Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desakan Orang Tua
Ia tidak akan sudi menerima tawaran pernikahan Alvaro yang berlandaskan rasa bersalah dan kesombongan kasta. Ia tahu persis apa yang akan terjadi jika seorang gadis miskin seperti dirinya masuk ke dalam lingkaran keluarga konglomerat itu dimana ia hanya akan menjadi objek hinaan, simpanan yang dilegalisasi, atau cangkang kosong dalam permainan kekuasaan orang kaya.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu, Pak Alvaro." bisik Hana tegas, jemarinya meremas tepi kartu nama emas itu sebelum meletakkannya kembali ke dalam saku jas bersama seluruh uangnya tanpa menyentuh satu lembar pun.
"Aku mungkin miskin, tapi aku tidak akan membiarkanmu membeli sisa hidupku." serunya lagi.
Hana melangkah menuju lemari kayu lamanya, mengambil sebuah tas ransel lusuh yang dulu sering ia gunakan saat masih kuliah.
Dengan jemari yang mantap dan kepasrahan yang mendalam, ia mulai memasukkan beberapa helai pakaian, ijazah SMA, surat nikah orang tuanya, dan sisa tabungan kecilnya yang tak seberapa.
Di dalam rumah tua ini, di antara bayangan orang tuanya yang telah tiada dan ingatan kelam tentang malam berdarah itu, Hana mengambil keputusan terberat dalam hidupnya.
Ia harus pergi dari kota ini dimana jauh sebelum Alvaro Adhitama menemukannya kembali dan menyeretnya ke dalam neraka yang baru.
...****************...
Mobil sedan hitam mewah beratap baja melaju pelan menembus gerbang besi tempa menjulang tinggi di kawasan perumahan elite. Deretan lampu taman bergaya klasik menyinari halaman luas berumput hijau yang terawat sempurna.
Namun, bagi Alvaro, setiap jengkal kemewahan rumah kediaman utama keluarga Adhitama malam ini terasa tak ubahnya seperti penjara yang menyesakkan dada.
Ia menghentikan mesin mobil, mematikan lampu utama, lalu menyandarkan kepalanya ke kemudi leather hitamnya. Alvaro memejamkan mata rapat-rapat.
Sakit kepala hebat yang menghantamnya sejak pagi belum juga surut, malah makin menjadi-jadi saat ingatan tentang sepasang mata sembap yang dipenuhi ketakutan murni berkelebat di benaknya.
Hana.
Nama itu terus berputar di otaknya bagaikan kait besi yang mencengkeram jiwanya. Perasaan bersalah, muak pada diri sendiri, dan rasa frustrasi melingkupi dadanya.
Sepanjang hari ia mengerahkan orang-orang terpercaya untuk mencari keberadaan gadis itu setelah ia melangkah keluar dari ruangan CEO dengan tubuh gemetar dan jas hitamnya. Namun, laporan yang diterimanya hingga malam ini nihil dimana kontrakan sempit gadis itu kosong, dan Hana seolah-olah lenyap ditelan bumi.
Alvaro menarik napas panjang, merapikan kemeja barunya yang kaku, lalu melangkah keluar dari mobil. Setiap langkah kakinya terasa berat saat menaiki tangga marmer menuju pintu utama rumah megah tersebut.
Baru saja pintu kayu jati berukir di hadapannya terbuka, aroma harum bunga melati dan masakan mahal langsung menyergap indra penciumannya. Dan berdiri di tengah ruang tamu yang megah, menunggunya dengan senyum lebar yang terukir anggun, adalah sang ibu yaitu Nyonya Kirana Adhitama.
"Alvaro! Akhirnya kamu pulang juga, Nak." panggil Kirana hangat, melangkah mendekat sambil mengamati putra tunggalnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa wajahmu pucat sekali? Kamu terlihat sangat lelah. Apa pekerjaan di kantor semalam begitu menumpuk?" tanya sang mama dengan khawatir.
Alvaro memaksakan sebuah senyum tipis, menyalami dan mencium tangan ibunya dengan penuh hormat.
"Biasa, Ma. Ada beberapa dokumen proyek baru yang harus selesai sebelum rapat direksi besok." ucap Alvaro dengan alasan yang begitu klasik.
"Pekerjaan lagi, pekerjaan lagi." keluh Kirana seraya menggelengkan kepala, lalu merangkul lengan kekar putranya dan menuntutnya berjalan menuju ruang keluarga yang luas.
"Kamu ini sudah tiga puluh dua tahun, Varo. Uang sudah tidak habis tujuh turunan, perusahaan sudah meraksasa di mana-mana. Apa lagi yang kamu cari, Hm?" ujar mama Kirana heran dengan sang anak.
Alvaro menghela napas pendek. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
"Ma, Varo baru saja pulang. Varo mau membersihkan diri dulu di atas..." pamit Alvaro.
"Tunggu sebentar, Nak," potong sebuah suara berat dan berwibawa dari arah sofa kulit besar di tengah ruangan.
Seorang pria paruh baya berambut perak terawat rapi, mengenakan pakaian santai namun tetap memancarkan aura kepemimpinan yang kuat, mendongak dari koran bisnis yang dibacanya.
Itu adalah Hendra Adhitama yaitu sang ayah, pendiri Adhitama Group yang kini telah menyerahkan seluruh roda kepemimpinan pada Alvaro.
"Duduklah dulu, Varo. Ada hal penting yang harus kita bicarakan bertiga malam ini." kata Hendra seraya melipat korannya dan meletakkannya di atas meja kaca.
Alvaro mendengus pelan, menahan rasa enggan yang membakar dadanya, lalu duduk di sofa tunggal di hadapan kedua orang tuanya.
"Kalau ini soal ekspansi saham ke Singapura, Varo sudah siapkan analisisnya..." serunya terpotong.
"Siapa yang mau bicara soal saham?" pangkas Hendra cepat.
Pandangan mata pria tua itu berubah teduh, namun dipenuhi penekanan yang mutlak.
"Ini soal masa depanmu. Soal keluarga kita." sahut Papa Hendra.
Kirana ikut duduk di samping suaminya, lalu meraih sebuah album foto bercover kulit elegan dari bawah meja dan meletakkannya tepat di hadapan Alvaro.
Alvaro menatap album tersebut dengan dahi berkerut. "Apa ini, Ma?" Alvaro belum paham dengan benda di depannya itu.
"Buka saja," ujar Kirana dengan mata berbinar-binar penuh harapan.
"Mama dan Papa sudah mengumpulkan foto-foto putri dari teman-teman Mama, anak kolega Papa, bahkan beberapa gadis lulusan luar negeri yang berpendidikan tinggi dan berparas cantik. Ada yang dokter, perancang busana, dosen..." ujar mama Kirana.
Jemari Alvaro yang kaku perlahan membuka sampul album tersebut. Di dalamnya terpasang rapi puluhan foto wanita muda cantik dengan balutan gaun-gaun mahal dan senyum menawan.
Namun, di mata Alvaro, foto-foto itu tak ubahnya seperti lembaran kertas tanpa arti. Tidak ada satu pun dari mereka yang menarik perhatiannya.
Yang terbayang di kelopak matanya justru bayangan wajah pucat seorang gadis berseragam abu-abu murah dengan bekas air mata yang mengering di pipinya.
Alvaro menutup kembali album itu dengan gerakan lambat dan mendorongnya menjauh.
"Varo belum memikirkan soal pernikahan, Ma, Pa." kata Alvaro datar, suaranya dingin dan tanpa ekspresi.
"Sampai kapan, Varo?!" nada suara Hendra meninggi, membuat suasana ruang keluarga yang megah itu mendadak tegang. Pria tua itu menatap putra tunggalnya dengan tatapan tajam.
"Umurmu terus bertambah! Perusahaan ini butuh penerus! Kami ini sudah tua, Varo. Yang kami inginkan sekarang bukan lagi laporan keuntungan triliunan rupiah tiap semester, tapi suara tawa cucu di rumah ini!" lanjut Tuan Hendra.
"Papa..." bisik Kirana menenangkan suaminya, sebelum kembali beralih menatap Alvaro dengan pandangan memohon.
"Dengarkan Papamu, Varo. Mama ini selalu berdoa agar diberi kesempatan menimang cucu dari darah dagingmu sendiri. Apakah permintaan orang tuamu ini begitu berat buatmu?" ujar mama Kirana dengan penuh harapan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....