Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 2
Sepanjang hari, Senja bekerja dengan senyum yang tak berhenti mengembang. Anggi yang menyadarinya bahkan sempat menggodanya habis-habisan karena melihat Senja begitu bersemangat. Hatinya membuncah oleh harapan; bayangan makan malam romantis dan kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka terasa begitu dekat di depan mata.
Sepulang kantor, Senja bergegas menyiapkan diri. Ia mengenakan gaun terbaiknya, memoles wajahnya dengan riasan tipis yang elegan, dan menyemprotkan parfum favoritnya. Jarum jam menunjukkan pukul 18.30 WIB, waktu di mana Adam berjanji akan menjemputnya.
Namun, menit demi menit berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadiran Adam.
Pukul 19.30 WIB, Senja mulai gelisah. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Adam.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Suara operator wanita yang dingin itu menyapa telinganya. Senja menghela napas, mencoba berpikiran positif. Mungkin baterai ponsel suaminya habis, atau Adam sedang terjebak macet parah di jalanan Jakarta. Ia memutuskan untuk menunggu di teras depan.
Pukul 21.00 WIB, angin malam mulai terasa menusuk kulitnya. Senja mencoba menelepon kembali, puluhan kali, namun hasilnya tetap sama. Nomor Adam tidak aktif. Pesan singkat dan aplikasi perpesanan yang ia kirimkan hanya menunjukkan centang satu.
Pukul 23.00 WIB, lampu jalanan di depan rumah mulai meremang. Senja masih terduduk di kursi teras, menggenggam ponselnya yang dingin. Gaun indahnya kini terasa asing, dan riasan wajahnya seolah menjadi ejekan bagi kebodohannya sendiri. Air mata yang seharian ini ia tahan akhirnya menetes juga, membasahi pipinya.
Janji manis pagi tadi runtuh seketika, menghempaskan Senja kembali pada kenyataan pahit, ia hanyalah seorang diri dalam pernikahan ini.
Suara engsel pintu yang terbuka pelan memecah keheningan rumah. Adam melangkah masuk dengan sangat berhati-hati, memegang sepatunya agar tak menimbulkan suara. Namun, langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok Senja yang tertidur meringkuk di atas sofa ruang tamu.
Senja masih mengenakan gaun anggun berwarna pastel dan riasan wajah yang mulai sedikit luntur di sekitar matanya. Ponselnya tergeletak di lantai, tepat di bawah jemarinya yang terkulai.
Adam membeku. Seketika, ingatan tentang janji pagi tadi menghantam kepalanya bagai gada berat.
"Ya Tuhan... Senja," bisik Adam panik. Ia menepuk jidatnya sendiri, baru menyadari bahwa ia telah sepenuhnya melupakan janji makan malam mereka.
Dengan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya, Adam mendekati sofa dan berlutut di samping Senja. Ia meraih ponsel di lantai dan mendapati layarnya mati karena kehabisan baterai. Pria itu menyandarkan kepalanya di tepi sofa, merutuki kebodohannya sendiri.
Gerakan di sekitarnya membuat Senja perlahan terbangun. Matanya yang sembap menyesuaikan diri dengan remang lampu. Saat melihat Adam berlutut di dekatnya, Senja buru-buru menegakkan duduknya, merapikan gaunnya yang kusut.
"Mas... kamu baru pulang?" suara Senja terdengar parau dan serak. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 02.15 WIB.
"Senja, maafkan aku... demi Tuhan, aku benar-benar minta maaf," ucap Adam memotong cepat, suaranya bergetar. tangannya terulur meraih kedua tangan Senja yang terasa dingin.
"HPku mati, dan aku... aku sama sekali lupa kalau kita ada janji malam ini."
Senja menatap Adam datar. Tidak ada amarah yang meledak-ledak, hanya raut lelah yang teramat sangat. Dan kali ini, aroma parfum wanita yang sama kembali tercium samar namun tegas dari kerah kemeja Adam.
"Lupa, Mas?" tanya Senja pelan, menarik tangannya perlahan dari genggaman Adam.
"Kamu yang menawarkan janji itu sendiri pagi tadi. Kamu yang minta kesempatan untuk menebus kesalahanmu."
"Aku tahu, aku salah. Pekerjaan di kantor benar-benar menyita konsentrasiku sampai aku tak ingat waktu," kilah Adam gusar, mengusap wajahnya kasar.
"Pekerjaan kantor lagi?" Senja tertawa kecil, sebuah tawa getir tanpa kegembiraan. Ia berdiri dari sofa, menatap suaminya dari atas.
"Pekerjaan kantor apa yang buat kamu lupa jalan pulang sampai jam dua pagi, Mas? Pekerjaan apa yang wangi parfumnya seperti ini?"
Adam terpaku, matanya membelalak kaget. "Maksud kamu apa, Senja? Kamu menuduhku yang tidak-tidak?"
"Aku nggak menuduh, Mas. Aku cuma punya hidung untuk mencium, dan aku punya mata untuk melihat," jawab Senja, air mata yang ia tahan mulai menetes membasahi pipinya yang berias.
"Aku berdandan rapi dari jam enam sore. Aku nunggu di teras, menolak percaya kalau kamu bakal ingkar janji lagi. Tapi ternyata aku cuma membodohi diriku sendiri."
"Senja, dengarkan aku dulu..." Adam ikut berdiri, mencoba meraih bahu istrinya.
"Jangan sentuh aku, Mas!" potong Senja tegas, melangkah mundur menolak sentuhan itu.
Suasana menjadi begitu tegang. Adam menatap Senja dengan wajah campur aduk antara rasa bersalah dan emosi yang tertahan.
"Aku cape, Mas," lanjut Senja dengan suara bergetar namun sarat akan kepasrahan.
"Aku cape berharap pada orang yang hatinya bahkan nggak pernah ada di rumah ini. Kalau memang kehadiran aku cuma jadi beban atau pengganggu hidupmu, bilang. Jangan bersikap manis di pagi hari lalu menghancurkannya di malam hari."
Tanpa menunggu balasan Adam, Senja berbalik dan berjalan cepat menuju kamar, meninggalkan Adam yang berdiri mematung sendirian di tengah kegelapan ruang tamu.
Pintu kamar tertutup rapat, disusul suara kunci yang memutar dari dalam. Di luar, Adam hanya mematung. Tak ada ketukan pintu, tak ada panggilan nama, bahkan tak ada langkah kaki yang berusaha mendekat. Sepi mencengkeram lorong rumah itu.
Adam menghela napas panjang. Dari balik pintu yang terkunci, Senja mendengarkan dengan dada bergemuruh, menantikan setidaknya satu kata maaf atau penjelasan. Namun yang terdengar kemudian hanyalah langkah kaki Adam yang menjauh menuju sofa ruang tamu, disusul suara jas yang dilempar asal.
Senja bersandar di balik pintu, merosot perlahan hingga terduduk di lantai yang dingin. Air matanya menetes tanpa suara. Sikap dingin Adam malam ini adalah jawaban paling jujur yang pernah ia terima.
Di ruang tamu, Adam duduk di tepi sofa sambil memegang kepalanya yang terasa pening. Ponselnya yang mendadak menyala menampilkan satu notifikasi pesan masuk.
“Terima kasih untuk malam ini ya, Dam. Maaf sudah bikin kamu lupa jalan pulang dan ingkar janji sama istri kamu. Tapi aku benar-benar butuh kamu malam ini.” pesan dari Arum.
Adam menatap layar itu lama. Tidak ada rasa bersalah yang terpancar di wajahnya, hanya raut wajah lelah dan dingin. Pria itu menyandarkan punggungnya, memejamkan mata tanpa berniat membalas pesan Arum, pun tak berniat beranjak menghampiri istrinya.
Arum memang sudah kembali tiga bulan lalu, dan mereka kembali menjalin hubungan di belakang Senja. Entahlah, apa yang menahan Adam untuk bicara jujur kepada Senja. Dia belum siap kehilangan Senja. Selama dua tahun sudah terbiasa dengan kehadiran Senja, dan dia juga tak bisa untuk bersama dengan Arum lebih dari sekedar bermain belakang seperti ini. Karena Adam juga tahu kalau Arum sudah memiliki calon suami.
Namun keduanya tak bisa menahan diri, saat kembali bertemu. Karena rupanya cinta itu masih sangat besar untuk Arum, dan selama dua tahun bukan dia tak bisa mencintai Senja, namun memang dia yang menutup hati untuk Senja. Karena takut tak bisa memilih.