Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

"Ipar"

Pintu di antara Keira dan Reynard akhirnya terbuka karena Rendy tidak menerima penolakan.

Seminggu setelah mereka saling menghindar, pria itu membuat grup baru, memesan meja di Kedai Sate Pak Ujang, lalu mengirim ancaman akan datang ke Meranti Park jika keduanya tidak muncul.

"Aku cuma makan satu jam," kata Keira ketika bertemu Reynard di lorong.

"Aku juga."

Mereka berangkat bersama, tetapi menjaga jarak di kendaraan. Cindy tidak hadir. Anton menjelaskan ia masih butuh waktu setelah pengakuannya, dan semua orang sepakat tidak membahasnya.

Di tengah perjalanan, hujan turun. Kendaraan berhenti sedikit jauh dari kedai karena jalan dipenuhi motor. Reynard membuka payung dan memiringkannya hampir seluruhnya ke arah Keira. Bahu kirinya basah sebelum mereka sampai.

"Kamu nanti masuk angin," tegur Keira.

"Cici bawa buku. Kalau basah lebih repot."

Keira menarik gagang payung ke tengah. Jari mereka bertemu dan sama-sama berhenti. Setelah beberapa hari menghindari sentuhan, kontak kecil itu terasa jauh lebih kuat daripada seharusnya.

"Pegang bareng saja," kata Keira.

Reynard tidak menjawab, tetapi jarak langkah mereka mengecil. Mereka tiba dengan bahu saling menempel. Rendy menyambut dari bawah tenda dengan siulan panjang.

"Kalau datang seperti adegan drama begini, jangan heran kami salah paham."

"Diam dan pesan makanan," balas Keira, tetapi tangannya masih berada di gagang payung bersama Reynard.

Kedai sate penuh asap panggangan dan suara sendok. Rendy sudah memesan sate ayam, lontong, serta dua jenis sambal. Reynard otomatis memindahkan sambal jauh dari piringnya. Keira otomatis menukar mangkuk kuahnya dengan yang tidak terkena percikan cabai.

Gerakan mereka terjadi bersamaan.

Anton mengangkat alis. "Katanya lagi musuhan."

"Siapa bilang?" tanya Keira.

"Rey balas chat pakai satu kata selama seminggu. Itu kode cowok patah hati."

"Aku sibuk," jawab Reynard.

Rendy menunjuk piring Keira. "Sibuk tapi masih sempat buang daun ketumbar dari makanannya."

Keira baru sadar sayuran yang tidak disukainya sudah terkumpul rapi di sisi piring Reynard. Ia hendak mengambil kembali, tetapi Reynard menahan sumpitnya.

"Sudah. Makan saja."

"Aku bisa pilah sendiri."

"Aku tahu."

Kalimat yang sama seperti saat Reynard menawarkan perlindungan. Aku tahu kamu bisa, tetapi izinkan aku membantu. Keira akhirnya melepaskan sumpit.

Rendy dan Anton bertukar tatap penuh arti.

"Kalian benar-benar kayak pasangan," kata Anton. "Bukan kakak-adik."

"Kami memang bukan kakak-adik kandung," jawab Keira cepat. "Aku cuma temannya Vanessa."

"Nah, berarti aman." Anton tersenyum. "Ci ipar, tolong ajari Rey supaya nggak pelit traktir."

Keira tersedak lontong.

Reynard segera memberikan air, sementara Rendy tertawa sampai meja bergetar.

"Jangan panggil sembarangan!" Keira memukul lengan Anton dengan tisu.

"Kenapa? Cocok, kok."

"Nggak cocok."

"Mukamu bilang cocok."

Pipi Keira semakin panas. Ia menoleh kepada Reynard, berharap cowok itu membantah. Reynard justru menunduk minum kuah, tetapi sudut bibirnya jelas terangkat.

"Kamu kenapa senyum?"

"Satenya enak."

"Bohong."

Rendy ikut memanggil, "Ci ipar, tambah sate?"

"Kalian berdua mau kutinggal?"

"Jangan," kata Reynard.

Satu kata itu membuat meja mendadak lebih tenang.

Reynard meletakkan sendok, lalu menatap Keira. "Kalau dia mau jadi ipar kalian, aku nggak keberatan."

Anton memukul meja. Rendy bersorak. Keira membeku dengan segelas air di tangan.

"Apaan sih? Jangan ngaco."

"Aku bilang kalau Cici mau."

"Aku nggak bilang mau."

"Berarti belum."

Kata yang sama dari malam mabuk itu kembali. Belum.

Keira menunduk dan pura-pura sibuk mengaduk kuah. Telinganya terasa terbakar. Di bawah meja, ujung sepatu Reynard menyentuh sepatunya. Tidak menjepit, tidak mengejar, hanya diam di sana seperti sebuah pertanyaan.

Keira tidak memindahkan kaki.

***

Setelah candaan mereda, mereka membahas kampus dan pertandingan basket. Anton menagih cerita pertemuan Reynard dengan Vincent. Rendy tertawa mendengar adik kandung Keira kalah satu poin.

"Vince pasti minta tanding ulang," kata Keira.

"Sudah tiga kali," jawab Reynard. "Masih kalah dua kali."

"Jangan dibuat malu. Dia gengsinya tinggi."

"Aku biarkan menang sekali."

Keira menatap tajam. "Jangan bilang itu ke dia."

"Makanya cuma bilang ke Cici."

Rendy bersandar, mengamati mereka. "Ini masalahnya. Kalian punya terlalu banyak rahasia berdua."

"Nggak ada rahasia," bantah Keira.

"Kalau nggak ada, kenapa tatapan kalian seperti subtitle yang cuma bisa dibaca sendiri?"

Anton mengangguk serius. "Kalimat terbaikmu malam ini."

Keira melempar tisu ke arah mereka. Tawa kembali memenuhi meja, dan jarak satu minggu terakhir perlahan kehilangan bentuk.

Pak Ujang mengantar pisang bakar yang tidak mereka pesan. "Bonus buat meja paling ribut," katanya.

Rendy langsung mengambil bagian terbesar. Keira dan Reynard bersamaan meraih potongan terakhir, membuat ujung jari mereka bertemu di atas piring.

"Ambil saja," kata Keira.

Reynard membelah pisang itu menjadi dua. Bagian yang lebih banyak cokelat diletakkan di piring Keira.

"Aku nggak minta."

"Aku tahu Cici suka yang manis."

Anton menutup wajah dengan kedua tangan. "Tolong, kami masih di sini."

"Makan saja punyamu," ujar Reynard.

Keira mencoba terlihat kesal, tetapi rasa manis di lidah dan cara Reynard mengingat pilihannya membuat senyum terus muncul. Rendy segera memotret senyum itu dan mengirimkannya ke grup.

"Bukti Ci ipar bahagia," katanya.

Keira berdiri hendak merebut ponsel. Reynard menahan kursinya agar tidak tersandung, Anton melindungi Rendy, dan meja mereka kembali menjadi pusat perhatian seluruh kedai.

Di tengah kekacauan itu, Keira menyadari dirinya sudah tertawa lepas. Dinding yang dibangun selama seminggu runtuh bukan karena pengakuan besar, melainkan sate, payung sempit, dan teman-teman yang terlalu berisik.

Reynard memandangnya dari seberang meja. Senyumnya bukan lagi senyum menang. Hanya lega.

Ketika tagihan datang, Reynard membayarnya sebelum yang lain sempat berebut. Rendy mengucapkan terima kasih berlebihan kepada `Ci ipar`, lalu kabur bersama Anton ke tempat parkir.

Keira berdiri di samping Reynard di bawah lampu kedai.

"Temanmu menyebalkan."

"Teman kita."

"Mereka temanmu."

"Mereka sudah memasukkan Cici ke grup. Terlambat keluar."

Keira membuka ponsel. Benar, grup baru bernama Geng dan Ipar sudah muncul. Foto profilnya adalah gambar mereka memakai hoodie pasangan.

"Aku akan keluar sekarang."

Reynard mengambil ponsel itu, menekan tombol matikan notifikasi, lalu mengembalikannya. "Keluar besok saja. Malam ini mereka akan masukin lagi."

Keira mendengus, tetapi menyimpan ponsel.

Dalam perjalanan pulang, bahu mereka sesekali bersentuhan. Tidak satu pun menjauh.

Candaan tentang ipar seharusnya memalukan. Anehnya, untuk pertama kalinya, kata itu juga terdengar seperti kemungkinan.

Kemungkinan yang belum berani disentuh Keira, tetapi tidak lagi ingin dibuangnya jauh-jauh. Ia menyimpan kata itu diam-diam, bersama kehangatan bahu Reynard yang masih tertinggal sepanjang jalan.

Di dalam lift, pantulan mereka kembali berdiri berdampingan. Kali ini Keira tersenyum lebih dulu, dan Reynard membalas tanpa mengatakan apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!