"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Pilih diantara satu
"Saya permisi keluar dulu, Oma," pamit Humaira.
"Hm."
Oma hanya berdehem singkat .
Humaira berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu.
Melodi mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya. Mata wanita itu menyala, memancarkan amarah dan kebencian yang membakar dada.
Semua karena ia menyaksikan—bagaimana cara Zidan memotong pembicaraan, bagaimana pria itu enggan menjawab kepastian cerai, hingga caranya menyuruh Humaira menyusulnya keluar.
‘Tidak... ini tidak benar!’ jerit Melodi dalam hatinya.
Sebagai wanita yang mengenal Zidan sejak lama, ia tahu gelagat kekasihnya. Zidan sama sekali tidak terlihat seperti pria yang terpaksa menikahi wanita pengganti, melainkan pria yang enggan melepaskan hak kepemilikannya.
Melodi menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Rasa cemas dan kedengkian bersatu padu, menggerogoti akal sehatnya. Ia tidak akan pernah membiarkan keponakannya yang miskin dan tak berharga itu merebut posisi serta perhatian Zidan.
Bagaimanapun caranya, entah dengan intrik atau manipulasi, ia harus menyusun rencana secepat mungkin demi memastikan Humaira ditendang keluar dari kehidupan Zidan selamanya.
____
Di lantai teratas bangunan rumah sakit, Humaira melangkah masuk ke dalam ruang kerja direktur.
"Ada apa Dokter memanggil saya kemari?" tanya Humaira tenang.
Zidan yang sejak tadi berdiri membelakangi pintu—menatap pemandangan kota di balik jendela kaca besar—seketika memutar tubuhnya melihat ketenangan di wajah Humaira.
"Jadi, surat cerai yang kau serahkan tadi pagi... kau benar-benar ingin mengakhiri pernikahan ini?" tanya Zidan, wajahnya tampak tak ramah.
Humaira berdiri tegak, tak membiarkan dirinya tergoyahkan oleh tatapan menuntut dari suaminya. Ia terdiam sejenak, menatap lurus manik mata pria di hadapannya sebelum bersuara.
"Dokter Zidan, saya rasa saya tidak perlu menjelaskan hal yang sama berulang kali," jawab Humaira tenang, tanpa getar ragu.
"Anda pria dewasa dan berpendidikan. Anda bukan anak kecil yang harus dibuat paham berkali-kali."
"Tapi kenapa Anda masih terus bertanya tentang persoalan yang sama?" lanjut Humaira, tatapannya tak mengelak sedikit pun.
"Sejak awal, pernikahan ini ada hanya karena kedua belah pihak tidak ingin keluarga menanggung malu. Sekarang, setelah kekasih Anda kembali, seharusnya Anda sudah tahu apa yang harus Anda lakukan."
Pria itu mengambil satu langkah mendekat, menatap dalam-dalam iris mata istrinya. "Jadi, kau memang benar-benar ingin bercerai dariku?" tanya Zidan sekali lagi, suaranya memberat tapi tegas.
Humaira menghela napas halus.
"Bagaimana jika sekarang saya balik bertanya pada Anda, Dokter? Apakah Anda ingin bercerai?"
Pertanyaan sederhana itu mendadak menghentikan kalimat Zidan. Kilat kebingungan melintas samar di matanya. Pria itu terpaku, tak sanggup memberikan jawaban lugas sebab jauh di dalam lubuk hatinya, ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.
Humaira tersenyum tipis untuk menutupi kesedihannya melihat reaksi pria itu yang sudah dia tahu pasti tidak akan bisa memilih.
"Anda seorang dokter, pria berpendidikan tinggi," tutur Humaira tetap tenang. "Anda pasti tahu apa yang Anda mau. Jadi, biar saya jelaskan dengan terang."
Humaira melangkah, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma harum tubuhnya terendus halus oleh Zidan—sebuah aroma familiar yang mendadak memicu gelombang bayangan samar di ingatan masa lalu sang dokter.
"Saya dan Tante Melodi masih terikat satu darah," tegas Humaira, suaranya teratur namun menusuk. "Jika Anda tetap menolak menceraikan saya, Anda tidak akan pernah bisa menikahi dia.
Dalam hukum agama, memperistri dua wanita yang bersaudara atau setingkat bibi dan keponakan secara bersamaan adalah hal yang dilarang. Kita tidak bisa dimadu."
Humaira menatap lurus Zidan tanpa berkedip, memberikan ultimatum mutlak.
"Jika Anda memilih untuk mempertahankan saya, maka Anda harus melepaskan Tante Melodi selamanya. Namun jika Anda memilih dia... maka lepaskan saya."
Terlihat jakun pria itu naik turun seperti sedang menahan gejolak yang menghantam perasaannya.
Pria itu benar-benar mengunci mulutnya, tak sanggup mengutarakan sepatah kata pun untuk menjawab ketegasan wanita di hadapannya.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Humaira memiliki pemikiran yang jauh lebih matang dibanding usianya yang baru menginjak 25 tahun. Sikap Humaira sangat bertolak belakang dengan Melodi yang sudah berusia 28 tahun.
Selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Melodi, tak terhitung berapa kali pertengkaran kecil hingga besar mewarnai dinamika mereka—yang hampir seluruhnya bersumber dari sikap egois dan kekanak-kanakan Melodi.
Sebaliknya, Humaira, gadis muda yang kerap dipandang sebelah mata itu, justru tampil begitu dewasa, tenang, dan paham betul bagaimana cara menempatkan diri.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Zidan belum sepenuhnya mengerti dengan riak perasaan yang ia miliki. Satu hal yang pasti: setiap kali berada di dekat Humaira, ada daya tarik tak kasat mata yang seolah mengikat dan menahannya.
Melihat pria di hadapannya hanya bisa membisu, Humaira kembali menyunggingkan senyum tipis. Ia sudah tahu jawabannya.
Zidan adalah tipe pria yang ragu dan tidak akan pernah sanggup membuat pilihan tegas.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Humaira berbalik dan melangkah pergi melintasi ruangan, meninggalkan Zidan yang dilema.
Klek.
Begitu pintu ruang kerja itu tertutup rapat, pertahanan Humaira pecah.
Tes!
Tetesan bening yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya lolos melintasi pipinya. Ia mempercepat langkah kakinya menyusuri koridor, menuju toilet terdekat.
Brak.
Humaira masuk ke toilet dan mengunci pintu rapat. Menyandarkan punggungnya pada daun pintu, perlahan-lahan tubuhnya luruh jatuh ke atas lantai yang dingin.
Ia merengkuh lututnya, menangis histeris tanpa suara agar tak ada seorang pun di luar sana yang mendengar rintihannya.
Dadanya terasa sesak dan dihantam rasa sakit luar biasa.
Di dalam rahimnya kini bersemayam darah daging Zidan—buah dari malam kelam saat kesuciannya direnggut paksa oleh pria itu tanpa sadar.
Namun tragisnya, pria berstatus suaminya itu sama sekali tidak pernah tahu bahwa wanita yang ia sentuh malam itu adalah Humaira.
Flashback......
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂