Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Suasana kamar yang temaram udara malam yang terasa menusuk kulit, tapi tidak ia Rasakan. kejadian sore tadi menari bebas di pikirannya, menambah kusut saja.

Hawa menyeret langkahnya ke kamar mandi, segera mandi dan melaksanakan kewajibannya.

Ia duduk diatas sajadahnya, baru selesai mengaji. Tiba-tiba terdengar suara telepon, segera ia menghampirnya dan panggilan telepon itu dari Ryan. Tanpa pikir panjang Hawa langsung menggeser tombol terima telepon.

"Assalamu'alaikum kak, ada apa kak?"

"Wa'alaikumsalam,, Wa, bisa keluar bentar nggak? Aku di depan mau jemput kamu,"

"Emang ada apa kak?" Hawa terdengar panik.

"Mau jemput Hasby kan, cepetan keluar!" Ryan mengakhiri panggilan teleponnya.

Hawa mengerjap bingung, tapi pikirannya mengatakan ia harus ikut Ryan, pikirannya semrawut setelah mendapat panggilan telepon dari temen Hasby.

Ia segera melepas mukena dan meletakkan diatas sajadah yang masih tergeletak di atas lantai.

Tangannya sigap mengambil tas kecilnya yang ia bawa tadi sore, kaos kaki dan handphone.

Anak tangga yang ia lompati dua-dua dan dengan cepat sampai di lantai bawah. Ia menoleh ke dapur, dan mengeraskan suaranya. Ia pamit pada bibik untuk menyusul Hasby.

Tak butuh waktu lama untuk Hawa mencapai gerbang dan melihat Ryan duduk di kap mobil. Dia sibuk dengan phonselnya, mendongak ketika Hawa mendekat.

"Dimana Kak Hasby sekarang kak?" raut wajahnya terlihat sedih.

"Dia aman kok, yuk ke sana aja," Ryan mengantongi gawainya dan berjalan masuk ke mobil.

"Iya kak, maaf aku di duduk di belakang ya kak," ucap Hawa terlihat sungkan dengan Ryan. Walaupun Ryan teman suaminya tapi ia tidak mengenal Ryan lebih dalam.cuma sebatas nama aja.

"Ok, nggak pa-pa, Hasby dah kasih tahu kok," Ryan menganggukkan kepalanya.

Ryan mulai mengemudikan mobilnya melaju dengan kecepatan sedang, menuju tempat di mana Hasby, Tian dan Reno berkumpul.

Hawa diam seribu bahasa, ia hanya melihat ke arah luar jendela, tengah memikirkan suaminya itu.

Ryan melirik Hawa melalui kaca spion di tengah, Hawa terlihat benar-benar kusut. Wajahnya terlihat murung, padahal biasanya dia akan selalu terlihat ceria dan ramah sekali.

"are you okay?"

"I'm fine, thank you,"

"Apa yang membuat kalian berantem?" Ryan bertanya karena sangat penasaran, seorang Hasby berantem sama cewek, apalagi cewek itu istrinya.

"Kita nggak berantem kak," sanggah Hawa tenang.

"Yakin?" desak Ryan.

"Kak, kapan sampai ke tempat kak Hasby?" tanya Hawa mengalihkan pertanyaan dari Ryan.

" Sebentar lagi," Ryan menyerah bertanya lebih jauh lagi, akhirnya dia diam dan fokus pada jalanan di depannya.

Tak lama mobil berbelok ke pelataran cafe, Hawa memandang sekitarnya dengan antusias mencari sosok Hasby. Ryan mengajaknya turun dan masuk ke cafe, Hawa terlihat kebingungan.

Tapi melihat Tian berdiri di teras membuatnya percaya kalau ini tempat yang benar dan Hasby ada di dalamnya. Ia menghampiri Tian bersama Ryan.

"Assalamu'alaikum kak,,, di mana kak Hasby kak?" todong Hawa dengan tidak sabar.

"Wa'alaikumsalam, di dalam," Tian mengedikkan bahunya, memutar langkah memasuki cafe itu.

Hawa dan Ryan mengekor di belakangnya, mereka masuk lebih dalam ke sebuah ruangan yang lebih privat dan tenang.

Terlihat dua orang laki-laki yang duduk di bangku pojok dan di hadapan mereka masing-masing terdapat laptop.

Keduanya mendongak dan menatap orang yang baru datang. Mereka bersalaman khas cowok kepada Ryan. Reno menyapa Hawa singkat.

Hawa mendekat kearah Hasby yang masih terdiam tidak menyapanya, padahal dia baru saja tersenyum tipis menyambut Ryan.

"Assalamu'alaikum kak," Hawa bergumam pelan lantas meraih tangan Hasby dan menciumnya sebentar.

Hasby bergumam pelan menjawab salam istrinya itu, walaupun hatinya panas dan ada percikan api cemburu yang tidak dia sadari.

"Kenapa kalian bawa Hawa kesini?" tanya Hasby melihat ketiga temannya dengan datar.

"Ya nggak apa-apa kan? Sekali ini doang," Reno membela diri sambil cengengesan.

"Iya lagian kita cuma ngumpul di sini sambil belajar buat besok ujian," sela Ryan mendukung Reno.

Hasby melihat keduanya duduk dan membuka laptop milik Ryan. Tian duduk di dekat Ryan dan Reno, sedangkan Hasby duduk di tempatnya tadi dengan Hawa di sampingnya.

Mereka duduk melingkar dan mulai belajar dengan serius, Hawa berdiam diri tapi mulai bosan. Ia melihat Hasby dan teman-temannya sekilas, lalu mengedarkan pandangannya ke luar ruangan yang tersekat pintu kaca yang besar.

"Kak, aku mau keluar sebentar ya," bisik pelan Hawa mendekat kearah Hasby.

"hem," datar sekali jawabannya, cuma menganggukkan kepalanya singkat.

Hawa tersenyum kecut, segera ia melangkahkan kakinya ke luar ruangan yang lebih privat itu.

Ketiganya melihat dan mendengar semuanya, mereka merasa kasian kepada Hawa, tapi mendengar cerita Hasby, ya mereka sebagai laki-laki ya tentu saja merasa emosi dan cemburu ketika melihat perempuannya dekat dengan lelaki lain.

"Selesain masalah kalian di rumah!" nasehat Tian menatap Hasby.

"Jangan galak-galak By, kasian itu Hawa,,, tadi mukanya panik banget. Kayaknya dia beneran ada rasa sama kamu," ucap Ryan .

"Kenapa kalian membela Hawa? Aku kan nggak salah," Hasby membela diri.

"Ya kita paham kamj lagi terbakar cemburu, tapi jangan lama-lama," imbuh Reno tersenyum tipis.

"Bawel," dengan ketus Hasby memutar bola mata malas.

"Yee pak suami ini jika di kasih tahu," Ryan jengkel.

"Jangan buat dia khawatir seperti tadi By, kasian anak orang. Udah nggak punya orang tua. Kamu sebagai suami harus bisa sabar dan banyak komunikasi," ucap panjang kali lebar si Tian.

"Bener itu kata Tian," Reno menyahut.

"hem," dengan datarnya Hasby menyahuti teman-temannya.

Mereka menghentikan pembicaraan itu dan kembali belajar lagi.

 Ia menuju meja kasir yang tengah di jaga oleh perempuan cantik dan ramah. Hawa memesan beberapa minuman dan makanan. Ia minta dianter ke ruang privat tersebut. Sebenarnya ia merasa lapar tapi kalau makan sendiri kan tidak enak.

Hawa kembali ke ruangan dan duduk diam di dekat Hasby. Hasby meliriknya sebentar.

Tak lama pesanan Hawa datang, mereka semua mengernyitkan dahi, menatap Hawa penuh tanya. Yang di tatap hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pelan.

"Kak, makan dulu yuk," ajak Hawa kepada Hasby.

"Makan aja dulu!" Hasby menanggapi seadanya.

"Kak, AYOOOO!" rengek Hawa keras menggoyang-goyangkan lengan Hasby.

"Wa, makan aja dulu!" Hasby menatap datar pada istrinya itu. Hawa langsung mencebikkan bibirnya, melepas pegangannya pada lengan suaminya.

Ketiga temannya melihat dan menganggukan kepalanya.

"Ayo makan dulu! Mumpung masih panas," ucap Tian menyentuh makanannya.

"Iya, makasih ya Hawa, yok bro makan dulu," Reno menimpalinya.

"Selamat makaaan guyys" Ryan dengan hebohnya menggeser laptopnya dan mengambil makanannya.

Hawa tersenyum dan mengangguk singkat. Hasby menghela napas dengan kasar. Menatap Hawa sekilas.

Mereka makan dengan tenang dan cepat. Waktu terus bergulir sampai tak terasa sudah malam. Mereka menyudahi belajarnya dan kembali ke rumah masing-masing.

Hawa menatap Hasby bingung, karena Hasby mengendari motor sport.

"Naik!"

"Tapi kak, aku naik kendaraan umum aja ya," tolak Hawa gugup.

"Lebih percaya kendaraan umum daripada suami sendiri?" Jelas Hasby datar.

"hmm iya kak," Hawa mencoba naik tapi nggak bisa "Kaaak gimana ini?" rengeknya manja. Membuat Hasby gemas sendiri. Tapi tetap dengan wajah datarnya.

Hasby memajukan motornya kedepan dekat pinggiran halaman yang lebih tinggi, bisa buat pijakan. Hawa lekas naik sembari berpegangan pundak suaminya. Setelah naik tangannya melingkar dipinggang Hasby. Detak jantung keduanya sama-sama tidak aman. Berdetak lebih kencang dari normalnya.

Hasby melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia masih memikirkan pertengkaran yang bisa di katakan perang dingin sesaat. Tapi lebih tidak menyangka lagi ketika Tian menghubunginya dan menyuruhnya ke cafe. Tian di hubungi Hawa dan minta bantuan nyari dirinya. Sungguh konyol. Apa yang di pikirkan istrinya itu, sampai-sampai dia meminta bantuan orang lain untuk mencarinya. Apa dia pikir dirinya akan kabur dari rumah. Hasby tersenyum tipis memikirkannya.

Nasehat dari teman-temannya tadi sedikit membuka pikiran Hasby. Ternyata sore tadi dirinya termakan api cemburu dan amarah saja. Tidak bertanya dan berkomunikasi yang baik dengan istri kecilnya itu.

Hasby mengelus lembut tangan Hawa yang melingkar di perutnya itu.

Hawa tersentak tapi tetap mengeratkan pegangannya, sembari tersenyum.

Mereka berkendara dalam diam sembari menikmati pemandangan lalu lintas malam hari ini.

1
devita yudhayanti
bagus...lanjut
Wulan Antya: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!