Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Milikku

Setelah perbincangan singkat yang penuh ketegangan namun dibumbui oleh keberanian tak lazim dari Serena, Sergio melambaikan tangan kecilnya sebagai isyarat kepada Zayden.

​"Zayden, bawa dia ke kamar tamu lantai dua," perintah Sergio dengan suara beratnya, tatapannya masih terpaku sejenak pada gadis itu sebelum kembali dingin.

​Zayden sempat membeku di tempatnya, matanya mengerjap beberapa kali karena terkejut.

"Ke... kamar tamu lantai dua?" batin Zayden bersorak keheranan. Biasanya, wanita-wanita kiriman dari luar yang berani datang atau dijadikan jaminan utang akan langsung dikirim ke perbatasan atau area bawah setelah interogasi singkat. Tapi kali ini, tuannya justru memberikan kamar layak huni di lantai utama bagi Serena.

​Meskipun isi kamar itu tergolong minimalis hanya ada sebuah ranjang besar dan lemari pakaian, keputusan itu tetap saja sebuah keistimewaan yang tidak pernah didapatkan oleh wanita mana pun sebelumnya. Zayden melirik Serena, lalu tersenyum tipis penuh arti. Dalam hati, pria berwajah ramah itu mulai menebak-nebak; gadis periang ini sepertinya memiliki daya tarik tersendiri yang berhasil mencuri perhatian tuannya. Entah nanti Serena akan dijadikan pesuruh setia, atau justru yang lain, pikir Zayden sambil menahan senyum.

"Mungkin dipinang menjadi Nyonya besar di mansion ini. Siapa yang tahu?"

​"Baik, Tuan. Silakan ikuti saya, Nona Serena," ujar Zayden sopan sambil membimbing Serena keluar dari ruang kerja utama.

​Serena hanya mengekor di belakang Zayden sambil melambaikan tangan kecil ke arah Sergio.

"Duluan ya, Tuan Mafia yang tampan!" serunya santai, membuat Zayden kembali harus menelan ludahnya rapat-rapat karena takut tuannya murka. Namun, Sergio hanya diam menatap punggung gadis itu tanpa ekspresi.

​Setelah mengantar Serena ke kamar dan memastikan gadis itu tidak kekurangan apa pun, Zayden meninggalkan ruangan tersebut. Serena langsung berjalan ke arah ranjang berukuran king size yang empuk, lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang, menatap langit-langit kamar sambil menghela napas panjang.

​"Huh... benar-benar hari yang melelahkan," gumam Serena pelan.

​Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya melayang kembali ke masa lalunya. Di dunia lamanya, Serena adalah seorang gadis biasa yang mati tersambar petir akibat nekat bermain air hujan di tengah malam hanya karena bosan tingkat dewa. Ia tidak menyangka kematian konyol itu justru membawanya melompati dimensi ke dalam tubuh seorang anak haram dari novel romansa mafia yang sering ia baca sebelum tidur.

"​Dulu aku cuma bisa membaca cerita fiksi mafia lewat layar ponsel, sekarang malah jadi pemeran utamanya," batin Serena sambil tersenyum geli. Menarik juga hidup di dunia fiksi begini. Sensasinya nyata, adrenalinnya dapat, dan visual para prianya benar-benar di atas rata-rata.

​Tanpa beban pikiran sedikit pun, Serena memutuskan untuk memejamkan mata dan menikmati kasur empuknya, sama sekali tidak peduli bahwa ia sedang berada di sarang penjahat paling ditakuti di negeri ini.

​Sementara itu, di ruangan kerja yang berbeda, suasana terasa jauh lebih dingin dan pekat oleh asap cerutu. Sergio duduk bersandar di kursi kerjanya yang luas, memejamkan mata sambil menikmati aroma tembakau mahal dari cerutu yang terjepit di antara jari-jarinya. Di hadapannya, Calum berdiri tegak dengan postur kaku, tangan bersidekap di depan dada, menunggu instruksi lanjutan setelah menyelesaikan tugas lapangannya di perbatasan selatan.

​Beberapa saat ruangan itu diliputi keheningan sebelum akhirnya Sergio membuka mata kelamnya, menatap lurus ke arah sang algojo kepercayaan.

​"Calum," panggil Sergio dengan nada rendah yang langsung mencairkan keheningan.

​"Ya, Tuan?" jawab Calum cepat, suaranya sedingin es.

​Sergio mengepulkan sedikit asap cerutu ke udara, tatapannya menerawang tajam. "Urus pernikahan singkat untukku dan gadis itu."

​Mendengar kalimat tersebut, Calum yang biasanya selalu tenang dan minim ekspresi langsung tertegun. Mata pria berambut pirang pucat itu melebar seketika. Ia menarik napas pendek, merasa bahwa telinganya mungkin baru saja salah menangkap instruksi sang bos.

​"Pernikahan, Tuan?" ulang Calum dengan nada tidak percaya, alisnya bertaut dalam.

"Apa Tuan tidak salah dengar atau salah ucap? Gadis itu baru saja datang beberapa menit lalu dari keluarga Sebastian yang berniat menipis kita. Dia bukan siapa-siapa, hanya anak haram yang dijadikan tumbal pembayaran utang."

​Sergio tidak terusik sedikit pun dengan keterkejutan Calum. Ia kembali menyesap cerutunya dengan tenang, lalu menatap Calum tajam.

"Aku tidak sedang bercanda, Calum. Kamu mendengarku dengan sangat jelas."

​Calum mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Selama bertahun-tahun melayani Sergio, bosnya itu tidak pernah sudi membuang waktu untuk urusan perempuan, apalagi ikatan pernikahan formal. Bagi Sergio, wanita hanyalah pelengkap atau alat politik.

​"Tapi untuk apa, Tuan?" desak Calum, nada suaranya sedikit meninggi karena rasa penasarannya yang besar.

"Kalau Tuan hanya butuh wanita untuk melampiaskan hasrat atau meredakan penat di mansion ini, banyak wanita pilihan yang lebih pantas dan terlatih di markas utama. Kenapa harus menikahi gadis ceriwis dan tidak jelas asal-usulnya itu?"

​Sergio mendengus pelan, mematikan puntung cerutunya di atas asbak kristal. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Calum dengan sorot mata dominan yang membuat sang bawahan langsung menunduk hormat.

​"Aku butuh penerus, Calum," ucap Sergio tegas, suaranya mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

"Klan kita butuh darah daging langsung untuk memegang kendali di masa depan. Dan setelah aku mengamati gadis itu tadi... dia berbeda. Mentalnya kuat, tidak mudah gentar, dan darah keturunan yang mengalir di nadinya cukup unik untuk keturunanku."

​Calum masih tampak ragu. "Tapi, Tuan... Pernikahan tanpa persiapan dan latar belakang yang jelas bisa memicu kecurigaan dari klan musuh atau dewan petinggi. Apa keluarga besar kita akan menyetujuinya?"

​"Aku tidak peduli dengan persetujuan mereka," potong Sergio dingin, rahangnya mengeras.

"Urus saja pernikahan itu secepatnya, buat secara privat, dan pastikan tidak ada satu pun klan lain atau mata-mata di luar sana yang tahu soal ini. Cukup kita dan segelintir orang di mansion ini yang tahu."

​Calum mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu betul watak Sergio Maximilian Ziegler; jika sang mafia sudah mengambil sebuah keputusan, tidak ada manusia di bumi ini yang bisa mengubahnya, bahkan jika langit runtuh sekalipun.

​"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab Calum akhirnya dengan nada patuh, meskipun dalam hatinya ia masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh tuannya terhadap gadis bernama Serena itu.

"Saya akan segera mengurus semua dokumen rahasia dan saksi pernikahan malam ini juga."

​"Bagus," balas Sergio singkat. "Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun, Calum. Keluar dan selesaikan tugasmu."

​Calum membungkuk hormat dalam-dalam, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan kerja dengan pikiran yang berkecamuk. Ia tidak menyangka kedatangan gadis asing itu akan mengubah peta kehidupan sang pemimpin dalam waktu kurang dari satu hari.

​Di dalam ruangan yang kembali sunyi, Sergio menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, menerawang jauh menembus kaca jendela besar yang memperlihatkan pekatnya malam. Bayangan wajah Serena yang santai, sorot matanya yang berani, serta senyum manis tanpa beban kembali berkelebat di kepala pria itu. Sergio menyeringai tipis di dalam gelap.

"​Selamat datang di sarang singa, Serena Amaryllis," batin Sergio penuh perhitungan.

"Mulai detik ini, kamu resmi menjadi milikku."

Bersambung...

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!