Indonesia
NovelToon NovelToon
Menantu Tak Terkalahkan

Menantu Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Naga dan Arogansi Para Tetua

​Konvoi sepuluh Maybach antipeluru meluncur mulus menembus gemerlap malam ibu kota Jingcheng. Berbeda dengan markas pencakar langit Lin Corporation yang melambangkan kekuasaan finansial modern, tujuan mereka malam ini adalah akar sejati dari kekuatan Keluarga Lin: Kediaman Leluhur.

​Terletak di atas perbukitan eksklusif yang dikelilingi hutan pinus berumur ratusan tahun, Kediaman Leluhur Keluarga Lin menyerupai sebuah istana dari dinasti kuno. Tembok batunya setinggi delapan meter, dijaga oleh ratusan prajurit elit faksi internal. Tempat ini adalah simbol absolut bahwa di Jingcheng, hukum negara sering kali harus berhenti di depan gerbang kayu mahoni berlapis perunggu ini.

​Di dalam mobil utama, Yuhan duduk dengan punggung tegak. Tangannya bertaut erat di atas pangkuannya. Ia telah memimpin ratusan rapat pemegang saham, menghadapi mafia seperti Chen Fei dan Long Ao, namun aura intimidasi yang memancar dari luar jendela mobil ini jauh melebihi apa pun yang pernah ia rasakan. Ini adalah pusaran badai dari kekuasaan tertinggi di negara ini.

​"Ingat janjiku, Yuhan," Lin Fan berbisik lembut, mengusap punggung tangan istrinya yang dingin. "Tegakkan kepalamu. Kau tidak datang ke sini untuk meminta persetujuan mereka. Kau datang ke sini untuk menerima penghormatan mereka."

​Yuhan menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. Matanya memancarkan tekad seorang CEO yang menolak untuk diremehkan.

​Konvoi berhenti di pelataran batu giok putih. Komandan Yuan membukakan pintu, dan Lin Fan melangkah keluar sambil menuntun Yuhan. Puluhan pasang mata dari prajurit penjaga seketika tertuju pada mereka—sebagian menatap Lin Fan dengan ketakutan akibat berita pembantaian di bandara, sebagian lagi menatap Yuhan dengan pandangan merendahkan.

​Mereka berjalan menaiki seratus anak tangga batu menuju Aula Naga Hitam, ruang pertemuan tertinggi yang hanya dibuka untuk acara paling krusial.

​Begitu pintu ganda aula didorong terbuka, tekanan udara di dalam ruangan itu terasa sangat berat, seolah gravitasi tiba-tiba dilipatgandakan. Di ujung aula yang remang-remang oleh cahaya lilin dan lampu kristal, duduklah tiga orang pria tua dengan jubah sutra tradisional. Mereka adalah Tiga Tetua Pelindung Faksi Kedua—tulang punggung kekuasaan Lin Ye yang selama ini bertapa di balik layar.

​Di sudut ruangan, berdiri Lin Ye dengan wajah pucat dan rahang mengeras, dilindungi oleh selusin pengawal terbaiknya. Jelas sekali bahwa ia telah berlari mencari perlindungan di bawah sayap para Tetua setelah mendengar kabar kehancuran jenderalnya di bandara.

​"Langkahmu sungguh arogan, Lin Fan," suara parau dan berat menggema dari Tetua Pertama yang duduk di tengah. Matanya yang tajam bak elang menatap langsung ke arah Lin Fan, mencoba menekan sang pewaris dengan aura tenaga dalam tingkat tinggi. "Kau membantai tentara bayaran di bandara, memotong lengan utusan saudaramu sendiri, dan sekarang kau masuk ke Aula Suci ini seolah kau sudah menjadi raja."

​"Aku memang rajanya, Tetua," jawab Lin Fan santai. Ia tidak terpengaruh sedikit pun oleh tekanan aura spiritual pria tua itu. "Ujian tiga tahunku telah selesai. Takhta ini adalah milikku."

​Penghinaan Terhadap Sang Ratu

​Tetua Kedua, seorang pria botak dengan wajah penuh keriput kebencian, mendengus keras. Ia menggebrak sandaran kursi kayunya.

​"Jangan sombong! Lulus ujian bertahan hidup bukan berarti kau bebas melanggar hukum leluhur!" bentak Tetua Kedua. Tangannya yang kurus keriput menunjuk tajam ke arah Su Yuhan yang berdiri tegak di samping Lin Fan.

​"Kau membawa wanita dari kota kumuh kelas dua ke dalam Aula Naga Hitam! Siapa yang memberinya izin menginjakkan kakinya yang kotor di atas karpet suci Keluarga Lin?!"

​Urat-urat keangkuhan menonjol di leher para Tetua. Mereka tidak berani membahas kekuatan militer Lin Fan yang mengerikan, sehingga mereka mencari titik terlemah untuk menyerang harga dirinya: latar belakang istrinya.

​"Dengar baik-baik, Lin Fan," Tetua Pertama kembali berbicara, nada suaranya dipenuhi arogansi absolut. "Keluarga Lin memiliki standar ketat untuk posisi Nyonya Besar. Istrimu harus berasal dari keluarga jenderal ibu kota atau pewaris konglomerat multinasional. Wanita bernama Su Yuhan ini? Keluarganya bahkan tidak pantas mencuci toilet di kediaman ini."

​Lin Ye yang berdiri di sudut ruangan menyeringai licik, merasa mendapat angin segar.

​"Sebagai syarat mutlak sebelum kau mengklaim takhtamu," lanjut Tetua Pertama, mengeluarkan sebuah dokumen dari balik jubahnya dan melemparnya ke lantai, tepat di depan sepatu Yuhan. "Tanda tangani surat cerai ini. Usir wanita kampung ini dari Jingcheng malam ini juga. Jika kau menolak, kami Tiga Tetua Pelindung akan menggunakan hak veto kami untuk mencoret namamu dari silsilah keluarga, dan menyatakanmu sebagai musuh mutlak Keluarga Lin!"

​Mendengar hinaan bertubi-tubi itu, wajah Yuhan memerah menahan amarah, namun ia menggigit bibirnya, tidak ingin merusak rencana suaminya.

​Hening sejenak di dalam Aula Naga Hitam. Lin Fan menunduk, menatap surat cerai yang tergeletak di lantai. Lalu, ia mulai tertawa. Tawanya tidak keras, namun bergema dengan nada yang sangat mematikan, menggetarkan pilar-pilar batu di dalam aula tersebut.

​"Hak veto?" Lin Fan berhenti tertawa. Matanya berubah merah, memancarkan niat membunuh yang begitu nyata hingga suhu ruangan seolah anjlok di bawah titik beku.

​Dalam satu kedipan mata, Lin Fan melesat maju. Jarak sepuluh meter antara dirinya dan singgasana para Tetua dipangkas seolah ruang dan waktu ditekuk. Sebelum Tiga Tetua Pelindung itu menyadari apa yang terjadi, Lin Fan sudah berdiri tepat di depan meja mereka.

​DUAAR!

​Dengan satu hempasan telapak tangannya, meja kayu giok berusia ratusan tahun yang menjadi pembatas antara Tetua dan anggota keluarga itu meledak menjadi serpihan debu. Gelombang kejut dari hantaman itu membuat ketiga Tetua terlempar ke belakang beserta kursi mereka, memuntahkan seteguk darah segar akibat tekanan tenaga dalam Lin Fan yang jauh melampaui logika.

​Lin Ye menjerit ketakutan dan mundur hingga punggungnya menabrak dinding.

​Lin Fan melangkah perlahan melewati puing-puing meja, berdiri menjulang di atas Tetua Pertama yang kini merangkak dengan tubuh gemetar, darah menetes dari sudut bibirnya. Keangkuhan pria tua itu hancur berkeping-keping.

​"Kalian pikir usia dan gelar busuk kalian memberimu hak untuk menghakimi istriku?" suara Lin Fan adalah murni suara seorang tiran yang sedang menjatuhkan vonis mati. "Surat cerai? Hak veto? Mulai detik ini, tidak ada satu pun aturan leluhur yang berlaku jika itu tidak atas izinku."

​Lin Fan berbalik, mengulurkan tangannya pada Su Yuhan yang mematung takjub.

​"Melangkahlah kemari, Sayang," panggil Lin Fan lembut, kontras dengan teror yang baru saja ia ciptakan. "Kotoran-kotoran ini baru saja menyingkirkan meja yang menghalangi jalanmu."

​Yuhan menarik napas, menegakkan dagunya, dan melangkah dengan anggun melewati dokumen cerai itu—menginjaknya dengan ujung sepatu hak tingginya hingga robek—lalu menyambut uluran tangan suaminya.

​Lin Fan menatap berkeliling, menatap para Tetua yang batuk berdarah dan Lin Ye yang menggigil di sudut ruangan.

​"Dengarkan titah pertamaku sebagai Kepala Keluarga Lin," deklarasi Lin Fan menggema ke seluruh penjuru bukit. "Wanita di sebelahku ini adalah Nyonya Besar kalian yang sah. Barang siapa yang tidak menundukkan kepalanya saat dia lewat, aku akan memastikan kepalanya terpisah dari lehernya."

1
Glastor Roy
update
Driver Muda
Jelek💪💪👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
mantep coy 😎
Ariya Noviandy Khusofi
kok sama alur ceritanya dengan kebangkitan pewaris sakti
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff ini ☕😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!