Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 12
Aidil tertegun. Bentakan yang hendak ia lontarkan mendadak tertahan di tenggorokan saat melihat lelehan air mata di pipi Stela. Tatapan mata wanita itu, tatapan penuh keputusasaan yang dulu pernah menjadi bagian terindah dalam hidupnya seolah memicu kembali bongkahan ingatan yang selama ini ia tekan dalam-dalam.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah kenyataan pahit yang selama ini ia ingkari akhirnya menyeruak ke permukaan. Perasaannya pada Zivana memang hangat, penuh rasa syukur, dan diwarnai rasa bersalah yang teramat besar. Namun, bayang-bayang Stela tidak pernah benar-benar mati. Cinta terlarang dan nostalgia masa lalu itu nyatanya masih menyisa begitu besar, jauh mengalahkan rasa yang baru saja tumbuh untuk Zivana.
Melihat keraguan dan keheningan di mata Aidil, Stela memanfaatkan celah itu dengan cepat. Tanpa memberi ruang bagi Aidil untuk berpikir, Stela melangkah maju, meraih tengkuk kemeja Aidil, lalu menarik tubuh pria itu secara mendadak.
Ciuman itu mendarat di bibir Aidil.
Aidil membeku. Tubuhnya kaku, matanya membelalak kaget. Ada perang batin yang luar biasa hebat berkecamuk di dalam dadanya. Rasa bersalah pada Zivana menjerit-jerit menyuruhnya mendorong wanita di hadapannya ini, namun getaran cinta masa lalu yang kembali tersulut justru melumpuhkan kedua tangannya untuk menolak.
Di saat yang sama, tanpa disadari oleh Aidil yang sedang terlarut dalam pergolakan emosi, tangan kiri Stela telah merogoh ponselnya di atas meja konsol tepat di belakang tubuh Aidil. Jemarinya yang terlatih dengan cepat mengarahkan kamera depan, mengambil gambar sudut dekat yang memperlihatkan keintiman mereka secara sempurna, lalu menekan tombol kirim ke sebuah nomor yang sudah ia siapkan.
Nomor Zivana.
Sementara itu di rumah, suasana ruang makan begitu sepi. Zivana duduk sendirian di tepi meja makan, menatap dua piring lauk yang sudah mulai dingin. Ia baru saja selesai meninabukokkan Khaisar dan Amora yang sempat menanyakan keberadaan ayahnya sebelum tidur.
Ting
Ting
Suara notifikasi pesan singkat dari nomor tak dikenal memecah keheningan rumah. Zivana meraih ponselnya dengan perasaan yang mendadak tidak enak. Jemarinya yang dingin mengusap layar.
Sebuah foto dan video bermuatan tinggi langsung memenuhi layarnya.
Foto Aidil dan Stela yang berciuman di dalam pencahayaan temaram apartemen.
Dunia Zivana serasa runtuh dan hancur berkeping-keping detik itu juga. Nafasnya tercekat hebat, ponsel di tangannya terlepas dan jatuh menatap lantai kayu dengan bunyi yang memilukan. Airmata yang sejak kemarin ia tahan akhirnya tumpah tak terbendung, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi.
Segala kebohongan Aidil sejak kemarin, alasan jalan-jalan bersama anak-anak, hingga dalih meeting dengan klien luar kota malam ini kini terjawab sudah dengan kebenaran yang paling menghancurkan harga dirinya sebagai seorang istri.
Di apartemen Stela, Aidil akhirnya mendorong bahu Stela dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat sekaligus ketakutan yang mencekam.
"Stela! Apa-apaan kamu?!" bentak Aidil, suaranya bergetar hebat seraya mengusap bibirnya kasar.
Stela mundur dua langkah, menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tipis. Pria itu sama sekali belum tahu bahwa bom waktu yang dibuat Stela baru saja meledak di rumahnya sendiri.
"Maaf, Dil... tapi aku tahu kamu masih punya rasa yang sama untukku," bisik Stela pelan, menatap Aidil yang kini melangkah mundur menuju pintu dengan panik.
"Cukup, Stela! Aku harus pulang!" raung Aidil, berbalik dan berlari keluar dari unit apartemen itu dengan jantung yang berdegup gila-gilaan.
Di dalam mobilnya yang membelah jalanan malam, Aidil terus mencengkeram kemudi dengan air mata penyesalan yang menetes. Hatinya memang masih menyisakan ruang yang teramat besar untuk Stela, namun bayangan Zivana, wanita tulus yang telah menyembuhkan lukanya dan merawat anak-anaknya. Mulai menghantam nuraninya bagai belati tajam. Pria itu melaju kencang tanpa menyadari bahwa ketika ia sampai di rumah nanti, tidak ada lagi senyum hangat Zivana yang akan menyambutnya.
Malam itu di kamar utama, keheningan merayap begitu dingin dan mencengkam. Aidil berbaring memunggungi sisi ranjang Zivana, menatap kosong pada kegelapan dinding. Rasa bersalah terus menggagahi pikirannya setelah kejadian di apartemen Stela. Namun, dibalik rasa bersalah itu, kenyataan pahit bahwa perasaannya pada Stela masih begitu besar membuat mentalnya makin pengecut.
Aku tidak boleh jujur, batin Aidil panik, menyapu wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Ziva tidak boleh tahu kalau Stela menciumku dan perasaanku padanya masih ada. Kalau aku jujur, Ziva pasti akan meninggalkanku. Aku harus simpan ini rapi-rapi.
Dengan jemari yang bergetar hebat, Aidil memutar tubuhnya perlahan, menatap punggung Zivana yang tertutup selimut tebal. Di bawah temaram lampu kamar, Zivana sebenarnya belum tidur. Ponsel di genggamannya bergetar dalam diam, menampilkan rekaman video panas ciuman Aidil dan Stela yang baru saja dikirimkan oleh sang mantan istri.
Zivana menggigit bibirnya rapat-rapat hingga berdarah, menahan isak tangis yang hendak meledak. Dadanya remuk tak berbentuk. Namun, ia memilih membisu. Zivana sengaja menahan diri, menutup rapat kenyataan bahwa ia telah melihat rekaman biadab itu. Ia ingin memberikan satu kesempatan terakhir, ia ingin menunggu apakah Aidil memiliki sedikit saja keberanian dan kejujuran untuk mengakuinya sendiri.
Keesokan harinya, kecangguhan di antara mereka makin menebal bagai tembok es. Zivana melayani kebutuhan Aidil dan anak-anak seperti biasa menyiapkan sarapan, merapikan dasi, hingga menyunggingkan senyum tipis untuk Khaisar dan Amora namun tak ada lagi binar hangat di matanya. Aidil berangkat ke kantor dengan dada yang terasa amat berat, membawa rentetan kebohongan yang masih terus ia tutupi.
Malam harinya, suasana rumah terasa sangat sepi setelah Khaisar dan Amora tertidur lelap. Zivana duduk sendirian di sudut sofa ruang keluarga, menatap kosong pada cangkir teh hangat yang sudah mendingin di atas meja.
Suara langkah kaki Aidil terdengar mendekat. Pria itu baru saja selesai membersihkan diri, mengenakan kaos santai dan celana panjang. Aidil mendekati Zivana, lalu duduk perlahan di sofa yang sama, menyisakan jarak kecil di antara mereka.
"Ziva..." panggil Aidil dengan suara serak yang dipaksa lembut. Pria itu mengulurkan tangannya, mencoba meraih jemari Zivana yang terlipat di pangkuan.
"Kok belum tidur? Anak-anak sudah lelap?"
Zivana menarik tangannya pelan, menyembunyikannya di balik lipatan lengan baju. Ia menunduk, enggan menatap wajah suaminya.
"Sudah, Mas. Mereka kecapekan."
Aidil menelan saliva yang terasa sepahit empedu. Reaksi dingin Zivana membuat dadanya diliputi cemas yang luar biasa. Namun bukannya jujur, rasa takut kehilangan justru membuat Aidil kembali memilih jalan kebohongan.
"Ziva... soal kemarin malam," panggil Aidil ragu-ragu, mencoba membuka pembicaraan untuk memastikan keadaan.
"Mas minta maaf ya kalau pulang terlambat dan buat kamu cemas. Meeting dengan klien luar kota kemarin benar-benar menyita waktu."
Zap.
jdi laki kok banci amat😅😅😅
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu