Indonesia
NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tes Perekrutan

Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah jendela penginapan yang sempit, membawa serta suara kicauan burung yang merdu di antara hiruk-pikuk kota yang mulai terbangun.

Simon Blake perlahan membuka kelopak matanya. ia menghela napas panjang, merenggangkan tubuhnya yang masih terasa sedikit berdenyut akibat latihan intensif Pernafasan Ular Hitam semalam.

"Tidur setelah latihan memanglah yang terbaik, otot tubuhku mulai di gantikan oleh serat baru, membuat tubuh lebih segar!" Kata Simon sambil melihat otot lengannya.

"Oh ya, aku masih memiliki koin emas, kali ini aku ingin membeli ramuan ksatria pada Micel, efek dari ramuan ksatria sangat hebat." Simon memikirkan uangnya yang sekarang sudah cukup untuk membeli ramuan ksatria.

Tok, tok, tok.

'Ha? Siapa itu?'

Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan.

Simon bangkit dan membuka pintu, mendapati wanita muda berambut pirang yang menyambutnya di meja resepsionis semalam.

Ia membawa nampan berisi roti gandum hangat dan sup kental.

"Selamat pagi, Tuan. Saya membawakan sarapan Anda," ucapnya dengan nada sopan, namun matanya tidak bisa menyembunyikan binar tertentu saat menatap Simon.

"Terima kasih... Etoo?" Simon memikirkan sesuatu.

"Emili nama saya emili tuan," jawab emili dengan senyumnya yang menawan.

"Ah ya! Emili terimakasih sudah mengantarkan makanannya." Simon mengangguk sambil tersenyum.

"Hehehe, tentu saja itu kan tugas saya tuan."

Jujur Emili merasakan jantungnya berdegup lebih kencang saat mendengar namanya disebut oleh pemuda di depannya. 'Bagaimana mungkin ada pria setampan ini di wilayah barat ini?' pikirnya dalam hati.

Wajah Simon yang memiliki fitur tajam khas bangsawan, dipadukan dengan rambut hitam legam dan sepasang mata merah yang misterius, membuatnya tampak seperti ksatria dalam buku dongeng yang sering dibaca para gadis, sebelumnya dia tidak memperhatikan wajah Simon karena terhalang jubah hitam, tapi sekarang setelah pihak lain melepaskannya yang dia lihat adalah wajah tampan seperti giok ini.

Emili merasa wajahnya sedikit panas. Ia sangat ingin berbicara lebih lama, atau setidaknya berada di dekat pemuda ini sedikit lebih lama. "Jika Anda membutuhkan hal lain, Tuan... jangan ragu untuk memanggil saya," gumamnya sembari menundukkan kepala dan pergi dengan terburu-buru, hal ini di lakukan untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

Melihat Emili pergi Simon merasa heran.

"Bro? Apakah wajahku semenyeramkan itu?"

.....

Setelah menyelesaikan sarapannya, Simon segera menuju area pemandian umum yang telah disiapkan oleh pihak penginapan.

Uap air yang hangat menyelimuti ruangan batu tersebut. Simon melepas pakaiannya, memperlihatkan fisik remajanya yang berusia 16 tahun namun telah ditempa secara ekstrem olehnya.

Siulll~

Saat Simon sedang berendam dengan tenang, pintu kayu pemandian mendadak terbuka. Emili masuk dengan terburu-buru membawa tumpukan handuk bersih.

"Tuan, saya lupa membawakan—" Emili membeku di ambang pintu dan menjatuhkan anduknya

"Alamak, Emili kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" Simon sedikit malu.

Tentu saja dia malu ada seorang gadis yang masuk saat dia mandi? Apa yang kamu pikirkan jika terjadi padamu?

"Ini....ituu..." Emili tergagap sambil mengambil anduk yang terjatuh sekali-kali dia akan menatap perut itu.

Suasana seketika menjadi canggung. Pandangan Emili tanpa sengaja tertuju pada tubuh Simon yang basah; otot-otot perutnya yang six-pack terlihat sangat nyata dan keras, hasil dari latihan Pernafasan Ular Hitam.

"Ma-maafkan saya, Tuan! Saya tidak bermaksud lancang!" seru Emili dengan suara gemetar. Ia merasa suhu di ruangan itu mendadak naik berkali-kali lipat, membuat napasnya terasa sesak melihat maskulinitas pemuda itu.

Simon segera mengubah sikapnya, dia tetap tenang, sepasang mata merahnya menatap Emili."Letakkan saja handuk itu di sana, Emily."

"B-baik, Tuan!" Emili meletakkan handuk dengan tangan gemetar dan segera berlari keluar, meninggalkan Simon yang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku wanita tersebut.

.....

Simon melangkah keluar dari penginapan, mengenakan jubah hitamnya yang compang-camping namun telah dibersihkan. Di alun-alun kota,

ia melihat kerumunan penduduk sedang berkumpul di depan sebuah podium kayu. Seorang pendeta dengan jubah putih bersih sedang berceramah dengan nada fanatik yang berapi-api.

"Wahai umat yang beriman! Ingatlah bahwa kekuatan sejati hanya datang dari berkat Bapa Surgawi yang Maha Pengasih! Janganlah percaya pada takhayul tentang sihir, karena itu adalah bidah yang akan menyesatkan jiwa kalian!" teriak sang pendeta sembari mengangkat simbol gereja tinggi-tinggi.

"Benar! Lindungi kami dari roh jahat, Tuan Pendeta!" Di ikuti beberapa penduduk desa dengan wajah penuh ketakutan sekaligus pengabdian buta.

Simon yang mendengar dari kejauhan hanya menyunggingkan senyum tipis yang sinis. 'Tuhan? Jika entitas itu memang ada, mengapa Ia membiarkan identitas saya disalahgunakan untuk pinjol hingga saya tewas mengenaskan?' batin Simon yang merupakan seorang ateis sejati.

Baginya, doktrin gereja ini hanyalah instrumen kontrol sosial dari kalangan elit untuk menjaga rakyat tetap dalam ketidaktahuan.

"Jika, aku mencapai ksatria legendaris apakah aku akan bisa bertarung dengan dewa?" Pikir Simon.

Bukan hal yang mustahil untuk bisa mengalahkan dewa dia mempunyai sistem kemahiran dan Simon yakin dia bisa melawan entitas yang di sebut dewa itu, yang di butuhkan Simon hanyalah waktu.

....

Simon melanjutkan perjalanannya menuju toko milik Micel. Begitu sampai, ia disambut hangat oleh sang pedagang yang tampak sedang menghitung inventaris barang dagangannya.

"Saudara Simon! Senang melihatmu dalam kondisi prima," sapa Micel dengan ekspresi menjilat yang khas sambil memeluk punggung simon.

"Saudara Micel, aku datang untuk menanyakan sesuatu," ujar Simon langsung ke intinya.

"Aku ingin membeli ramuan ksatria. Apakah Anda memiliki stok?".

Wajah Micel seketika berubah menjadi lesu.

Ia mendesah panjang dan menggelengkan kepala. "Ah, Saudara Simon... ramuan ksatria saat ini sangat sulit didapatkan. Jalur pasokan dari selatan terhambat karena konflik wilayah, dan pihak gereja mulai memperketat pengawasan terhadap distribusi ramuan tersebut. Saya khawatir saya tidak memiliki stok dalam waktu dekat".

Mendengar hal itu, Simon terdiam sejenak. Guratan kekecewaan muncul di wajahnya. Tanpa ramuan, progres kemahiran pernapasannya akan melambat drastis.

"Jika demikian... apakah ada pekerjaan yang layak bagi seseorang dengan kemampuan ksatria sepertiku di kota ini?" tanya Simon kemudian.

"Pekerjaan ksatria?" Micel mengusap dagunya sembari berpikir. "Kebetulan sekali, Baron Brent memang sedang mencari talenta baru untuk memperkuat barisan pertahanannya menghadapi ancaman bandit dan ketidakstabilan wilayah. Dengan kekuatanmu, aku yakin kau pasti akan diterima sebagai prajurit elit atau bahkan kapten ksatria!".

Simon memang teringat desas-desus yang sempat didengarnya di perjalanan: Baron Brent sedang melakukan perekrutan prajurit besar-besaran.

Simon mengepalkan tangannya. "Itu pilihan yang masuk akal. Menjadi bagian dari militer resmi akan memberiku identitas dan sumber daya untuk melangkah lebih jauh."

Keputusan untuk bergabung dengan militer resmi telah bulat di benak Simon Blake.

Setelah percakapan singkat di kediaman Micel, Simon bersiap untuk pergi. Di hadapannya, sang pedagang paruh baya itu menatap Simon dengan pandangan penuh harap dan rasa hormat yang baru tumbuh.

"Datanglah kepadaku lagi jika kau butuh bantuan atau informasi tambahan di kota ini, Saudara Simon," ucap Micel sembari menjabat tangan Simon dengan hangat.

"Terima kasih atas keramahanmu, Saudara Micel. Aku sangat menghargai bantuanmu selama perjalanan ini," balas Simon dengan nada sopan.

Ia menarik tudung jubah hitamnya lebih rendah sebelum akhirnya pergi, Micel menatap punggung Simon yang menjauh dengan senyum tipis, menyadari bahwa pemuda ini adalah investasi masa depan yang sangat berharga.

Simon menyusuri jalanan Kota Brent yang mulai ramai. Perutnya sedikit lapar, dan pandangannya tertuju pada sebuah toko buah yang pemiliknya berteriak nyaring mempromosikan dagangannya.

"Buah apel murah! Hanya 5 koin perak per biji!.

Simon menghampiri toko tersebut. "Paman, aku beli lima buah apel," ujar Simon sembari meletakkan koin perak di atas meja kayu.

"Astaga, anak muda! Apakah tidak kebanyakan? Lima apel untuk dimakan sendiri?" paman pemilik toko itu terkejut melihat pelanggan yang begitu boros dalam berbelanja bagi pandangan rakyat jelata.

Simon hanya tersenyum tipis, fitur wajahnya yang tampan sekilas terlihat, membuat sang paman tertegun sejenak.

"Paman, apakah Anda tahu di mana lokasi perekrutan prajurit yang diadakan oleh Baron Brent?" tanya Simon kemudian.

"Ahh, jadi kau ingin menjadi prajurit? Pilihan yang berani bagi pemuda setampan dirimu," paman itu mengangguk-angguk, dia sedikit berpikir lalu kemudian berkata.

"Jalan saja lurus ke arah alun-alun barat. Di sana kau pasti melihat antrean yang sangat panjang, itulah tempat pendaftaran prajurit."

"Terima kasih, Paman." Simon memberikan tambahan 5 koin perak di atas meja.

"Anak muda, ini kebanyakan!" seru paman itu mencoba mengembalikan uangnya.

"Tidak apa-apa, simpan saja," balas Simon sembari pergi, meninggalkan pemilik toko yang menatapnya dengan penuh rasa syukur sekaligus kebingungan.

"Semoga kamu berhasil anak muda!!"

....

Sesampainya di lapangan pendaftaran, suasana terasa mencekam.

Ratusan pemuda dan pria berotot berdiri mengantre di bawah terik matahari, berharap bisa mengubah nasib dengan bergabung dalam resimen bangsawan.

Simon segera mengambil posisi di belakang seorang pria bertubuh raksasa dengan otot lengan yang tampak terbuat dari baja.

Pria berotot itu menoleh ke belakang, menatap Simon dari atas ke bawah. Melihat wajah Simon yang terlalu tampan dan rambut hitamnya yang tersisir rapi di balik tudung, pria itu mendengus jijik.

"Hah! Lihat apa yang kita punya di sini. Seorang 'anak cantik' yang tersesat?" ejek pria berotot itu dengan suara lantang, mengundang tawa dari orang-orang di sekitarnya.

"Mungkin dia Disni untuk meminta susu?"

"Hahahaha!" Banyak orang yang makin tertawa.

"Hei, bocah! Sebaiknya kau pulang dan bersembunyi di balik rok ibumu sebelum tulang-tulang kecilmu ini dipatahkan oleh instruktur di depan sana!".

Simon tidak membalas. Ia hanya menatap pria itu dengan pandangan datar yang memancarkan kedinginan luar biasa.

Ketenangan Simon justru membuat pria berotot itu merasa terhina.

"Kau tuli, hah?! Kenapa kau menatapku seperti itu?! Aku akan menghancurkan wajah cantikmu jika kau tidak segera pergi dari antreanku!" gertaknya sembari mengepalkan tinju tepat di depan wajah Simon.

Simon tetap diam, namun di dalam benaknya, Simon tau bahwa pria itu hanya mengertak dan tidak Berani, jika di lakukan pun Simon akan membalasnya, mari kita lihat apa yang akan dia lakukan.

"Brengsek! Awas aja nanti!" Kata pria berotot itu dia segera memalingkan wajahnya dari Simon.

Melihat lapangan untuk waktu yang cukup lama, Simon akhirnya menyimpulkan bahwa Ujian perekrutan ternyata cukup sederhana namun brutal, setiap kandidat harus mampu mendaratkan 3 pukulan telak pada seorang pria paruh baya yang berdiri tegak di tengah lapangan latihan.

Pria paruh baya itu tampak santai, namun auranya sangat stabil dan berat, Simon merasa bahwa orang ini bukan bukan orang biasa.

Satu per satu kandidat maju dan gagal. Banyak anak muda dan pria tua yang dipukul mundur hanya dengan satu gerakan ringan, membuat mereka jatuh terduduk dan menangis karena harapan untuk mendapatkan ransum militer pupus begitu saja.

"Ini mustahil, keluarga ku telah cukup berhemat untuk membeli daging ayam, mereka membantuku melatih otot agar aku bisa lulus dalam tes, dan sekarang? Apa yang harus aku jelaskan!" Kata pemuda itu.

"Tenang anak muda, kamu bisa ikut lagi tahun depan." Kata pria tua yang gagal.

"Pak tua, kau tidak tau betapa susahnya keluarga ku, kau tau apa!" Anak muda itu marah.

"Tenanglah, liat tulang tua ini, di umur segini pun aku masih berusaha untuk menjadi prajurit di bawah Baron" kata pria tua itu sambil menunjuk dirinya dengan senyum.

"Huaaaaa!!" Pria muda itu tak kuat menahan nangis lagi.

Pertarungan terus berlanjut, cerita di atas hanya salah satu kisah orang gagal lainnya.

Akhirnya, giliran pria berotot di depan Simon tiba. Dia berdengus.

Ia melangkah maju dengan penuh kesombongan, meremehkan pria paruh baya di hadapannya.

"Orang tua, sebaiknya kau siapkan tabib. Aku tidak ingin bertanggung jawab jika pukulan kaku dariku ini membuatmu masuk ke surga lebih cepat!".

Pria paruh baya itu hanya menjawab dengan anggukan tenang.

Pria berotot itu sangat marah,"Sialan, tidak kau dan anak cantik itu, sama saja, sama-sama mengacuhkan ku!"

Tanpa peringatan, pria berotot itu menerjang dengan pukulan membabi buta.

Namun, sebelum tangannya menyentuh kain baju sang instruktur, pria paruh baya itu bergeser sedikit dan memberikan serangan balik yang sangat cepat.

Pria berotot itu gagal total, tidak ada satu pun pukulannya yang mengenai sasaran.

Sialan! Pak tua beraninya memukulku, ku pastikan kau akan menyesal!"

Marah karena malu, ia mencoba melakukan serangan ilegal untuk mengetes ulang, namun dengan satu gerakan tegas, pria paruh baya itu mematahkan kaki kanan sang pria berotot.

"Arkhhh, kaki kuu, tolong, pak tua ini sudah gila!" Teriak pria berotot itu sambil memegang kakinya yang patah.

"Kesombongan adalah racun bagi seorang prajurit. Keluar! kamu tidak berhak berada disini!" bentak pria paruh baya itu dingin.

"Ughhh siall!" Kata pria berotot itu.

"Selanjutnya!" teriaknya sembari menatap Simon.

Simon melangkah maju dengan tenang. Ia tidak membuang waktu dan langsung meluncurkan pukulan pertamanya.

BUM!

Pukulan Simon berhasil ditangkis, namun kekuatan yang dihasilkan membuat pria paruh baya itu terbelalak kaget. Ia merasakan getaran yang sangat spesifik dari otot Simon.

"Oh? Ternyata kau adalah seorang Calon Ksatria?" tanya pria paruh baya itu dengan nada terkejut.

"Anak muda, dari keluarga bangsawan mana kau berasal? Memiliki teknik pernapasan di usia semuda ini bukanlah hal biasa."

"Saya tidak berasal dari keluarga bangsawan besar, Tuan. Keluarga saya adalah keluarga ksatria yang jatuh dari Utara, dan saya di sini untuk mengabdi pada Baron Brent," jawab Simon sesuai identitas samaran yang ia buat.

Seketika, seluruh lapangan menjadi sunyi senyap. Ratusan orang yang mengantre, termasuk mereka yang baru saja gagal, menatap Simon dengan kengerian dan takjub yang luar biasa.

Seorang praktisi teknik pernapasan manusia super di mata rakyat jelata ada di tengah-tengah mereka selama ini.

"Astaga aku tidak menyangka! Orang ini adalah ksatria?"

"Aku juga sama, tidak menyadarinya. Orang yang mengejek pria muda ini pasti berakhir lebih menyedihkan, untung saja kita tidak ikutan mengejeknya."

Pria berotot yang kakinya baru saja dipatahkan seketika pucat pasi.

"A-aku benar-benar menyinggung seorang calon ksatria?!" gumamnya gemetar.

Dengan panik, ia mulai menyeret tubuhnya di atas tanah untuk melarikan diri, takut Simon akan menyimpan dendam dan mematahkan bagian tubuhnya yang lain, satu saja sudah cukup bro, dia tidak ingin menambah yang lain lagi.

Pria paruh baya itu menyeringai. "Baru satu pukulan, Anak Muda. Mau coba dua lagi? Meskipun sebagai praktisi ksatria kau sudah dipastikan lolos, aku ingin melihat seberapa jauh kemampuanmu."

Simon mengangguk mantap.

"Tolong bimbingannya."

Pertarungan kembali pecah. Kali ini, pria paruh baya itu tidak lagi menahan diri. Seketika, sebuah aura transparan yang pekat menyelimuti tubuhnya Qi Pertempuran.

Simon terkejut.

"Dia adalah Ksatria Formal!" batinnya.

"Astaga pria tua itu adalah ksatria sejati, dia bisa mengendalikan Qi pertempuran, lihat lah cahaya putih itu!" Pemuda itu menunjuk untaian putih misterius yang mengelilingi pria paruh baya itu.

"Sangat keren!"

"Iri sekali! Aku juga ingin menjadi ksatria!"

"Bahh! Omong kosong apa yang kamu katakan! Tanpa teknik pernafasan mana bisa kamu menjadi ksatria!"

"Benarkah itu? Huftt mungkin bertani sudah menjadi takdirku."

Banyak sekali yang kagum dengan Qi pertempuran kecuali Simon, Simon pernah melihat Qi pertempuran saat pertarungan Ksatria Edward melawan Scarface, tapi dia tidak menyangka melihatnya secara langsung dari jarak dekat memberikan tekanan mental yang jauh lebih berat.

"Dengar, Anak Muda," ujar pria paruh baya itu sembari menghindari serangan Simon dengan gerakan yang nyaris mustahil diikuti mata fana.

"Ketika seorang Magang Ksatria Tingkat 3 berhasil menerobos, ia akan membangkitkan Benih Ksatria dan Qi Pertempuran. Saat itulah, ia baru berhak disebut sebagai Ksatria sejati!"

Simon mengerahkan seluruh kemampuannya.

Ia memacu ritme Pernafasan Ular Hitam hingga batas maksimalnya.

Keringat membanjiri wajah tampannya, napasnya tersengal-sengal saat ia mencoba menembus pertahanan Qi pertempuran sang instruktur.

'Qi pertempuran benar-benar perubahan yang kualitatif bagi ksatria, sangat sulit untuk menembus pertahanan ini, jika instruktur ini tidak menahan diri mungkin aku menjadi daging cincang olehnya.' pikir Simon.

Setelah sekian lama.

Dengan satu peluang sempit hasil dari kelenturan teknik ularnya, Simon berhasil mendaratkan pukulan kedua dan ketiga tepat di bahu pria itu.

Simon mundur beberapa langkah, terengah-engah dan hampir jatuh karena kelelahan ekstrem.

"Luar biasa... kau memang sangat berbakat," puji pria paruh baya itu sembari menepuk debu di bahunya.

Aku akan memberitahu Baron tentang kehadiranmu. Kau pasti akan berkembang pesat di sini. Tunggulah di sana, ada prajurit yang akan mengantarmu ke dalam mess khusus."

"Terima kasih... jika boleh tahu, siapa nama Anda, Tuan?" tanya Simon sembari membungkuk hormat.

"Namaku adalah Jon Wick" jawabnya tegas sebelum kembali menatap kerumunan pemuda lainnya.

"Baiklah, terima kasih atas bimbingannya, Tuan Jon," pungkas Simon.

"SELANJUTNYA!!" teriak Jon Wick sembari memanggil kandidat berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!