Indonesia
NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.

Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.

Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.

Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.

"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."

Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.

"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 26

"Bangun."

Suara dingin Arga memecah keheningan pagi di dalam kamar utama. Pria itu berdiri di tepi ranjang, sudah rapi dengan setelan jas mahalnya.

Kirana mengerjapkan matanya, pura-pura terkejut. Ia meraba-raba udara dengan tangan gemetar, memerankan sosok istri buta yang ketakutan. "Ga... kamu udah mau berangkat ke kantor?"

"Duduk," perintah Arga singkat, mengabaikan pertanyaan istrinya.

Kirana menelan ludah, perlahan bangkit dan duduk di tepi kasur. "Ada apa, Ga? Aku belum mandi... Aku..."

"Aku bilang duduk dan diam," potong Arga. Pria itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pribadinya, lalu menekan sebuah nomor dan menyalakan mode pengeras suara. "Dengar baik-baik, Kirana. Begitu panggilan ini diangkat, aku mau kamu mecat pengacara tuamu itu. Pak Darmawan."

"A-apa?! Nggak, Ga! Paman Darmawan itu udah kerja sama mendiang ayahku puluhan tahun! Aku nggak bisa mecat dia!" tolak Kirana sambil menggelengkan kepalanya panik.

Tangan Arga langsung mencengkeram rahang Kirana dengan sangat kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.

"Kamu pikir kamu punya pilihan? Kamu udah nggak punya apa-apa, Kirana. Semua hartamu udah jadi milikku. Kalau kamu masih mau Kacul dan Bi Titin hidup sampai besok pagi, lakukan apa yang aku suruh! Atau kamu mau mereka bernasib sama kayak sahabatmu, si Tasya?" bisik Arga tepat di depan wajah Kirana.

Mendengar nama Tasya dan para pelayannya disebut, air mata Kirana langsung menetes. Kali ini, air mata itu bukan sepenuhnya sandiwara. Hatinya benar-benar mendidih.

Tut... Tut...

"Halo? Nona Kirana?" Suara Pak Darmawan terdengar dari seberang telepon.

Arga melepaskan cengkeramannya, menempelkan layar ponsel itu ke telinga Kirana, lalu menatap istrinya dengan tatapan mengancam.

"P-paman..." suara Kirana bergetar hebat.

"Nona? Syukurlah Anda menelepon! Bagaimana keadaan Anda? Saya sudah mendengar kabar soal kecelakaan Nona Tasya pagi ini. Polisi bilang dia sekarang koma di ICU. Apa ini ulah—"

"Cukup, Paman!" potong Kirana sambil terisak, matanya melirik tajam ke arah Arga yang sedang tersenyum puas. "Aku... aku telepon cuma mau nyampein satu hal."

"Sampaikan apa, Nona? Tolong jangan mengambil keputusan saat sedang tertekan."

"Mulai hari ini... Paman aku pecat. Paman nggak usah lagi ngurusin urusan hukum keluargaku, perusahaanku, atau aset-asetku. Semuanya udah aku serahin sepenuhnya ke suamiku, Arga."

Hening sesaat di ujung telepon. Pak Darmawan, sebagai pengacara yang cerdik, langsung mengerti bahwa Kirana sedang berada di bawah ancaman fisik.

"Apa Anda yakin dengan keputusan ini, Nona Kirana?" tanya Pak Darmawan dengan nada formal yang dibuat-buat.

"I-iya, Paman. Aku yakin. Jangan pernah hubungi aku lagi. Terima kasih buat semuanya."

Klik.

Arga langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Pria itu tertawa pelan, lalu mengelus rambut Kirana yang berantakan.

"Pinter banget istriku ini. Akting nangisnya juga natural," ejek Arga. "Sekarang, kamu benar-benar sendirian, Sayang. Nggak ada Tasya, nggak ada pengacara tua itu."

"Kamu udah dapat semuanya, Ga. Perusahaanku, hartaku, rumahku... Apalagi yang kamu mau dari aku? Kenapa kamu nggak bunuh aku sekalian?!" isak Kirana, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Bunuh kamu? Oh, nggak semudah itu. Kalau aku bunuh kamu sekarang, polisi bakal curiga. Biar aja dunia luar tahu kalau Direktur Utama Larasati Corp yang baru adalah suami yang sangat setia merawat istrinya yang gila dan buta. Reputasiku bakal makin bersinar," jawab Arga sambil merapikan dasinya di depan cermin.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pintu kamar terdengar.

"Masuk," perintah Arga.

Pintu terbuka. Masuklah seorang wanita bertubuh besar dan gempal, dengan wajah yang kasar dan tanpa ekspresi. Pakaiannya seperti asisten rumah tangga, tapi perawakannya lebih mirip preman pasar.

"Siapa itu, Ga? Aku dengar langkah kaki orang lain," tanya Kirana dengan raut ketakutan.

"Ini Marni. Pembantu baru kita buat gantiin posisi Bi Titin," jawab Arga santai. "Marni, ini Nyonya Kirana. Dia buta dan sedikit kurang waras. Tugasmu adalah ngawasin dia 24 jam. Jangan biarkan dia keluar dari kamar ini tanpa izinku. Kalau dia macam-macam..."

"Saya kunci di kamar mandi dan nggak saya kasih makan, Pak," jawab Marni dengan suara serak yang berat.

"Bagus. Peliharaanku harus diajarin disiplin," Arga tersenyum sinis. Pria itu kemudian menoleh ke arah Kirana. "Aku berangkat ke kantor dulu, Sayang. Jadilah anak baik sama Marni."

Begitu pintu ditutup dari luar, suasana di dalam kamar terasa sangat mencekam. Marni berdiri melipat tangan di dada, menatap Kirana yang masih duduk di tepi kasur.

"Heh, Nyonya buta. Jangan pikir mentang-mentang kamu istri bos, aku bakal sopan sama kamu ya," gertak Marni, melangkah mendekat.

Kirana menundukkan kepalanya, menyembunyikan kilat amarah di matanya. "Aku haus... Tolong ambilin aku minum, Marni."

"Ambil sendiri! Punya tangan kan?!" bentak Marni sambil menendang kaki meja nakas hingga bergeser. "Mulai sekarang, kamu yang beresin kamar ini sendiri. Aku cuma ditugasin buat jaga pintu biar kamu nggak kabur!"

Marni berbalik, melangkah menuju sofa di sudut kamar, lalu menjatuhkan tubuh besarnya di sana sambil memainkan ponselnya.

Kirana mendengus pelan dalam hati. 'Arga benar-benar mengirim anjing penjaga. Tapi anjing bodoh ini bawa ponsel. Kesempatan bagus.'

Di waktu yang sama, di gedung Larasati Corp.

Suasana kantor pusat terasa sangat tegang. Para karyawan berbisik-bisik saat melihat Arga berjalan angkuh melewati lobi. Semua orang sudah tahu berita peralihan kekuasaan secara darurat pagi ini.

Arga masuk ke ruangannya. Rena sudah berdiri di sana, menata setumpuk dokumen di atas meja. Wajah wanita itu sangat pucat, matanya sembab, dan penampilannya tak lagi seksi seperti biasanya.

"Pagi, Arga... Ini dokumen laporan keuangan bulan lalu yang kamu minta," sapa Rena dengan suara bergetar pelan.

Arga duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya, lalu menatap Rena dengan pandangan meremehkan. "Kamu manggil aku apa barusan?"

Rena menelan ludah. "M-maaf... Pak Arga."

"Bagus. Jangan pernah lupa posisi kamu sekarang, Rena," desis Arga. Pria itu mengambil secangkir kopi panas yang sudah disiapkan di atas mejanya, menyesapnya sedikit, lalu tiba-tiba menyemburkan kopi itu kembali ke dalam cangkir.

"Kopi apa ini?! Pahit banget! Kamu mau ngeracunin aku?!" bentak Arga.

Dengan sengaja, Arga menumpahkan seluruh isi cangkir kopi panas itu ke atas tumpukan dokumen, lalu membiarkan sisanya menetes mengotori karpet mahal di bawah mejanya.

"Ya ampun! Pak Arga, itu dokumen penting!" jerit Rena panik.

"Terus kenapa?! Ini perusahaanku! Aku bebas mau ngapain aja!" Arga menunjuk ke arah tumpahan kopi di karpet. "Sekarang, berlutut dan bersihin karpet itu. Pakai tanganmu."

"A-apa? Tapi Pak..."

"Bersihin, Rena! Atau kamu mau aku telepon pihak bank sekarang buat nyerahin bukti penggelapan dana ke polisi?!" ancam Arga dengan suara menggelegar.

Air mata Rena jatuh berderai. Harga dirinya hancur lebur. Dengan tangan gemetar, selingkuhan yang dulu sangat disayang Arga itu kini perlahan berlutut di lantai. Ia mengambil tisu dan mulai mengelap tumpahan kopi di bawah sepatu Arga, terisak-isak meratapi nasibnya sendiri.

"Pinter banget. Kamu memang cocoknya ada di bawah sepatuku, Rena," tawa Arga menggema di dalam ruangan itu. "Kerjain yang bersih. Habis ini, buatin aku kopi yang baru. Kalau masih pahit, aku suruh kamu jilat karpet ini."

Sambil menunduk membersihkan lantai, Rena mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Rasa takutnya kini mulai berubah menjadi kebencian yang mendalam.

'Aku nggak akan biarin kamu nginjak-nginjak aku terus, Arga. Aku pasti bakal cari cara buat hancurin kamu,' batin Rena penuh dendam.

Kembali ke kediaman keluarga Larasati.

Menjelang siang, Kirana sengaja turun dari ranjang. Ia meraba-raba dinding, berjalan perlahan menuju kamar mandi. Sesuai rencananya, ia sengaja menyenggol sebuah guci kecil di dekat meja rias hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.

Prang!

"Woi! Buta ya kamu?! Nggak liat ada guci di situ?!" bentak Marni yang langsung melompat dari sofa. Pembantu kasar itu menghampiri Kirana dan mendorong bahu wanita itu dengan keras.

Bruk!

Kirana sengaja membiarkan tubuhnya terjatuh ke lantai, tepat di dekat pecahan guci. "Maaf, Marni... Mataku kan emang nggak bisa liat. Aku nggak sengaja."

"Nyusahin aja kerjaanmu!" rutuk Marni. Pembantu itu membungkuk, berniat menjambak rambut Kirana untuk memaksanya berdiri.

Namun, saat Marni membungkuk, ponsel di saku celemeknya merosot keluar dan jatuh ke atas karpet tanpa suara, tepat di samping tangan Kirana.

Mata Kirana yang tajam langsung menangkap benda persegi panjang itu. Dengan kecepatan kilat dan tanpa terlihat oleh Marni, tangan Kirana menyapu ponsel itu dan menyembunyikannya ke dalam lengan baju tidurnya yang panjang.

"Aduh, kepalaku pusing... Tolong bantu aku berdiri, Marni," rintih Kirana sambil memegang kepalanya, mengalihkan perhatian.

"Bangun sendiri! Manja banget sih!" omel Marni sambil melengos pergi ke sudut kamar untuk mengambil sapu.

Sambil pura-pura kesulitan berdiri, Kirana tersenyum sangat tipis. Senjata barunya sudah ada di tangan. Sekarang, ia hanya perlu menunggu malam tiba untuk meluncurkan serangan balasan yang akan membuat Arga menyesal karena tidak membunuhnya sejak awal.

1
Ma Em
Masa orang banyak kalah hanya dgn Arga seorang seberapa pintarnya Arga masa tdk ada yg bisa melawan Arga .
Muft Smoker
skraaang si agar2 yg ketakutan sendriii
Muft Smoker
awas nnti malah jd km yg gilaaa arga
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah ternyata rencana kirana ,,
Muft Smoker
ayoo kirana gerak cepat sebelum semua aset mu berpindah tangan,, ni gx da bantuan buat kirana apa kak???
Muft Smoker
aaaaa deg2an ,, semoga bukan arga
Muft Smoker
aduuuh kirana jgn ceroboh doonk ,,
Ma Em
Kirana terlalu ceroboh hrs nya pelan2 saja jgn sampai menimbulkan kecurigaan Arga kalau Kirana sdh bisa melihat , semoga tdk terjadi hal yg tdk di inginkan pada Kirana .
Muft Smoker
aduuuuh semoga kirana gx knp2 ,,
Ma Em
Kirana kamu jgn ceroboh si Arga ini licik ada perubahan sedikit saja dari Kirana Arga langsung curiga , makanya jgn melakukan yg akan membahayakan , Kirana .
Muft Smoker
akhirny kirana pura2 pingsan ,,
🤭🤭
Ma Em
Kirana hati hati jgn ceroboh dan hrs pintar berpura pura msh buta jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat , Kirana hrs cari akal agar bisa bebas dari Arga mokondo .
Muft Smoker
duuh jgn sampai deeh si arga tau kalo kirana udh bisa lihat ,,
Muft Smoker
duuuh aq yg deg2an iikh ,,
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,
Ma Em
Kirana hrs hati2 jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat lagi , jgn gegabah dlm bertindak Kirana hrs cerdik balas semua perbuatan Arga dan gundiknya .
Muft Smoker
perlahan ,, perlahan ,, akhirny penglihatan kirana kembali ,,
Sishrye
astaga nggragas🤣
한스 |HANSEN| Is Back: 😭🔥wwk
total 1 replies
Ma Em
Si Arga karena ambisi ingin menguasai harta orang cara apapun akan harga lakukan , semoga ada keajaiban untuk Kirana secepat nya bisa melihat lagi .
Muft Smoker
waah siapa lgii itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!