Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Singgasana Sang Penguasa Palsu
Asap hitam mengepul pekat, menggulung tebal dan membubung tinggi menembus langit pagi kawasan pelabuhan utara, menciptakan tirai kelam yang menutupi sisa-sisa fajar yang pucat. Bau mesiu, darah segar, bau anyir laut, serta minyak solar yang terbakar berpadu menjadi satu di udara, menciptakan atmosfer menyesakkan yang merenggut oksigen bagi siapa pun yang masih bertahan hidup di area dermaga tersebut. Puluhan anak buah Zayn Al-Fayed terkapar tak bernyawa di atas lantai semen yang dingin dan kotor, bersimbah darah di antara serpihan kontainer logam raksasa dan peti amunisi yang hancur berkeping-keping akibat hantaman peluru taktis berkaliber tinggi. Perlawanan yang tadinya dibangun dengan penuh keangkuhan, janji palsu, dan mimpi-mimpi busuk kini telah berubah menjadi ladang pembantaian satu arah yang sangat mengerikan dan mematikan tanpa ampun sedikit pun.
Zayn Al-Fayed terduduk lemas di atas geladak kapal kargo bobrok tempat ia tadinya berdiri dengan begitu arogan dan penuh keyakinan palsu. Jubah jas mahalnya kini robek di berbagai sisi, berlumuran debu hitam, jelaga, serta noda darah pekat dari para pengawalnya yang tewas melindungi anjungan. Genggaman tangannya pada senjata api laras pendek bergetar hebat, sementara manik matanya yang dipenuhi urat kemerahan menatap kosong ke arah sosok-sosok bayangan yang berjalan mendekat melintasi tumpukan mayat tanpa belas kasihan. Hati kecilnya menjerit dalam keputusasaan yang teramat sangat ketika ia menyadari bahwa seluruh kekaisaran kriminal yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun kini musnah dalam sekejap mata tanpa ada sisa.
Di hadapannya, Kaiser, King, dan Zero melangkah naik ke atas geladak dengan langkah tenang dan terukur, seolah mereka sedang berjalan-jalan santai di taman bunga alih-alih di tengah medan perang yang berdarah-darah. Di belakang mereka, Ceira melangkah anggun dengan gaun malam berbalut jubah gelap, manik matanya memancarkan ketenangan absolut seorang ratu kegelapan yang datang untuk menagih nyawa musuhnya secara langsung. Aura dominasi yang dipancarkan oleh keempat penguasa dunia bawah itu begitu menekan, membuat udara di sekitar kapal kargo terasa semakin membeku dan sulit dihirup oleh paru-paru manusia biasa.
“Lihatlah pria menyedihkan itu, Ceira,” batin Scarlett mendesis penuh kemenangan di dalam kesadaran mereka, suaranya bergemerincing bagaikan tawa iblis yang memuja kehancuran mutlak. “Makhluk arogan yang tadinya berani merendahkan kita di hadapan para petinggi sindikat kini gemetar ketakutan bagaikan seekor anjing kudisan di sudut ruangan. Biarkan dia merasakan betapa mahalnya harga dari setiap napas yang dia curi di bawah langit kita. Tidak ada tempat lari bagi pengkhianat yang mencoba mencakar singa.”
Zayn mendongakkan kepalanya dengan susah payah, lehernya terasa kaku dan tenggorokannya kering kerontang bagaikan padang pasir. Ia menatap tajam ke arah Ceira yang berdiri di antara tiga penguasa dunia bawah tersebut. Rasa amarah, frustrasi, kebencian, dan rasa tidak percaya bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya, menciptakan ledakan emosi yang hampir meremukkan kewarasannya. Bagaimana mungkin rencananya yang telah dirancang selama berbulan-bulan dengan begitu rapi, rahasia, dan teliti bisa runtuh berkeping-keping hanya dalam hitungan menit di tangan para monster ini?
"Kalian... kalian semua adalah monster!" teriak Zayn parau, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin laut yang dingin dan letupan api kecil di kejauhan. Ia mencoba mengangkat senjatanya dengan tangan yang gemetar hebat, berniat melakukan perlawanan bunuh diri terakhir sebelum maut menjemputnya.
Sebelum jari Zayn sempat menarik pelatuk senjata tersebut untuk menembak, sebuah kilatan cahaya perak melesat sangat cepat dari arah samping dengan kecepatan suara.
Cepat!
Belati taktis berukir milik Zero menghujam telak menembus pergelangan tangan kanan Zayn dengan presisi yang mematikan, menjatuhkan senjata api itu ke lantai kayu dengan suara benturan nyaring yang diiringi oleh jeritan kesakitan melengking dari sang pemimpin sindikat. Zayn mencengkeram pergelangan tangannya yang bersimbah darah segar, meringkuk kesakitan di lantai geladak sambil terisak putus asa menahan rasa sakit yang luar biasa.
Zero melangkah maju dengan ekspresi tanpa belas kasihan sedikit pun, mencengkeram kerah baju Zayn dan menarik tubuh pria itu hingga berdiri terhuyung-huyung dengan paksa. Manik mata merah pekat Zero menatap tajam tepat ke dalam mata Zayn yang mulai kehilangan sisa-sisa kewarasannya.
"Kau terlalu naif jika mengira bisa bermain api di sarang naga, Zayn," bisik Zero dingin bagaikan embusan angin dari neraka, suaranya menghujam tajam bagaikan bilah es. "Kau datang membawa ancaman pembunuhan, dan sekarang kau akan pergi dari dunia ini tanpa meninggalkan nama ataupun nisan."
King melangkah mendekat dengan langkah berat yang berwibawa, melipat kedua tangannya di dada bidangnya dengan postur tubuh yang memancarkan otoritas mutlak atas dunia hitam. "Dinasti sindikatmu resmi runtuh hari ini, Zayn, tanpa sisa," ucap King dengan nada datar yang mengerikan dan mematikan. "Tidak ada satu pun aset, anak buah, atau wilayahmu yang akan tersisa esok hari di muka bumi ini."
Kaiser merangkul pinggang Scarlett di sampingnya dengan gerakan penuh kepemilikan, membiarkan wanita itu menyaksikan detik-detik terakhir kehancuran musuh mereka dengan mata kepala sendiri. Ceira menunduk sedikit, menatap tajam ke arah Zayn yang kini tidak mampu lagi mengangkat kepalanya karena menanggung beban kekalahan yang telak.
"Sebelum kau benar-benar mati di tempat ini, katakan padaku, Zayn..." suara Ceira mengalun rendah, dingin, dan menusuk tulang siapa pun yang mendengarnya. "...apakah penyesalan ini sepadan dengan semua kebodohan yang telah kau perbuat terhadap kami?"
Zayn hanya bisa terbatuk mengeluarkan gumpalan darah segar, lidahnya kelu dan tidak mampu merangkai kata-kata balasan di hadapan tatapan predator yang mengurungnya dari segala penjuru mata angin. Ia sadar sepenuhnya bahwa hidupnya telah berakhir di tempat terkutuk ini, dan tidak ada keajaiban yang bisa menyelamatkannya dari takdir berdarah tersebut.
Dengan sebuah isyarat kepala yang sangat singkat namun mutlak dari Kaiser, Lucid yang baru saja tiba di geladak langsung mengayunkan pedang panjangnya dengan mantap. Dalam satu gerakan kilat yang bersih, tajam, dan tanpa suara, bilah berkilat itu memutus kepala Zayn Al-Fayed dari tubuhnya, mengakhiri riwayat sang penguasa bayaran dalam genangan darah segar di atas kapal kargo pelabuhan utara.
Perang besar telah usai dengan kemenangan mutlak. Dan keluarga Sterling berdiri semakin kokoh, abadi, dan tak tersentuh di atas singgasana kegelapan dunia hitam. Kejayaan mereka kini terkunci rapat di balik bayang-bayang darah, kekuasaan mutlak, serta ikatan cinta gelap yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh siapapun di muka bumi ini. Di bawah naungan fajar yang baru, dinasti mereka membentang tanpa batas, siap menyambut lembaran baru kekuasaan yang penuh dengan darah dan dominasi abadi.
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏