Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Membuktikan Ketulusan
Kirana tidak bisa tidur semalaman, dibebani rasa bersalah atas kata-katanya pada Denis. Ia berulang kali memutar kembali percakapan itu di kepalanya, menyadari betapa mudahnya ia terpengaruh oleh manuver licik Ratna, meski hanya sesaat.
Pagi harinya, ia memutuskan untuk mencari Sari terlebih dahulu, membutuhkan perspektif lain sebelum menghadapi Denis lagi.
"Kau bertemu Ratna tanpa memberi tahu kami?" Sari menatapnya tidak percaya setelah mendengar cerita lengkap Kirana. "Kirana, itu berbahaya. Kau tidak tahu apa rencana sebenarnya di balik pertemuan itu."
"Aku tahu, aku salah," Kirana mengakui, menundukkan kepala. "Aku hanya penasaran, dan sekarang aku menyesalinya. Aku sudah menyakiti Denis dengan meragukan ketulusannya."
Sari menghela napas, meski wajahnya melunak melihat penyesalan tulus adiknya. "Denis sudah membuktikan banyak hal selama beberapa minggu ini, Kirana. Dia selalu ada, tanpa pernah meminta apa pun sebagai balasan. Kau tahu itu."
"Aku tahu," Kirana menjawab lirih. "Tapi kata-kata Ratna entah bagaimana berhasil menembus pertahananku, meski hanya sesaat."
"Itulah taktiknya," Sari menjelaskan. "Dia tahu persis cara menanamkan keraguan, karena itu senjata paling ampuh untuk memecah belah keluarga yang baru saja mulai bersatu."
Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Sari berbunyi—pesan dari Pak Wibowo, pengacara mereka. Sari membacanya cepat, alisnya berkerut serius.
"Ada perkembangan," ujarnya. "Pak Wibowo bilang dia berhasil menghubungi notaris kita melalui panggilan video. Surat kuasa itu terverifikasi asli. Tapi ada kabar lain juga—dia menemukan sesuatu yang menarik saat memeriksa arsip notaris."
"Apa itu?"
"Katanya ada dokumen lain atas nama Bapak yang disimpan di sana, terkait dengan pengakuan hukum untuk Denis. Sepertinya Bapak sudah mengurus ini bertahun-tahun lalu, jauh sebelum kita semua tahu keberadaannya."
Kirana merasakan jantungnya berdegup kencang mendengar kabar itu. "Pengakuan hukum? Maksudnya Bapak secara resmi mengakui Denis sebagai anaknya, di mata hukum?"
"Sepertinya begitu," Sari mengangguk, matanya menunjukkan campuran keterkejutan dan haru. "Pak Wibowo akan membawa salinan dokumen itu sore ini untuk kita periksa bersama."
Berita itu, meski belum sepenuhnya jelas detailnya, memberikan Kirana perspektif baru tentang seberapa jauh Bapak sebenarnya sudah berusaha melindungi dan mengakui Denis, meski secara diam-diam. Ini memperkuat keyakinannya bahwa keraguan yang ditanamkan Ratna kemarin benar-benar tidak berdasar.
Sore itu, setelah Pak Wibowo tiba dengan dokumen yang dijanjikan, seluruh keluarga—termasuk Denis yang dengan enggan diundang kembali oleh Sari—berkumpul di ruang tunggu rumah sakit untuk membahas temuan baru itu.
Denis duduk dengan sikap tertutup, jelas masih terluka oleh insiden semalam. Kirana merasakan beban bersalah semakin berat melihat jarak yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Pak Wibowo membuka map dan mengeluarkan dokumen resmi berkop notaris. "Ini adalah akta pengakuan anak yang dibuat Bapak Hartono dua belas tahun lalu, secara sah mengakui Denis Pratama sebagai anak kandungnya di hadapan hukum. Dokumen ini juga mencantumkan hak waris Denis sesuai porsi yang diatur undang-undang, meski dengan catatan khusus bahwa pembagian detailnya akan diserahkan pada kebijaksanaan keluarga."
Ruangan itu hening, semua orang mencerna informasi besar itu.
"Bapak sudah melakukan ini dua belas tahun lalu?" Sari bertanya, suaranya bergetar antara terkejut dan haru. "Kenapa dia tidak pernah bilang?"
"Mungkin dia takut," jawab Ibu, yang sejak tadi duduk diam mendengarkan, suaranya lirih. "Takut kalian akan membencinya kalau tahu dia sudah membuat langkah hukum resmi tanpa sepengetahuan kalian. Tapi ini membuktikan dia serius ingin melindungi hak Denis, meski dengan caranya yang penuh ketakutan dan kerahasiaan."
Kirana menoleh pada Denis, yang duduk diam dengan mata berkaca-kaca menatap dokumen yang membuktikan pengakuan resmi yang selama ini mungkin ia rindukan tanpa pernah berani mengharapkannya secara terbuka.
"Kamu tahu soal ini?" tanya Kirana lembut.
Denis menggeleng, suaranya serak menahan emosi. "Tidak. Aku tidak pernah tahu Bapak sampai sejauh ini mengurus pengakuan resmi. Aku selalu berpikir aku hanya... rahasia yang harus disembunyikan selamanya."
"Kau bukan rahasia yang harus disembunyikan," Kirana berkata tegas, menggenggam tangan Denis meski pria itu masih terlihat ragu menerima kehangatan itu setelah insiden semalam. "Kau anak yang diakui, dicintai, meski dengan cara yang rumit dan penuh kesalahan dari kita semua."
"Kirana," Denis menatapnya, suaranya masih menyimpan luka. "Soal semalam—"
"Aku minta maaf," potong Kirana cepat, tulus. "Aku salah membiarkan kata-kata Ratna meracuni kepercayaanku padamu, meski hanya sesaat. Kau sudah membuktikan ketulusanmu berkali-kali, dan aku seharusnya tidak meragukannya hanya karena provokasi orang yang jelas punya agenda jahat."
Denis menatapnya lama, mencari ketulusan di balik kata-kata itu, sebelum akhirnya mengangguk pelan, sebagian besar bebannya mulai mencair. "Aku mengerti kenapa kau ragu, Kirana. Situasi ini rumit, dan Ratna pandai memanfaatkan kerumitan itu. Tapi aku berharap ke depannya, kita bisa saling percaya tanpa perlu pembuktian berulang kali."
"Aku janji," Kirana menjawab tulus, dan untuk pertama kalinya sejak insiden semalam, senyum kecil kembali muncul di wajah Denis.
Pak Wibowo, yang sejak tadi membiarkan momen emosional keluarga itu berlalu, akhirnya melanjutkan penjelasannya. "Dengan dokumen pengakuan resmi ini, posisi hukum Denis dalam keluarga menjadi jauh lebih kuat. Ini juga memperkuat argumen kita bahwa Bapak Hartono sudah lama merencanakan dan mengatur situasi keluarga ini dengan hati-hati, jauh sebelum kondisi kesehatannya memburuk. Ini akan sangat membantu melemahkan argumen Ratna soal ketidaksiapan keluarga."
"Jadi kita punya senjata kuat sekarang untuk melawan Ratna?" tanya Sari, sedikit optimisme mulai muncul di wajahnya yang lelah.
"Lebih dari sekadar senjata hukum," Pak Wibowo tersenyum tipis. "Kita punya bukti bahwa keluarga ini, meski penuh kerumitan dan kesalahan masa lalu, akhirnya bersatu untuk melindungi kepentingan bersama. Itu adalah argumen paling kuat yang bisa kita tunjukkan pada dewan direksi dan pemegang saham lainnya."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kepulangan Kirana, keluarga itu duduk bersama dengan perasaan yang lebih ringan—bukan karena semua masalah telah selesai, tapi karena mereka telah membuktikan pada diri sendiri bahwa kepercayaan dan kejujuran, meski rapuh, bisa dibangun kembali dari reruntuhan kebohongan masa lalu.
Setelah Pak Wibowo pamit dan Ibu membantu Bapak kembali beristirahat, Kirana dan Denis masih duduk berdua di ruang tunggu, menikmati keheningan yang kini terasa jauh lebih nyaman dibanding ketegangan semalam.
"Aku pikir," Denis berkata pelan, memandangi salinan dokumen pengakuan anak yang masih ia pegang, "aku selama ini terlalu takut berharap. Takut kalau aku terlalu percaya pada kalian, lalu semuanya berakhir mengecewakan seperti yang selalu aku bayangkan sejak kecil."
"Aku mengerti perasaan itu," Kirana menjawab lembut. "Aku juga menghabiskan delapan tahun membangun tembok agar tidak perlu berharap terlalu banyak pada keluarga ini. Mungkin kita berdua perlu belajar kembali bagaimana caranya percaya, pelan-pelan, tanpa terburu-buru menghancurkan semuanya karena ketakutan."
Denis mengangguk, senyum tipis namun tulus muncul di wajahnya. "Aku rasa, dengan dokumen ini di tangan, dan dengan permintaan maafmu tadi, aku sudah punya alasan yang cukup kuat untuk mulai belajar percaya lagi."
Mereka duduk dalam diam yang nyaman setelahnya, dua saudara yang baru saling mengenal, namun mulai menemukan fondasi kepercayaan yang, meski terlambat datangnya, terasa jauh lebih kokoh dibanding kebohongan yang selama ini menjadi pondasi keluarga mereka.
---
*Bersambung ke Bab 19...*