Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kejutan Yang Belum Pasti
"Cari tahu siapa perempuan yang baru keluar dari toko itu. Selidiki juga siapa yang membentaknya tadi."
Suara Pak Brotojoyo terdengar rendah. Pria bersafari abu-abu itu menoleh sedikit ke arah sopir pribadinya yang bersiaga di belakang. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang tongkat kayunya. Buku-buku jarinya memutih. Badannya bergetar.
Dua puluh empat tahun bukan waktu sebentar. Dulu, ia hanya pejuang muda yang kehilangan segalanya. Kini, ia memimpin pabrik tekstil Argo Broto Group di ibu kota. Namun, semua kekayaan itu gagal mengembalikan anaknya yang hilang saat Agresi Militer 1948.
Siang ini, di seberang pasar kecamatan, matanya menangkap sosok yang ia kenal.
Garis wajah, lengkung senyum, dan cara perempuan berkebaya pudar itu menunduk membuat napas Pak Brotojoyo tertahan. Perempuan yang baru dibentak di dalam toko tadi nyaris kembar dengan mendiang istrinya sewaktu muda.
Pak Brotojoyo menelan ludah. Ia ingin membuang tongkatnya, menyeberang jalan, dan memeluk perempuan itu sekarang juga.
Tapi ia menahan diri. Sebagai pengusaha di era ini, gerak-geriknya selalu diawasi. Bertindak gegabah dan memicu keributan dengan keluarga pejabat setempat pasti membahayakan ribuan buruh pabriknya di Jakarta. Ia harus bergerak hati-hati.
"Siap, Pak. Saya selidiki diam-diam," angguk sopir itu.
Di seberang jalan, Seroja memiringkan payung kertasnya, menghalau panas matahari dari wajah ibunya. Siti memeluk bungkusan kain lurik cokelat soga di dadanya erat-erat.
"Ibu capek jalan?" tanya Seroja lembut. Bahu ibunya masih sedikit kaku setelah insiden gebrakan meja tadi.
"Ibu lega kita sudah keluar dari sana, Nduk," jawab Siti sambil menghela napas panjang. Wajahnya kembali tenang. "Kain ini tenunannya rapat. Nenekmu pasti hangat pakainya."
Seroja tersenyum. Namun, instingnya tetap waspada. Matanya menyapu sekitar pasar, berjaga-jaga atas ancaman ajudan Ningrum.
Pandangan Seroja membentur sosok pria di seberang jalan.
Pria paruh baya bersafari rapi itu mematung di bawah pohon asam. Ia tidak menatap ke arah pedagang atau dokar yang lewat. Pria itu memandang lurus ke arah Siti. Seroja mengernyit. Sorot mata pria itu tidak merendahkan layaknya orang kota kebanyakan. Matanya memerah, menahan rindu yang begitu dalam.
Seroja merinding.
Layar transparan biru muda menyala dan berkedip di sudut pandangannya. Seroja menahan diri agar tidak tersentak mundur.
Teks peringatan muncul di tengah antarmuka Sistem Ladangku.
`Pindai Otomatis: Anomali Lingkungan.`
`Deteksi Hubungan Darah Terdekat dengan Target Siti.`
`Akurasi: 99.8%.`
Jantung Seroja berdegup kencang. Ia membaca ulang deretan huruf hijau itu. Hubungan darah.
Pikirannya langsung menyambungkan fakta yang ada. Kakek Hadi dan Nenek Warni hanya orang tua angkat. Siti ditemukan menangis di pinggir Hutan Jati saat agresi militer tahun 1948. Sistem pertaniannya baru saja memindai dan memecahkan rahasia puluhan tahun itu dalam sekejap.
Pria di seberang jalan itu ayah kandung ibunya.
"Nduk? Kamu kenapa?" tegur Siti pelan. Ia menarik lengan baju Seroja karena putrinya berhenti melangkah.
Seroja berkedip. Ia memerintahkan layar holografik itu menghilang, menoleh dan tersenyum pada ibunya.
"Cuma perhatikan tukang dokar langganan Mas Bagas, Bu. Dia nunggu di ujung jalan," jawab Seroja tenang.
Dari sudut matanya, pria bersafari itu berbalik dan masuk ke dalam mobil sedan hitam yang terparkir jauh dari keramaian pasar.
Tangan Seroja berkeringat. Ia ingin sekali mengejar mobil itu sekarang juga. Pria itu jelas orang kaya dan punya kuasa. Pria itu pasti sanggup menyingkirkan Hardiman dan Ningrum dalam semalam. Ibunya pasti kembali ke tempat yang seharusnya.
Tapi Seroja menahan langkahnya.
Penampilan pria itu menunjukkan ia bukan orang biasa. Di zaman sekarang, kedatangan orang penting dari Jakarta secara mendadak sering membawa bahaya baru. Seroja tidak tahu apa pun tentang pria itu. Bagaimana musuh bisnisnya? Bagaimana kondisi keluarga barunya di Jakarta?
Membawa ibunya kepada orang asing yang berkuasa sama saja dengan melempar ibunya ke tengah masalah yang belum jelas.
Keluarganya baru saja mulai bernapas lega. Ekonomi mereka perlahan membaik berkat kebun tomat. Seroja menolak merusak ketenangan ibunya dengan kejutan yang belum pasti amannya.
"Ayo, Bu. Mas Danu pasti sudah masak air panas di rumah buat merendam kaki," ajak Seroja, mengalihkan pembicaraan. Ia menuntun ibunya berjalan menjauh, berlawanan arah dengan sedan hitam tersebut.
seroja nggak bisa bela diri kah...?