"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Bisa Disembunyikan
Anton menggeleng pelan. Tanpa memperpanjang perdebatan, dia mengambil kunci mobil lalu meninggalkan rumah.
Helena menatap punggung suaminya dengan kesal. Setelah suara pintu tertutup, pandangannya beralih kepada Bastian yang masih berdiri di ruang tengah.
“Bastian, dengarkan Mama baik-baik. Mama mau kamu menceraikan Diandra.”
Bastian menghela napas panjang. “Aku nggak akan menceraikan Diandra, Ma.”
“Kenapa?” Helena menaikkan nada suaranya. “Apa yang sudah perempuan itu lakukan sampai kamu begitu mempertahankan dia?”
“Banyak, Ma. Ada banyak hal yang sudah Diandra lakukan untuk keluarga ini.”
“Kalau begitu, sebutkan! Apa yang sudah dia lakukan?”
Helena melipat kedua tangannya di dada.
“Urus anak saja dia nggak becus. Kamu lihat sendiri bagaimana Azzam sekarang. Anak itu semakin keras kepala, mudah marah, bahkan berani membantah orang yang lebih tua.”
Bastian terdiam sebentar sebelum menjawab.
“Azzam memang punya sifat keras kepala. Tapi jangan semuanya dibebankan kepada Diandra.”
“Jadi sekarang kamu membela istrimu?”
“Aku sedang mengatakan kenyataan, Ma.”
Bastian menatap ibunya dengan tenang.
“Coba Mama ingat bagaimana aku waktu kecil. Aku juga bukan anak yang selalu menurut. Waktu SD, aku pernah berkelahi dengan anak tetangga sampai kepalanya terluka. Kalau dibandingkan denganku dulu, kenakalan Azzam masih belum seberapa.”
“Tapi kamu nggak pernah membentak orang tua!” Helena langsung menyela. “Pernah nggak kamu dulu membentak nenekmu?”
Bastian terdiam.
Dia tahu arah pembicaraan ini tidak akan berakhir baik.
“Karena Nenek dulu memperlakukanku dengan baik, Ma,” jawabnya akhirnya.
Helena langsung melotot.
“Jadi menurutmu Mama nggak baik sampai Azzam berani membentak Mama?”
“Bukan begitu maksudku.”
“Lalu apa maksudmu?”
Bastian mengusap wajahnya, berusaha mempertahankan kesabarannya.
“Sudahlah, Ma. Lebih baik Mama pulang. Bukankah Mama nggak mau meninggalkan Papa sendirian?”
“Kamu mengusir Mama?”
“Aku cuma menyarankan Mama pulang.”
Belum sempat Helena melanjutkan kemarahannya, suara klakson terdengar dari halaman.
“TUT... TUTT...”
Helena mendengus kesal.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia berbalik dan melangkah keluar rumah. Dari kejauhan, terlihat Anton sudah menunggu di dalam mobil.
Bastian hanya bisa menghela napas.
Pertengkaran itu mungkin berakhir untuk sementara, tetapi dia tahu satu hal—Helena belum akan menyerah meminta dirinya meninggalkan Diandra.
Dan kali ini, Bastian tidak berniat membiarkan siapa pun menentukan masa depan rumah tangganya.
Setelah Helena pergi, Bastian hanya bisa mengembuskan napas berat. Percakapan dengan ibunya tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Dia tahu masalahnya belum selesai. Namun untuk saat ini, Bastian memilih membiarkannya.
Setelah memastikan Azzam sudah tenang di kamarnya, Diandra berjalan menuju kamar Azzura. Dia ingin melihat putri kecilnya sebelum makan malam.
Pintu kamar itu terbuka sedikit.
Diandra berhenti di ambang pintu. Dari celah pintu, dia melihat Azzura duduk diam di atas tempat tidur dengan wajah murung.
“Azzura.”
Gadis kecil itu perlahan menoleh.
Diandra tersenyum tipis.
“Mommy boleh masuk?”
Sebenarnya pintu sudah terbuka, tetapi Diandra tetap mengetuknya pelan. Dia ingin menunjukkan kepada Azzura bahwa setiap orang harus menghargai batasan dan ruang pribadi orang lain.
“Mommy masuk, ya?”
Azzura terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
“Boleh.”
Senyum Diandra mengembang. Jawaban sederhana itu membuat hatinya terasa hangat.
Dia masuk dan duduk di samping putrinya. Tangannya perlahan mengusap rambut Azzura.
“Kenapa masih pakai seragam? Belum ganti baju?”
Azzura tidak menjawab.
“Yuk, ganti baju dulu. Setelah itu mandi, lalu kita makan malam bersama.”
Diandra berusaha terdengar seperti biasa. Namun diam-diam dia menahan kerinduan yang begitu besar.
Sudah lama Azzura tidak lagi berlari ke pelukannya. Tidak ada lagi rengekan manja, cerita-cerita kecil, ataupun tingkah jahil yang dulu sering membuat rumah terasa ramai.
Diandra merindukan semuanya.
“Mommy?”
Suara Azzura membuat lamunannya terhenti.
“Iya, Sayang?”
Azzura menatap wajah Diandra cukup lama. Tatapannya membuat senyum Diandra perlahan menghilang.
“Ada yang ingin Azzura tanyakan?”
Azzura mengangguk kecil.
“Kalau Azzura minta sesuatu, Mommy mau nggak?”
“Tentu. Selama Mommy bisa, Mommy akan usahakan.”
Azzura menarik napas pelan.
“Mommy mau pisah sama Daddy?”
Pertanyaan itu membuat tubuh Diandra seketika kaku.
Dia tidak menyangka pertanyaan seperti itu keluar dari mulut putrinya sendiri.
“Kenapa Azzura bertanya begitu?”
Azzura menundukkan kepala sebelum menjawab dengan suara lirih.
“Azzura mau Mama Serly tinggal di sini lagi.”
Diandra terdiam.
“Biar Mama Serly bisa tinggal sama Azzura, Daddy, dan Azzam.”
Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dada Diandra.
Dia tidak tahu apakah keinginan itu benar-benar berasal dari hati Azzura atau ada seseorang yang memengaruhinya. Namun satu hal yang tidak bisa Diandra abaikan adalah kenyataan bahwa putrinya sendiri sedang berharap dirinya pergi.
Diandra berusaha tersenyum meskipun hatinya terasa hancur.
“Jadi... Azzura ingin Mommy pergi?”
Azzura tidak menjawab.
Dan diamnya justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah penolakan.
Diandra menatap putrinya lama. Untuk pertama kalinya, dia merasa begitu asing di hadapan anak yang selama ini selalu ingin dia lindungi.
Namun Diandra tetap mengusap rambut Azzura dengan lembut.
“Kalau itu yang membuat Azzura bahagia... Mommy akan mendengarkan.”
Meski bibirnya tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca.
Diandra tidak ingin Azzura melihat betapa sakitnya hati seorang ibu ketika anaknya sendiri berharap dirinya tidak lagi berada di rumah itu.
Tuhan... kenapa rasanya sesakit ini?
Diandra menahan napas. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Azzura. Selama ini dia sudah menganggap gadis kecil itu seperti anaknya sendiri. Dia merawat, menjaga, dan menyayanginya dengan seluruh hati.
Namun kini, Azzura justru meminta dirinya pergi.
“Mommy, please...” suara Azzura terdengar memohon. “Mommy pergi saja dari rumah ini. Azzura mau Mama Serly tinggal di sini lagi.”
Hati Diandra terasa runtuh.
Namun dia tidak ingin membuat Azzura merasa bersalah. Dia memaksakan senyum meskipun matanya mulai panas.
“Iya, Sayang. Mommy akan menceraikan Daddy.”
“Benarkah, Mommy?”
Mata Azzura langsung berbinar. Wajahnya terlihat begitu bahagia sampai Diandra merasa semakin hancur.
Padahal perceraian memang pernah menjadi keinginannya. Dia sudah berkali-kali membayangkan hidup tanpa Bastian.
Tetapi mendengar putrinya sendiri begitu bahagia karena dirinya akan pergi ternyata terasa jauh lebih menyakitkan.
“Iya.”
Diandra mengusap pipi Azzura.
“Tapi Mommy mau Azzura janji satu hal.”
“Apa?”
“Kalau nanti Mommy benar-benar berpisah dari Daddy, Azzura harus bahagia. Jangan pernah merasa bersalah karena pilihan Mommy.”
Azzura langsung mengangguk.
“Azzura pasti bahagia. Dari dulu Azzura memang ingin tinggal sama Mama Serly.”
Diandra tersenyum tipis.
Ada begitu banyak kata yang ingin dia ucapkan, tetapi semuanya tertahan di tenggorokan.
“Kalau begitu...” Diandra menarik napas dalam-dalam. “Boleh Mommy peluk Azzura?”
“Boleh, Mommy.”
Azzura membuka kedua tangannya.
Diandra langsung memeluk tubuh mungil itu erat-erat.
Begitu wajahnya tersembunyi di bahu Azzura, air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.
Dia menangis dalam diam.
Sakit.
Ternyata mendengar anak yang dia cintai meminta dirinya pergi jauh lebih menyakitkan daripada melihat Bastian bersama Serly.
Diandra memang bukan ibu kandung Azzura. Namun sejak gadis kecil itu berusia lima tahun, dialah yang menemani hari-harinya. Dia merawat ketika sakit, menenangkan ketika menangis, dan selalu berusaha memberikan kasih sayang yang tidak pernah setengah hati.
Karena itulah Diandra tidak pernah menyangka bahwa suatu hari pelukan yang dulu selalu dia rindukan justru menjadi pelukan yang harus dia kenang sebelum meninggalkan rumah ini.
Tangannya semakin erat memeluk Azzura.
“Mommy sayang banget sama Azzura,” bisiknya lirih.
Azzura hanya diam dalam pelukannya.
Diandra memejamkan mata.
Mungkin inilah harga yang harus dia bayar untuk melepaskan pernikahan yang selama ini membuatnya merasa terjebak.
Dia hanya berharap, ketika nanti dirinya benar-benar pergi, Azzura tidak akan pernah tahu betapa hancurnya hati Diandra malam itu.
Diandra buru-buru menghapus air matanya sebelum Azzura menyadari betapa rapuhnya dirinya.
Dia melepaskan pelukan itu perlahan.
“Sudah, sekarang Azzura ganti baju, ya. Setelah itu mandi dan langsung ke ruang makan.”
“Iya, Mommy.”
Diandra tersenyum kecil, lalu meninggalkan kamar.
Namun baru beberapa langkah keluar, dia langsung terhenti.
Bastian berdiri di depan pintu.
Tatapan pria itu membuat langkah Diandra terasa berat.
“Mas Bastian...”
Bastian tidak menjawab.
Matanya hanya tertuju pada wajah istrinya yang masih menyisakan jejak air mata.
Dia mendengar semuanya.
Percakapan Diandra dan Azzura dari awal hingga akhir. Dia bahkan melihat sendiri bagaimana istrinya menangis diam-diam ketika memeluk Azzura.
“Kenapa Mas lihat aku seperti itu?”
Bastian akhirnya bersuara.
“Kalau kita bercerai... kamu akan bahagia?”
Diandra terdiam.
Pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Apakah dia benar-benar akan bahagia setelah meninggalkan Bastian?
Dia sendiri tidak tahu.
Selama ini, hatinya hancur karena mencintai seseorang yang tidak mampu memberikan cinta yang sama. Belum lagi tekanan dari orang-orang di sekelilingnya yang perlahan mengikis kekuatannya.
Namun Diandra tidak ingin Bastian melihat betapa besar luka yang dia tanggung.
Dia mengangkat wajah dan tersenyum tipis.
“Tentu. Aku akan bahagia.”
Jawaban itu terdengar tegas, meskipun hatinya berkata sebaliknya.
Bagaimanapun keadaannya nanti, Diandra tidak ingin hidupnya menjadi tontonan bagi orang lain. Dia tidak akan memberi siapa pun kesempatan untuk menertawakan kehancurannya.
Kalau harus memakai senyum sebagai topeng, dia akan melakukannya.
Mungkin hari-hari pertama setelah perceraian akan terasa berat. Mungkin dia akan menangis setiap malam. Namun Diandra percaya, suatu saat nanti luka itu akan sembuh.
Bastian melangkah mendekat.
“Dengarkan aku, Diandra.”
Diandra menatapnya.
“Entah kamu bahagia atau tidak dalam pernikahan ini, aku tidak akan menceraikanmu.”
Dada Diandra terasa sesak.
“Jadi Mas ingin aku tetap di sini sampai aku mati perlahan?”
“Itu pilihanmu.”
Bastian menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau kamu mau menerima pernikahan ini lagi dan kembali menjadi Diandra yang dulu—yang menurut, tidak banyak menuntut, dan tidak terus meminta kebebasan—kita tidak akan punya masalah.”
Diandra mengepalkan tangannya.
“Apa pun yang kamu inginkan, akan aku berikan. Tapi satu hal yang tidak akan pernah kuberikan adalah perceraian.”
Bastian mendekat hingga jarak mereka semakin tipis.
“Jadi, pahami itu baik-baik, istriku.”
Dia menyentuh pipi Diandra sekilas, lalu tersenyum tipis sebelum berbalik dan meninggalkannya sendirian di lorong.
Diandra tetap berdiri di tempat.
Tatapannya kosong mengikuti kepergian Bastian.
Untuk pertama kalinya, dia benar-benar merasa tidak punya jalan keluar.
Diandra mengepalkan tangan. Setelah Bastian pergi, dia menyentuh pipinya sendiri, seolah ingin menghapus jejak sentuhan pria itu.
“Aku bukan boneka, Mas,” gumamnya getir. “Mas nggak bisa memperlakukanku sesuka hati.”
Tatapannya mengeras.
“Mas sudah membuat kesalahan besar dengan menolak melepaskanku. Suatu hari nanti, Mas akan menyesal karena membiarkanku tetap tinggal di rumah ini.”
Malam semakin larut.
Setelah makan malam dan menemani Azzam belajar, Diandra kembali ke kamar. Dia hanya melakukan rutinitas perawatan malam sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar putranya.
Dia memilih tidur bersama Azzam daripada harus satu ranjang dengan suami yang semakin membuatnya merasa tertekan.
Sementara itu, Bastian baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe.
Ponselnya tergeletak di atas kasur dalam mode pengeras suara.
“Mas Bastian memang paling bisa bikin aku tenang.”
Bastian membuka lemari dan mengambil pakaian tidur.
“Yang penting kamu bisa istirahat, Serly.”
Diandra yang sedang duduk di depan meja rias hanya diam.
Dia tidak perlu bertanya siapa yang menelepon. Dari suara yang terdengar, dia sudah tahu.
Serly.
Bastian sebenarnya merasa tidak nyaman menerima telepon selama berada di rumah. Namun Serly sedang membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Apalagi ketika dirinya berada dalam kondisi yang tidak baik.
Dulu, ketika Bastian berada di titik terendah dalam hidupnya, Serly adalah salah satu orang yang tetap berada di sisinya.
Sekarang, ketika Serly membutuhkan dukungan, Bastian merasa tidak tega meninggalkannya sendirian.
“Terima kasih, Mas. Aku benar-benar nggak tahu harus membalas kebaikan Mas dengan apa.”
“Kamu nggak perlu membalas apa-apa.”
Bastian mengenakan kaus dan celana santai.
“Cukup jaga kesehatan dan jangan terlalu memikirkan hal-hal yang bikin kamu stres.”
“Iya, Mas.”
Serly terdiam sejenak sebelum kembali bertanya.
“Mas sekarang ada di kamar?”
“Iya.”
Bastian melirik sekilas ke arah Diandra.
“Diandra juga ada di sini.”
Dia meletakkan bathrobe di sofa, kemudian menghampiri istrinya.
Diandra tetap menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat tenang, meskipun hatinya kembali terasa berat.
Dari pengeras suara, suara Serly terdengar.
“Hai, Diandra. Maaf ya, aku mengganggu waktu kalian. Jangan marah sama Mas Bastian karena aku menelepon malam-malam.”
Diandra tersenyum tipis.
Senyum yang sama sekali tidak mencerminkan perasaannya.
“Tenang saja. Aku nggak marah.”
Bastian menatap istrinya beberapa detik.
Dia tahu Diandra sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang membicarakannya.
Pernahkah kalian membayangkan apa yang terlintas di pikiran Diandra malam itu?
Untuk sesaat, dia merasa ingin menghilang dari semuanya.
Bukan karena dia benar-benar ingin mati, melainkan karena rasa sakit yang ditanggungnya terasa terlalu berat. Berkali-kali pikirannya dipenuhi keinginan untuk berhenti merasakan semuanya.
Siapa yang tidak hancur melihat suaminya begitu dekat dengan perempuan lain tepat di depan mata?
Diandra merasa dirinya semakin kehilangan kekuatan.
Yang membuatnya lebih terluka, Bastian seolah tidak menyadari betapa dalam luka yang dia tinggalkan. Padahal baru kemarin pria itu memohon agar Diandra memberinya kesempatan kedua.
Namun hari ini, semuanya kembali terulang.
Bastian masih tidak mau melepaskannya, tetapi juga tidak berhenti melakukan hal-hal yang membuat Diandra merasa tidak dihargai.
“Diandra kok diam saja?” suara Serly terdengar dari ponsel. “Kamu marah karena aku menelepon Mas Bastian?”
“Nggak,” jawab Diandra singkat.
Bastian yang melihat suasana semakin canggung memilih menjauh sedikit dari istrinya.
“Diandra sedang memakai skincare.”
“Oh, lagi skincare?” Serly terdengar tertarik. “Aku sekarang malah sudah jarang melakukan itu, Mas. Paling cuma cuci muka.”
“Serius? Tapi kulitmu tetap bagus.”
“Haha, iya. Entah kenapa masih bagus.”
Serly tertawa kecil.
“Menurut Mas, aku masih kelihatan cantik?”
“Tentu.”
“Paling cantik?”
Bastian terdiam.
Serly ikut tertawa.
“Haha, bercanda. Nggak perlu dijawab. Aku sudah tahu jawabannya.”
“Jawabannya apa?”
“Pasti Diandra, kan?”
Bastian belum sempat menjawab ketika Diandra berdiri dari kursinya.
“Mau ke mana?” tanya Bastian.
“Ke kamar Azzam. Aku mau tidur di sana.”
Bastian mengernyit.
“Kenapa harus di sana? Tidur saja di sini.”
Diandra menatap suaminya dengan mata yang sulit menyembunyikan luka.
“Mas benar-benar ingin aku tidur di sini?”
“Memangnya kenapa?”
“Lalu sepanjang malam aku harus mendengarkan Mas berbicara dengan perempuan lain?”
Bastian menghela napas.
“Kamu jangan berlebihan. Aku cuma menemani Serly sampai dia tertidur.”
Diandra tersenyum pahit.
“Menurut Mas, itu bukan sesuatu yang menyakitkan?”
Dari ponsel terdengar suara Serly.
“Diandra, jangan marah, ya. Aku sebentar lagi tidur kok. Sudah mengantuk dari tadi.”
Diandra memejamkan mata.
Dia sedang berada di batas kesabarannya. Namun kali ini dia tidak ingin membiarkan keputusasaan mengambil kendali atas dirinya.
Dia menarik napas panjang.
Tidak.
Dia tidak akan menghancurkan hidupnya hanya karena perlakuan orang lain.
Kalau pernikahan ini terasa seperti penjara, Diandra akan mencari jalan keluar dengan kepala tegak. Mungkin prosesnya tidak mudah. Mungkin akan ada malam-malam ketika dia merasa ingin menyerah.
Tetapi dia harus bertahan.
Bukan demi Bastian.
Bukan demi Serly.
Melainkan demi dirinya sendiri dan anak-anak yang masih membutuhkannya.
Diandra membuka mata dan menatap Bastian dengan tatapan yang berbeda.
“Aku ke kamar Azzam.”
Kali ini suaranya tenang.
“Aku butuh tidur tanpa harus mendengar percakapan kalian.”
Tanpa menunggu jawaban, Diandra berbalik dan meninggalkan kamar.
Di dalam hatinya, dia membuat satu janji baru.
Apa pun yang terjadi setelah ini, dia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan dirinya lagi.
“Diandra, sini.”
Bastian memberi isyarat agar istrinya mendekat.
Diandra sempat ragu, tetapi akhirnya berjalan menuju ranjang dan duduk di sampingnya. Bastian tampak sedikit terkejut. Belakangan ini Diandra selalu menjaga jarak darinya.
Namun malam ini berbeda.
Diandra sengaja mengubah sikapnya. Jika dia tidak bisa membuat Serly mengakhiri percakapan dengan Bastian secara langsung, mungkin dia bisa melakukannya dengan cara lain.
“Masih lama teleponannya?” tanyanya pelan.
Tangannya menyentuh lengan Bastian dengan lembut.
Bastian tersenyum tipis.
“Kenapa? Kamu mau apa?”
Diandra menunduk, berpura-pura malu.
“Aku mau Mas memperhatikanku.”
Bastian mengangkat dagunya sehingga mata mereka bertemu.
“Kalau mau diperhatikan, bilang saja.”
Diandra tidak menjawab. Dia justru berbaring membelakangi Bastian.
Bastian memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya mendekat.
Dari ponsel, suara Serly terdengar.
“Mas Bastian?”
Bastian tersadar.
“Iya, aku masih di sini.”
Namun perhatiannya mulai terbagi. Diandra yang biasanya menjauh kini justru berada begitu dekat dengannya.
Diandra tahu dirinya sedang bermain dengan api. Dia sendiri tidak nyaman harus bersikap seperti ini, tetapi dia ingin melihat sampai sejauh mana Bastian akan mengabaikan telepon Serly demi dirinya.
“Mas,” panggil Diandra lembut.
“Hm?”
“Kalau Mas mau aku cepat tidur, temani aku sebentar.”
Bastian terdiam.
“Temani bagaimana?”
“Cerita sesuatu. Atau nyanyikan lagu seperti dulu.”
Bastian akhirnya meletakkan ponselnya di meja.
Diandra mendengar suara Serly dari kejauhan.
“Mas Bastian?”
“Nanti kita lanjut lagi, Serly. Aku mau menemani Diandra dulu.”
Diandra memejamkan mata.
Bastian kemudian berbaring di belakangnya dan merangkul tubuh istrinya dengan lembut.
“Kalau kamu sebenarnya ingin aku menemanimu, nggak perlu sampai pura-pura mau pergi ke kamar Azzam.”
Diandra tidak menjawab.
Dia hanya diam dalam pelukan itu.
“Mas...” bisiknya.
“Apa?”
“Jangan bicara dulu.”
Untuk beberapa saat, kamar itu menjadi sunyi.
Diandra membenci kenyataan bahwa dirinya masih begitu mudah goyah ketika berada dekat Bastian. Sebesar apa pun kekecewaan yang dia rasakan, hatinya belum sepenuhnya berhenti mencintai pria itu.
Dan justru itulah yang paling membuatnya marah kepada dirinya sendiri.
Dia ingin membenci Bastian.
Namun hatinya masih menyimpan rasa yang belum berhasil dia bunuh.
“Kamu wangi sekali,” bisik Bastian.
Pria itu mendekat, membuat Diandra semakin menegang. Namun sebelum suasana berubah lebih jauh, suara dari ponsel kembali terdengar.
“MAS BASTIAN!”
Bastian langsung tersentak dan menjauh.
Dia mengambil ponselnya.
“Halo, Serly. Kenapa berteriak?”
“Aku tiba-tiba kangen Azzura. Aku boleh lihat Azzura sebentar sebelum tidur?”
Bastian menghela napas.
“Maksudmu video call?”
“Iya. Tolong, Mas. Sebentar saja.”
Diandra memejamkan mata. Tangannya mencengkeram ujung bantal.
Dia memiringkan tubuh, membelakangi Bastian. Dia tidak ingin suaminya melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Mas Bastian, please. Setelah itu aku tidur. Mas bisa kembali menemani Diandra.”
Bastian mengusap wajahnya.
Dia sebenarnya ingin tetap berada di kamar bersama istrinya, tetapi Serly terdengar begitu memohon.
“Baiklah. Tapi setelah itu kamu langsung tidur.”
“Iya. Terima kasih, Mas.”
Panggilan itu berakhir sementara.
Bastian menatap punggung Diandra.
Istrinya tidak protes.
Tidak marah.
Tidak juga bertanya.
Anehnya, sikap diam itu justru membuat Bastian merasa semakin tidak nyaman.
“Aku nggak akan lama.”
Tidak ada jawaban.
“Diandra.”
Hening.
Bastian menghela napas.
“Aku sedang bicara denganmu.”
“Iya,” jawab Diandra pelan.
Hanya satu kata.
Namun nada suaranya terdengar begitu lelah.
Bastian memperhatikannya beberapa detik.
“Kamu marah?”
Diandra menggeleng tanpa menoleh.
“Nggak.”
“Jangan berpikir macam-macam.”
Bastian mencoba menjelaskan.
“Aku melakukan ini bukan karena masih punya perasaan seperti dulu kepada Serly. Dia sedang membutuhkan bantuanku. Aku cuma ingin memastikan dia baik-baik saja sampai kondisinya membaik.”
Diandra tetap diam.
“Setelah semuanya selesai, aku akan kembali memperhatikanmu.”
“Iya.”
Jawaban singkat itu kembali membuat Bastian frustrasi.
Dia lebih suka Diandra memarahinya daripada bersikap sedingin ini.
Bastian mengacak rambutnya sendiri.
“Kenapa kamu cuma jawab iya?”
Diandra akhirnya menoleh.
“Karena aku sudah capek, Mas.”
Tatapan mereka bertemu.
“Aku nggak mau bertengkar malam ini.”
Bastian terdiam.
Beberapa detik kemudian, dia mengusap kepala Diandra.
“Aku segera kembali.”
Dia mengecup kening istrinya sekilas, kemudian mengambil ponsel dan keluar dari kamar.
Pintu tertutup.
Diandra kembali sendirian.
Dia menatap kosong ke arah pintu.
Ternyata yang paling menyakitkan bukan ketika Bastian memilih Serly.
Melainkan ketika dirinya mulai terbiasa tidak menjadi pilihan utama suaminya.
Begitu pintu kamar tertutup, pertahanan Diandra runtuh.
Air matanya jatuh begitu saja.
“Jangan menangis...” bisiknya kepada diri sendiri sambil mengusap pipinya. “Aku harus kuat.”
Dia tidak ingin menangis. Baginya, air mata hanya membuat dirinya merasa semakin tidak berdaya. Sementara masalah yang dihadapinya semakin hari justru semakin berat.
Namun kali ini, Diandra tidak sanggup menahannya.
“Ya Tuhan... sakit sekali.”
Tangisnya pecah.
Diandra membenamkan wajah ke bantal agar suaranya tidak terdengar. Setidaknya di kamar itu tidak ada siapa pun yang bisa melihatnya menangis atau menganggapnya lemah.
Tanpa Diandra sadari, Bastian masih berdiri di balik pintu.
Dia belum pergi.
Ponselnya beberapa kali bergetar karena panggilan dari Serly, tetapi Bastian tidak segera mengangkatnya.
Tangisan Diandra membuat langkahnya terhenti.
Bastian tidak pernah menyangka istrinya akan menangis sesakit itu.
Dia sudah menjelaskan bahwa dirinya membantu Serly karena kondisi perempuan itu sedang membutuhkan dukungan. Bastian bahkan sudah mengatakan bahwa perasaannya kepada Serly bukan alasan di balik semua itu.
Lalu mengapa Diandra masih terlihat begitu terluka?
Bastian menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia mulai menyadari bahwa mungkin penjelasannya tidak cukup. Mungkin yang selama ini dia anggap sebagai hal sederhana justru menjadi luka yang terus bertambah bagi Diandra.
Panggilan Serly kembali masuk.
Bastian menatap layar ponselnya, lalu mematikannya.
Dia tidak jadi pergi menemui Azzura ataupun Azzam.
Sebaliknya, dia meninggalkan ponselnya di sofa lantai atas dan turun menuju dapur.
Kepalanya terasa penuh.
Bastian membuka lemari dan melihat beberapa botol minuman yang tersimpan di sana. Tangannya sempat terulur, tetapi kemudian berhenti.
Dia mengembuskan napas panjang.
“Bukan ini solusinya.”
Bastian menutup kembali lemari tersebut.
Namun baru saja dia hendak berbalik, terdengar suara kecil dari belakang.
“Daddy?”
Bastian langsung menoleh.
Azzam berdiri di ambang pintu dengan wajah mengantuk.
“Azzam?”
Bastian berjongkok agar sejajar dengan putranya.
“Kamu belum tidur?”
Azzam menggeleng.
“Kenapa Daddy ada di sini?”
Bastian terdiam.
Tatapannya sekilas mengarah ke tangga menuju lantai atas.
Di kepalanya, suara tangisan Diandra masih terdengar jelas.
“Aku cuma sedang ingin menenangkan pikiran,” jawabnya akhirnya.
Azzam menatap ayahnya penuh rasa ingin tahu.
“Daddy bertengkar sama Mommy?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Bastian kembali terdiam.
Untuk pertama kalinya, dia tidak tahu harus menjawab apa.