Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Rumah besar Wijaya mulai tenang setelah kejadian dengan Bibi Nina. Namun di balik ketenangan itu, Adrian terlihat semakin murung dan menarik diri. Dia menghabiskan lebih banyak waktu di ruang kerjanya, terkadang hanya duduk diam menatap kosong ke luar jendela. Elena mulai khawatir, tetapi setiap kali dia bertanya, Adrian hanya tersenyum tipis dan berkata bahwa dia baik-baik saja.
Adeline yang bisa mendengar suara hati ayahnya, tahu bahwa itu bohong. Setiap malam, suara hati Adrian berbicara tentang masa lalu, tentang seseorang yang pernah mengkhianatinya, tentang rasa sakit yang tidak pernah benar-benar sembuh. Gadis kecil itu mendengar nama "Fajar" diulang-ulang dalam bisikan hati ayahnya, disertai dengan rasa sakit yang begitu dalam.
Suatu sore, ketika Adrian sedang duduk sendirian di taman belakang, Adeline mendekatinya dengan langkah pelan. Gadis kecil itu duduk di samping ayahnya tanpa mengatakan apapun. Mereka berdua duduk dalam keheningan, menatap langit sore yang berwarna jingga.
"Ayah," kata Adeline akhirnya. "Siapa Fajar?"
Adrian terkejut. Dia menatap putrinya dengan mata terbelalak. "Bagaimana kamu tahu nama itu?"
"Aku mendengar suara hati Ayah," jawab Adeline dengan jujur. "Ayah sering memikirkannya. Setiap malam, Ayah memanggil nama itu dalam hati. Dan Ayah selalu sedih ketika memikirkannya."
Adrian menghela napas panjang. Dia menatap langit sore dan untuk pertama kalinya, dia merasa perlu berbagi beban yang selama ini dia pendam. "Fajar adalah sahabat Ayah dulu. Kami berteman sejak kecil. Kami tumbuh bersama, belajar bersama, dan bermimpi bersama."
Adeline mendengarkan dengan penuh perhatian. "Lalu apa yang terjadi, Ayah?"
Adrian menutup matanya, mengingat kenangan yang menyakitkan. "Ketika Ayah mulai membangun perusahaan ini, Ayah meminta Fajar untuk bergabung. Ayah percaya padanya, seperti saudara sendiri. Kami bekerja keras bersama-sama. Tapi suatu hari, Ayah menemukan bahwa Fajar telah mengkhianati Ayah. Dia mencuri ide-ide Ayah, menjual rahasia perusahaan ke kompetitor, dan hampir menghancurkan semua yang Ayah bangun."
Adeline merasakan sakit di hati ayahnya. "Itu pasti sangat menyakitkan, Ayah."
Adrian mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. "Ayah sangat hancur. Ayah kehilangan kepercayaan pada orang lain. Ayah menjadi sulit percaya pada siapapun, bahkan pada orang yang paling dekat dengan Ayah. Dan ketika Ayah melihat kemampuanmu, Ayah takut. Ayah takut untuk percaya pada hal yang tidak bisa Ayah mengerti."
Adeline menggenggam tangan ayahnya. "Ayah, Adeline tidak akan pernah mengkhianati Ayah. Adeline sayang Ayah."
Adrian memeluk putrinya erat. "Ayah tahu, Sayang. Dan Ayah minta maaf karena selama ini Ayah sering meragukanmu. Ayah tidak menyadari bahwa ketakutan Ayah terhadap masa lalu membuat Ayah sulit melihat kebaikan yang ada di hadapan Ayah."
"Ayah tidak perlu minta maaf," kata Adeline lembut. "Adeline mengerti. Adeline juga sering mendengar suara-suara jahat. Kadang Adeline takut, kadang Adeline sedih. Tapi Adeline belajar bahwa tidak semua orang jahat. Ada orang baik yang bisa dipercaya."
Adrian tersenyum mendengar kebijaksanaan putrinya. "Kamu lebih bijaksana dari Ayah, Sayang. Ayah belajar banyak darimu."
Malam itu, Adrian memutuskan untuk menceritakan masa lalunya kepada seluruh keluarga. Mereka berkumpul di ruang keluarga, dan Adrian mulai bercerita tentang Fajar, tentang pengkhianatan yang dia alami, dan bagaimana hal itu membentuk dirinya menjadi pribadi yang sulit percaya.
William yang mendengar cerita itu, mengangguk dengan pemahaman. "Aku tahu tentang Fajar, Adrian. Aku melihat bagaimana kamu berubah setelah kejadian itu. Aku hanya tidak tahu bagaimana membantumu."
Elena menggenggam tangan suaminya. "Kau tidak sendirian, Adrian. Kami semua ada di sini untukmu."
Nathan juga mendekati ayahnya. "Ayah, aku tidak tahu bahwa Ayah mengalami semua itu. Tapi aku bangga pada Ayah karena Ayah tetap kuat dan terus berjuang."
Adrian tersenyum melihat keluarganya yang penuh kasih. "Aku tidak akan bisa sekuat ini tanpa kalian semua. Dan terutama tanpa Adeline. Dia mengajariku bahwa kepercayaan adalah hadiah yang harus diberikan, bukan rasa takut yang harus dijaga."
Adeline yang duduk di pangkuan ayahnya, tersenyum dan memeluk leher Adrian. "Ayah sudah berubah, Ayah. Ayah sekarang sudah percaya pada Adeline. Dan Adeline sangat bahagia."
Adrian mengecup kening putrinya. "Ayah berjanji, Sayang. Ayah tidak akan pernah lagi membiarkan masa lalu menghalangi Ayah untuk melihat kebaikan di hadapan Ayah."
Malam itu, ketika semua orang sudah beristirahat, Adeline masih terjaga. Dia mendengar suara hati ayahnya dari kamar sebelah. Untuk pertama kalinya, suara itu tidak lagi penuh dengan rasa sakit. Ada kedamaian yang mulai tumbuh, ada penerimaan yang perlahan datang. Fajar mungkin masih menjadi kenangan yang menyakitkan, tetapi Adrian telah belajar untuk melepaskan rasa takut yang selama ini mengikatnya.
Adeline tersenyum dalam gelap. Dia tahu bahwa ayahnya akhirnya sembuh. Luka masa lalu yang selama ini tersembunyi, perlahan mulai mengering. Dan dia, gadis kecil yang bisa mendengar hati, bangga menjadi bagian dari proses penyembuhan itu.
"Selamat malam, Ayah," bisik Adeline pelan. "Adeline sayang Ayah. Dan Adeline akan selalu ada untuk Ayah, apapun yang terjadi."
Di kamar sebelah, Adrian juga tersenyum dalam gelap. Dia mendengar bisikan putrinya meskipun tidak memiliki kemampuan seperti Adeline. Ada kehangatan di dadanya, perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia merasa ringan, bebas dari beban yang selama ini dia pikul.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Adrian tertidur dengan damai, tanpa mimpi buruk tentang pengkhianatan, tanpa ketakutan akan masa lalu. Dia tahu bahwa masa depannya cerah, karena dia memiliki keluarga yang mencintainya dan seorang putri yang akan selalu mendengarkan hatinya.