedikit kusut akibat tidur.

Ia masih setengah sadar ketika tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di sudut kamar.

Emma membeku.

Seorang pria duduk di sofa.

Ralph.

Sudah berpakaian rapi dengan setelan kerja lengkap.

Seolah telah duduk di sana cukup lama.

Emma hampir melompat dari tempat tidur.

"Ralph?!"

Pria itu mengangkat wajah dari ponselnya.

"Pagi putri tidur."

"Pagi apanya?!"

Emma buru-buru menarik selimut lebih tinggi.

"Kenapa kau ada di kamar?"

Ralph melihat jam tangannya.

"Karena kau belum bangun."

"Itu bukan alasan untuk masuk tanpa izin!"

Emma segera merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan.

Ralph justru terlihat tenang.

"Aku mengetuk."

Emma berhenti.

"Aku tidak percaya."

"Beberapa kali."

"Aku tidak dengar."

"Itulah masalahnya."

Ralph menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Pelayan sudah mencoba membangunkanmu beberapa kali."

Emma terdiam.

"Mereka bilang kau tidak menjawab."

Ralph melanjutkan,

"Aku mengira kau sedang sakit."

Emma menatapnya tajam.

"Dan karena itu kau masuk?"

"Aku punya kunci cadangan."

Jawabannya begitu tenang sampai Emma tidak bisa langsung membantah.

Ralph berdiri.

"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."

Emma mendengus.

"Aku baik-baik saja."

"Aku sudah tahu."

Ralph meliriknya dari atas ke bawah.

Tatapannya berhenti sepersekian detik lebih lama sebelum akhirnya kembali ke wajah Emma.

Emma menyadarinya.

Wajahnya langsung memanas.

Ia buru-buru menarik selimut dan merapikan bagian atas baju tidurnya.

"Jangan melihat seperti itu."

Ralph mengangkat alis.

"Aku hanya memastikan kau tidak demam."

"Matamu tidak terlihat seperti sedang memeriksa demam."

Ralph tersenyum tipis.

"Sepertinya kau sudah cukup sehat untuk bertengkar pagi-pagi."

Emma memelototinya.

"Menyebalkan."

"Aku akan menganggap itu tanda kau baik-baik saja."

Ralph mengambil jasnya yang terletak di sandaran sofa.

"Aku harus ke kantor sekarang juga."

Emma menatapnya.

"Baguslah lebih cepat lebih baik."

Ralph berhenti di depan pintu.

"Jangan lupa sarapan."

Emma hampir membalas ketus.

Namun Ralph sudah membuka pintu.

"Oh, satu lagi."

Ia menoleh.

"Kalau lain kali kau tidak bangun setelah dipanggil berkali-kali..."

Ralph mengangkat kunci cadangan di tangannya.

"...aku akan tetap masuk karena kau adalah istriku dan aku berhak memeriksa keadaanmu."

Emma langsung mengerutkan kening.

"Jangan biasakan!"

Ralph hanya tersenyum.

"Pintu kamarmu juga jangan dikunci kalau kau memang tidak ingin aku mendobraknya."

"Aku tidak pernah memintamu masuk!"

Ralph tertawa kecil.

Kemudian pergi.

Pintu tertutup.

Emma terdiam di tempat tidur.

Ia menatap pintu itu dengan wajah kesal.

"Sungguh pria aneh."

Ia menarik napas panjang.

"Lima tahun tidak peduli pada istrimu Ella, sekarang malah mengkhawatirkan orang asing."

Emma kemudian menjatuhkan wajahnya ke bantal.

Namun beberapa detik kemudian ia kembali teringat tatapan Ralph tadi.

Wajahnya memerah.

"Dan menyebalkan."

Ia segera bangkit dari tempat tidur.

Hari baru bahkan belum benar-benar dimulai...

Tetapi Ralph sudah berhasil membuat paginya berantakan.

Ralph berjalan meninggalkan kamar Emma.

Langkahnya tenang melewati lorong panjang Alexander Manor menuju tangga utama.

Baru beberapa langkah sebelum mencapai pintu depan, ponselnya berdering.

Ralph melihat layar.

Nama Andrea muncul.

Ia mengangkatnya sambil terus berjalan.

"Ya?"

Suara di seberang terdengar pelan.

"Ralph..."

"Ada apa?"

Andrea menarik napas.

"Jangan lupa hari Sabtu."

Ralph terdiam sejenak.

"Tentu saja aku akan datang Andrea."

"Acara ulang tahun Lauren kita yang tersayang."

Nada suara Andrea mulai bergetar.

"Ini ulang tahunnya yang ke sekian sejak dia pergi meninggalkan kita semua. Aku tahu kau pasti sangat merindukan kakak ku."

Ralph menatap lurus ke depan.

Ia masih ingat.

Ia memang sudah berjanji akan datang.

dan untuk menjaga kenangan tentang wanita itu pernah menjadi bagian besar dalam hidupnya.

"Aku akan datang."

Andrea terdiam beberapa detik.

Kemudian suaranya mulai terdengar seperti menahan tangis.

"Aku merindukannya Ralph. Kenapa gadis sebaik dan secantik Lauren sangat cepat pergi."

Ralph tidak menjawab.

"Kadang aku masih berharap dia membuka pintu kamar dan memanggilku seperti dulu."

Suara Andrea bergetar.

"Aku benar-benar ingin dia masih ada."

Ralph mengembuskan napas panjang.

"Aku tahu Andrea."

"Kalau kau datang Sabtu nanti..."

Andrea berhenti.

"Aku akan merasa seperti dia masih bersama kita."

Ralph tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia tahu Andrea sedang berduka.

Dan ia juga tahu gadis itu sangat menyayangi kakaknya.

Namun tanpa sadar, pikirannya justru melayang pada kejadian beberapa menit lalu.

Emma.

Rambutnya yang berantakan.

Wajah tanpa riasan.

Mata yang masih mengantuk ketika menyadari keberadaannya.

Bahkan caranya panik menarik selimut karena merasa dirinya sedang diperhatikan.

Ralph tersenyum kecil.

Tanpa makeup pun...

Emma terlihat cantik.

Bukan sekadar cantik.

Ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu akhir-akhir ini.

Sesuatu yang membuat perhatiannya terus tertarik kepadanya.

Ia tidak pernah menyangka setelah hampir lima tahun pernikahan tanpa kedekatan berarti...

justru perubahan kecil pada istrinya bisa membuat dirinya semakin sulit mengalihkan pandangan.

"Ralph? Apa kau masih mendengar ku?"

Suara Andrea membuatnya kembali sadar.

"Ya?"

"Kau masih di sana?"

"Ya. Aku masih mendengar mu."

"Aku hanya ingin memastikan kau benar-benar datang karena kau adalah pria yang sangat sibuk jadi aku mau memastikan kau hadir."

"Aku sudah berjanji."

Andrea menghela napas lega.

"Terima kasih."

Panggilan berakhir.

Ralph memasukkan ponselnya ke saku.

Ia berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya di depan.

Namun senyum tipis masih tertinggal di wajahnya.

Lauren tetap memiliki tempat dalam kenangannya.

Ia tidak menyangkal itu.

Tetapi anehnya...

akhir-akhir ini, setiap kali pikirannya kosong, wajah yang muncul justru wajah istrinya sendiri.

Ralph membuka pintu mobil.

Sebelum masuk, ia sempat menoleh ke arah jendela lantai atas.

Kamar Emma.

"Sepertinya aku benar-benar mulai kehilangan kendali dengan mu Ella."

Ia tersenyum tipis.

Bukan karena wanita lain.

Melainkan karena istrinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...

Ralph mulai menyadari bahwa rasa tertarik itu telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ia mulai menginginkan perhatian wanita itu.

Mulai menikmati setiap perdebatan mereka.

Mulai mencari alasan untuk berada di dekatnya.

Dan yang paling berbahaya...

Ia mulai tidak menyukai bayangan bahwa suatu hari wanita itu mungkin bosan dengan nya dan benar-benar pergi darinya.

1
RAYA
🤭🤭🤭
putmelyana
awwww gak suka bgt baca chapter yg ini😍
RAYA
makasi🤗🤗
putmelyana
semangat thor
RAYA
butuh kipas kayaknya🤭🤭
putmelyana
kiw kiw ada yg panas niyeeee🤣
RAYA
terima kasih kak🤗🤗 tungguin next nya ya
putmelyana
next Thor ceritanya bagus bgt 😍
putmelyana
next Thor ceritanya
RAYA: ditunggu ya🤗🤗
total 1 replies
putmelyana
next Thor ceritanya makin seruuuuu
putmelyana
dihhh gak tau mau
putmelyana
woilah cerita paling aku sukai update trus thor😍
RAYA: makasi kk🤗🤗
total 1 replies
RAYA
🤭🤭🤭
Sriza Juniarti
jadi deg deg an....
Sriza Juniarti
lanjut kk..seruuu
RAYA: ditunggu ya kak 🤗🤗
total 1 replies
RAYA
ditunggu ya kak makasi udah setia membaca cerita nya😍😍
putmelyana
update setiap hari Thor
RAYA
pasti kk terima kasih sudah terus ngikutin🙏🙏
putmelyana
up setiap hari Thor
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!