"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Datang Ke Kediaman Keluarga Dirgantara
"Hai, Sayang," panggil Alva langsung berjalan mendekati Humaira.
Bibir Humaira mendadak kaku. Ia benar-benar merasa tidak nyaman, apalagi tatapan Zidan di hadapannya tajam menusuk, seolah siap menerkamnya hidup-hidup.
"Pak Alva, apa yang Bapak lakukan di sini?" tanya Humaira setengah berbisik pada Alva.
Posisi Zidan yang berjarak lima meter dari mereka, membuat Zidan tak bisa menangkap ucapan keduanya.
"Saya sudah menjelaskannya semalam, Humaira," jawab Alva terdengar serius.
Gelisah, Humaira memberanikan diri berjalan sedikit mendekati Zidan. Semalam mereka bertengkar hebat, tapi karena alasan pekerjaan, mereka tetap tidak bisa menghindar untuk tidak saling bicara.
"Dokter, ada beberapa berkas yang sudah saya simpan di ruangan Anda. Anda boleh naik untuk memeriksanya."
"Kau mau ke mana?" potong Zidan cepat. Nada suaranya terdengar sangat tidak bersahabat, dipenuhi getaran emosi yang ditahan.
"Dokter, ini kan sudah jam makan siang..."
"Saya tanya, kamu mau ke mana?!" Zidan memotong ucapan Humaira, menatap ke dalam iris mata wanita itu.
Alva berjalan mendekat saat mendengar ucapan Zidan yang seperti mengintrogasi Humaira.
"Saya baru tahu kalau Direktur Rumah Sakit ini ikut mencampuri urusan pribadi perawatnya saat jam makan siang."
"Bukan urusan Anda! Dia ini karyawan saya!" Dingin Zidan.
"Karyawan saat jam kerja. Sekarang sudah jam istirahat," jawab Alva tak kalah dingin, membalikkan argumen dengan mudah. "Saya rasa di luar jam tugasnya, dia bukan lagi tanggung jawab Anda, Pak."
Humaira yang berada ditengah-tengah kedua pria itu semakin dibuat bingung dan canggung. Apalagi terlihat jelas Alva yang terus-menerus menantang dan memojokkan posisi Zidan.
Zidan mengepalkan tangannya. Kedua matanya menghunus tajam ke arah Alva dan Humaira secara bergantian.
Humaira buru-buru membuang pandangannya ke samping, tak ingin beradu tatap.
"Ayo, Sayang, kita berangkat," ajak Alva, sengaja menegaskan panggilan itu tepat di depan wajah Zidan.
Humaira mencengkeram erat ujung bajunya. Bingung, menghadapi kedua pria itu secara bersamaan.
"S–saya pergi dulu, Dokter," pamit Humaira, lalu berbalik pergi bersama Alva.
Melihat mereka berdua sudah menghilang di balik pintu lobi, Zidan segera berbalik badan dan melangkah lebar menuju lift untuk naik ke lantai atas.
Begitu sampai di ruang kerjanya, ia masuk dan membanting pintu.
PRANG!
Tangan Zidan melayang mendorong beberapa hiasan pajangan meja hingga terpental keras dan berserakan hancur di atas lantai. Suara pecahan kaca dan keramik bergema di ruangan yang luas itu.
Napasnya memburu hebat, dadanya naik-turun menahan emosi.
"Alvaro Raynard Dirgantara! Kau benar-benar menantangku!" geram Zidan dengan rahang mengeras.
Di parkiran, Humaira masuk ke dalam mobil Alva dengan raut wajah yang masih tegang.
Alva menyusul dan duduk di kursi kemudi.
Humaira terlihat tidak senang dengan sikap pria di sampingnya itu. "Pak, boleh enggak Pak Alva itu jangan sering cari gara-gara dengan Dokter Zi---"
Ucapannya mendadak terhenti saat ia menoleh dan mendapati tangan Alva menyodorkan sebuah minuman kemasan ke arahnya.
"Minumlah," ujar Alva singkat.
Humaira melirik kemasan itu dengan dahi berkerut. Ternyata itu adalah minuman kemasan susu khusus untuk ibu hamil.
"Buat saya?" tanya Humaira ragu.
"Apa iya saya yang harus minum susu untuk ibu hamil? Saya tidak mengandung," jawab Alva khas nada datarnya, tapi terselip perhatian didalam perbuatannya.
Humaira akhirnya menerima minuman itu. "Terima kasih." Ucap Humaira.
Karena Alva sudah membukakan tutupnya, ia pun langsung meneguknya perlahan.
"Ini... tidak ada racunnya, kan?" Tanya Humaira.
"Terlalu membuang waktu membunuh semut kayak kamu." Jawab pria itu fokus menyetir setelah meninggalkan pekarangan rumah sakit.
Humaira tersenyum tipis mendengar jawaban pria itu.
Alva diam-diam meliriknya, dan sadar kalau wanita itu lagi tersenyum. Dia juga menarik tipis sudut bibirnya.
Meskipun Alva terlihat tanpa ekspresi dan bicaranya sering datar, Humaira bisa merasakan kebaikan yang tulus di balik sikapnya.
Cara Alva memperhatikan hal-hal kecil—seperti menyediakan susu ibu hamil, memberinya jas tempo hari saat hujan deras dipertemukan pertama mereka—membuktikan bahwa pria itu benar-benar peduli, hanya saja cara penyampaiannya sedikit berbeda dan terkesan kaku.
Sebenarnya, jika dipikir-pikir, Alva dan Zidan memiliki kemiripan; keduanya pada dasarnya adalah pria baik. Namun, perbedaan terbesar yang menjadi celah menganga di antara mereka adalah keberanian.
Kekurangan terbesar Zidan, pria itu tidak pernah bisa tegas, tak pernah pasang badan, dan tidak pernah mau membela Humaira di depan kedua keluarga besar mereka, apa lagi depan Melodi.
Zidan sering memilih diam dan membiarkan Humaira menjadi pihak yang disudutkan.
Sementara sikap Alva sebaliknya. Sosok pria itu sangat berani dan tanpa ragu membela Humaira secara terang-terangan. Berdiri pasang badan tanpa rasa takut sedikit pun di depan semua orang—bahkan di hadapan neneknya, Maharani, dan sang ibu Rara, yang terkenal memiliki karakter tegas dan blak-blakan.
Dia dengan lugas dan jujur, menyampaikan status Humaira yang selama ini kerap di sapa dan dihina oleh keluarganya dengan julukan anak haram dari wanita simpanan.
Sikap mereka yang bertolak belakang, yang membuat perbedaan diantara kedua pria itu terlihat dengan jelas.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Alva memasuki gerbang besar. Humaira melempar pandangannya ke luar jendela, menatap takjub pekarangan rumah yang sangat luas dengan tatanan taman yang begitu asri.
Pria itu lalu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah megah yang berdiri kokoh.
Pria sekaya ini... kenapa malah sibuk mencari istri yang punya banyak masalah sepertiku? Batin Humaira hanya bisa menggeleng.
"Jangan panggil saya Pak, Humaira," ujar Alva menahan gerakan Humaira yang hendak membuka pintu mobil.
Humaira menghentikan tangannya dan menoleh bingung. "Lalu? Saya harus panggil apa?"
"Mas... atau terserah kamu. Yang penting jangan panggil 'Pak'," sahut Alva.
Humaira terdiam sejenak, merasa canggung dengan panggilan seakrab itu. Tapi, dia tetap menuruti.
Mereka berdua akhirnya turun dari mobil, Alva membawanya menuju pintu utama rumah megah tersebut.
Namun, baru saja menjejakkan kaki di area teras depan pintu yang sedikit terbuka, pendengaran Humaira langsung disambut oleh suara lengkingan.
"Kamu manggil, dan maksa aku menghentikan pekerjaan di kantor cuma buat hal sepele begini?!" seru suara seorang wanita dari dalam.
"Ayolah, Sayang... aku tidak bisa membuat kopi sendiri yang rasanya pas," sahut suara pria, terdengar manja sekaligus membela diri.
"Astaga Reymond! Kenapa sih dulu aku mau menikah sama kamu?! Kan, ada pelayan! Kenapa nggak suruh pelayan saja!" wanita itu terdengar gemes dari nadanya.
Humaira mendadak menghentikan langkahnya. Melihat Alva di sebelahnya, merasa canggung sekaligus cemas telah datang di waktu yang salah untuk bertamu.
"Apa ada yang sedang bertengkar, Pak—maksud saya, Mas?" tanya Humaira ragu, enggan untuk masuk lebih jauh.
"Itu pemandangan sehari-hari di rumah ini," jawab Alva. "Ayo, jangan dipedulikan,"
Alva menarik pelan pergelangan tangan Humaira untuk masuk.
Di ruang tengah, terlihat Rara sedang berdiri berkacak pinggang di depan suaminya dengan wajah sangat kesal.
"Assalamualaikum, Ma, Pa," sapa Alva.
"Wa'alaikumsalam!" ketus Rara meluapkan kekesalannya.
Namun, saat menoleh dan melihat Alva datang membawa Humaira, raut wajah Rara seketika berubah kaget.
Di atas sofa, seorang gadis yang tadinya sibuk memainkan ponsel langsung menoleh begitu menyadari kedatangan kakaknya.
"Kak Alva? Itu Kakak Ipar, ya?" tanya gadis itu antusias, melompat dari sofa dan mendekati Humaira.
"Hai, calon Kakak ipar?" Sapa Geby ramah pada Humaira.
Humaira terlibat canggung. "H-hai..." Jawabnya.
Geby melirik kakaknya. "Dia calon istrimu kan, Kak?" Tanyanya lagi pada Alva untuk memastikan.
Tapi lagi-lagi Alva hanya diam tidak menjawab.
Melihat kakaknya diam saja, gadis itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Ma, lihat penampilan Mama!" serunya sembari menunjuk ke arah Rara.
Rara refleks melihat penampilannya sendiri. Benar saja, ia terlihat sangat berantakan dengan rambut yang acak-acakan akibat frustrasi menghadapi kelakuan suami isengnya.
"Hilang sudah harga diri Mama sebagai CEO tegas dan galak di depan calon menantu!" ledek Geby lagi, kembali tertawa terbahak-bahak.
Alva hanya menggeleng melihat kelakuan keluarganya. "Mama ini kenapa lagi?"
"Kamu tanya sama Mama?! Tanya sama Papamu ini!" omel Rara berapi-api. "Va, kau tahu enggak? Setengah jam lagi Mama ada meeting penting! Dia telepon bilang harus segera pulang. Begitu Mama pulang, dia cuma suruh Mama buatkan kopi! Emosi enggak Mama?!"
"Ya sudah, kalau Mama enggak mau buatkan, mendingan Papa menikah lagi," sahut sang suami menggoda istrinya.
Rara menatapnya horor.
"Lihat, Va! Dia bilang mau menikah lagi!" adu Rara pada putranya.
"Tidak apa-apa, Ma. Nikah kan saja, rampas hartanya, miskin dia, lalu usir dari rumah!" Tutur Alva santai, yang memang sering berpihak pada sang mama ketimbang ayahnya.
Humaira yang tadinya tegang, langsung menahan tawa mendengar ucapan Alva yang justru memojokkan ayahnya sendiri.
"Enak aja mau usir Papa aku!" Sahut Geby membela Raymond, tim ayahnya.
Rara melihat ke arah Humaira, dan langsung tersenyum hangat memperbaiki rambutnya.
"Humaira, kamu akhirnya datang juga kesini. Ayo duduk," Rara menghampiri Humaira dengan tersenyum hangat mengajaknya duduk.
Reymond dan Geby saling melempar pandang saat Rara yang galaknya seperti singa betina, tiba-tiba berubah manis hanya hitungan detik didepan wanita yang mereka anggap kekasih Alva.
Geby segera berlari menghampiri ayahnya. "Pa, Mama kenapa?" Bisik Geby.
"Ini pertama kali kakakmu bawa wanita kerumah, tentu saja mamamu takut dia kabur sebelum sempat jadi menantu, makanya dia sembunyikan galaknya dulu," Reymond balas membisik putrinya yang masih didengar oleh Rara tentunya.
"Brisik!" Rara menatap tajam mereka berdua, sembari mempersilahkan Humaira duduk.
Humaira tersenyum canggung dan langsung duduk.
"Jadi, kamu benar-benar pacaran sama Alva?" Tanya Reymond tiba-tiba.
Humaira melirik kearah Alva yang menatapnya, seolah memberi kode.
Namun, Humaira justru menggeleng. "Saya..."
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂