perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalimat yang menyakitkan
Ucapan Mas Rama terus saja terngiang-ngiang di kepalaku. Aku mengusap wajahku. Aku tidak bisa hanya diam saja. Aku membutuhkan penjelasan dari Mas Rama. Tidak ingin hanya menjadi tempat pelampiasan amarahnya. Aku ingin tahu, dimana letak kesalahan ku sehingga aku pantas dijatuhi talak olehnya.
Dengan sisa tenaga yang aku miliki saat ini, aku segera bangkit berdiri. Kaki dan tubuh ku masih terasa lemas, namun aku memaksa bangkit.
Di ruang tamu, kulihat Mas Rama sedang duduk sambil menyesap rokoknya. Raut wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat. Aku berjalan mendekatinya, dan berdiri beberapa langkah dari hadapannya.
"Mas Rama, aku ingin bertanya dan butuh penjelasan darimu." Ucapku pelan
Mas Rama menatapku.
"Penjelasan apa lagi. Sudah tidak ada yang perlu dijelaskan." Jawabnya acuh.
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Apa kesalahan ku sampai Mas tega menjatuhkan talak kepadaku?" Tanyaku .
"Kamu masih tidak sadar dengan kesalahanmu sendiri?" Ucapnya sambil tertawa pendek.
Aku hanya menggeleng.
"Kamu sudah durhaka sebagai seorang istri. Seorang istri itu seharusnya menghormati suaminya, tidak membantah, tidak melawan, apa lagi berbicara kasar dan membentak seperti tadi. Kamu sudah berani meninggikan suara di depan suami mu." Jawabnya dengan suara yang sangat jelas.
"Tapi, Mas...aku tidak pernah punya niatan untuk melawanmu. Aku hanya ingin membela diriku. Apa itu salah?" Kataku kepada Mas Rama.
"Jelas salah. Salah besar. Dan kamu juga akan menerima akibatnya, kamu tidak akan bisa mencium bau surga."
Aku hanya terdiam mendengar ucapan Mas Rama. merasa percuma saja, apapun yang aku katakan kepada Mas Rama akan sia-sia. Dia seperti sudah tidak peduli dengan semua ucapanku.
Selalu saja kata durhaka yang selalu Mas Rama ucapkan kepadaku. Entah sudah berapa kali.
"Mas Rama terus saja menuduhku istri yang durhaka. Padahal Mas tau selama ini aku selalu berusaha menjadi istri yang baik. Semua yang Mas inginkan selalu aku usahakan. Mas membutuhkan sesuatu, aku berusaha menyiapkannya. Lalu di mana kurangnya aku, Mas? Apa Mas pernah menghargai semua yang aku lakukan? Dan sekarang, setelah aku akhirnya tidak sanggup menahan semuanya, Mas Rama mengatakan aku istri durhaka? Apakah sangat pantas kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang suami?" Ucap ku panjang lebar mengeluarkan isi hatiku.
"Cukup, Jasmine. Kamu masih saja terus membantahku. Apa kamu mau ,aku jatuhkan talak kedua sekarang." Seru Mas Rama dengan nada tinggi.
Aku langsung menatap ke arah Mas Rama, Dadaku kembali terasa sesak.
"Astaghfirullah,Mas. pernikahan ini bukan permainan. Kalau merasa ada yang salah dalam rumah tangga kita, ayo kita sama-sama mencari jalan keluarnya. Kita sama-sama intropeksi diri, Mas." Ucap ku.
"aaahhh.....sudahlah. Aku benar-benar sudah muak denganmu." Kata Mas Rama.
Mas Rama berdiri dari duduknya, lalu melenggang pergi meninggalkan aku sendirian dengan tangisan yang semakin menjadi.
Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, supaya suara tangisku tidak terdengar oleh kedua anakku.
Aku duduk di sofa. Aku tidak tau apa yang terjadi setelah ini. Aku tidak tau apakah pernikahanku bisa terselamatkan.
Di tengah tangisku, kedua mataku tertuju pada foto keluarga kami yang terpajang di dinding. Aku menatap foto itu lama. Foto sebuah keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia. Aku, Mas Rama, Aldi, dan juga aira. Kami semua tersenyum di sana.
Namun, di balik foto itu ternyata ada seorang wanita yang selalu berusaha sekuat tenaga mempertahankan keluarganya seorang diri.
Aku masih duduk sendirian di sofa ruang tamu. Air mataku belum juga berhenti. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku mengangkat wajah. Ternyata Ibu mertuaku. Langsung saja aku mengalihkan pandanganku.
Aku yakin, beliau pasti sudah mendengarkan percakapan ku dengan Mas Rama tadi.
"Makannya, Jasmine. Kamu itu jangan sombong. Berani sama suami, berani sama mertua. Durhaka sekali kamu. Baru kali ini Ibu bertemu perempuan kurang ajar seperti kamu. Sekarang Ibu jadi menyesal sudah menikahkan Rama dengan perempuan sepertimu. Lagi pula, siapa juga yang mau dengan perempuan sombong dan durhaka." Ucap Ibu mertua ku dengan nada dingin.
Aku memilih diam. Aku tidak mau menggubris semua yang Ibu mertuaku ucapkan kepadaku.
Aku sudah lelah menjelaskan semuanya.
Saat ini aku hanya memikirkan satu hal, yaitu bagaimana nasib pernikahanku. Apakah semuanya akan berakhir hanya karena pertengkaran malam ini?
Ibu mertuaku berjalan melewatiku, aku mengangkat wajahku lalu menatapnya. Beliau langsung melengos dan langsung berjalan pergi.
Aku menunduk. Senyum getir muncul di bibirku.
Sehina dan serendah itukah aku saat ini di mata mereka?
Sebenarnya ,aku ingin mengejar Mas Rama, aku ingin menyusulnya. Tapi aku tau, jika mengejarnya dalam keadaan yang seperti ini, pasti akan lebih memperburuk keadaan. Mas Rama masih dalam keadaan emosi, dan aku juga masih dalam pikiran kacau, tidak bisa berpikir dengan kepala dingin.
Aku teringat dengan aldi dan juga Aira. Segera aku bangkit dan melangkahkan kaki menuju kamar kedua anak ku.
Sesampai nya di depan pintu kamar, aku membukanya perlahan. Kulihat mereka sudah tertidur lelap. Aku masih berdiri di ambang pintu. Hati kecilku malah terasa semakin sakit. Mereka tidak tau apa yang terjadi dengan orang tuanya. Ya, mereka tidak tau apa-apa. Tapi mereka akan menjadi korban karena ke egoisan kedua orang tua nya.
Aku berjalan mendekati kedua anak ku. Kuusap lembut kepala mereka bergantian. Air mataku terus saja mengalir. Saat ini sumber kekuatanku adalah mereka berdua.
"Ya Allah. Bagaimana jika aku dan Mas Rama benar bercerai?..Bagaimana nasibku dan kedua anak ku nanti nya." Gumamku pelan di sela isak tangisku.
Aku takut jika Mas Rama benar-benar sudah tidak mau melanjutkan pernikahan kami lagi. Bagaiman aku merawat kedua anakku. Selama ini aku tidak memiliki penghasilan sendiri. Semua nya aku bergantung kepada Mas Rama selama ini. Bukan karena aku malas, tapi karena Mas Rama dan Ibu mertuaku yang memintaku untuk tetap dirumah, mengurus suami dan juga anak-anak. Aku pun mengiyakan permintaan mereka. Dan aku tidak pernah menyangka jika pilihanku itu justru membuatku tidak berdaya sekarang.
Aku terdiam . Pikiranku kacau . Entah kenapa, meskipun Mas Rama malam ini sudah begitu menyakiti perasaanku, tapi aku masih tetap mencarinya, masih ingin selalu bersamanya, masih begitu mencintainya. Aku masih ingin rumah ini kembali menjadi tenang.
Aku tau, mungkin sebagian orang akan menganggapku wanita bodoh, karena masih memikirkan dan masih tetap mau hidup bersama seorang suami yang sudah menyakitiku dan tidak menghargaiku. Namun terkadang cinta tidak selalu seperti logika.
Apa yang di lakukan Mas Rama, tidak serta merta membuat cintaku langsung hilang begitu saja. Aku masih ingin memperbaikinya. Aku masih ingin belajar menjadi istri yang lebih baik lagi.
Di dalam hatiku, masih ada satu harapan.
Semoga Mas Rama bisa berubah. Karena aku tidak ingin kehilangannya, Aku tidak ingin anak-anak ku kehilangan keluarganya. Jika kesempatan itu masih ada aku ingin memperjuangkannya.
...****************...
Terimakasih sudah membaca..
Jangan lupa follow, yaa 😘