Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Rumah besar keluarga Wijaya kembali ramai pada akhir pekan itu. Adrian mengundang beberapa kerabat dekat untuk makan siang bersama, sebuah tradisi yang jarang dilakukan tetapi selalu dihadiri dengan antusias oleh semua anggota keluarga. Adeline duduk di samping ibunya dengan gaun merah muda kesayangannya. Rambut panjangnya diikat dua ekor kuda oleh Elena, membuat gadis kecil itu terlihat semakin manis dan menggemaskan.
Suasana ruang makan dipenuhi dengan tawa dan obrolan ringan. Victor duduk di sisi kanan Adrian, berbicara tentang proyek terbaru perusahaan. Marissa duduk di seberang Elena, sesekali memuji hidangan yang disajikan dan tersenyum ramah pada semua orang. Kevin, putra Victor yang berusia dua puluh tahun, duduk di ujung meja dengan ponsel di tangannya, sesekali melirik ke arah Adeline dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Adeline menikmati makanannya dengan lahap. Sesekali dia menoleh ke arah kakeknya, William, yang duduk di kepala meja. Pria tua itu tersenyum pada cucunya dan mengedipkan mata. Adeline membalas dengan senyum lebar, menunjukkan gigi susunya yang belum lengkap.
Namun kemudian sesuatu terjadi. Marissa mulai berbicara tentang rencana liburan keluarga. Suaranya manis dan penuh antusiasme. Dia mengusulkan agar semua anggota keluarga pergi ke resor pantai milik keluarga Wijaya di akhir tahun. "Agar kita bisa lebih dekat sebagai keluarga," katanya sambil menatap Adrian dan Elena dengan hangat.
Adeline yang sedang mengunyah kentang tumbuk tiba-tiba berhenti. Gadis kecil itu mendongak dan menatap Marissa dengan mata yang terbuka lebar. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang mendalam. Jari-jarinya mengepal erat pada sendok kecilnya.
Elena yang duduk di sampingnya, segera menyadari perubahan ekspresi putrinya. "Ada apa, Sayang?" tanyanya pelan, cukup pelan agar tidak didengar orang lain.
Adeline tidak menjawab. Dia terus menatap Marissa, tetapi tatapannya bukanlah tatapan anak kecil yang polos. Itu adalah tatapan seseorang yang sedang mendengarkan sesuatu yang sangat membingungkan.
Suara Marissa terus terdengar manis dan ramah. Dia berbicara tentang betapa bahagianya dia bisa berkumpul dengan keluarga besar. Dia mengatakan bahwa Elena adalah ibu rumah tangga yang luar biasa, bahwa Adrian adalah pemimpin yang hebat, dan bahwa Adeline adalah keponakan tercantik yang pernah dia miliki.
Tetapi Adeline mendengar sesuatu yang lain. Di dalam kepalanya, ada suara yang berbeda sama sekali. Suara itu keras dan tajam. Suara itu membisikkan kata-kata yang bahkan tidak bisa diucapkan oleh Adeline dengan keras karena dia tidak mengerti arti semuanya. Tetapi dia bisa merasakan kebencian yang membuncah di balik kata-kata manis itu. Dia bisa merasakan kemarahan yang terpendam, rencana jahat yang disembunyikan di balik senyum lebar.
"Tante," kata Adeline tiba-tiba, suaranya cukup keras untuk membuat seluruh meja terdiam. "Kenapa Tante berkata baik-baik tapi di dalam hati Tante marah?"
Keheningan yang canggung menyelimuti ruang makan. Semua mata tertuju pada Adeline. Marissa tersenyum kaku, tetapi matanya menyipit dengan cara yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. "Apa maksudmu, Sayang?" tanyanya dengan suara yang masih berusaha terdengar lembut.
Adeline menggelengkan kepalanya. "Aku dengar, Tante. Suara di kepala Tante. Tante membenci Ibu. Tante membenci Ayah. Tante ingin merusak rumah ini."
Suasana berubah tegang. Kevin menutup ponselnya dan menatap Adeline dengan tatapan dingin. Victor tertawa kecil dan berkata bahwa anak kecil memang suka berimajinasi liar. "Adeline pasti menonton terlalu banyak film kartun," katanya sambil mengacak-acak rambut keponakannya. Tetapi tangannya menarik rambut Adeline sedikit terlalu keras, dan Adeline mengerang pelan.
Elena segera menarik Adeline ke pelukannya. "Maafkan putri saya," katanya dengan suara tegang. "Dia memang terkadang mengatakan hal-hal yang aneh." Adrian diam, memandangi putrinya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Di satu sisi, dia ingin marah karena Adeline telah membuat suasana menjadi tidak nyaman. Di sisi lain, dia ingat semua kejadian sebelumnya, semua tebakan putrinya yang ternyata benar.
Setelah makan siang usai, Marissa dan Victor berpamitan dengan wajah yang masih tersenyum. Tetapi Elena bisa melihat bahwa senyum mereka tidak sampai ke mata. Saat mereka keluar dari rumah, Elena mendengar Marissa berbisik pada Victor, "Kita harus berhati-hati dengan anak itu. Dia tahu terlalu banyak."
Malam itu, Adrian duduk di ruang kerjanya dengan wajah gelap. Dia menatap layar laptopnya tetapi pikirannya melayang jauh. Kejadian siang itu terus terngiang di kepalanya. Marissa, yang selama ini dia anggap sebagai saudara ipar yang baik dan suportif, ternyata menyimpan kebencian yang tidak pernah dia curigai. Dan Adeline, gadis kecilnya yang polos, mengungkapkan itu di depan semua orang tanpa rasa takut.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan. Adeline masuk dengan langkah kecil dan malu-malu. Dia membawa boneka beruangnya dan berdiri di depan meja ayahnya dengan kepala tertunduk. "Ayah marah pada Adeline?" tanyanya dengan suara bergetar.
Adrian menghela napas panjang. Dia bangkit dari kursinya dan berlutut di depan putrinya. "Ayah tidak marah, Sayang. Ayah hanya bingung." Dia mengangkat dagu Adeline dengan lembut dan menatap mata jernih putrinya. "Kamu benar-benar mendengar suara itu? Suara di kepala Tante Marissa?"
Adeline mengangguk dengan mantap. "Aku dengar, Ayah. Suaranya keras dan buruk. Dia bilang dia ingin Ayah jatuh. Dia bilang dia akan mengambil semua yang Ayah miliki. Adeline tidak suka suara itu. Suara itu membuat Adeline takut."
Adrian menutup matanya dan merasakan dadanya sesak. Anak kecilnya, yang seharusnya bermain dan tertawa, harus mendengar kebencian dari orang dewasa yang seharusnya melindunginya. Dia memeluk putrinya erat dan berbisik, "Ayah janji, Ayah tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Dan Ayah percaya padamu."
Adeline tersenyum mendengar kata-kata itu. Tetapi di matanya, Adrian melihat sesuatu yang membuatnya terenyuh. Bukan ketakutan, bukan kebingungan. Itu adalah kesedihan yang terlalu dalam untuk seorang anak seusianya. Adeline menatap ayahnya dan berkata pelan, "Ayah, mengapa orang dewasa mengatakan hal yang baik tetapi hatinya jahat? Mengapa Tante Marissa tersenyum padaku tapi di dalam hatinya dia membenciku? Apa yang salah denganku, Ayah?"
Pertanyaan itu menusuk hati Adrian seperti pisau. Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa kemampuan putrinya bukan hanya tentang mendengar rahasia, tetapi juga tentang menanggung beban emosi yang tidak seharusnya dirasakan oleh anak kecil. Dia menggendong Adeline dan membawanya ke kamar tidur. Sambil menidurkan putrinya, Adrian berjanji dalam hati bahwa dia akan melakukan apapun untuk melindungi gadis kecilnya.
"Tidak ada yang salah denganmu, Sayang," bisik Adrian saat Adeline mulai terlelap. "Kamu adalah anugerah terbesar dalam hidup Ayah. Dan Ayah akan memastikan seluruh dunia tahu betapa istimewanya kamu."
Di luar jendela, malam semakin larut. Rumah besar Wijaya kembali sunyi. Namun di balik kesunyian itu, sebuah pertempuran baru telah dimulai. Victor dan Marissa telah menunjukkan wajah asli mereka, dan Adeline, gadis kecil yang polos, menjadi saksi pertama dari konspirasi yang akan mengguncang fondasi keluarga Wijaya.