"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kedatangan kerumah ayah
Langkah kaki Zidan terhenti ketika netranya menangkap sosok Humaira yang berjalan dari arah berlawanan.
Begitu melihat Zidan keluar dari ruang rawat Melodi, Humaira sempat ragu, sebelum akhirnya melangkah mendekati pria tersebut.
"Dokter Zidan..." panggil Humaira tampak berat menyampaikan keinginannya.
"Ada apa?" Anehnya, nada suara Zidan saat menyahut seperti jauh lebih lembut dan tenang dibandingkan saat ia berbicara dengan Melodi tadi.
Mungkin karena ada bisikan rasa bersalah yang sukar dia ungkapkan melalui kata-kata—akibat percakapan mereka yang sempat menggantung sebelumnya diruangan pria itu.
"Nanti, kalau pulang dari rumah sakit, saya izin pamit mau pergi ke rumah Ayah saya sebentar."
Humaira ternyata ingin meminta izin dari pria itu.
Selama menjadi istri Zidan, Humaira memang tidak pernah pergi sesuka hati meskipun hanya istri pengganti.
Dia tetap menjadi istri yang terbaik buat Zidan walaupun terkadang hatinya sebenarnya menolak—mengingat kesalahan Zidan yang pria itu tidak menyadarinya.
Namun, karena Zidan tetap bersikap baik padanya, selama dua minggu menjadi suami tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami meskipun tidak di bagian ranjang.
Dan menurut Humaira, Zidan pantas diperlakukan layaknya suami. Tapi Humaira tetap sadar hubungan itu tidak akan bertahan lebih lama.
"Ayahmu?"
Kening Zidan berkerut. Raut wajahnya berubah, seperti tak suka wanita itu kesana.
Zidan sudah mendengar sedikit banyak tentang tabiat Dimas yang oportunis dan buruk pada Humaira dan ibu serta adiknya.
"Kau mau buat apa datang ke rumah Ayahmu?" tanya Zidan dengan raut wajah penuh selidik.
Humaira tersenyum tak tulus.
Apa perlu saya memberitahu semua privasi saya? Hubungan kita ini sebentar lagi akan berakhir. Dan saya rasa, saya tidak perlu untuk menjelaskan apa yang ingin saya lakukan di rumah orang tua saya. Dan Anda, kapan akan membawa saya ke pengadilan?
Seperti itulah kira-kira sorot mata Humaira pada Zidan.
Zidan terpaku menatap manik mata istrinya. Ada rasa tertusuk yang asing di dalam dadanya saat membaca tatapan tersebut. Sebuah teguran tanpa kata bahwa batas di antara mereka sudah sangat jelas.
"Terserah kau saja," ujar Zidan akhirnya, mengalah karena tak ingin berdebat dengan tatapan itu. Pria itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Humaira.
Humaira menarik napas dalam untuk menetralkan kembali perasaannya.
_____
Tok... tok... tok...
Suara ketukan di pintu terdengar beruntun.
Tak berapa lama, daun pintu terdorong terbuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya bermuka masam muncul di ambang pintu.
Wanita itu langsung melipat kedua tangannya di dada begitu mendapati Humaira yang berdiri tegap di hadapannya.
"Mau apa lagi kamu kemari?" tanya Ratna—ibu tiri Humaira—dengan nada suara ketus dan tatapan menilai yang tidak bersahabat.
Humaira menatap wanita di depannya tanpa minat untuk basa-basi. "Saya mau ketemu Ayah, Tante."
Ratna mengulas senyum sinis yang seperti sindiran. "Oh, jadi sekarang anak gadis yang sudah jadi istri orang kaya sudah berani kesini? Kenapa? Mau pamer harta, atau mau minta perlindungan Ayahmu setelah berhasil menggaet direktur rumah sakit?"
Humaira menghela napas pelan, berusaha menekan kepulan amarah yang mulai membakar dadanya. Ia tahu, berdebat dengan wanita sekelas Ratna hanya akan membuang-buang energinya.
"Saya kemari bukan untuk meladeni sindiran Tante," sahut Humaira.
"Di mana Ayah?" Lanjut Humaira.
"Pergi dari sini! Ayahmu tidak ada!" usir Ratna, berusaha menutup pintu.
Humaira menoleh ke arah garasi. Matanya menangkap keberadaan mobil milik ayahnya yang terparkir di sana. "Itu mobil Ayah ada."
"Kalau aku bilang pergi, ya pergi!" bentak Ratna dengan nada tinggi. "Dia itu suami aku! Sadar enggak? Kamu itu cuma anak haramnya! Ibumu itu pelakor yang tidak tahu malu, berani merusak rumah tanggaku! Dan sekarang kamu juga mau menginjak-injak aku setelah jadi istri direktur? Ingat statusmu! Kamu itu cuma istri pengganti, jangan sok hebat kamu!" Ratna melontarkan kata-kata pedas.
Humaira menatap Ratna.
"Apa saya terlihat sok hebat, Tante?" tanya Humaira. "Saya cuma bilang mau ketemu Ayah. Apa bahasa seperti itu membuat saya terlihat angkuh?"
Ratna melotot, tak mengira anak tiri yang biasanya diam itu kini berani menantangnya tanpa berkedip.
Bukan karena dia menjadi istri Zidan, sehingga membuat Humaira mulai berani melawan.
Semua yang terjadi pada dirinya itu karena dia sudah mulai muak diperlakukan sesuka hati oleh orang-orang sekitar hanya karena ibunya menikah dengan pria beristri yang sebelumnya mengaku lajang.
"Ratna, siapa yang datang?" terdengar suara Dimas memanggil dari dalam rumah.
"Siapa lagi kalau bukan anak haram kamu ini!" ujar Ratna ketus seraya melempar pandangan jijik, tepat saat Dimas berjalan mendekat dan berdiri di ambang pintu.
Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya begitu mendapati sosok putri sulungnya berdiri di teras rumah. "Humaira? Ngapain kamu kemari?" tanya Dimas dengan raut wajah keruh, sama sekali tidak ada kehangatan seorang ayah yang menyambut kedatangan anaknya.
"Ibu butuh uang 3 juta, kalau Ayah ada rezeki lebih, tolong Ayah sisihkan sedikit untuk Ibu," gadis itu sama sekali tidak berbasa-basi dan langsung mengutarakan niatnya.
Dimas menghela napas kasar. "Uang? Kamu mau uang buat apa lagi? Bukannya kemarin sudah Ayah kasih?"
"Tentu saja buat kebutuhan dapur dan biaya pengobatan Nabila di rumah sakit, Yah. Uang yang Ayah kasih tidak cukup," sahut Humaira jujur, mencoba mengetuk sisi kemanusiaan ayahnya.
"Uang tabungan Ibu juga sudah habis. Uangnya kurang tiga juta untuk beli obat Lupus Nabila bulan ini." Ujarnya, meskipun sebenarnya Humaira tak tahu mau ibunya buat apa uang 10 juta itu.
"Ck! Aku sudah menduga kedatangan kamu kemari pasti cuma untuk jadi pengemis! Gak tahu malu banget ya kamu. Kamu itu sudah berhasil menikah sama orang kaya, tapi malah datang menyusahkan Ayah kamu cuma buat minta uang yang jumlahnya cuma tiga juta? Ke mana otak kamu?" Ketus Ratna.
Dimas menatap Humaira dari atas ke bawah, ikut terpengaruh oleh provokasi istrinya. "Ibu tirimu benar, Humaira. Cuma tiga juta! Kenapa bukan kamu saja yang berikan uang itu pada ibumu? Kamu kan tinggal minta sama suamimu!"
"Cuma tiga juta?" ulang Humaira.
Gadis itu terkekeh pelan—sebuah tawa getir. Matanya mulai membendung.
"Saya heran... Ayah juga bilang 'cuma tiga juta'? Kalau memang menurut Ayah uang tiga juta itu jumlah yang kecil dan sepele, berati Ayah punya uang banyak, dan pasti tidak keberatan untuk mengeluarkannya sekarang?" cecar Humaira.
"Ibu dan Nabila itu masih tanggung jawab Ayah yang sah! Kenapa mesti aku yang minta-minta? Kenapa mesti uang dari aku yang berikan?!" Air matanya tak bisa dia tahan lagi meluncur tiba-tiba, tapi segera ia tepis.
"Dan Ayah harus tahu..." tekan Humaira, menunjuk dirinya sendiri dengan jari yang gemetar. "Aku ini cuma istri pengganti di rumah megah itu! Pernikahan ini cuma skenario sementara dan aku mungkin sebentar lagi akan diceraikan oleh Dokter Zidan! Jadi stop berpikiran kalau aku bisa mengeruk harta dari keluarga itu untuk menanggung kelalaian Ayah sebagai seorang kepala keluarga!"
Plak!
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂