Indonesia
NovelToon NovelToon
Trauma Ranjang

Trauma Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawa Pelakor Di Rumah Sakit

Mendengar kalimat tersebut, sekujur tubuh Ma Yong Hua mendadak menegang kaku. Aura dingin dan mematikan meledak seketika dari dalam diri sang taipan. Suhu di dalam ruang VVIP itu seolah merosot drastis hingga membeku. Urat-urat di pelipis dan leher Ma Yong Hua menonjol keluar, dan sepasang mata sipitnya memancarkan amarah yang luar biasa mengerikan—amarah sang naga yang wilayah kekuasaannya diganggu oleh sekumpulan semut yang lancang.

​"Berani sekali... Xander Wiryawan dan wanita jalang bernama Viola itu menginjak-injak Evita di saat wanita itu sedang rapuh," geram Ma Yong Hua dengan suara rendah bergetar yang penuh ancaman kematian.

Ia mengepalkan tangannya erat-erat di atas selimut rumah sakit. Rasa sakit di dadanya seolah lenyap seketika, tertutup oleh bara dendam kesumat yang berkobar hebat untuk melindungi wanita yang dicintainya.

​Ma Yong Hua mendongak, menatap tajam ke arah Feng Zhi dengan tatapan yang tidak membantah.

​"Dengar perintahku baik-baik, Feng Zhi," ucap Ma Yong Hua mutlak tanpa kompromi. "Jadwalkan operasi transplantasi jantungku sekarang juga! Selesaikan secepatnya! Begitu aku sadar dan pulih dari meja operasi... aku akan pastikan Xander Wiryawan kehilangan segalanya dalam satu malam, dan aku akan menyeret Viola Sanustika ke neraka hidup-hidup untuk membayar setiap tetes air mata Evita!"

****

Koridor lantai IGD dan ruang rawat inap di Rumah Sakit Internasional Santa Carolus pagi itu terasa begitu dingin dan mencekan. Aroma obat-obatan bercampur dengan kepedihan batin yang teramat sangat menyelimuti udara di sekitar ruang tunggu.

​Evita Desniati duduk merosot di atas kursi tunggu logam yang panjang. Wajahnya pucat pasi tanpa pulasan make-up, matanya bengkak dan memerah akibat menangis tanpa henti sejak ibunya, Bu Yekti, dilarikan ke rumah sakit karena serangan syok mendadak akibat fitnah keji yang melanda keluarga mereka. Di sampingnya, Pak Santoso—ayahnya yang sudah renta—duduk membungkuk dengan pundak yang bergetar hebat. Pria paruh baya itu menatap kosong ke lantai putih rumah sakit, memegang selembar kertas tagihan medis dan resep obat yang menumpuk, merasa tidak berdaya melihat kehancuran putrinya yang difitnah habis-habisan oleh dunia luar.

Evita menggenggam erat tangan ayahnya yang keriput, mencoba menyalurkan kekuatan meski di dalam dadanya sendiri segalanya telah berkeping-keping. Kariernya sebagai dosen hancur lebur seketika, nama baiknya diinjak-injak di hadapan publik, dan kini ibunya terbaring kritis di balik pintu putih ruang perawatan intensif.

​Namun, di tengah penderitaan yang begitu pekat itu, sebuah suara ketukan sepatu hak tinggi mendadak menggema nyaring di sepanjang koridor rumah sakit yang sunyi.

​Tuk... tuk... tuk... tuk...

Suara itu terdengar semakin mendekat, berirama angkuh, memecah kesunyian dengan sengaja. Evita dan Pak Santoso menoleh perlahan ke arah sumber suara.

​Dari ujung koridor, sesosok wanita melangkah masuk dengan gaya penuh sensasi dan kesombongan yang meluap-luap. Viola Sanustika. Wanita itu mengenakan dress mini ketat berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan vulgar, dipadukan dengan mantel bulu sintetis mahal dan kacamata hitam berukuran besar yang disematkan di atas kepalanya. Wajahnya dipoles make-up tebal sempurna, menampakkan seringai kemenangan yang begitu menjijikkan.

Kedatangan Viola ke rumah sakit itu tentu saja bukan untuk menjenguk Bu Yekti atau menyampaikan rasa simpati. Ia datang khusus untuk menuntaskan misinya: menginjak-injak harga diri Evita sampai ke titik nadir terendah.

​"Wah, wah, wah..." seru Viola dengan nada suara melengking sinis, sengaja dikeraskan agar menggema ke seluruh penjuru koridor. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil berdiri tegak beberapa meter di hadapan Evita. "Pemandangan yang sangat menyedihkan sekali. Ibu dosen teladan kita sekarang malah menjadi penunggu setia di lorong rumah sakit kumuh. Kenapa, Evita? Ibumu yang tercinta pingsan ya setelah tahu kelakuan anaknya sendiri viral sebagai wanita pezina di mana-mana?"

****

​Mendengar penghinaan keji itu, darah Evita mendidih seketika. Ia bangkit berdiri dari kursi tunggunya, menatap tajam ke arah Viola dengan mata menyala-nyala penuh kemarahan.

​"Jaga mulutmu, Viola!" bentak Evita dengan suara parau namun penuh penekanan. "Kamu tidak punya hak datang ke sini dan menginjak-injak keluargaku setelah semua fitnah busuk yang kamu buat!"

​Viola justru tertawa—sebuah tawa meremehkan yang terdengar sangat menyebalkan. Ia melangkah maju mendekati Evita dengan dagu terangkat tinggi.

"Fitnah? Hei, perempuan murahan!" cibir Viola dengan suara tajam menusuk. "Jangan berani membalikkan fakta! Semua bukti foto itu nyata! Satu Indonesia sudah tahu kalau kamu itu perempuan tidak tahu malu yang menjual diri pada konglomerat tua di lobi apartemen, lalu sekarang sok suci menolak Xander! Pantas saja ibumu jantungan, punya anak sundal yang mencoreng nama baik keluarga!"

​Plak!

​Kesabaran Evita akhirnya habis. Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi mulus Viola, menghasilkan suara bergema yang memecah keheningan rumah sakit.

****

Viola terhuyung ke samping, memegang pipinya yang langsung memerah panas. Untuk sesaat, wanita itu tertegun kaget. Namun, alih-alih merasa takut atau bersalah, mata Viola justru melotot tajam. Seringai sadis khas antagonis sinetron kembali merekah lebar di bibirnya.

​"Beraninya kamu menamparku, hah?!" teriak Viola histeris, sengaja memancing perhatian para perawat dan pengunjung lain yang lewat di koridor. "Wah, rupanya urat malu wanita simpanan ini sudah putus sepenuhnya! Dengar ya, Evita Desniati! Hari ini kampus sudah memecatmu secara tidak hormat, besok pagi Xander akan resmi menceraikanmu, dan kamu akan dicap sebagai perempuan paling kotor di negara ini!"

Viola mendekatkan wajahnya ke telinga Evita, membisikkan kata-kata beracun dengan nada penuh kemenangan.

​"Kamu pikir hidupmu akan bahagia setelah berlindung di balik Ma Yong Hua? Ha-ha-ha! Jangan bermimpi, wanita bodoh! Pria berlagak pahlawan yang kamu banggakan itu sekarang sedang sekarat menanggung penyakit jantungnya! Sebentar lagi dia akan mati, dan kamu... kamu akan menjadi seorang janda miskin, melarat, tidak punya pekerjaan, tidak punya uang, dan hidup menumpang di jalanan bersama ayah dan ibumu yang penyakitan ini!"

​"Tutup mulutmu! Pergi dari sini!" geram Evita, mendorong tubuh Viola dengan sekuat tenaga hingga wanita hampir kehilangan keseimbangan.

Namun, Viola justru mendongakkan kepalanya ke belakang dan melepaskan tawa yang sangat keras, melengking, dan mengerikan—sebuah tawa psikopat yang menggema ke seluruh sudut lorong rumah sakit.

​"Ha-ha-ha-ha-ha! Rasakan akibatnya, Evita! Nikmati neraka kecil yang kubuat khusus untukmu!" teriak Viola penuh kepuasan teatrikal, melambaikan tangan dengan angkuh sebelum memutar tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan koridor dengan iringan ketukan sepatu hak tingginya yang memekakkan telinga.

Pak Santoso yang melihat putrinya gemetar menahan tangis segera berdiri, merangkul bahu Evita dengan penuh kasih sayang. "Sabar, Nak... Sabar. Tuhan tidak tidur. Kebenaran pasti akan menemukan jalannya," bisik sang ayah dengan suara bergetar parau.

​Evita membenamkan wajahnya di dada ayahnya, membiarkan air matanya tumpah membasahi kemeja tua sang ayah, merasa bahwa dunia ini begitu tidak adil bagi orang-orang yang jujur.

1
Ma Em
Evita balas perbuatan Xander dan jalang nya buat mereka menyesal karena sdh berani bawa selingkuhan ke rumah tempat Evita tinggal .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!