Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, kehamilan Alena kini telah menginjak usia lima bulan—bulan-bulan di mana perutnya mulai tampak membulat indah dan sang jabang bayi semakin aktif bergerak di dalam kandungan.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada satu hal kecil yang sempat membuat Baskara si suami siaga merasa cemas sejak beberapa hari terakhir: pergelangan kaki Alena yang mulai sedikit membengkak akibat aktivitas sehari-hari dan sirkulasi cairan tubuh khas ibu hamil.
Tak mau mengambil risiko, Baskara langsung menjadwalkan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan kepercayaan mereka siang ini.
Mobil yang mereka tumpangi melaju tenang dan tiba di area parkir rumah sakit swasta terkemuka di Jakarta.
Dengan sigap, Baskara menggandeng tangan Alena, membimbing langkah sang istri dengan penuh kehati-hatian hingga mereka duduk di ruang tunggu, dan tak lama kemudian dipanggil masuk ke ruang praktik dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
Di dalam ruangan yang bersih dan nyaman menyambut mereka, sang dokter wanita paruh baya menyapa keduanya dengan senyuman ramah.
Setelah Alena berbaring di atas brankar untuk pemeriksaan USG, layar monitor pun menampilkan siluet sang buah hati yang kini sudah tampak jelas bentuk tubuhnya, tengah bergerak aktif.
"Wah, perkembangannya sangat luar biasa, Pak Baskara, Bu Alena.
Janinnya aktif, berat badannya sangat ideal, dan detak jantungnya juga kuat," ujar dokter sambil menggerakkan transducer di atas perut Alena.
Baskara yang berdiri di samping brankar sambil menggenggam erat tangan istrinya mengembuskan napas lega.
"Puji Tuhan, kalau soal pembengkakan di kaki istri saya bagaimana, Dok? Apakah itu wajar?" tanyanya langsung pada inti kekhawatirannya.
Dokter tersenyum maklum, lalu beralih duduk di kursi kerjanya setelah Alena merapikan pakaiannya dan duduk di hadapan meja periksa bersama Baskara.
"Untuk pembengkakan ringan di kaki pada usia kehamilan lima bulan ini umumnya masih dalam batas wajar karena peningkatan volume darah dan tekanan rahim," jelas dokter ramah.
"Tapi, mengingat usia Ibu Alena yang sudah menginjak kepala empat, kita harus jauh lebih berhati-hati dan memperhatikan sirkulasi darah serta tekanan darahnya."
Dokter menatap lekat kepada pasangan suami-istri di depannya dengan nada mengingatkan yang profesional.
"Di usia kehamilan geriatric atau 40 tahun ke atas seperti ini, risiko seperti preeklampsia atau kelelahan otot lebih harus diwaspadai. Jadi, pastikan Ibu Alena tidak terlalu banyak berdiri lama, kurangi konsumsi garam berlebih, dan perbanyak istirahat dengan posisi kaki sedikit ditinggikan saat tidur."
Mendengar penjelasan tersebut, genggaman tangan Baskara pada jemari Alena terasa semakin erat.
Ada kilat protektif yang terpancar jelas dari manik mata pria itu, bertekad untuk memastikan tidak ada satu pun hal buruk yang mengancam kesehatan istri dan buah hati tercinta mereka.
Pintu ruang praktik dokter kandungan itu tertutup perlahan di belakang mereka. Alena melangkah keluar dengan pandangan menunduk, sementara tas kecil di tangannya digenggam erat.
Begitu tiba di area tunggu koridor rumah sakit yang agak sepi, pertahanan yang sejak tadi ia jaga runtuh seketika.
Air mata hangat tiba-tiba tumpah membasahi pipinya.
Bahunya bergetar pelan saat isakan tertahan lolos dari bibirnya.
Kata-kata sang dokter mengenai usia kehamilannya yang menginjak kepala empat dan segala potensi risiko medis mendadak menghantam mentalnya dengan telak. Ketakutan terbesar seorang calon ibu menyerangnya tanpa ampun.
"Bas, aku takut," lirih Alena di sela tangisannya, suaranya bergetar hebat.
"Bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa dengan janin kita? Aku, cuma ingin bayi ini lahir dengan selamat."
Mendengar isak tangis dan pengakuan rapuh istrinya, hati Baskara terasa seperti diremas kuat-kuat.
Seketika itu juga, ia menghentikan langkahnya. Tanpa memedulikan tatapan beberapa orang yang berlalu-alang di koridor rumah sakit, Baskara langsung merengkuh pundak istrinya.
"Sstt, hei, lihat aku, Sayang," bisik Baskara lembut penuh penegasan.
Pria itu menuntun Alena menuju sebuah bangku tunggu kosong di sudut koridor yang lebih tenang, lalu mendudukkan istrinya dengan sangat hati-hati.
Baskara berlutut satu kaki di hadapan Alena, menyamakan tinggi mereka, lalu menggenggam kedua tangan istrinya yang terasa dingin dengan kedua telapak tangannya yang hangat.
Baskara menatap lekat-lekat manik mata Alena yang basah oleh air mata, memancarkan ketenangan dan keyakinan yang luar biasa besar.
"Jangan berpikiran yang bukan-bukan, hm?" ucap Baskara dengan suara beratnya yang menenangkan, ibu jarinya bergerak telaten menghapus jejak air mata di pipi sang istri.
"Dokter tadi bilang semuanya normal dan sehat. Bayi kita kuat, sama seperti mamanya."
Baskara menarik napas dalam-dalam, lalu mencium punggung tangan Alena dengan penuh takzim.
"Mulai sekarang, jangan membebani pikiranmu dengan ketakutan sendirian. Ada aku di sini. Apapun risikonya, kita hadapi dan lewati sama-sama. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada kalian berdua. Percaya sama aku, ya?"
Alena menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi kehangatan dan ketulusan yang terpancar dari manik mata suaminya.
Secara perlahan, rasa takut yang sempat mencengkeram dadanya mulai mereda, digantikan oleh rasa aman yang selalu berhasil dihadirkan oleh Baskara.
Ia menganggukkan kepalanya pelan, lalu mengangkat tangannya untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dengan ujung jemarinya.
Senyuman tipis akhirnya kembali terukir di bibirnya yang sempat bergetar.
"Makasih, Bas. Maaf ya aku malah jadi cengeng begini," cicit Alena lirih, suaranya terdengar jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Melihat rona wajah istrinya mulai membaik, Baskara ikut berdiri dari posisi berlututnya.
Ia tersenyum lebar, sengaja memasang ekspresi ceria untuk benar-benar mengusir sisa mendung di hati sang istri.
"Nah, begitu dong. Istriku yang cantik tidak boleh menangis," puji Baskara sambil merangkul pundak Alena dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang, sesuai janji para suami siaga, mood-nya harus kita kembalikan lagi. Ayo sekarang kita cari makanan enak yang bisa bikin mood bahagia!"
Alena terkekeh kecil mendengar nada antusias suaminya. "Mau cari makanan apa lagi, Boss? Perutku rasanya sudah penuh."
"Tenang saja, tidak harus makanan berat. Bisa dessert, es krim, atau apa pun yang bisa bikin senyum istriku balik lagi," ajak Baskara sambil menuntun langkah Alena meninggalkan area tunggu, berjalan berdampingan menuju lift rumah sakit dengan hati yang jauh lebih ringan.
Langkah keduanya membawa mereka keluar dari area rumah sakit menuju pusat perbelanjaan terdekat yang terhubung langsung.
Suasana mal yang sejuk dan terang benderang langsung menyambut begitu pintu kaca otomatis terbuka.
Baskara yang sedari tadi merangkul pinggang Alena dengan protektif memindai sekeliling, mencari tempat yang paling nyaman untuk meleburkan sisa-sisa kecemasan sang istri.
Pilihan mereka akhirnya jatuh pada sebuah kafe dessert bergaya minimalis yang menyajikan berbagai macam kue lembut dan es krim buah segar.
Begitu memesan tempat duduk di dekat jendela kaca yang menghadap ke jalanan kota, seorang pelayan datang membawa buku menu.
Namun, sebelum Alena sempat membukanya, Baskara sudah lebih dulu mengambil alih.
"Biar aku yang pilihkan," kata Baskara sambil tersenyum penuh arti kepada pelayan.
"Tolong berikan satu porsi panna cotta stroberi yang tidak terlalu manis, hot chocolate untuk istri saya, dan satu waffle cokelat dengan es krim vanila di atasnya."
Alena mengerjap heran sekaligus terhibur. "Wah, tahu dari mana kalau aku lagi pengen yang manis-manis dingin begini?"
"Suami siaga harus peka," jawab Baskara santai dengan nada bangga, membuat Alena tertawa renyah—suara tawa yang paling dirindukan Baskara setelah sempat melihat air mata sang istri tadi.
Tidak butuh waktu lama hingga pesanan mereka tiba di meja.
Aroma manis cokelat dan segar buah stroberi langsung menguar menggugah selera.
Alena mengambil sesendok panna cotta dingin, mencicipinya perlahan, dan seketika matanya berbinar-binar menikmati kelembutan makanan penutup tersebut.
Baskara menatap wanita di depannya dengan tatapan sayang selama Alena sibuk menikmati makanannya, tangan Baskara tidak pernah lepas menggenggam tangan istrinya di atas meja, menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang tak pernah surut.
Di tengah manisnya hidangan penutup dan bincang-bincang ringan penuh canda, beban pikiran tentang risiko kehamilan yang sempat menakutkan tadi seolah perlahan menguap, tergantikan oleh keyakinan bahwa mereka bisa melalui masa-masa ini bersama-sama.
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭