Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 Julukan Baru
Tiga hari kemudian. Berita menyebar ke 4 kerajaan dengan begitu cepat. Kabar tentang dataran badai yang telah ditaklukkan. Kabar kemenangan tentang seorang penyihir misterius yang tidak dapat dicari identitasnya.
Gumpalan perkamen murah dan selebaran resmi dari burung-burung kurir memenuhi kedai, jalanan kota, hingga lorong istana. Di baris depan setiap lembar berita, tinta hitam tebal mencetak judul yang sama, mengguncang fondasi kedamaian semu yang selama ini dijaga.
"PENYIHIR JURANG HENTIKAN BADAI 100 TAHUN DI DATARAN BADAI."
"PENGELANA MISTERIUS YANG MENGUASAI TIGA ELEMEN."
Nama yang tak pernah terdengar, kini menjelma menjadi hantu yang menakutkan sekaligus dipuja. Di dalan kamar besar yang dingin, di dalam dinding batu hitam kerajaan Ignis, gema pecahan kaca terdengar memekakkan telinga.
Prang!
Seraphina melempar vas porselen mahal ke dinding, menyebarkan serpihan tajam dan air mawar ke atas lantai marmer kamar besarnya itu. Napasnya memburu, matanya merah menatap koran yang tergeletak di meja rias.
"Tiga elemen sihir! Omong kosong! Tidak ada yang mampu menguasai tiga elemen sihir sekaligus. Tubuh manusia ini tidak akan pernah sanggup menahan kekuatan itu. Satu elemen saja butuh seumur hidup untuk benar-benar menguasainya. Lalu, pengelana itu menguasai tiga dan mampu menghentikan badai petir selama ratusan tahun? Ini mustahil! Benar-benar mustahil!" teriak Seraphina, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan yang disembunyikan.
"Hukum alam tidak mengizinkan itu! Cari tahu siapa pengelana ini, sekarang juga!" titahnya pada para pengawal yang bersimpuh di hadapannya.
Hidupnya tidak pernah tenang sejak ia membunuh Eliya di tepi jurang. Teriakannya waktu itu masih mengiang di dalam kepala, menjadi alarm kuat yang selalu mengingatkannya pada sosok putri sah yang selalu rendahkan.
"Siapa sebenarnya penyihir jurang ini? Apakah dia benar-benar Aurelia? Tapi aku melihat sendiri bagaimana angin jurang menelannya. Dia tidak mungkin selamat dari jurang tanpa batas itu," gumamnya dengan suara pelan.
emosinya mereda, tapi sorot matanya yang merah masih memancarkan kemarahan yang tiada batas. Tangannya mengepal erat hingga percikan sihir api mencuat dari sela-sela jemarinya. Dia benar-benar terganggu dengan adanya kabar burung itu.
****
Sementara itu, ribuan mil dari sana, di bawah langit cerah kerajaan Venthora, suasana justru terasa kontras. Di teras sebuah kedai tinggi yang menghadap ke lembah angin, Kael duduk santai. Ia mengangkat cangkir peraknya, meminum anggur madu perlahan sambil tersenyum tipis. Matanya menyipit membaca baris demi baris berita yang sama.
"Ck. Menyebalkan," gumam Kael pelan. Senyumnya tidak pudar, justru menyiratkan ketertarikan yang berbahaya. "Kau merebut panggung utamaku, Eliya."
Ia kembali ke kerajaan angin setelah keluar dari dataran badai dan menyaksikan kejadian luar biasa. Penyihir langka yang mampu menaklukan bukit meratap.
"Kau semakin terkenal, El. Ah, bagaimana kabar kalian?" Ia teringat pada Rayn yang terluka parah.
Kael bangkit, meninggalkan beberapa koin sebagai bayaran atas jamuan hari itu. Ia pergi meninggalkan koran lusuh yang ditemukannya di kolong meja kedai.
****
Jauh dari intrik politik kerajaan, dan hiruk pikuk kehidupan kota, keheningan yang berbeda menyelimuti tenda di pinggiran hutan dataran badai. Sebuah tenda sederhana yang ditempati Eliya selams beberapa hari sambil menunggu kesadaran Rayn.
Bau ramuan herbal yang pahit memenuhi udara, bercampur dengan aroma tanah basah sisa badai tempo hari.
Di dalam tenda itu, Rayn sudah sadar. Tubuhnya masih dibalut perban ketat, tapi matanya yang tajam telah kembali menemukan fokusnya. Alih-alih menatap Eliya, pandangannya justru terpaku pada seonggok tanda tato di pergelangan tangan gadis itu.
Dia menatap tanda Mahkota elemen di sana. Tanda yang telah Eliya sembunyikan dengan cukup baik di balik lengan baju lusuhnya.
"Kau bukan penyihir biasa," kata Rayn pelan, suaranya parau dan terdengar begitu yakin di dalam tenda yang sunyi.
Dia mengalihkan pandangan pada Eliya, menembus langsung ke dalam benak gadis itu
"Kau ... wadah," katanya lagi tanpa ragu.
Eliya terdiam. Kata wadah itu adalah rahasia yang tidak bisa diketahui oleh sembarangan orang. Kenyataan bahwa dia bisa mengetahuinya hanya dengan melihat sekilas tanda mahkota itu membuat jemari Eliya mengepal di balik jubah. Rayn benar-benar tidak bisa diremehkan.
"Kau juga bukannya lemah. Kau pantas disebut putra jenius di usiamu. Tidak sembarangan orang tahu tentang wadah. Bagaimana kau mengetahuinya?" balas Eliya dingin, memecah kecurigaan yang mulai merayap di antara mereka.
Mata gadis itu menatap luka-luka di tubuh Rayn yang beregenerasi terlalu cepat untuk ukuran manusia biasa. Elemen api yang ia gunakan kemarin saat membuat aray pelindung, mengandung energi yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang manusia biasa.
Rayn tertawa kecil. Suara tawanya terdengar serak. Namun, entah bagaimana, berhasil mencairkan ketegangan yang sempat membeku di udara. Dia menyandarkan kepalanya ke bantal jerami, menatap langit-langit tenda dengan senyum getir.
"Ternyata bukan hanya aku yang berbohong di sini. Kita sama-sama. Kau juga berbohong," katanya sembari kembali melirik pergelangan tangannya.
"Tanda di pergelangan tanganmu aku pernah melihatnya di buku kuno. Tanda bagi seorang wadah yang bisa menampung tujuh kekuatan. Kau pilihan takdir, Aurelia!" lanjut Rayn membuat Eliya tertegun.
Mata gadis itu membulat sempurna, urat-urat di wajahnya menegang. Bagaimana Rayn tahu dia adalah Aurelia?
"Kau tahu?" tanyanya lirih.
"Aku sudah tahu sejak penyihir jurang dikabarkan. Aku tahu itu kau. Gadis yang dulu selalu menunduk ketakutan jika bertemu orang lain," jawab Rayn sembari menelisik wajah Eliya.
Untuk pertama kalinya, Eliya tidak membantah. Keheningan kembali tercipta, kali ini bukan karena saling curiga, melainkan karena sebuah kesepahaman tidak tertulis. Mereka berdua adalah buronan para penyihir, membawa beban yang terlalu besar untuk dunia yang rapuh ini.
"Istirahatlah," ucap Eliya seraya bangkit dari duduknya.
Ia berjalan keluar tenda, membiarkan Rayn beristirahat. Angin sore menerpa wajahnya, membawa aroma kebebasan sekaligus ancaman.
Tidak ada lagi belas kasihan untuk seorang gadis yatim piatu dari jurang. Yang ada hanyalah rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Itulah yang Eliya dari tatapan para penduduk yang ia temui.
Seorang pria tua, kepala desa setempat, menghampiri tenda mereka dengan tangan bergetar. Dia tidak berani menatap mata Eliya secara langsung. Di tangannya, dia membawa sebuah perkamen yang baru saja tiba dari ibu kota.
"Penyihir Agung Jurang!" Suaranya tercekat. Ia memberikan selembar kertas yang digulung, kemudian pergi tanpa menoleh lagi.
Eliya menerima perkamen itu tanpa bersuara. Di dalamnya, selain laporan tentang kehancuran menara batu di dataran badai, ada satu baris keputusan yang dicetak dengan segel lilin merah darah.
"Monarki tidak bisa mengendalikan kekuatanku, maka mereka memilih untuk menandai diriku." Sebuah julukan yang akan mengutuk Eliya. Julukan yang menjadikannya sebagai buruan para penyihir. Terutama penyihir gelap.
Ia membaca dua kata terakhir di lembar tersebut.
"Penguasa Jurang."
Eliya meremang kertas itu hingga hancur di tangannya. Julukan baru telah lahir, dan bersama dengan itu, perburuan atas hidupnya resmi dimulai.