Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Bunga yang Layu

"Apa yang terjadi pada May?" tanyaku.

Arkana tidak langsung menjawab.

Demamnya mulai turun, tetapi wajahnya masih pucat. Hujan di luar jendela telah berubah menjadi gerimis. Keyboard lipat di meja diam, dua temanya tertahan sebelum menemukan akhir.

"Om Guntur tidak menyukai dia berada di dekat markas," kata Arkana akhirnya. "Bukan karena May melakukan kesalahan. Dia terlalu bersih untuk dunia kami."

"Tapi dia tetap datang."

"Setiap malam."

Ada senyum kecil di wajahnya. "Dia membawa makanan murah dari warung dan mengeluh karena kami selalu membiarkannya dingin. Kalau melihat luka, dia marah. Kalau melihat pistol di atas piano, dia melemparkannya ke lantai."

"Berani sekali."

"Ceroboh."

"Kau menyukainya karena itu?"

Senyum tersebut lenyap. "Aku tidak punya hak menyukai siapa pun saat itu."

Jawaban yang sama. Selalu tentang hak, waktu, dan keadaan. Tidak pernah tentang isi hatinya.

"Suatu malam," lanjutnya, "orang-orang Naga Hitam mengetahui tempat kami menyimpan catatan transaksi. Mereka juga tahu May sering datang."

Tanganku mengerat di atas selimut.

Arkana menatap hujan, tetapi aku tahu yang dilihatnya adalah malam bertahun-tahun lalu.

May datang membawa sekotak nasi. Di depan pintu, dia mendengar dua orang membicarakan rencana penyerangan. Nama Arkana disebut. Tempat pertemuan disebut. Sebelum sempat memperingatkan siapa pun, dia terlihat.

"Mereka memaksanya membawa pesan palsu kepadaku," kata Arkana. "Kalau aku datang ke tempat yang disebutkan, aku akan masuk perangkap."

"Apa dia melakukannya?"

"Tidak."

May mengirim pesan berbeda kepada Bayu, cukup singkat untuk memberi tahu bahwa markas terancam. Kemudian dia membawa para pengejar menjauh dari lokasi Arkana.

"Aku menerima pesannya terlambat," lanjutnya. "Saat kami menemukannya, semuanya sudah selesai."

Dia tidak menjelaskan bagaimana May meninggal.

Aku tidak bertanya.

Cara kematiannya tidak akan mengubah kenyataan bahwa seorang perempuan berjalan ke arah bahaya agar pria di hadapanku tetap hidup.

"Dia tahu apa yang mungkin terjadi," kataku.

"Iya."

"Dan tetap memilih melindungimu."

"Iya."

Satu kata itu terdengar seperti hukuman yang diulang bertahun-tahun.

Arkana membuka laci meja samping ranjang. Dari dompetnya dia mengeluarkan kartu kecil yang sudah menguning. Kartu yang sama pernah kulihat di dalam kotak saat dia memberiku nama.

Tulisan tangan di atasnya tipis dan miring.

`Jangan mengingat bagaimana aku pergi. Ingat saja namaku. Kalau suatu hari kau menemukan bunga merah, letakkan satu untukku.`

Tidak ada nama lengkap. Hanya satu kata di sudut bawah.

May.

"Kartu ini dikirim sebelum dia pergi?"

"Ditemukan bersama barang-barangnya."

Arkana mengambil kartu itu kembali dengan hati-hati. "Dia tahu aku tidak pernah membalas perasaannya dengan benar. Namun sampai akhir, dia tidak meminta apa pun selain diingat."

"Kau mengingatnya."

"Itu tidak cukup."

"Bagi orang yang sudah pergi, mungkin itu satu-satunya yang masih bisa kita lakukan."

Dia menatapku. "Kau bicara seperti orang yang kehilangan terlalu banyak."

Aku memalingkan wajah.

Kalau dia tahu siapa diriku, dia akan mengerti.

***

Bayu datang siang itu membawa makanan dan laporan. Wajahnya berubah ketika melihat kartu May di tangan Arkana.

"Kau menceritakannya?" tanyanya.

"Sebagian."

Bayu meletakkan kantong makanan. "May perempuan baik. Terlalu baik untuk kita."

"Kau juga mengenalnya?" tanyaku.

"Aku yang menerima pesan terakhirnya."

Nada main-mainnya hilang sepenuhnya. Dia duduk di kursi dekat jendela dan mengusap wajah.

"Kalau pesan itu terlambat satu menit lagi, mungkin kami semua sudah mati. Kana mengejar dia meski Om Guntur memerintahkan orang menahan. Sejak malam itu, dia tidak pernah lagi membiarkan siapa pun menyentuh piano di markas."

"Lalu piano di rumah?"

Bayu menatap Arkana, menyadari pertanyaanku.

"Itu berbeda," jawab Arkana.

"Kenapa?"

"Karena piano itu milikmu."

Jawaban sederhana tersebut membuat dada terasa sesak.

"Setelah May pergi, Kana menutup ruang musik selama setahun," Bayu berkata. "Tidak ada yang boleh masuk. Bahkan Om Guntur tidak."

"Bayu," Arkana memperingatkan.

"Dia sudah mendengar bagian terburuknya."

Bayu menatapku. "Pada peringatan pertama kematiannya, aku menemukan Kana duduk di depan piano dari malam sampai pagi. Dia tidak bermain. Cuma meletakkan satu spider lily di atas tuts."

"Cukup."

Kali ini suara Arkana benar-benar dingin.

Bayu mengangkat tangan. "Baik. Aku tutup mulut."

Namun sesudah dia pergi, aku tidak bisa menghentikan pertanyaan.

"Mengapa kau menyimpan semua barangnya kalau mengingatnya hanya menyakitkan?"

"Karena rasa sakit adalah bukti bahwa dia pernah ada."

"Kau tidak pernah mencintai perempuan lain setelah itu?"

Arkana memandangku lama. "Aku tidak pernah mengatakan tidak."

"Siapa?"

"Kau belum siap mendengar jawabannya."

"Jangan memutuskan untukku."

"Kalau begitu jawab satu hal." Dia mengulurkan tangan. "Mengapa kau menjaga seorang pria yang seharusnya kau benci?"

Aku menatap telapak tangannya. Bekas luka lama melintasi garis kehidupan, sementara bekas infus baru menghitam di punggung tangan.

"Karena kau terluka saat melindungiku."

"Itu rasa bersalah, bukan jawaban."

Aku tidak sanggup mengatakan yang lain.

Arkana menarik tangannya kembali. "Itulah sebabnya kau belum siap."

Bayu mengalihkan pembicaraan ke kondisi bisnis. Aku membantu menata makanan, tetapi kata-kata mereka tidak lagi masuk ke kepala.

May bermain piano.

May meninggalkan spider lily.

May menenangkan Arkana ketika dia terluka.

Aku melakukan semua hal yang sama tanpa pernah mengenalnya.

***

Malamnya, Arkana tertidur lebih cepat.

Aku duduk di depan keyboard dan memainkan melodi dua kupu-kupu. Tema gelap muncul. Untuk pertama kalinya, aku bertanya apakah melodi itu benar-benar milikku atau gema dari seorang perempuan yang hidup dalam ingatan Arkana.

Air mata jatuh ke punggung tanganku.

Aku menangisi May, perempuan yang mencintai lelaki berbahaya sampai akhir. Aku juga menangisi diriku sendiri karena semakin memahami bagaimana hal semustahil itu bisa terjadi.

Arkana adalah pria yang membunuh keluargaku.

Namun dia juga berlutut di lantai gudang untukku. Menahan peluru untukku. Bangun dari operasi dan menanyakan lukaku sebelum lukanya sendiri.

Bagaimana mungkin seorang pria seburuk itu dicintai sedalam itu oleh perempuan seperti May?

Pertanyaan yang lebih menakutkan muncul setelahnya.

Bagaimana jika aku sedang berjalan menuju nasib yang sama?

Aku menatap wajah Arkana yang tertidur. Di bawah cahaya lampu jingga, garis keras di wajahnya melunak.

May adalah pianis yang meninggalkan bunga merah dan mencintainya tanpa meminta balasan.

Aku juga pianis. Aku juga selalu kembali ke sisinya meski seharusnya lari.

Aku tidak tahu nama asli May, wajahnya, atau kehidupan yang pernah dia impikan. Namun di mata Arkana, jejaknya ada pada bunga, piano, dan perempuan yang memilih tetap tinggal di saat paling berbahaya.

Bayangan itu membuatku ingin mendekat sekaligus melarikan diri sebelum semuanya terlambat.

Semakin kupikirkan, semakin sosok perempuan ideal dalam cerita Arkana terasa benar-benar menyerupai bayanganku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!