Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Mozza dan Egha
Hari itu akhirnya tiba. Setelah berbagai persiapan, drama kecil, hingga jatuh sakit karena kelelahan, Mozza kini berdiri anggun dengan gaun putih berkilauan. Wajahnya dirias sederhana namun menawan, memperlihatkan kecantikan alami yang membuat semua mata terpaku padanya. Di balik senyumnya, ada perasaan berdebar, haru, dan bahagia yang bercampur jadi satu.
Di sisi lain, Egha berdiri gagah dengan setelan jas elegan. Senyumnya merekah, tetapi matanya tak henti melirik pintu masuk, menunggu sosok yang sebentar lagi akan resmi menjadi pendamping hidupnya. Beberapa kali ia menarik napas panjang, seolah berusaha menenangkan hatinya yang penuh rasa syukur.
Ruang acara dipenuhi tamu undangan. Dekorasi putih dengan sentuhan bunga mawar segar menciptakan suasana sakral namun hangat. Ali dan Rika duduk di barisan depan, wajah keduanya dipenuhi air mata bahagia melihat putri mereka akhirnya dipersunting pria yang tulus mencintainya. Jingga dan Grey sibuk memastikan semua berjalan lancar, namun sesekali mereka saling tersenyum haru melihat kakak mereka begitu cantik.
Saat musik lembut mulai dimainkan, Mozza berjalan perlahan diiringi ayahnya, Ali. Tangannya bergetar, tapi genggaman sang ayah memberinya kekuatan. “Kamu cantik sekali, Nak,” bisik Ali lirih, suaranya bergetar menahan haru. Mozza hanya bisa tersenyum sambil menahan air mata.
Egha berdiri tegak, namun ketika mata mereka bertemu, seluruh dunia seolah menghilang. Hanya ada dirinya dan Mozza. Saat Ali menyerahkan tangan putrinya kepada Egha, tatapan penuh makna itu seakan mengikat janji tak terucap: “Jagalah putriku seumur hidupmu.” Dan Egha mengangguk penuh keyakinan.
Prosesi ijab kabul berlangsung khidmat. Suara Egha lantang, jelas, tanpa keraguan. Dalam sekali ucap, sah! Semua hadirin serentak mengucapkan “Alhamdulillah” diiringi tepuk tangan dan doa. Mozza tak kuasa menahan tangis bahagia, sementara Egha tersenyum lebar, wajahnya bercahaya.
Setelah sah menjadi suami istri, momen haru berlanjut. Egha dengan lembut menatap Mozza lalu mengecup keningnya, sebuah tanda cinta dan penghormatan. Mozza menunduk, wajahnya merah, tapi hatinya meledak penuh kebahagiaan.
“Mulai hari ini, aku janji nggak akan pernah ngelepasin kamu, Mozza,” bisik Egha di telinganya.
Mozza tersenyum sambil berbisik pelan, “Aku juga janji akan selalu ada buat kamu, sampai kapan pun.”
Suasana berubah hangat ketika keluarga besar memberi ucapan selamat. Rika tak henti-hentinya memeluk putrinya, air matanya mengalir deras. Ali menepuk bahu Egha dengan penuh kebanggaan. Jingga dan Grey ikut memeluk kakaknya, lalu saling pandang sambil tersenyum bahagia.
Dari kejauhan, Levin dan keluarganya ikut menyaksikan dengan wajah berseri. Bahkan Roy dan Arin yang duduk berdampingan, saling melirik sambil tersenyum, seolah ikut merasakan manisnya momen itu.
Hari itu bukan sekadar pernikahan. Ia adalah awal perjalanan panjang dua hati yang akhirnya bersatu, disaksikan oleh keluarga dan sahabat yang mencintai mereka.
Setelah akad selesai, suasana beralih ke resepsi yang meriah. Gedung yang dipenuhi dekorasi bunga putih dan emas tampak berkilauan di bawah cahaya lampu gantung. Meja-meja tamu dihiasi dengan vas bunga mawar segar dan lilin kecil yang menambah nuansa hangat dan elegan.
Mozza kini berganti dengan gaun resepsi berwarna champagne, dihiasi payet berkilau. Rambutnya ditata anggun, membuatnya semakin terlihat seperti seorang putri. Sementara Egha tetap gagah dengan jas hitam yang kini dilengkapi dasi kupu-kupu. Mereka duduk berdampingan di pelaminan, senyum tak pernah lepas dari wajah mereka.
Para tamu silih berganti datang memberi selamat. Ada yang menyalami dengan penuh haru, ada pula yang bercanda hangat. Ali dan Rika tampak sibuk menyambut para undangan, wajah mereka sumringah tak bisa disembunyikan.
“Cantik sekali, Kakaku,” ucap Jingga saat naik ke pelaminan bersama Levin.
Mozza tersenyum, lalu menggoda balik, “Nanti giliran kamu, ya. Jangan lama-lama ya Vin .”
Levin terkekeh pelan, lalu mengangguk sopan.
“Amin, Kak. Semoga doa Kak Mozza cepat terkabul. Kalau untuk Jingga, saya janji nggak akan bikin keluarga menunggu lama.” Ia menoleh sekilas ke Jingga yang langsung menunduk tersipu.
Kemudian Levin menatap Mozza dan Egha dengan tatapan hangat.
“Selamat untuk kalian berdua. Semoga rumah tangganya selalu dipenuhi keberkahan, jadi keluarga yang saling menguatkan, dan bisa langgeng sampai tua.”
Egha menjabat tangannya erat, “Terima kasih, Vin.”
Mozza menambahkan dengan senyum penuh arti, “Ucapanmu jadi doa yang indah. Semoga bahagia juga segera menghampiri kalian berdua.”
Jingga tertawa, pipinya merona, sementara Levin hanya tersenyum lebar sambil merangkul bahu kekasihnya.
Grey pun ikut memberi ucapan, suaranya sedikit tercekat. “Selamat ya, Kak. Semoga bahagia selalu. Aku ikut senang banget lihat kakak akhirnya bersama orang yang tepat.” Mozza langsung memeluk adiknya erat, air matanya kembali menetes.
Di sisi lain, Roy dan Arin datang bersama. Arin yang masih malu-malu tersenyum saat Mozza menyapanya.
Mozza sedikit terkejut melihat Arin tiba-tiba muncul berdampingan dengan Roy. “Eh, Arin? Kok bisa bareng Roy? Wah, ada pasangan baru nih,” godanya sambil tersenyum penuh arti.
Arin langsung merona, menundukkan wajahnya.
“Aduh, Kak Mozza, jangan bercanda gitu dong...” gumamnya pelan.
Roy hanya tersenyum kalem, menatap Mozza dengan sopan. “Kami memang datang bersama, Kak. Sekalian biar lebih ramai.”
Mozza mengangkat alis, semakin menggoda. “Ramai, atau romantis, nih?” candaannya membuat Jingga yang berdiri di samping Levin nyaris tertawa keras.
Egha yang ikut memperhatikan hanya menggeleng sambil tersenyum, lalu menyelamatkan suasana. “Sudahlah, jangan digoda terus. Mereka kan mau kasih ucapan.”
Roy akhirnya menundukkan kepala hormat. “Selamat, Nona Mozza, Tuan Egha. Semoga rumah tangganya dipenuhi keberkahan, saling mendukung dalam suka dan duka.”
Arin menambahkan dengan suara lembut, “Semoga Kak Mozza selalu bahagia bersama Tuan Egha. Semoga cinta kalian panjang umur dan jadi teladan untuk kita semua.”
Mozza tersenyum hangat, lalu meraih tangan Arin sebentar. “Amin... terima kasih, Arin. Kamu juga ya, semoga cepat nyusul.”
Arin makin salah tingkah, sementara Roy hanya tersenyum tipis, jelas menahan sesuatu yang ingin ia katakan tapi memilih diam.
Suasana pun semakin cair, penuh tawa kecil dan kehangatan keluarga.
Acara semakin meriah saat sesi foto bersama. Lensa kamera menangkap banyak tawa, pelukan, dan kebersamaan. Mozza dan Egha tampak tak pernah lepas bergandengan tangan, seolah takut kehilangan satu sama lain. Sesekali Egha berbisik sesuatu yang membuat Mozza tersipu, lalu menepuk pelan lengan suaminya itu.
Ketika musik romantis dimainkan, pasangan pengantin dipersilakan menari di tengah ruangan. Semua mata tertuju pada mereka. Egha meraih tangan Mozza, menatapnya dalam-dalam, lalu berbisik,
“Ini awal kita, Sayang. Aku janji akan selalu jadi rumah buat kamu.”
Mozza menahan air mata bahagia, lalu menjawab lirih,
“Dan aku janji akan selalu jadi alasanmu pulang, Egha.”
Tepuk tangan riuh terdengar, mengiringi momen penuh cinta itu.
Hari itu benar-benar menjadi hari yang sempurna. Tidak hanya bagi Mozza dan Egha, tetapi juga bagi semua orang yang hadir dan menyaksikan, bahwa cinta sejati memang layak diperjuangkan hingga akhirnya berlabuh di pelaminan.