Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nuy, Prem dan Melati

Aku terkejut melangkah mundur,

Seluruh tubuh pengawal sobek seperti diterkam binatang buas, belum sempat bernafas lega satu persatu pengawal di belakang di bawa menghilang berjatuhan.

Melihat lima orang sudah dibawa pergi, Raja Yuko menebas pedangnya ke segala arah di ikuti yang lain.

Aku di terjang kekuatan hitam di seret cepat ke hutan melewati banyak duri, bajuku terkoyak.

Aku menutup mata, merapalkan mantra.

Sekarang aku bisa melihat sosok bayangan ini.

Wajah busuk mayat hidup yang membawaku lari ke hutan kuambil apa yang bisa kuraih, aku berontak kutarik tusuk konde emasku, kutusuk tepat di tengah kepala Mayat hidup, aku terlepas.

Terjatuh di tanah, mayat itu berubah menjadi debu, kuambil tusuk kondeku.

Pakaianku terkoyak karena duri dan tanaman hutan.

Aku melihat sekeliling, aku jauh dibawa ke hutan yang gelap…

**

Tasku pasti terjatuh di tempatku terakhir berdiri.

Aku berjalan melihat sekitar, hanya ada hutan yang gelap di depan sana.

Aku sendirian.

“Tolong…tolong aku…aku disini” ucapku menahan sakit karena terluka, kakiku tertancap duri,bahuku sobek besar entah terkena tanaman apa karena dibawa lari dengan kecepatan bayangan.

Aku gemetar mencabut luka di kakiku.

“Argh….” Aku berteriak kesakitan.

Kurapalkan mantra, kulitku menyatu kembali.

Aku menahan sakit dan lelah.

Melangkah, melihat aliran air jernih.

Aku mendekati bebatuan, suara kicauan burung makin jelas terdengar.

Aku membasuh kakiku.

Merobek lengan jubahku.

Berusaha mengangkat lenganku membasuh luka di bahuku yang sobek.

Aku menunduk, tiba-tiba aku di dorong, jatuh terjerembab ke air…

Aku berbalik sekelompok mayat hidup.

Aku meringis kesakitan.

Kupandangi sebatang bambu di pinggiran sungai.

Fokus pada batangnya, aku berhitung sampai tiga, mereka mendekat dan kepalanya sudah tertusuk bambu searah.

Mayat hidup lenyap menjadi debu.

Aku masih terendam di dalam air darahku mengalir, aku membasuh luka di tanganku dan merapal mantra.

Lukaku sembuh.

Walaupun terasa sangat sakit karena kulitku yang sobek menyatu, hari semakin gelap, aku duduk di bebatuan sungai, kunang-kunang mulai berdatangan menerangi sekitar.

Aku menunduk, takut.

Rambutku yang panjang sepunggung ikat ekor kuda dengan sobekan kain bajuku, ku genggam tusuk kondeku berjaga.

Aku lelah dan lapar, energiku berkurang, aku banyak mengobati luka tubuh dan menggunakan mantra untuk melawan musuh.

Apakah ini salahku sendiri, atau inang dari kekuatan jahat ini tidak pernah melemah, tanyaku sendiri.

Kulihat Rumput bergoyang,

“Tolong….” Ucapku pelan sambil gemetar.

Muncul Seorang anak laki-laki membawa di bahu Ranting Kayu Bakar.

“Apa yang kamu lakukan disitu” tanya Anak lelaki itu.

Sepertinya orang baik, pikirku.

“A..aku tersesat” kataku.

Dia memandangi bajuku yang sobek, berjalan kearahku menghidupkan obornya.

“Ikutlah aku, kita ke desa” katanya.

Aku patuh mengikuti Anak laki-laki itu dari belakang.

Menyembunyikan tusuk kondeku.

Akhirnya kami tiba di sebuah perkampungan, aku lega akhirnya aku melihat lagi orang-orang.

“Dia siapa?” kata seorang wanita yang menggendong bayinya.

“Wanita ini tersesat di hutan” kata Anak lelaki itu.

“Kau tidak apa-apa” katanya khawatir

Dia melihat pakaianku banyak sobek, dan berdarah.

Tapi dia tidak melihat ada luka di tubuhku.

Hanya berbekas merah seperti sabetan untuk luka-luka yang dalam, belum sepenuhnya daging dalam kulitku menyatu.

“Akan kuambilkan pakaian” kata wanita itu, meminjamkanku pakaiannya berwarna coklat dari kain belacu.

“Terima Kasih” aku mengambil baju itu untuk baju ganti.

Dia mengantarku ke belakang pondok,aku mengganti pakaian membilas tubuhku dengan air jernih pegunungan.

“Terima Kasih” kataku.

“Masuklah, di luar dingin” kata wanita itu.

Aku berdiri diluar melihat sekeliling.

“Ini putraku Prem, dan ini Melati” katanya memperkenalkan Putranya yang tadi mengajakku keluar dari hutan dan putrinya yang masih bayi.

“Namaku Mayanza” kataku

“Aku Nuy panggil saja namaku begitu” kata wanita itu.

Aku di persilahkan duduk di bale-bale kayu.

“Kamu dari istana?” katanya bertanya sambil berbisik pelan.

Aku mengangguk,

“Tidak perlu takut” katanya.

“Mari makan” katanya menawari aku bubur nasi.

“Tidak aku sudah kenyang” kataku.

Dia menyodorkan mangkuk kayu dan sendok kayunya.

“Mungkin tidak seenak makanan Istana” katanya.

Aku mulai makan bubur nasi garam itu sesuap demi sesuap untuk menambah energi.

Nuy, menyalakan perapian.

Diluar mulai dingin, udara berembun, kulihat dari pintu dapur yang terbuka hutan begitu gelap.

Bagaimana nasib Raja Yuko dan Pasukannya.

Apakah mereka selamat,

Aku berpikir menunggu tidak membuka portal untuk kembali kerumah.

Aku tau semakin sering aku membuka portal semakin sering mahluk jahat yang datang ke Dunia Zink.

"Bagaimana kau tau kalau aku dari istana?" tanyaku pelan agar tidak membangunkan melati.

"Dari pakaian sutra yang kau pakai" jawabnya.

“Suamiku dulu adalah prajurit istana” kata Nuy.

“Wabah melanda desa ini, Suamiku ikut meninggal dalam perang” katanya lagi, dia menangis tapi tidak menampakan air mata, menyekanya dengan tangan bajunya.

“Kenapa kau dihutan?” kata Nuy bertanya.

“Aku tersesat dari rombongan” jawabku

“Kemana Rombongan kalian” katanya.

“Aku tidak tau tujuan kami kemana, yang jelas keluar dari hutan” jawabku.

“Apakah ada pria yang ingin melecehkanmu?maaf bertanya, kulihat bajumu sobek” katanya tertunduk.

Aku menggeleng, “Tidak pakaianku robek karena duri, menyelamatkan diri dari binatang buas” kataku

“Tadi putraku Prem bilang kamu berada di danau orang mati” kata Nuy.

“Ya, Danau orang mati adalah tempat keramat, batas yang boleh dimasuki orang desa untuk mencari bahan makanan selebihnya tidak boleh lagi melangkah. Beruntung kamu selamat” katanya lagi melanjutkan menjelaskan.

“Terima Kasih” aku menunduk pelan.

“Kita istirahat, kau boleh tidur di bale-bale Prem, biar Prem tidur bersamaku dan adiknya”, katanya.

“Baiklah...” aku berbaring di bale-bale terbuat dari bambu dan dilapisi kain belancu sebagai alas Kasur tipis.

Pintu ditutup, aku tidak benar-benar tidur.

**

Pagi hari udara sejuk berembun, aku keluar dari pondok menuju aliran air.

Air pegunungan yang sejuk, air mengalir melalui sebatang bambu, aku menampungnya dengan ember yang terbuat dari kayu.

Kulihat di setiap rumah mengepul asap perapian.

Apa yang terjadi di hutan kemarin, apakah mereka selamat?

Nuy, berjalan ke arahku.

Mencuci perabotan makan yang terbuat dari kayu.

Aku membantunya mengangkat perabotan yang sudah dicuci bersih ke rumah dengan ember.

“Kemana Prem?” tanyaku

“Prem pergi ke tempat tetangga menjual kayu bakar” kata Nuy.

“Apakah hari ini Prem akan kehutan lagi” tanyaku.

“Itu, Prem” kata Nuy.

“Prem, apakah hari ini kehutan?” tanyaku langsung padanya.

“Sepertinya tidak” kata Prem.

“Apakah selain aku kemarin, kamu ada bertemu orang lain” tanyaku pada Prem.

Prem menggelengkan kepala, “Tidak ada”

Pintu diketuk.

“Tetua…” Nuy menunduk.

Tetua adalah Kepala Kampung.

“Kudengar dari warga bahwa ada orang asing disini” kata Tetua.

Aku keluar beberapa warga berkumpul diluar, menatapku curiga.

“Siapa dia?” kata Tetua.

“Dia adik dari suamiku” jawab Nuy sebelum aku menjawab.

“Kau datang dari negeri utara jauh-jauh kemari naik apa” katanya.

“Naik kuda” jawabku.

“Kenapa tidak melapor” kata Tetua pada Nuy.

“Hari ini rencananya kami mau melapor menghadap Tetua” kata Nuy.

Aku diam memperhatikan dan menyerahkan menjawab pertanyaan kepada Nuy.

“Kemana Kudamu?” tanya Tetua padaku.

“Kudaku terlepas, waktu aku kemari aku terjatuh di sekitar hutan” kataku

Wajah warga menjadi semakin curiga.

“Maaaa…maksudnya... di perjalanan” kata Nuy.

Aku salah menjawab.

“Kapan kamu kembali ke Utara?” kata Tetua.

“Tidak lama lagi, aku hanya menjenguk Nuy dan anak-anaknya” kataku.

Nuy mengangguk.

Tetua dan warga meninggalkan halaman rumah Nuy.

Kami masuk ke rumah,

“Nuy, apa yang terjadi?” tanyaku

“Tetua orang yang sangat keras dengan warga baru” kata Nuy.

“Dia takut ada wabah datang lagi membawa orang asing kesini” kata Nuy.

“Tapi, kenapa kau harus berbohong” kataku

“Aku tau kamu orang baik, kalau dia tau kamu orang asing, dia kan menjualmu menjadi budak”

Aku terdiam.

“Bisakah Prem mengantarku ke hutan?” tanyaku.

“Aku harus kembali ke hutan menemui rombonganku yang lain, entah mereka hidup atau mati” kataku.

“Sebaiknya jangan nona, nona kembali ke Istana saja” kata Prem.

“Bagaimana caranya?”kataku.

“Dua hari lagi kereta akan ke kota, nona ikut saja dengan kereta penjual buah” katanya

“Tapi aku tidak punya uang untuk menumpang” kataku

Kami terdiam bertatapan, “Nona ikut aku, siang ini kita ikut memetik buah” kata Nuy.

Aku mengangguk,

Kalau mereka selamat kenapa Raja Yuko tidak mencariku.

Kunikmati dulu petualangan ini, tanpa mengeluarkan kekuatan, tunggu aku pulih dulu.

**

Bersambung...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!