Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Bahkan dalam Gelap
Viktor
Sepanjang hari aku menghindari ayahku.
Menghindari pertanyaannya.
Menghindari tatapannya.
Menghindari perasaan menyebalkan bahwa semua orang seakan lebih tahu tentang hidupku ketimbang diriku sendiri.
Maka aku sengaja pulang larut.
Makin sedikit orang yang masih terjaga, makin baik.
Aku masuk tanpa suara, melepas jas selagi menyusuri lorong yang gelap.
Tapi bahkan sebelum aku sempat menaiki tangga, suara ibuku menggema di ruangan.
"Sekarang sudah jadi kebiasaan, ya, kau lari dari tanggung jawabmu, Viktor?"
Aku berhenti seketika.
Perlahan.
Lalu memutar wajah ke arahnya.
Mama duduk di sofa ruang tamu, anggun seperti biasa, segelas anggur di tangan, dan tatapan yang bisa menembus siapa saja.
"Aku tidak lari dari tanggung jawabku."
Dia tertawa.
Sinis.
Dingin.
"Meniduri satu perempuan tiap malam tak membuatmu jadi lelaki, Nak."
Rahangku langsung mengeras.
Tapi dia melanjutkan sebelum aku sempat membalas.
"Meninggalkan seorang gadis hamil terlantar begitu saja itu tidak berperikemanusiaan."
"Anak itu bukan anakku."
Mama menggeleng pelan.
Seolah lelah mendengar kalimat yang sama.
"Kau sendiri pun tak percaya itu, Viktor."
Kata-kata itu langsung membuatku kesal.
"Mama tidak tahu apa-apa."
Dia bangkit dengan tenang.
Tanpa meninggikan suara.
Yang justru memperburuk segalanya.
"Kau cuma tak mau mengakui kesalahanmu."
Aku tertawa hambar.
"Luar biasa. Sekarang semua orang tiba-tiba mengubah gadis itu jadi orang suci."
Mama mendekat.
Matanya dingin.
Dingin yang berbahaya.
"Tidak. Tapi aku melihat sesuatu yang tak kaulihat."
Aku menyilangkan tangan, jengkel.
"Apa itu?"
Dia menatapku lama sebelum menjawab:
"Rasa takut."
Keheningan terasa berat di antara kami.
Dan aku benci fakta bahwa kata itu mengenaiku telak.
Mama mendesah.
"Tapi jangan kira, begitu dia baik-baik saja, aku akan membiarkanmu menghancurkan hidupnya."
Aku mengernyit.
"Apa?"
"Dia masih muda. Cantik. Dia akan membangun hidupnya kembali bersama orang lain."
Dadaku langsung mengeras.
Lalu dia menutup, tanpa ampun:
"Jangan menangis nanti saat kau melihat anakmu memanggil lelaki lain dengan sebutan ayah."
Kalimat itu menghantamku seperti tinju.
Telak.
Kejam.
Rahangku terkunci.
Karena bayangan itu muncul di kepalaku bahkan sebelum aku sempat mencegahnya.
Ekaterina.
Hamil.
Tersenyum pada lelaki lain.
Anakku dalam gendongan lelaki lain.
Tangan pria itu menyentuh apa yang seharusnya milikku.
Amarah tak masuk akal menjalar di dadaku begitu cepat sampai membuatku sesak.
Dan yang terburuk...
adalah menyadari bahwa reaksi ini tak masuk akal.
Karena, kalau anak itu bukan anakku...
Kenapa hal ini begitu mengusikku?
Mama kembali bicara.
Suaranya kali ini sedikit melembut. Tak sekeras tadi. Nyaris lelah.
"Bukannya dia orang suci. Kau tahu kisahku... dan kisah ayahmu, Nak."
Aku tetap diam.
Dia meletakkan gelasnya di meja perlahan sebelum melanjutkan:
"Aku melakukan semua yang kulakukan demi lepas dari cengkeraman kakekmu."
Kata-kata itu langsung membuatku mengangkat wajah.
Karena Mama jarang sekali membicarakan masa itu.
Dan kalau dia sampai membicarakannya...
berarti ada sesuatu yang benar-benar mengusiknya.
"Mungkin Ekaterina juga punya alasannya sendiri."
Nama itu menggema di kepalaku dengan cara yang menjengkelkan.
Terus-menerus.
Mama mendekat sedikit lagi.
"Tapi kau tak mau mendengar. Tak mau melihat kebenarannya."
Aku mengatupkan rahang.
Karena sebagian diriku ingin berteriak bahwa dia salah.
Bahwa gadis itu berbohong.
Bahwa dia memanipulasiku.
Bahwa semua ini cuma jebakan.
Tapi sebagian lain...
bagian yang terburuk...
terus mengingat rumah tua itu.
Kisah adik yang sakit.
Bocah kecil yang memeluknya.
Cara Ekaterina menatapku hari itu.
Rasa takut.
Bukan ambisi.
Bukan kepentingan.
Rasa takut.
Mama menarik napas dalam-dalam.
Lalu mengucapkan kalimat yang langsung tersangkut di kepalaku:
"Aku cuma berharap kau tak membuka mata terlambat."
Dia menaiki tangga setelah itu.
Meninggalkanku sendirian di ruangan yang sunyi.
Aku terpaku di tempat.
Tak sanggup naik.
Tak sanggup keluar.
Hanya menatap kekosongan.
Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...
aku mulai curiga bahwa mungkin akulah penjahat dalam kisah ini.
Aku menaiki tangga perlahan.
Sunyi rumah ini terasa lebih buruk di tengah dini hari.
Berat.
Menekan.
Aku mandi cepat, mencoba menjernihkan pikiran, tapi percuma. Begitu aku berbaring, semuanya kembali lagi.
Suara Mama.
Rumah itu.
Si bocah.
Ekaterina.
Aku berguling ke sana ke mari, tak juga bisa tidur.
Aku tersiksa.
Kesal pada diriku sendiri karena terlalu banyak memikirkan gadis itu.
Lalu aku menyerah begitu saja.
Bangkit dari ranjang, mengambil kunci mobil, dan keluar rumah.
Jalanan nyaris kosong selagi aku menyetir tanpa terlalu memikirkan arah.
Tapi jauh di dalam, aku tahu persis ke mana aku menuju.
Ketika sadar, aku sudah di jalanan rumahnya lagi.
Tanganku mencengkeram setir saat menyadari ada beberapa mobil di belakangku.
Pengawal.
Aku mengembuskan napas perlahan.
Ayahku mengawasiku.
Tentu saja.
Aku turun dari mobil dan menghampiri para pengawal.
Mereka langsung waspada.
"Tuan Viktor."
Aku memandang rumah Ekaterina beberapa detik sebelum berkata:
"Dua orang berjaga di rumah ini, mengawasinya dua puluh empat jam sehari."
Keduanya bertukar pandang cepat.
"Tuan?"
Suaraku keluar lebih dingin kali ini.
"Aku ingin dilaporkan tentang segalanya."
"Baik, Tuan."
Mereka langsung mengangguk.
Aku kembali ke mobil tanpa menjelaskan apa-apa lagi.
Karena aku sendiri pun tak bisa menjelaskannya.
Aku menyalakan rokok dan menyandarkan kepala ke jok.
Asap perlahan memenuhi mobil selagi aku mengamati rumah yang sunyi itu.
Lampu-lampunya padam.
Semuanya tampak tenang.
Normal.
Tapi tetap saja aku terus memandang.
Seolah menunggu sesuatu.
Atau seseorang.
Rahangku terkunci saat aku menyadari betapa absurdnya situasi ini.
Seharusnya aku melupakan gadis itu.
Bukan mengawasi rumahnya di tengah dini hari seperti lelaki yang terobsesi.
Tapi kalau begitu...
kenapa aku tak sanggup pergi?