Indonesia
NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Gudang beras kerajaan

Geliat Pagi di Kotaraja selalu bergerak lebih awal.

Sebelum sang fajar terbit sempurna, kereta-kereta kayu bermuatan penuh bulir padi sudah berderit melintasi lorong-lorong batu. Terakan para kuli angkut saling sahut-menyahut mengisi riuhnya jalanan menuju kompleks gudang beras kerajaan.

Jayengrana, yang kini berwujud dan menyamar sebagai "Saka", menyisip tenang di antara puluhan pencari kerja yang mengular. Seorang mandor bertubuh tegap mondar-mandir mengawasi barisan seraya mengapit papan catat.

"Pembayaran upah baru diberikan setelah matahari terbenam!" seru sang mandor galak. "Siapa yang malas silakan angkat kaki, dan barang siapa tertangkap mencuri, potong tangan hukumannya!"

Tak satu pun pekerja berani membantah.

Ketika giliran Jayengrana tiba, sang mandor hanya meliriknya sepintas dari ujung kaki hingga kepala. "Siapa namamu?"

"Saka," sahut Jayengrana rendah.

"Kuat memikul karung?"

"Bisa dicoba, Pak."

Mandor itu mengibaskan tangan. "Lakukan tugasmu di dalam."

Karung beras pertama dipindahkan ke atas bahunya. Bobotnya berkisar hampir satu kuintal—beban yang sanggup membuat lutut orang awam gemetar hebat. Bagi Jayengrana, muatan setebal itu tak ubahnya pemanasan ringan di pagi hari. Kendati demikian, ia sengaja melambatkan langkah dan mengatur napas agar penampilannya menyatu sempurna dengan kuli-kuli yang lain.

Berjam-jam lamanya ia berbaur dalam rutinitas kasar itu: memikul, menyusun, serta memindahkan karung-karung beras di lorong gudang yang lembap.

Saat waktu istirahat sore tiba, seorang pemuda berkulit legam terbakar matahari menghampirinya seraya menawarkan kendi minum. "Aku Giman."

"Saka," balas Jayengrana tipis.

Pemuda itu menyunggingkan senyum lebar. "Baru pertama kali mengadu nasib di Kotaraja, Saka?"

"Benar. Baru beberapa hari."

Giman melirik ke arah pintu utama seraya berbisik, "Jauhi mandor itu jika tidak ingin kena semprot. Mulutnya jauh lebih tajam daripada mata golok."

Jayengrana tersenyum tipis. Sorot mata pemuda di hadapannya memancarkan kepolosan tanpa tendensi.

Ketika ia mengaktifkan Naluri Niat, sensasi yang tertangkap di dadanya terasa teramat jernih: ketulusan murni. Meski anugerah tersebut belum sepenuhnya sempurna, kesan lugas itu sudah lebih dari cukup untuk membantunya memilah kawan dan lawan.

Menjelang senja, derak rodok kereta dan derap kaki kuda memecah ketenangan halaman gudang. Seluruh kuli angkut mendadak menghentikan aktivitas.

Tiga kereta beratap terpal tebal beriringan memasuki pelataran, dikawal ketat oleh belasan perwira bersenjata lengkap. Sang mandor buru-buru berlari menyambut dengan tubuh membungkuk dalam-dalam.

Seorang pejabat tinggi berbalut jubah hijau tua melangkah turun. Di dadanya menyemat lencana emas berbentuk burung garuda.

Jayengrana mengenali raut wajah itu: Rakai Sindura. Dulu, pria tersebut menjabat sebagai bendahara logistik perang Mataram—sosok ahli tata kelola yang teliti dan selalu memilih berdiri netral di luar pusaran politik.

Rakai Sindura meneliti sejenak tumpukan karung sebelum berbisik pelan pada sang mandor. Jarak mereka terlampau jauh untuk dapat didengar oleh telinga biasa.

Saat itulah, tanda perjanjian di dada Jayengrana mendadak berdenyut hangat. Bisikan gaib Penunggang Perjanjian kembali merayap di benaknya.

"Gunakan pendengaranmu."

'Aku belum memiliki kemampuan mengasah indra pendengar,' sahut Jayengrana dalam hati.

"Perjanjian ini memberi izin untuk meminjamnya sejenak."

Jayengrana mencoba memusatkan segenap fokusnya ke arah Rakai Sindura. Secara ajaib, keriuhan di sekitarnya meredup perlahan, berganti dengan kejelasan getaran suara dari kejauhan.

"...akan dipindahkan malam ini," bisik Rakai Sindura tegas. "...ini instruksi langsung dari Ki Wiradipa. Pastikan tidak ada celah kekeliruan."

Jayengrana mempertajam kepekaannya, menyaring tiap helai kata yang meluncur.

"...perempuan itu... pastikan tetap hidup. Tugas kita hanya mengamankan jalurnya."

Selesai memberi instruksi, Rakai Sindura kembali naik ke dalam kereta beratap tebal. Ketajaman pendengaran Jayengrana seketika menyusut kembali normal, diiringi denyut nyeri yang menghantam pelipisnya.

"Jangan memaksakan batas," tegur suara Penunggang Perjanjian. "Simpul pendengaran itu belum terkuak sepenuhnya. Yang kau gunakan barusan hanyalah serpihan kecil dari kekuatan yang akan datang."

'Jadi aku baru saja meminjam kemampuan yang belum menjadi milikku?'

"Benar."

'Apa imbalan yang kau ambil untuk penderitaan ini?'

Keheningan melingkupi benaknya sejenak sebelum suara itu menyahut ringan. "Hanya rasa pening di kepalamu."

Jayengrana mengurut pelipisnya yang berdenyut. Harga yang tergolong amat murah untuk saat ini, meski ia sadar bahwa makin besar daya gaib yang ia pinjam kelak, makin besar pula tebusan jiwa yang ditagih.

Namun, rasa sakit itu terbayar tuntas. Sebuah informasi krusial kini berada di tangannya.

Malam ini, seorang tahanan wanita akan dipindahkan tersembunyi—dan wanita itu tak lain adalah istrinya.

Matahari perlahan tenggelam di balik megahnya benteng Kotaraja.

Para pekerja mengular menerima upah harian mereka. Sang mandor membagikan beberapa keping uang tembaga seraya terus melemparkan omelan. Jayengrana mengantongi jatahnya, lalu berpura-pura melangkah melintasi gerbang luar bersama kuli-kuli yang lain.

Begitu berhasil keluar dari jangkauan pengawasan gudang, ia segera memutar langkah masuk ke lorong sempit. Ia memilih merayap diam, menanti hingga kegelapan malam benar-benar menelan kota. Pendar lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di sepanjang jalan utama.

Tak lama kemudian, pintu gerbang belakang gudang perlahan berderit terbuka.

Tiga kereta kayu meluncur keluar secara berurutan. Kereta pertama dipenuhi tumpukan karung beras, sedangkan kereta kedua memuat peti-peti kayu tebal.

Sementara kereta ketiga... tertutup rapat oleh helai kain tebal berwarna hitam kelam.

Delapan perwira berkuda dengan pedang terhunus mengapit ketat kereta tersebut. Pengawalan yang kelewat berlebihan—bahkan terlampau ketat jika sekadar mengangkut emas milik kerajaan.

Dari balik tumpukan kayu bakar, Jayengrana menyipitkan mata. Ia kembali membangkitkan Naluri Niat.

Ia tidak sanggup menyaring seluruh gelombang emosi dalam sekali hentakan, namun satu per satu kesan murni mulai terpancar jernih di benaknya.

Prajurit terdepan dipenuhi oleh kewaspadaan tinggi. Dua pengawal di sisi kanan diliputi ketegangan. Sang kusir kereta dirayapi rasa takut.

Lalu, dari dalam bilik kereta hitam itu... terpancar sebuah gelombang kesedihan yang amat pekat.

Jayengrana memejamkan mata sesaat. Rasa pilu itu begitu menusuk hingga dadanya mendadak ikut terasa sesak dan berat.

'Sensasi apa ini...' bisiknya dalam batin.

Suara Penunggang Perjanjian kembali terngiang, berbisik halus di sudut sanubarinya. "Gejolak niat yang terlampau pekat sanggup menembus tebalnya kayu dan kain penutup."

'Apakah itu istriku?'

"Aku tidak diciptakan untuk menjawab pertanyaan fana manusia."

Jayengrana mendesis pelan. Makhluk gaib itu memang tak pernah memberi jawaban lugas sesuai kehendaknya.

Rombongan pengawal mulai bergerak membelah malam. Jayengrana membuntutinya dari kejauhan, memanfaatkan bayang-bayang pepohonan dan atap kediaman warga agar tak memicu curiga.

Anehnya, rute yang diambil rombongan tersebut sama sekali tidak mengarah ke penjara bawah tanah maupun kompleks pendapa kerajaan. Mereka justru berbelok menuju kawasan utara Kotaraja—sebuah wilayah terasing yang kian sepi, makin minim pemukiman, dan didominasi oleh benteng-benteng tua yang terbengkalai.

Setelah berjalan hampir setengah jam, kereta itu berhenti tepat di pelataran sebuah bangunan batu tinggi berketinggian mencolok, dipagari oleh tembok batu hitam tanpa lambang maupun panji kerajaan.

Dua perwira yang berjaga di gerbang besi besar segera menggeser slokang. Kereta ketiga bergerak masuk, lalu pintu besi tebal itu kembali terkunci rapat dari dalam.

Jayengrana mengamati seluruh celah dari atas atap rumah kosong di seberang jalan. Selama belasan tahun menjabat sebagai senopati tertinggi, ia menghafal setiap jengkal denah Kotaraja, namun tempat misterius ini sama sekali tak pernah tercantum dalam peta pertahanan militer.

'Sebenarnya bangunan apa ini...'

Srek.

Suara gesekan langkah kaki mendadak berbunyi dari arah belakangnya.

Jayengrana berputar kilat, tangannya refleks mencengkeram gagang tombak berbungkus kain.

Sesosok lelaki tua berdiri santai di atas genteng yang sama. Tubuhnya kurus kering, terbalut pakaian lusuh compang-camping dengan rambut putih acak-acakan. Jemari rentanya erat menggenggam sebotol kendi tanah liat berisi arak.

"Aneh sekali..." gumam lelaki tua itu seraya terkekeh pelan. "Sudah puluhan tahun berlalu, baru malam ini aku melihat ada anak muda yang berani mengintai bangunan terkutuk itu."

Jayengrana menatap sosok tersebut tanpa berkedip. Hatinya berdesir hebat—ia sama sekali tak merasakan getaran kehadiran lelaki ini sebelumnya.

Ia mencoba menyerap emosi pengembara tua itu menggunakan Naluri Niat, namun hasilnya nihil.

Kosong.

Tak ada kehendak membunuh, tak ada rasa takut, tak ada pula jejak kedengkian. Seolah-olah sosok di hadapannya merupakan ceruk hampa yang tak memiliki niat apa pun di dalam jiwa.

Orang tua itu memiringkan kendi, meneguk araknya seteguk, lalu terkekeh makin lebar. "Jangan terlalu heran, Nak. Jika semua orang sanggup menelanjangi relung hati lelaki tua bangke sepertiku... dunia ini tentu sudah lama hancur berkeping-keping."

Jantung Jayengrana berdegup keras. Ia tak pernah membocorkan rahasia anugerah Naluri Niat kepada siapa pun.

Lantas bagaimana mungkin pengembara asing ini mampu mengetahui kemampuan gaib yang baru saja ia pakai?

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!