Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:142
Nilai: 5
Nama Author: Lobelia

Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.

Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.

Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.

Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.

Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Badai yang menggantung di atas New York akhirnya pecah, menghantam jendela-jendela besar kamar suite utama dengan kekerasan yang berirama. Di dalam, udara terasa lebih pekat lagi. Victoria berdiri di samping ranjang, dadanya naik-turun, sementara Dante menutup pintu di belakangnya dengan ketenangan yang Victoria tahu adalah awal dari sebuah kebakaran.

"Aku tidak akan membiarkannya, Dante," suara Victoria bergetar oleh campuran tangis dan baja. "Yang kau lakukan di halaman tadi… yang kau biarkan León saksikan… itu racun yang tak punya penawar. Kau membunuh anak yang kubesarkan."

Dante melepas arloji dari pergelangannya dan meletakkannya di atas laci dengan bunyi keras. Ia mendekat, menerobos ruang pribadi Victoria, memaksanya merasakan hawa panas yang menguar dari tubuhnya.

"Aku tidak membunuh siapa pun, Victoria. Aku membangunkan sosok pria yang akan menjaganya tetap hidup saat aku sudah tak ada," jawabnya, suaranya rendah dan serak. "Dunia ini bukan San Vicente. Di sini, kalau kau tak tahu cara memukul, kau berakhir bertekuk lutut seperti pengawal itu. Apa itu yang kau inginkan untuk León? Kau ingin dia jadi korban orang-orang seperti Enzo?"

"Aku ingin dia jadi manusia!" jerit Victoria, memukul dada Dante dengan telapak tangan. "Aku ingin dia merasa jijik pada darah, bukan penasaran. Cristo terkurung di kamarnya, gemetar, dan León… León memandangmu seolah kau dewa perang. Kau mengubahnya menjadi pantulan dirimu sendiri, dan itu hal paling kejam yang bisa kau lakukan padanya!"

Dante menangkap kedua pergelangan tangannya, menghentikan serangan itu. Ia menariknya mendekat hingga napas mereka berbaur. Victoria bisa melihat badai di mata kelabu pria itu, pusaran nafsu memiliki, rasa bersalah, dan hasrat yang tak lagi ia coba sembunyikan.

"Kau membenciku karena aku cermin dari apa yang mereka simpan di dalam diri mereka," bisik Dante, wajahnya beberapa milimeter dari wajah Victoria. "Kau membenciku karena kau tahu aku benar. Di rumah ini, kepolosan adalah hukuman mati. Sudah lima tahun aku sekarat dari dalam, Victoria. Lima tahun mencarimu supaya kita bisa jadi keluarga lagi, bukan supaya kau memandangku seolah aku iblis."

"Karena memang begitu kau ini!" balas Victoria, meski suaranya kehilangan tenaga. Kedekatan Dante membuatnya pening. Aroma kayu dan hujan yang selalu menyertai pria itu membangkitkan kenangan-kenangan pengkhianat tentang malam-malam saat ia adalah satu-satunya tempatnya berlindung. "Kau iblis yang menyeret kami ke neraka."

Dante melepaskan kedua pergelangan tangannya, tetapi tak menjauh. Tangannya merambat perlahan naik menyusuri lengan Victoria hingga membingkai wajahnya. Kedua ibu jarinya membelai tulang pipi Victoria, menghapus jejak air mata dengan kelembutan yang menyakitkan lebih dari amarahnya.

"Kalau begitu tataplah aku, Victoria," pintanya, suaranya retak untuk pertama kalinya. "Tatap sang iblis dan katakan padaku bahwa kau tak merasakan ini. Katakan padaku bahwa kau tak merindukan bagaimana tanganku dulu membuatmu merasa seluruh dunia tak lagi berarti."

Victoria berusaha memalingkan pandangan, tetapi ia terperangkap. Dalam saat kerapuhan mentah itu, amarah berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lebih purba. Hasrat yang tertekan bertahun-tahun oleh ketiadaan dan berbulan-bulan oleh penawanan meletup di antara mereka bagai sebuah korsleting. Victoria mengenang rasa aman dalam pelukan pria itu sebelum pengkhianatan, dan Dante mengenang satu-satunya cahaya yang pernah ia miliki dalam hidupnya yang penuh bayang.

Dante mencondongkan tubuh, hidungnya menyentuh hidung Victoria.

Victoria memejamkan mata, merasakan pertahanannya runtuh. Kedua tangannya, yang tadi memukul dada pria itu, kini mencengkeram kelepak kemejanya, menariknya mendekat dalam sebuah tindakan penyerahan diri yang tak disengaja. Mereka hanya sejarak satu embusan napas dari ciuman pertama dalam lima tahun, sebuah ciuman yang akan menyegel takdir mereka dan menghapus garis-garis pertempuran.

Tepat ketika bibir Dante nyaris merebut bibir Victoria, gelang elektronik di pergelangannya memancarkan bunyi bip nyaring dan terus-menerus, disertai lampu merah yang berkedip.

Dante berhenti mendadak. Kabut hasrat lenyap seketika, digantikan oleh dinginnya perintah. Victoria mundur, membekap mulut dengan tangan, terkejut oleh apa yang nyaris terjadi dan oleh apa yang ditandakan peringatan itu.

Dante mengaktifkan interkom di dinding.

"Ini Moretti. Laporkan."

"Tuan," suara Marco terdengar terdistorsi oleh gangguan badai, "kita ada anomali di sistem kamera sayap timur. Ada yang memblokir sensor taktis dari dalam. Ini bukan serangan dari luar, ini penyusupan internal ke dalam jaringan."

Dante memandang Victoria, dan sesaat, kecurigaan melintasi wajahnya. Tetapi wanita itu sama bingungnya dengan dia.

"Kembali ke kamar anak-anak, Victoria," perintah Dante, memulihkan topeng batunya. "Sekarang."

Ia keluar dari kamar suite tanpa menoleh, senjata sudah di tangan. Victoria berlari ke kamar si kembar, jantungnya seakan melompat ke tenggorokan. Saat masuk, ia mendapati León duduk di ranjangnya, berpura-pura tidur, tetapi Cristo duduk di depan tabletnya, jari-jarinya beterbangan di atas layar dengan raut konsentrasi yang mutlak.

"Apa yang kamu lakukan, Cristo?" bisik Victoria, mendekatinya.

"Dante hendak menghukum Rosa," jawab bocah itu, tanpa mengangkat pandangan. Matanya berkilau oleh cahaya biru layar. "Aku dengar lewat saluran ventilasi bahwa dia mengira Rosa membocorkan informasi soal inventaris. Aku harus menciptakan pengalih perhatian besar di server supaya Marco tak bisa melacak panggilan-panggilan Rosa. Aku sudah memblokir sayap timur supaya Dante harus pergi ke sana sendiri."

Victoria terhenyak di sebuah kursi, kewalahan. Sementara ia dan Dante nyaris tunduk pada gairah reruntuhan mereka, anak-anak mereka tengah menjalankan sabotase tingkat tinggi untuk melindungi para pegawai yang membantu mereka.

Jurang antara dirinya dan Dante terselamatkan oleh sedetik hasrat, tetapi ngarai yang menganga di antara mereka dan anak-anak mereka kian dalam. Kedua bocah itu tak lagi hanya melindungi diri. Mereka belajar memanipulasi sistem keamanan kediaman itu seolah ia sebuah papan permainan.

Victoria memandang anak-anaknya dalam keremangan, menyadari bahwa perdebatannya dengan Dante soal pengasuhan mereka sia-sia belaka. Mereka tak lagi dididik oleh siapa pun. Mereka menempa diri mereka sendiri di celah-celah imperium Moretti, dan malam itu, ciuman pertama kedua orang tua mereka tak terjadi karena kecerdasan taktis putra bungsu mereka lebih diutamakan daripada romansa para penawan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!