Indonesia
NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang dan Peringatan di Depan Pintu

Hari-hari berikutnya berjalan tenang dan mengalir seperti biasa. Kehidupan di apartemen Paris kembali ke ritme semula, Mira dengan jadwal kuliah serta tugas-tugas terjemahannya, sementara Jungkook disibukkan oleh berbagai rapat dan urusan bisnis perusahaannya. Momen malam tahun baru di balkon perlahan menjadi kenangan manis yang tersimpan rapi di antara mereka, meninggalkan rasa canggung yang makin mengikis dan digantikan oleh rasa saling percaya yang makin alami.

Namun, suatu pagi di pertengahan minggu, Jungkook menerima panggilan mendadak dari sekretarisnya. Ada masalah teknis yang memerlukan kehadirannya secara langsung untuk menemui klien penting di sebuah kota kecil di pinggiran Paris. Perjalanan itu membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga hari.

Di ruang tengah, Jungkook tampak ragu memegang koper kecilnya. Pria itu menatap Mira dengan raut wajah yang diliputi rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.

"Kau benar-benar tidak apa-apa sendirian di sini?" tanya Jungkook untuk kesekian kalinya, berdiri di dekat pintu depan. "Aku bisa meminta Sekretaris Han untuk menyuruh seseorang menjaga area bawah apartemen, atau—"

"Oppa, aku tidak apa-apa," potong Mira lembut seraya mengukir senyum menenangkan. Ia mengambil coat milik Jungkook dan menyerahkannya. "Ini cuma dua hari, dan cuaca minggu ini sangat cerah. Tidak ada hujan badai atau petir. Jadi Oppa tidak perlu khawatir sama sekali. Fokus saja pada urusan pekerjaanmu."

Jungkook menatap Mira lekat-lekat, lalu menghembuskan napas panjang. Meski hatinya terasa berat harus meninggalkan gadis itu sendirian di apartemen seluas ini, keteguhan di mata Mira akhirnya membuat Jungkook mengangguk pelan.

"Baiklah. Kalau ada hal mencurigakan atau terjadi sesuatu, sekecil apa pun, langsung telepon aku. Paham?" tegur Jungkook tegas namun sarat akan perhatian.

"Iya, Oppa. Hati-hati di jalan!" balas Mira seraya melambaikan tangan saat Jungkook melangkah keluar menembus koridor.

Hari pertama berlalu tanpa kendala. Mira menghabiskan waktunya dengan memasak, menyelesaikan sisa tugas perkuliahan, dan mengobrol singkat dengan Taehyung melalui Panggilan video di malam hari.

Namun, di sore hari kedua saat Jungkook masih berada di luar kota, ketenangan di dalam apartemen mendadak terganggu.

TING-DONG.

Suara bel pintu apartemen bergema nyaring di ruang tengah.

Mira yang sedang merapikan buku-buku di meja belajar seketika menghentikan aktivitasnya. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Siapa yang berkunjung di jam seperti ini? Mungkinkah kurir paket, atau teman kantor Jungkook?

Dengan langkah ragu, Mira berjalan menuju pintu depan. Ia sempat mengintip dari lubang intercom di dinding. Di luar pintu, berdiri seorang wanita berpenampilan sangat elegan dengan coat mahal berwarna camel dan tas bermerek yang tergantung anggun di lengannya. Wajahnya tegas dengan riasan tipis yang sempurna, jelas seorang wanita berdarah Korea.

Khawatir wanita itu adalah kolega bisnis atau teman dekat Jungkook yang membawa keperluan penting, Mira memberanikan diri membukakan pintu.

Klek.

"Iya, cari siapa—"

Kalimat Mira terhenti di udara. Wanita berparas cantik di depannya seketika tertegun. Matanya menyipit tajam, menilai penampilan Mira dari ujung rambut hingga ujung kaki, seorang gadis yang hanya mengenakan sweater kasual dan celana rumahan santai di dalam apartemen pribadi Jeon Jungkook.

Raut wajah anggun wanita itu seketika berubah menjadi sangat dingin dan ketus.

"Siapa kau?" tanya wanita itu langsung dalam bahasa Korea, suaranya tajam dan dipenuhi nada tidak suka yang terang-terangan. "Kenapa kau bisa ada di apartemen Jungkook?"

Mira terkejut oleh nada bicara yang mendadak ketus itu, namun ia berusaha tetap tenang dan sopan. "A-ah, halo. Saya Kim Mira. Saya adik dari Kim Taehyung, teman dekat Jungkook Oppa. Saya sementara tinggal disini"

Mendengar penjelasan itu, wanita di depannya tidak lantas melembut. Ia justru bersedekap dada, mengukir senyum miring yang penuh dengan keangkuhan dan kepicikan.

"Adik teman?" cibir wanita itu pelan dengan nada meremehkan. "Trik klasik."

Ia melirik ke dalam apartemen melalui celah pintu yang terbuka, memastikan bahwa sosok yang dicari memang tidak ada di dalam. "Jungkook mana? Dia tidak memberitahuku kalau sedang ada tamu di rumahnya."

"Jungkook Oppa sedang keluar kota sejak kemarin untuk menemui klien," jawab Mira jujur, menyembunyikan rasa tidak nyamannya di balik nada suara yang datar. "Kemungkinan baru kembali esok hari."

Wanita itu merapikan letak tas mahal di bahunya, tampak sangat kecewa karena tidak berhasil menemui Jungkook. Namun sebelum berbalik untuk pergi, ia melangkah satu sentimeter lebih dekat ke arah pintu, menatap lurus ke dalam mata Mira dengan tatapan intimidatif yang dingin.

"Dengar ya, Kim Mira," ucap wanita itu pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan ancaman yang menusuk. "Aku tidak peduli kau adik siapa atau alasan apa yang kau pakai untuk menumpang di sini. Tapi ingat satu hal... jangan pernah berani bermimpi mendekati atau memanfaatkan kebaikan Jungkook."

Mira terpaku di tempatnya, menahan napas mendengar kalimat tajam itu.

"Jeon Jungkook itu milikku. Kami sudah diposisikan untuk bersama sejak lama," lanjut wanita itu dengan nada dingin penuh kepemilikan yang mutlak. "Jadi tahu diri dan jaga batasmu selama tinggal di sini."

Tanpa menunggu jawaban atau tanggapan dari Mira, wanita cantik itu berbalik dengan kibasan coat-nya yang tegap, melangkah pergi menelusuri koridor apartemen dengan langkah sepatu hak tingginya yang nyaring bergema.

Pintu apartemen perlahan tertutup kembali. Mira berdiri terpaku di balik pintu, mendadak merasakan gelombang dingin merayapi dadanya. Kata-kata wanita itu terus berputar di kepalanya, meninggalkan rasa sesak dan tanda tanya besar yang tak mampu ia jawab sendirian.

Pintu apartemen tertutup rapat, menyisakan sunyi yang mendadak terasa mencekik. Mira melangkah mundur perlahan, lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu yang dingin. Kalimat ketus dan tatapan tajam wanita cantik tadi terus bergema berulang kali di kepalanya bagaikan kaset rusak.

“Jeon Jungkook itu milikku... tahu diri dan jaga batasmu.”

Perasaan sesak yang tak beralasan perlahan merayapi dada Mira. Pikiran buruk dan ketakutan overthinking mulai menguasai dirinya. Selama ini, kebaikan, kehangatan, dan sikap protektif Jungkook yang begitu manis telah membuatnya terbiasa dan merasa nyaman, mungkin terlalu nyaman, sampai-sampai ia lupa siapa dirinya.

Siapa dia? Hanya adik dari teman Jungkook yang menumpang tinggal.

Mira mengepalkan jemarinya erat-erat. Rasa malu dan bersalah menghantamnya secara bersamaan. Ia tidak ingin menjadi beban, apalagi dianggap sebagai pengganggu dalam hubungan Jungkook dengan wanita yang tampaknya berasal dari lingkaran yang sama dengannya. Cara terbaik untuk menjaga harga dirinya dan menghindari masalah adalah dengan pergi menjauh dari kehidupan Jungkook sesegera mungkin.

Sore itu juga, Mira menghubungi Chloe melalui telepon. Dengan nada memohon, ia bertanya apakah bisa menginap di apartemen Chloe selama beberapa hari. Beruntung, teman Prancisnya itu mengizinkan tanpa banyak tanya. Padahal kenyataannya, perbaikan kebocoran di apartemen pribadi Mira baru akan selesai minggu depan. Namun, Mira sudah tidak sanggup lagi berada di apartemen ini satu hari lebih lama.

Keesokan harinya, Jungkook tiba kembali di Paris. Langkah kakinya terdengar terburu-buru begitu memasuki apartemen, raut lelah dari perjalanan luar kota seketika memudar berganti rasa lega saat melihat sosok Mira berada di dapur.

"Mira-ya, aku pulang," panggil Jungkook dengan suara hangat seraya melepas coat-nya.

Namun, tidak ada sambutan hangat atau senyuman manis seperti biasanya. Mira hanya berbalik pelan, mengukir senyum tipis yang sangat formal dan canggung, sebuah benteng tinggi yang mendadak ia dirikan di antara mereka.

"Selamat datang kembali, Oppa," sahut Mira datar, matanya sebisa mungkin menghindari tatapan lurus Jungkook.

Jungkook mengerutkan dahinya. Ia menangkap perubahan gestur itu dalam detik pertama. "Ada apa? Kau tampak pucat... Apa terjadi sesuatu selama aku pergi?"

Mira menggeleng cepat. "Tidak ada, Oppa. Semuanya baik-baik saja." Ia menghentikan kegiatannya merapikan meja, lalu menarik napas panjang untuk menguatkan hatinya. "Oh ya, Oppa... aku ingin memberitahumu sesuatu. Hari ini aku sudah membereskan semua barang-barangku."

Langkah Jungkook terhenti. "Membereskan barang? Untuk apa?"

"Mandor yang mengerjakan apartemenku baru saja menelepon tadi pagi," kebohongan itu meluncur begitu saja dari bibir Mira, meski suaranya sedikit gemetar. "Proses perbaikan apartemenku ternyata sudah selesai lebih cepat dari perkiraan. Jadi... esok hari aku akan langsung pindah kembali ke tempatku sendiri."

Deg.

Jungkook tertegun di tempatnya berdiri. Raut wajahnya berubah drastis menjadi terkejut dan kaku. Berita itu terlalu mendadak. Baru kemarin ia merasa khawatir meninggalkan Mira, dan kini gadis itu mendadak mengumumkan kepindahannya tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.

Jungkook menatap mata Mira lekat-lekat, berusaha mencari jawaban di balik sorot mata yang mendadak dingin dan terus mengelak itu. Pria cerdas itu dengan cepat menghubungkan titik-titik aneh in, kepergiannya selama dua hari, perubahan sikap Mira yang mendadak formal dan menjaga jarak, serta alasan kepindahan yang sangat terburu-buru. Sesuatu pasti telah terjadi saat ia tidak ada di sini.

"Kenapa mendadak sekali, Mira?" suara bariton Jungkook terdengar lebih dalam dan berat dari biasanya. "Kenapa tidak menunggu sampai akhir minggu saja agar lebih santai?"

"Tidak usah, Oppa." elak Mira pelan, mengemas buku-bukunya ke dalam kardus kecil tanpa menatap Jungkook. "Lagi pula, aku sudah sangat merepotkan dan mengganggu kenyamanan Oppa selama tinggal di sini."

Kata 'mengganggu' yang diucapkan Mira menusuk ulu hati Jungkook. Ia ingin sekali menahan gadis itu, memegang bahunya, dan bertanya dengan tegas apa yang sebenarnya terjadi. Namun melihat tembok pertahanan dan jarak yang sengaja dibuat Mira, Jungkook sadar ia tidak bisa memaksakan kehendaknya tanpa membuat Mira semakin merasa tidak nyaman.

Dengan berat hati yang terasa sangat mengganjal, Jungkook akhirnya menghembuskan napas panjang.

"Baiklah... kalau itu memang keinginanmu, aku tidak bisa melarang," ujar Jungkook dengan nada pasrah yang tertahan. Ia membasahi bibirnya yang kering, lalu menambahkan, "Besok pagi aku akan membatalkan semua jadwalku. Aku yang akan mengantar dan membantumu mengangkat semua kardus dan kopermu ke apartemenmu."

"Tidak perlu, Oppa!" potong Mira cepat dengan nada refleks yang agak tinggi, membuat suasana di ruang tengah semakin tegang.

Mira yang menyadari reaksinya terlalu berlebihan segera menundukkan kepala. "Maksudku... tidak usah repot-repot, Oppa. Teman-temanku dari kampus akan datang membantuku besok pagi. Pekerjaan Oppa di kantor pasti sangat menumpuk setelah dari luar kota. Aku bisa mengurusnya sendiri."

Penolakan mentah-mentah itu menjadi pukulan terakhir bagi Jungkook. Pria itu berdiri kaku, menatap Mira yang terus menunduk menghindari tatapannya. Kehangatan yang biasanya memenuhi apartemen itu seketika sirna, tergantikan oleh dinding dingin kesalahpahaman yang tebal di antara mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!