"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin dingin
"Ini anaknya Mbah Teguh, dia calon istriku" jawab Prama membuat ketiganya terkejut.
"Calon istri!" pekik ketiganya tak percaya
"Gue nggak percaya" bisik Liam
"Sama, kak Panca saja yang ramah belum punya calon, apalagi kak Prama yang galak" bisik Hamka julid
"Pasti gadis itu matanya rabun" sambung Lintang tak kalah julid.
Plak. Plak. Plak.
"Omongan kalian bisa saya dengar!" bentak Prama menggeplak kepala ketiganya.
"Hehe.. Maaf kak" jawab Liam dan Lintang tapi Hamka hanya bersikap seperti biasa saja, datar.
"Iiii.. An!" pekik Kenanga karena tak terima Liam di pukul Prama. Dia berdiri dan hampir menerjang Prama kalau saja Liam tidak menangkapnya.
"Tenang Kenanga, aku tidak apa apa" bujuk Liam tapi Kenanga terus berontak.
"Bar bar Kenanga mulai beraksi, kak Prama akan jadi musuh kedua Kenanga" ucap Hamka
"Kenapa bisa begitu? Musuh pertamanya siapa?" tanya Prama yang justru malah menatap galak Kenanga yang ingin membalas pukulannya.
"Kenanga paling tidak suka Liam di dekati, di peluk apalagi di pukul orang lain, makanya kami kalau mau bully Liam itu di belakang Kenanga, dan musuh pertamanya adalah Fatih, anak balita lucu ini" jawab Hamka
"Begitu rupanya" gumam Prama mengangguk
"Kenanga sudah, kak Prama hanya bercanda saja tidak apa apa" bujuk Liam
"Hiks... Ii... An" ucap Kenanga terisak dan mengecup kepala Liam yang di pukul Prama.
"Dia lebih lebay dari Briana, kalau di satukan jadi duo lebay nanti" ucap Hamka
"Dan bang Liam juga Om Brata jadi duo korban" balas Lintang terkekeh
"Kang Prama, ini dari bapak, tadi katanya lupa memberikan ini jadi minta Widia antarkan ke sini" ucap Widia menunduk malu
"Jadi ingat Laily" gumam Lintang dan di geplak Hamka.
"Apa ini?" tanya Prama mengambil buntalan yang di bawa Widia dan membukanya. Isinya ternyata sebuah gelang yang akan di pakaian Prama nanti pada Widia dan ada beberapa pakaian milik Widia di dalamnya yang dalam adat di sana harus segera di simpan di lemari calon suami agar mereka bisa saling menerima setelah menikah.
"Akan aku simpan di dalam lemari, nanti kamu pulang denganku saja, supaya aman" ucap Prama dan Widia mengangguk.
"Kamu akan ikut aku, jadi kamu juga harus ikut caraku nanti saat menikah, kamu tidak keberatan?" tanya Prama dan Widia kembali mengangguk.
"Cinta memang buta, bisa buat orang terhipnotis, dan terus mengangguk setuju" bisik Hamka
"Iya, Laily juga begitu, gue suruh apapun dia nurut" jawab Lintang
"Mungkin para gadis di kampung ini memang aslinya pada bucin sama suaminya kali ya" gumam Hamka
"Kenapa? Lo berminat?" Tanya Lintang sinis
"Gue nggak berminat meski di depan gue ada ikan duyung yang bisa mengeluarkan mutiara dengan tangisannya" jawab Hamka
"Apa hubungannya?" Tanya Lintang sinis
"Karena gue sedang suka nonton film putri duyung sama Laily" jawab Hamka
"Anjir memang Lo!" Umpat Lintang kesal
"Nak... Angin dingin itu membahayakan kampung Mahoni terutama Karman, dia akan di jadikan wadah baru untuk sekutu Dahlia" bisik Kakek penjaga asli hutan Sagara
"Kalian dengar?" Tanya Liam pelan dan Hamka juga Lintang mengangguk.
#######
Di jakarta, Sagara sudah mendapatkan kabar tentang Liam, Lintang dan Hamka yang menang melawan Sudarso, berita itu dia dapatkan dari Darsa yang sengaja menemui Sagara malam itu.
"Gara senang karena akhirnya pasukan tak bertuan itu menemukan tuan yang tepat, tapi bagaimana dengan para musuh kita kek, mereka juga punya barisan sekutu yang banyak bahkan Liam, Lintang dan Hamka belum tahu tentang semua itu" ungkap Sagara
"Para musuh itu sekarang sedang berebut untuk sebuah kekuasaan Sagara, karena Sudarso kalah, para bawahannya sekarang bersaing untuk merebut posisinya tak terkecuali Dahlia" jawab Darsa
"Gara masih khawatir tentang Kenanga kek, dia sebenarnya adalah kunci agar pohon keramat itu bisa berbuah, tapi Gara takut kalau sampai musuh kita tahu dan berusaha melenyapkan Kenanga ataupun Laily" ungkap Sagara
"Itu sebabnya hutan dan rumah itu di segel Sagara, supaya tidak ada sembarang orang bisa masuk ke sana dan tidak akan ada yang bisa mencelakai dua perempuan terpilih itu" jawab Darsa
Mereka kembali diam, hanya menikmati suasana malam di perumahan Dark Dragon dari atas balkon kamar Sagara. Mata Darsa menangkap sosok Kalingga yang terlihat baru pulang bersama Riyadi, mereka terlihat bahagia meski Sagara dan Darsa tahu, alasan Kalingga memilih Riyadi bukanlah alasan yang sepele karena Liam berada jauh dari Kalingga.
Ada hal besar yang ditutupi Kalingga, dia ingin agar dua keluarga Wijaya dan keluarga Hartanto masih punya hubungan baik, karena yang mereka lamar awalnya adalah Zahwa dan Zaina adik dari Kalingga, tapi keduanya sudah di jodohkan sejak lama.
Di tambah ibu dari Riyadi memiliki riwayat penyakit jantung dan itu membuat Kalingga tidak tega menolak lamaran Riyadi untuk yang ke tiga kalinya, setelah lamarannya untuk kedua adiknya di tolak oleh Adrian dan khawatir keluarga Hartanto akan kecewa pada keluarga Wijaya.
"Anak itu punya hati yang besar, dia bahkan tidak egois, dia mirip ayahnya" ungkap Darsa
"Liam akan beruntung jika bersama Kalingga, tapi akan lebih beruntung lagi saat bersama Kenanga kek" Jawab Sagara
"Kamu benar, Kenanga adalah perempuan yang masih bersih, polos dan suci, dia akan menjadi seperti apa yang di contohkan orang yang bersamanya, jika baik maka akan baik, itu sebabnya dia penting dalam pertumbuhan pohon keramat, karena mereka punya sifat yang sama, sama sama seperti bayi yang baru lahir" sambung Darsa
"Yang, di luar ada bang Vandra, katanya mau ajak kamu main catur" panggil Safira
"Iya, aku akan ke sana" jawab Sagara
"Pergilah, Kakek juga akan pergi ke hutan Mahoni kembali" ucap Darsa dan Sagara mencium tangan Darsa yang kemudian menghilang dari sana.
Sagara berjalan keluar kamarnya, dia juga sempat memeriksa kamar Andromeda dan Altair yang terlihat sudah tertutup karena saat itu memang sudah malam.
"Kenapa Van, ko Lo tumben ngajak main catur tengah malam" ucap Sagara
"Lo sendiri tumben belum tidur sama Safira, begadang enak Lo ya?" tanya balik Vandra langsung di geplak Sagara
"Gue lagi kesal sama papa, dia terus saja bilang mau pindah ke Bandung sama mama, mau menghabiskan masa tua di sana katanya" jawab Vandra
"Memangnya kenapa tidak mau di sini?" tanya Sagara
"Katanya bosan lihat wajah gue" jawab Vandra
"Mungkin papa mau suasana baru Van, dia ingin tinggal di tempat yang tenang seperti Om Adrian sekarang" ucap Sagara