Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 BELAJAR MENJADI MISKIN
Pengacara dari kantor bantuan hukum lah yang menyebutkan angka itu.
Bukan Wisnu Halim, pengacara keluarga itu, si jas mahal dan senyum palsu yang telah meninggalkan mereka di kantor polisi.
Laki-laki itu lenyap begitu rekening-rekening dibekukan, seperti kecoak yang kabur saat lampu dinyalakan. Ini orang lain.
Seorang laki-laki bertubuh kecil, berkacamata tebal, dengan jas cokelat yang sudah lewat masa jayanya, yang menghubunginya karena ada seseorang yang memberikan nomornya di suatu ruang sidang, dalam suatu pertukaran budi yang tak sepenuhnya Maya pahami.
"Lima ratus juta rupiah?" ulang Maya.
Ia mengucapkannya keras-keras, seolah dengan mengubah urutan kata, dengan melafalkannya dalam nada berbeda, angka itu bisa mengecil. Lima ratus juta.
Lima puluh kali sepuluh juta. Sebuah kekayaan. Sebuah lelucon yang menjijikkan.
"Itu uang jaminannya," sahut si pengacara, dengan kesabaran yang terdengar lebih karena kebiasaan ketimbang simpati. "Ayah Anda menghadapi sidang pendahuluan dalam empat puluh delapan jam. Kalau kita tak membayarnya sebelum itu, ia harus menjalani penahanan sampai persidangan. Itu bisa berbulan-bulan. Atau bertahun-tahun."
Maya merasa lantai bergeser di bawah kakinya. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Ayahnya, seorang laki-laki berusia enam puluh tiga tahun, dengan tekanan darah tinggi dan lutut yang nyeri tiap kali cuaca berubah, terkurung di dalam sel selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Ayahnya, yang tak pernah tidur di luar ranjangnya sendiri, yang mimpi buruk kalau suhu kamar tak persis seperti yang ia mau, harus berbagi ruang dengan para pembunuh dan pencuri.
"Tapi ia tak bersalah," ucap Maya, dan suaranya terdengar kecil, begitu kecil sampai ia hampir tak mengenalinya.
Si pengacara menatapnya lewat layar telepon. Bukan, tak mungkin ia bisa melihatnya. Tapi Maya membayangkan tatapan itu, tatapan yang telah sering ia lihat di wajah para pegawai negeri, para polisi, para tetangga di kawasan itu.
Tatapan iba yang letih. Sama seperti yang dimiliki para dokter unit gawat darurat setelah jam kesepuluh giliran jaga. Sama seperti yang dimiliki para guru di sekolah-sekolah pinggiran. Tatapan orang yang telah melihat seribu kasus serupa dan tahu bahwa akhirnya hampir selalu sama.
"Nona Adiwangsa," katanya, dan sebutan itu terdengar nyaris seperti hinaan dalam suasana kemiskinan yang baru saja disandangnya, "itu sudah tak penting lagi. Yang penting uangnya."
Maya memutuskan sambungan.
Ia tak berpamitan. Tak berterima kasih. Jarinya menekan layar dan panggilan itu terputus, meninggalkan keheningan pekat dan lengket yang menempel di dinding apartemen bagai lembap dari gang.
Ia tetap duduk di tepi ranjang ibunya, kasur reyot itu melesak di bawah bobotnya, per-pernya berderit tiap kali ia sedikit bergerak.
Ratna tidur di sisinya, tapi bukan tidur yang tenang. Napasnya tersendat, tak beraturan, seperti orang yang bahkan dalam istirahatnya masih bertempur melawan pertarungan tak kasatmata.
Obat penenang yang diresepkan dr. Hidayat membuatnya tersedasi hampir sepanjang hari, tapi efek sampingnya membuatnya limbung, absen, seperti patung lilin.
Maya membuka ponselnya. Cahaya layar menerangi wajahnya di keremangan. Ia menelusuri daftar kontaknya, satu per satu, bagai orang yang membolak-balik album foto kehidupan yang tak ada lagi.
Teman-teman kuliah. Kawan-kawan berkuda. Sepupu-sepupu jauh. Anak-anak rekan bisnis ayahnya. Teman-teman kedua orang tuanya. Orang-orang yang pernah berbagi liburan di pantai bersamanya, jamuan makan malam mewah, pesta ulang tahun di mansion berkolam renang hangat.
Tiga ratus empat puluh tujuh kontak.
Maya mulai menelepon.
* * *
Yang pertama adalah Vania. Teman satu fakultas Sejarah Seni. Mereka pernah pergi bersama ke Paris dalam perjalanan studi, berbagi kamar hotel dan botol anggur murah di kafe-kafe kawasan Marais.
Vania berasal dari keluarga berada, tak sekaya keluarga Adiwangsa, tapi cukup mampu sampai Rp500 juta bukanlah angka gila.
"Eh, Vania," ucap Maya, memaksakan nada biasa yang sama sekali tak ia rasakan. "Aku butuh bantuan."
"Bilang aja."
"Aku butuh uang. Pinjaman. Banyak."
"Berapa?"
"Lima ratus juta."
Hening. Maya bisa mendengar keraguan dalam napas Vania, hitung-hitungan di kepalanya, penimbangan risikonya.
"Maya... buat apa?"
"Aku nggak bisa cerita. Tapi ini mendesak. Sungguh."
"Maaf," ucap Vania, dan suaranya terdengar tulus, atau setidaknya Maya ingin percaya begitu. "Sekarang aku nggak bisa. Aku punya pengeluaran sendiri, apartemen, kuliah..."
Maya tak memaksa. Ia memutus sambungan. Beralih ke kontak berikutnya.
Marsha. Teman berkuda. Ayahnya seorang pengacara, mitra di sebuah firma hukum ternama.
Ibunya menggelar acara-acara amal, sama seperti Ratna. Kalau ada yang bisa memahami keadaannya, itu pasti Marsha.
"Aku butuh lima ratus juta rupiah," ucap Maya, kali ini tanpa berbasa-basi, tanpa kesopanan pembuka.
"Kamu gila?" Marsha melepas tawa kering tak percaya. "Maya, semua orang tahu soal ayahmu. Soal rekening yang dibekukan, soal perusahaannya, soal pamanmu. Aku nggak mau terlibat urusan itu."
"Urusan?" Maya merasa darahnya mendidih. "Ayahku tak bersalah."
"Semua orang juga ngomong gitu. Dengar, aku sayang kamu, sungguh, tapi aku nggak bisa ambil risiko. Orang tuaku bisa membunuhku. Maaf ya."
Maaf. Kata itu. Kata kosong terkutuk yang orang ucapkan ketika mereka sebenarnya ingin berkata "kamu tak cukup penting bagiku".
Maya memutus sambungan. Ia menelepon yang berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya lagi.
Sebuah pola berulang lagi dan lagi: kesenyapan canggung, alasan yang sopan, sebuah "maaf, sekarang aku lagi nggak bisa" yang terdengar seperti hafalan, seperti koreografi, seperti dusta.