Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Absurd Penakluk Pewaris Dingin

Gadis Absurd Penakluk Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Komedi / Misteri / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.

Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.

Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.

Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.

Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?

Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pernyataan itu mendarat di telinga Alea bagaikan lemparan batu tak kasat mata yang sukses memecahkan keheningan toko antik berdebu tersebut.

Gadis yang biasanya selalu punya seribu satu omelan tajam, balasan sarkas, atau kalkulasi finansial cepat itu mendadak tertegun. Mulutnya yang sedari tadi terbuka lebar untuk melayangkan protes lanjutan kini mengatup rapat.

Manik matanya yang bulat menatap lurus ke arah Arka, mencoba mencari jejak candaan atau sandiwara di balik wajah datar pemuda itu.

Namun, yang ia temukan di dalam manik mata sehitam obsidian itu hanyalah sebuah kehampaan yang dalam dan sisa-sisa luka masa lalu yang terkunci rapat di balik dinding pertahanan sang pewaris takhta.

"Oh! Buat pacar lo?"

"Ibu gue." balas Arka cepat.

Tuan Miller yang berdiri di balik meja kasir perlahan menurunkan kain flanelnya. Suasana di dalam toko mendadak berubah menjadi jauh lebih hening dan berat, seolah udara di sekitar mereka tersedot keluar.

Kolektor tua itu tahu persis apa arti tanggal atau hari yang dimaksud, dan betapa berbahayanya topik tentang ibu Arka jika diungkit ke permukaan.

Alea mengerjap perlahan. Ia mengalihkan pandangannya dari Arka ke sekeliling toko yang dipenuhi barang-barang peninggalan masa lalu yang bisu. Otaknya yang biasa berpikir tentang uang dan tarif joki tugas mendadak menemukan dirinya terlempar ke dalam realitas emosional.

"Hadiah... buat ibu lo, toh?" tanya Alea akhirnya, suaranya jauh lebih pelan dari biasanya, kehilangan separuh nada galak yang menjadi ciri khasnya.

"Tapi, bukannya lo bilang waktu itu kalau ibu lo udah..."

Alea menggantung kalimatnya, tidak tega meneruskan kata 'meninggal' setelah melihat kilat dingin yang tiba-tiba melintas di mata Arka.

"Iya, udah tiada," potong Arka tenang, suaranya pelan namun terdengar mengiris udara.

"Tapi, setiap tahun, gue selalu datang ke makamnya. Dan setiap tahun pula, gue nggak pernah tau benda apa yang pantas diletakkan di sana. Semua barang di dunia ini terasa terlalu hampa untuk mewakili sesuatu yang udah dirampas darinya."

Ada kejujuran yang begitu menyayat hati di balik kalimat itu. Seorang pemuda yang hidup dikelilingi kekayaan tak terbatas, namun berdiri dalam kemiskinan mutlak dalam hal kasih sayang keluarga.

Alea menarik napas panjang. Ia menatap wajah Arka yang mengeras, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke deretan benda-benda antik di sekeliling mereka. Alih-alih memberikan tanggapan dramatis atau memeluk Arka ala adegan sinetron picisan, gadis itu justru berdehem pelan, membetulkan letak tas punggungnya, dan memasang wajah seorang personal shopper profesional.

"Oke," kata Alea menghela napas, melangkah melewati Arka dan mulai menyusuri rak-rak barang antik di sudut toko.

"Pertama-tama, simpan muka suram lo itu. Orang yang udah meninggal nggak bakal protes dikasih barang apapun, tapi kalau lo ngasih hadiah pake muka kayak orang mau nagih utang, arwah nyokap lo di sana pasti ikut stres liat anak tunggalnya hobi pasang resting bitch face di kuburan."

Tuan Miller yang mendengar omelan santai itu nyaris tersedak ludahnya sendiri, sementara Arka tertegun kecil, menatap punggung gadis itu dengan alis terangkat.

"Kedua," lanjut Alea sambil mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan telunjuk, mengamati sebuah kotak musik kayu berukir malaikat yang sudah berkarat.

"Hadiah buat orang yang udah nggak ada itu bukan soal seberapa mahal harganya, tapi soal niat dan... ya, seenggaknya ada bentuk estetikanya biar nggak malu-maluin kalau diliat peziarah lain."

Alea terus berjalan menyusuri lorong sempit toko, jemarinya menyentuh berbagai macam barang rongsokan bernilai tinggi. Ia tahu betul apa artinya kehilangan orang yang sangat berarti. Dua tahun lalu, saat nenek angkatnya berpulang, Alea tidak punya uang bahkan untuk membeli sebungkus kembang tujuh rupa, apalagi batu nisan yang layak. Ia mengerti rasa hampa yang coba ditutup Arka dengan membawa barang-barang mewah ke pemakaman.

Langkah Alea akhirnya terhenti di sudut paling gelap toko itu. Di bawah tumpukan majalah tua berbahasa asing dan kain beludru hitam yang berdebu, matanya menangkap siluet sebuah benda kecil yang memantulkan pendar cahaya temaram dari lampu gantung.

Dengan hati-hati, Alea menyingkirkan majalah-majalah tua tersebut. Ia mengambil sebuah benda dari tumpukan itu, meniup debu tebal yang menempel di permukaannya hingga mengepul ke udara, lalu membawanya ke dekat lampu.

Benda itu adalah sebuah jam saku tua berlapis perak murni. Ukurannya pas di dalam genggaman tangan, dengan ukiran bunga lonceng lily of the valley yang terukir sangat detail dan rumit di sekujur sampul logamnya.

Ketika Alea membalik bagian belakangnya, kaca penutup jarum jam itu sudah sedikit retak, dan jarum jamnya sendiri macet total, menunjuk tepat pada pukul dua belas lewat lima belas menit, waktu yang abadi dalam keheningan.

Alea membawa jam saku itu kembali ke hadapan Arka dan Tuan Miller. Ia mengulurkan tangannya, menyodorkan benda tersebut ke depan dada Arka.

"Nih," ucap Alea singkat.

Arka menunduk, menatap benda di tangan Alea. Matanya yang sedingin es seketika melebar, dan napasnya tertahan sepersekian detik. Jam saku itu... jam saku berukir bunga lonceng itu adalah replika persis dari benda kesayangan ibunya yang hilang.

"Di... di mana kau menemukan ini, Tuan Miller?" tanya Arka dengan suara serak yang nyaris tak terdengar, menatap tajam ke arah kolektor tua itu.

Tuan Miller mengerjap kaget, merapikan kacamatanya yang melorot. "Saya bahkan tidak tahu barang itu ada di toko ini.

Arka perlahan mengangkat tangannya, menerima jam saku perak itu dari telapak tangan Alea. Jari mereka bersentuhan sesaat, dinginnya kulit Arka berpadu dengan hangatnya tangan Alea. Pemuda itu membalik jam saku tersebut, meraba ukiran halusnya dengan jemari yang sedikit bergetar.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Arka, topeng dingin, kejam, dan tanpa emosi yang selalu ia kenakan runtuh seketika di hadapan orang lain.

Alea memperhatikan ekspresi wajah Arka dalam diam. Ia tidak tahu sejarah kelam di balik jam itu, namun instingnya mengatakan bahwa benda macet yang berhenti di angka dua belas lewat lima belas itu memiliki arti yang jauh lebih besar buat Arka.

"Waktunya emang udah berhenti, dan nggak bakal bisa diputar lagi," kata Alea pelan, suaranya melembut tanpa ada nada mengejek sedikit pun.

"Tapi, setidaknya jam itu nunjukin kalau waktu nggak akan pernah bisa ngapus kenangan yang lo punya tentang dia. Cocok, kan?"

Arka mengangkat wajahnya. Sorot mata yang tadinya menyimpan sejuta badai dendam dan kepedihan itu kini melunak, menatap lurus ke dalam mata Alea dengan intensitas yang membuat ruangan di sekeliling mereka seolah lenyap tersisa sunyi.

"Berapa harganya?" tanya Arka lirih pada Tuan Miller, matanya tak pernah lepas dari Alea.

Tuan Miller menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

"Ambil aja, Tuan Muda. Anggap itu kontribusi ku untuk... ibumu."

Arka tidak mendebat. Ia meremas jam saku itu erat-erat di dalam genggamannya, lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada gadis di hadapannya.

Tanpa aba-aba, di hadapan Tuan Miller yang terperanjat, tangan kiri Arka terulur meraih pergelangan tangan Alea, lalu menyelipkan sebuah kartu hitam legam, Black Card miliknya yang terasa padat dan dingin, langsung ke telapak tangan gadis itu.

"Hah? Apa-apaan nih?!" protes Alea kaget, mencoba menarik tangannya.

"Bayaran untuk jasa lo hari ini," ucap Arka mutlak, suaranya kembali tegap namun mengandung kehangatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Dan jangan coba-coba menolaknya,"

Alea mendengus sebal, namun tangannya secara otomatis menggenggam erat, memastikan kartu logam mahal itu aman di dalam sana. Sudut bibirnya berkedut, menahan senyum kemenangan yang gagal ia sembunyikan.

"Baiklah, kalau Lo maksa! Gue terima dengan lapang dada!" seru Alea riang, memutar badannya menuju pintu keluar toko.

"Sekarang, ayo buruan balik! masih ada jam kelas Bu Siska, gue gak mau ketahuan bolos dan berurusan dengan pak Heri!"

Arka melangkah mengikuti punggung gadis itu keluar dari toko antik yang remang-remang, meninggalkan aroma debu masa lalu untuk menyongsong masa depan yang bergerak maju.

Namun, di balik kelegaan sesaat itu, jauh di sudut kota yang lain, bayangan gelap dari masa lalu Arka telah mulai bergerak. Seseorang di dalam lingkaran elite keluarga Adiwangsa baru saja mencium bau keterlibatan Arka dengan jaringan bawah tanah, dan target pertama yang berada dalam bidikan bahaya bukanlah Arka, melainkan seorang pelayan kafe cerewet bernama Alea.

Bersambung...

1
neny
wkwkwk,,dmn ada gaun butik makan nambah jd sobek🤣🤣,,ada2 ajh Alea mah,,lucu banget sih km😍
neny
yes,,aq dukung rencana mu arka,,biar papa mu malu udh merencanakan lamaran itu buat mempermalukan alea,dan biar Clarissa jg gk kepedean sm km,,biar di lawan sm si bar bar alea🤣🤣
neny
is apa sih hartawan ini,,Alea kan GK tau siapa arka sebenarnya,,GK perduli dia mah,,yg tertarik kan arka,,Alea mah nganggap nya bos besar,,yg sayang klau di lepas,,lagian ngapain nyuci otak arka,,mending nyuci baju🤣🤣
neny: 😄😄😄😄😄
total 2 replies
Umi Zein
kenapa Al?! jantung nya msh aman kaan dibaperin bos' Arka 🤣🤣🤣
Umi Zein
dasar Alea pikirane, gak uang ya makanan. dah lah Al sekarep mu 😂😂
riniandara: /Grievance//Grin/
total 1 replies
Umi Zein
Alea di lawan soal harga jasa dirinya. ooh no 🤣🤣🤣
Umi Zein
ya ampun Al yaa kalii sekelas Arka nyuruh jaga katering hajatan 🤦🏻‍♀️🤣🤣
riniandara: otak Alea gak nyampe mikir panjang kak/CoolGuy//Facepalm/
total 1 replies
Umi Zein
yakin pak tua Alea bakalan pergi?!😏 yakin banget Loe! belum tau aja Alea bar2 mah bukan pacarnya Arka jdi kyanya dia gak akan perduli tuh sma stts hubungan Arka 🤣🤣🤣
riniandara: yupz ketebak banget ya wataknya alea hehe
total 2 replies
Umi Zein
wkwk Kaka othor bisa aja ngasih nama2 turunan pemaran tokohnya. Hartawan punya Suryanegara 🤣🤣🤣
riniandara: biar beda dari yang lain kak /Shhh/
total 1 replies
neny
itu 2 sales suruhan nya hartawan,atau cecunguk nya Kevin,,lemah banget,,GK ada gerakan taktis untuk menangkal serangan Alea,,secara kan anak buah nya hartawan dr kelompok elite
Dewi kunti
memalukan🙈
Dewi kunti
Alexa sp lagi ini thooor
riniandara: Alea kak salah ketik maaf ya
total 1 replies
Umi Zein
dasar sodara tiri gak tau diri. pake fasilitas tuan muda tp seolah2 dia yg punya kuasa... ngaca woiii Klevon🙄😠 hrsnya elu tuh sungkem sm Arka 😏😏
Umi Zein
Waduuh Alea mau dia pain tuh?!😳🤭
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂
Umi Zein
udh Al mengalah aja, pokoknya yg bukan donatur, dilarang mengatur 😂😂😂
Umi Zein: betul kan kak othor sudah prosedur nya Kya gtu 😀😀
total 2 replies
neny
wkwkwk,,licik ya Alea,,klau menang ajh dia minta traktiran batagor sebulan penuh,,eh pas ditanya klau kalah,,gk mau jawab dia🤣🤣🤣,,dasar Alea,,GK mau rugi fia🤣🤣🤣
neny: /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
total 2 replies
neny
Alea,,km itu target,,tau target gak sih,,gemes aq tuh baca nya,,pinter2 gmn ya Alea ini,,nyawa terancam ajh masih bs buat lelucon🤣🤣,,malah nego pake qris lg, haduuhh,,emng bener sih pake cek mah lama cair nya,,lebih cepat pake qris🤭
neny
wkwkwk,,dasar Alea mata duitan,,apa2 duit,,apa2 duit,,🤦,,gk tau apa arka sengaja berbuat demikian buat ngelindungi Alea dr hartawan,,🤭
Sastri Dalila
🤣🤣🤣😅
Dewi kunti
typo Alexa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!