Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: LUKISAN SERIBU TAHUN
Matahari mulai meninggi di balik kabut Lembah Karang, memancarkan bayang-bayang panjang di atas batuan terjal yang menyelimuti wilayah perbatasan selatan. Setelah berjalan menembus rimba dan menjauhi area perburuan Desa Wuxi, Lian Yue dan Qing Luo sampai di sebuah gua tersembunyi yang tertutup oleh gemuruh air terjun kecil.
Lian Yue duduk di atas batu pualam yang dingin. Ia menekur, menatap telapak tangannya sendiri seraya teringat kembali pada tatapan dan ucapan Shen Rui di tengah kepungan api suci tadi: Aku percaya padamu, Lian Yue.
"Mengapa kau masih memikirkan pemburu itu?" suara Qing Luo memecah keheningan. Siluman ular hijau itu berdiri di sudut gua, mengoleskan ramuan dedaunan herbal pada bahunya yang sempat terkena hempasan energi api suci.
"Dia mempertaruhkan nyawanya dan merusak sumpahnya sendiri untuk membiarkan kita pergi, Qing Luo," kata Lian Yue pelan. "Jika dia berniat jahat, dia bisa saja membiarkan warga desa membakar kita atau menumpahkan darahku di tempat itu."
Qing Luo menghembuskan napas berat. Ada kilat kepahitan dan penyesalan yang membayang di mata zamrudnya. Ia melangkah mendekati Lian Yue, memandangi wajah perempuan itu lama sebelum akhirnya berucap, "Dia melakukan hal itu bukan karena dia seorang pemburu yang baik hati, Lian Yue... melainkan karena jiwanya tidak pernah bisa melepaskanmu, persis seperti di kehidupan-kehidupan sebelumnya."
"Kehidupan sebelumnya?" Lian Yue mendongak, matanya yang berwarna perak melebar penuh ketidakjelasan. "Apa maksudmu?"
Qing Luo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memutar tubuhnya menuju dinding batu paling dalam di gua tersebut. Dengan sapuan tangan bersurat qi hijau, tabir ilusi berupa sulur-sulur lumut yang menutupi dinding batu perlahan terkelupas dan memudar.
Di balik ilusi tersebut, terhampar sebuah ukiran relief kuno dan lembaran lukisan gantung tua yang telah berusia ratusan tahun. Kertas jerami lukisan itu sudah menguning dan retak di beberapa bagian, tetapi goresan tinta emas dan hitam di atasnya masih memancarkan aura magis yang amat pekat.
Lian Yue bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mendekati lukisan tersebut seolah-olah dituntun oleh helai benang ghaib.
Lukisan itu menggambarkan sebuah pemandangan di bawah pohon plum yang sedang mekar sempurna—sangat mirip dengan tempat Lian Yue terbangun di Gunung Wuyin. Di dalam lukisan tersebut, berdiri dua sosok manusia yang saling berpegangan tangan di tepi tebing.
Sosok perempuan di dalam lukisan itu mengenakan gaun sutra putih bersulam benang perak, dengan rambut terurai dihiasi jepit tiara sisik perak—wajahnya, alur alisnya, hingga tahi lalat tipis di bawah matanya persis sama dengan Lian Yue.
Sedangkan sosok pria di sampingnya adalah seorang prajurit gagah yang menggenggam pedang perunggu kuno di punggungnya, mengenakan mantel bulu serigala dan jubah bergaris perunggu khas Paviliun Tianjian. Fitur wajahnya yang tegas, rahangnya yang keras, serta tatapan matanya yang tajam tak lain adalah Shen Rui.
Di sekeliling lukisan itu, terukir bait-bait puisi kuno dengan tinta darah yang mulai memudar:
“Di bawah naungan plum yang tak pernah layu, Dua jiwa terikat oleh darah dan waktu. Seribu tahun berputar dalam lingkaran takdir, Setiap kali cinta bersemi, kematianlah yang mengukir.”
Dada Lian Yue mendadak dihantam rasa sakit yang teramat dahsyat. Pelipisnya berdenyut keras, memicu gelombang kilasan ingatan acak yang berkelebat cepat di dalam kepalanya: aroma darah di atas salju, benturan bilah pedang perunggu, suara jeritan di tengah angin badai, dan sosok pria yang menggenggam tangannya erat sebelum semuanya tenggelam dalam kegelapan.
Lian Yue menyentuh permukaan lukisan itu dengan jarinya yang gemetar. Air mata bening menetes deras tanpa sanggup ia tahan.
"Ini... kami?" bisik Lian Yue dengan suara bergetar dan serak. "Pria di dalam lukisan ini... adalah Shen Rui?"
"Lukisan ini dibuat delapan ratus tahun yang lalu," ujar Qing Luo dengan suara rendah yang dipenuhi kedukaan. "Jauh sebelum kau tertidur di Gunung Wuyin, dan jauh sebelum Shen Rui terlahir kembali sebagai pemburu dari Paviliun Tianjian."
Qing Luo melangkah rapat di samping Lian Yue, menatap lukisan kuno itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau selalu bertanya siapa dirimu dan mengapa kau tidak memiliki ingatan saat terbangun," lanjut Qing Luo. "Inilah alasannya. Jiwamu sengaja mengunci ingatan masa lalu karena beban penderitaan di dalamnya terlalu berat untuk ditanggung oleh satu kehidupan."
"Mengapa... mengapa kami bisa berada di dalam lukisan ini bersama?" tanyanya kepenuhan ketakutan atas kebenaran yang mulai terkuak.
Sebelum Qing Luo sempat membalas, gema langkah kaki yang berwibawa dan penuh tekanan spiritual mendadak meretakkan keheningan di luar gua. Gemuruh air terjun seolah terbelah oleh daya intimidasi yang merayap masuk ke dalam celah batu.
Shen Rui melangkah masuk menembus tirai air terjun. Jubahnya basah kuyup, pedangnya tersandar di pinggang, dan matanya terkunci rapat pada lukisan kuno yang terpampang di dinding gua—serta pada Lian Yue yang berdiri terpaku di depannya.
Shen Rui menatap gambar dirinya dan Lian Yue yang terukir di atas kertas jerami berusia seribu tahun itu dengan tatapan membeku. "Lukisan ini..."