Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Malam kembali merayap, membawa angin dingin yang menderu pelan di luar jendela kaca raksasa penthouse mewah milik Rangga Pratama. Lampu-lampu kota membentang bagaikan permadani berlian yang berkilauan di kejauhan, namun pemandangan megah itu tidak lagi mampu menghadirkan ketenangan di dalam ruang utama tempat Rangga berdiri.

Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sebatas siku, memegang segelas wiski di tangan kanannya. Cairan amber di dalam gelas kaca itu berputar pelan mengikuti gerakan pergelangan tangannya, tetapi sedikit pun tidak ia teguk. Matanya menatap lurus ke arah dapur terbuka yang tampak begitu lengang, gelap, dan mati.

Di sinilah letak kejanggalan yang mulai menggerogoti kewarasannya hari demi hari.

Semenjak kepulangan Resti dan dimulainya era pembangkangan senyap oleh Rania, penthouse yang dulunya terasa hidup kini berubah menjadi tempat yang asing. Dulu, setiap kali jam dinding menunjuk pukul tujuh malam, udara di dalam ruangan ini selalu dipeluk oleh keharuman lembut mentega dan panggangan roti susu hangat yang dibuat khusus oleh Rania. Selalu ada sosok wanita berbalut apron sederhana yang menyambut kepulangannya dengan tatapan teduh, senyuman tulus, dan kesiapan untuk mendengarkan betapa penatnya hari yang ia lalui di kantor pusat Pratama Group.

Namun malam ini, dan malam-malam sebelumnya, yang menyambut kepulangan Rangga bukanlah kehangatan melainkan suara derap langkah kaki berisik dan omelan bernada tinggi.

Dari arah ruang keluarga, suara rintihan manja Resti kembali menggema, memecah kesunyian malam dengan cara yang paling menyebalkan.

"Rangga! Lihat ini! Pengiriman tas tangan edisi terbatas dari Milan ternyata salah warna! Aku tidak mau tahu, kau harus menyuruh asistenmu menukarnya besok pagi!" seru Resti dengan nada merajuk, melangkah mendekati Rangga sambil membawa majalah mode terbuka lebar di depan wajah pria itu.

Rangga menurunkan pandangannya dari dapur kosong, menatap Resti yang berdiri di hadapannya dengan balutan piyama sutra bermerek. Wanita itu tampak cantik, seperti biasa. Rambut ikalnya tergerai sempurna, dan aroma parfum Prancis yang manis memenuhi indra penciumannya. Tapi entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidup Rangga, aroma dan kehadiran itu tidak lagi memabukkannya. Sebaliknya, hal itu justru terasa menyesakkan dan melelahkan.

"Iya, nanti akan kuurus," jawab Rangga singkat, datar, dan cenderung dingin. Ia meneguk sedikit wiskinya untuk meredam rasa penat yang mendadak melonjak di tenggorokannya.

Resti mengerucutkan bibirnya, tidak puas dengan respons dingin tersebut. Ia menyingkirkan majalah di tangannya, lalu melingkarkan kedua tangannya di lengan Rangga. "Kau kenapa sih, Rangga? Akhir-akhir ini kau sering melamun dan bersikap dingin padaku. Apakah karena gadis desa itu? Apakah karena Rania?" tanyanya dengan nada mulai menuntut. "Sudah kubilang, usir saja dia dari sini! Keberadaannya membuatku tidak nyaman. Dia tidak pantas berada di tempat mewah ini."

Mendengar nama Rania disebut dengan nada merendahkan, rahang Rangga mengeras seketika. Sebuah sensasi tidak nyaman bergolak di dalam dadanya. Tanpa sadar, Rangga menarik perlahan lengannya dari cengkeraman Resti, memberikan jarak di antara mereka berdua.

"Resti, Rania adalah istri sahku. Dan apartemen ini juga tempat tinggalnya," ucap Rangga dengan suara tertahan, dingin namun penuh penekanan. "Jangan melewati batas dengan menyuruhku mengusirnya."

Resti tertegun, matanya membelalak tidak percaya. Belum sempat wanita itu melancarkan protes dan tangisan dramatisnya, Rangga sudah berbalik arah, berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju ke sisi lain penthouse, seolah-olah ia tidak sanggup lagi berlama-lama mendengarkan keluhan manja yang tiada habisnya itu.

Resti menghentakkan kakinya dengan geram ke lantai marmer, menggigit bibir bawahnya karena merasa posisinya mulai goyah. Namun Rangga tidak peduli. Pria itu terus melangkah hingga sampai di dekat koridor kamar utama, tempat di mana pintu kamar Rania tertutup rapat.

Rangga berdiri terpaku di depan pintu itu selama beberapa menit. Ia menatap permukaan kayu bercat putih bersih tersebut dalam keheningan total. Tidak ada suara dari dalam. Rania selalu mengunci pintunya sejak insiden demi insiden terjadi, menarik diri sepenuhnya dari dunia Rangga.

Di dalam kesunyian malam itu, pikiran Rangga mulai melayang liar, melakukan perbandingan batin yang sangat telak—sebuah perbandingan yang selama ini coba ia tepis mati-matian menggunakan ego CEO-nya yang angkuh.

Rangga memejamkan matanya sejenak, membiarkan kenangan-kenangan kecil berkelebat di kepalanya.

Resti. Cinta pertamanya. Wanita yang selama ini ia agungkan, wanita yang ia bayangkan sebagai sosok sempurna pendamping hidupnya. Namun kenyataannya? Selama Resti berada di sini, apa yang diberikan wanita itu selain tuntutan, rengekan, dan masalah? Resti egois. Hidupnya hanya berputar pada kemewahan, pengakuan sosial, dan kepuasan diri sendiri. Setiap hari selalu ada daftar barang mahal yang harus dibeli, setiap jam selalu ada keluhan tentang hal-hal sepele, dan tidak pernah sekalipun Resti memikirkan beban pikiran atau kelelahan yang dirasakan oleh orang di sekitarnya—termasuk Rangga sendiri.

Sebaliknya, bayangan Rania muncul mengisi ruang kontras di kepalanya.

Rania... wanita yang dinikahinya secara terpaksa di altar karena pengkhianatan keluarga Pratama. Gadis yang awalnya ia pandang sebelah mata sebagai beban dan pengantin pengganti yang tidak bernilai. Tapi bagaimana kenyataannya selama mereka tinggal bersama?

Rania mandiri. Wanita itu tidak pernah sekalipun meminta satu sen pun uang dari dompet atau kartu kredit Rangga untuk kepentingan pribadinya. Di saat Resti menghabiskan ratusan juta rupiah untuk barang-barang tidak berguna, Rania justru membangun kesuksesannya sendiri dari nol—mengelola toko roti kecil yang kini menjelma menjadi tren besar di kota ini dengan peluh dan keringatnya sendiri.

Rania tidak pernah menuntut. Tidak pernah merengek meminta perhatian, tidak pernah mengeluh lelah meskipun ia harus menghadapi sikap dingin, ketus, dan arogan dari Rangga setiap hari. Bahkan di saat-saat tersulit sekalipun, Rania selalu hadir dalam diam—menyiapkan pakaian, merapikan rumah, dan merawat segala kebutuhan domestik Rangga tanpa pamrih, sebelum akhirnya benteng pertahanannya runtuh dan ia memilih menutup diri sepenuhnya akibat kepedihan yang teramat sangat.

Satu sisi penuh dengan tuntutan dan egoisme. Sisi lain penuh dengan kesabaran, kemandirian, dan ketulusan yang terabaikan.

Kesadaran itu menghantam benak Rangga bagaikan hantaman palu godam di siang bolong. Dadanya terasa sesak seketika. Ada rasa penyesalan yang membakar, merambat perlahan dari ulu hati hingga membakar tenggorokannya. Rangga menyadari, apa yang ia cari dan butuhkan selama ini sebagai seorang pria dewasa bukanlah bayangan rapuh dari seorang putri manja yang haus kemewahan, melainkan keteduhan dan ketulusan dari seorang wanita kuat yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Namun, di detik yang sama, ego CEO-nya yang besar kepala langsung berontak keras.

Tidak! batin Rangga berteriak menyangkal suara nuraninya sendiri. Tidak mungkin! Aku tidak mungkin mencintainya. Aku tidak boleh jatuh cinta pada wanita yang dipaksakan masuk ke dalam hidupku. Pernikahan ini adalah kesalahan. Resti adalah cinta pertamaku, wanita yang kucari selama bertahun-tahun...

Ego itu berteriak lantang, menolak mentah-mentah kenyataan pahit yang mulai merangsek masuk ke dalam relung hatinya. Rangga membuka matanya kembali, menatap tajam ke arah pintu kamar Rania, lalu mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuhnya. Ia berusaha keras menepis perasaan aneh yang kian hari kian mendera dadanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia rasakan hanyalah rasa bersalah sesaat terhadap seorang istri kontrak.

Namun, sekuat apa pun Rangga mencoba mengingkari dengan dalih logika bisnis dan gengsi seorang pemimpin perusahaan besar, hatinya tahu persis kebenarannya: benteng pertahanan emosionalnya telah runtuh. Dan ketidakhadiran senyuman Rania di rumah ini telah meninggalkan lubang kosong yang tidak akan pernah bisa diisi oleh siapa pun di dunia ini—termasuk oleh wanita yang selama ini ia agungkan di masa lalu.

Jangan lupa like ya😉

1
Ketoprak Encok
maaf aja nih kak, otak aku emang buntu banget, dari bab 27 makanya aku cepetin aja namatin cerita ini. tapi thanks kak udah luangin waktunya buat baca
Forta Wahyuni
koq kacau balau novelnya thor, alurnya simpang siur n apa jiplakan.
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!