Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Menanam Harapan

Gedung tinggi itu menjulang di tengah kota, angkuh dan tak tersentuh. Dinding kacanya memantulkan cahaya siang, memancarkan kesan dingin yang tidak ramah.

Di lantai paling atas, sebuah ruangan luas tenggelam dalam keheningan. Seorang pria duduk di balik meja besar, punggungnya tegak, pandangannya terpaku pada layar di hadapannya.

Tanpa ekspresi. Hanya ketenangan yang sulit ditebak.

"Tuan!"

Seorang pria lain, yang merupakan asisten pribadi itu berdiri di hadapannya membawa tablet di tangan.

"Saya ingin melaporkan perkembangan terbaru terkait Wijaya Group."

Tidak ada jawaban. Namun, sang asisten melanjutkan laporannya.

"Setelah berita perselingkuhan yang menjadi penyebab perceraian Tuan Rahman dan Nyonya Mela tersebar, beberapa investor mulai menarik diri. Bahkan, beberapa memutuskan kontrak kerjasama begitu saja. Termasuk... Dua perusahaan yang sebelumnya menjadi pendukung utama."

Pria di balik meja itu akhirnya bergerak. Jarinya mengetuk pelan permukaan meja.

"Lalu?" tanyanya dengan suara rendah.

Asisten itu menelan ludah pelan. "Jika kondisi ini berlanjut, kemungkinan besar Wijaya Group akan mengalami penurunan signifikan dalam waktu dekat." Ia berhenti sejenak, sebelum bertanya dengan hati-hati. "Apakah kita akan ikut menarik kerja sama?"

Pria itu diam sejenak, seolah mempertimbangkan. Hingga akhirnya, jawaban singkat itu keluar.

"Tidak."

Asisten itu sedikit terkejut, meski berusaha tidak menunjukkannya. "Ma-maksud tuan...?"

Pria itu akhirnya mengangkat pandangannya. Tatapannya dingin dan tenang untuk situasi seperti ini.

"Biarkan mereka bertahan untuk sementara waktu," ucapnya pelan.

Asisten itu mengernyit. "Dengan kondisi seperti ini, risikonya cukup besar, tuan. Apalagi sekarang, muncul kabar baru tentang rencana pernikahan Tuan Rahman dan Nyonya Camila dan statement-statement yang membuat publik berbalik arah membela mereka. Tapi, itu belum cukup membuat perusahaan tersebut stabil. Dan, alasan beberapa perusahaan masih melanjutkan kerjasama mereka karena Atma Group masih bertahan."

Pria itu tersenyum miring. "Justru karena itu." Ia berdiri perlahan, melangkah ke arah jendela besar yang memperlihatkan seluruh kota. "Kita tidak selalu bertahan karena mereka kuat. Tapi, terkadang karena untuk membuat mereka jatuh."

Asisten itu terdiam, tidak berani menebak lebih jauh.

"Dan saat itu terjadi, kita akan berada di posisi yang paling menguntungkan," seringainya. Ia lalu memalingkan wajah sedikit. "Lakukan seperti biasa."

"Baik, tuan." Asisten itu menunduk, lalu keluar dari ruangan.

Pintu tertutup, membuat ruangan kembali sunyi.

Pria itu masih berdiri di depan jendela dengan tangan yang masuk ke saku celana. Tatapannya tidak lagi ke kota, melainkan pada sesuatu yang lebih jauh.

"Atma Group tidak pernah bergerak tanpa alasan," gumamnya pelan.

Sementara itu, Mela sudah berdiri di ujung desa. Diatas lahan miring yang kemarin hanya ia pandangi dari jauh kini.

Tanah itu kering, berbatu dan dipenuhi sisa-sisa rumput liar yang belum sepenuhnya hilang.

Mela menggenggam cangkul di tangannya, lalu menarik napas pelan.

"Pelan-pelan saja," gumamnya pada diri sendiri. Ia mengangkat cangkulnya tinggi, lalu menghantam ke tanah.

Tidak dalam, bahkan nyaris tidak berubah.

Mela menatap bekas cangkulan nya yang hampir tidak terlihat, lalu tersenyum kecil. "Keras sekali," lirihnya.

Ayunan cangkulnya mulai lebih kuat, tapi napasnya juga mulai tidak teratur. Tangannya yang belum terbiasa, perlahan terasa perih. Namun, ia tidak berhenti.

Sekali, dua kali, bahkan puluhan kali ia mencangkul, namun tanah itu tetap keras, seolah menolak untuk diubah.

"Mel!"

Mela menoleh, saat seseorang memanggilnya.

Darmi dan Yati berjalan naik, membawa sebuah tas kecil.

"Ya ampun, ini sudah siang, kenapa nggak istirahat dulu?" Yati menggeleng, setengah tidak percaya.

Mela hanya tersenyum. "Biar cepat selesai."

Darmi mendekat, lalu melihat hasil kerja Mela. Ia terdiam sejenak. "Baru sedikit, ya," ucapnya hati-hati.

Mela tertawa kecil. "Iya. Tanahnya lebih keras dari yang aku kira."

Yati menyodorkan tas, berisi minuman dan makanan. "Istirahat dulu. Nanti malah tumbang."

Mela menerima tas tersebut, membawanya ke bawah pohon dan duduk di sana. Ia menenggak air yang terasa jauh lebih segar dari biasanya.

Angin siang berhembus pelan, membawa aroma tanah yang baru dibalik.

Ia menatap sekeliling, dengan napas yang mulai teratur.

"Capek?" tanya Yati.

Mela mengangguk. "Iya. Aku gak nyangka, kerja menjadi petani bisa secapek ini."

"Nyerah?" tanya Darmi, melirik tangan yang lecet.

Mela tertawa pelan. "Terkadang... Iya."

Ia menatap tanah di depannya. Dulu, ia menghabiskan tenaga untuk mempertahankan sesuatu yang perlahan menghancurkannya.

Sekarang, ia menggunakan tenaga yang sama untuk membangun sesuatu yang baru.

"Pelan-pelan saja. Yang penting tetap berjalan," ucap Darmi.

Mela tersenyum. "Iya, mbak. Terimakasih.

...****************...

Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat dari yang Mela sadari.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, ia sudah berada di lahan itu, mencangkul tanah dengan tekad yang tidak pernah goyah.

Tanah yang awalnya keras, perlahan mulai berubah.

Dengan bantuan Yati, Darmi, dan beberapa warga lain yang sesekali ikut membantu, lahan miring itu mulai dibentuk menjadi beberapa bagian.

"Kalau dibiarkan miring begini, nanti tanahnya bisa longsor saat hujan," jelas Yati sambil menunjuk bagian bawah.

"Makanya dibuat bertingkat," sambung Darmi. "Biar airnya nggak langsung turun semua."

Mela mengangguk, mencatat dalam diam. Mereka mulai membuat batas sederhana, tanah ditahan, diratakan sedikit demi sedikit.

Tidak rapi tapi, cukup untuk membentuk sesuatu yang baru, hingga lahan itu terasa bisa diolah.

Setelah itu, Mela mulai menggemburkan tanah, menambahkan pupuk kandang, membuat bau yang cukup menyengat memenuhi lahan.

Mela sempat meringis tapi, tetap melanjutkan. Dan, tanpa banyak bicara ia mengambil sekop, mencampur pupuk dengan tanah dan diratakan. Meski, semua itu membuat tangannya kotor dan bajunya penuh noda, tapi anehnya, ia tidak merasa terganggu.

Beberapa hari kemudian, Mela mulai membuat bedengan, gundukan tanah memanjang, dengan jarak di antaranya agar mudah saat menyiraminya.

Ia kemudian membuat lubang kecil di tanah dengan jarak yang teratur, lalu menanam bibit-bibit yang ia bawa sebelumnya.

Tidak terasa, matahari sudah naik, tapi ia tetap bekerja. Hingga akhirnya, lahan itu tidak lagi kosong.

Mela berdiri, menatap hasil kerjanya. Belum ada yang berubah, belum ada yang tumbuh. Namun, sesuatu di dalam dirinya ikut tertanam bersama bibit-bibit itu.

"Akhirnya, selesai juga. Sekarang tinggal dirawat, dan disiram dengan teratur," gumamnya.

Mela menghela napas panjang. Dulu, ia ingin semuanya sempurna, tanpa cela. Tapi sekarang, ia belajar bahwa sesuatu yang tumbuh dengan baik memang butuh waktu, termasuk hatinya.

1
Anik Setyowati
aku tahu dino adalahbos yg selama ini,mbantu perusahaannya Rahman dan setelah Rahman menikah dengan Camila maka dia mencabut kerja samanya dengan perusahaan rahman👍
Aisyah Suyuti
good
Ratni Heryati
ada ajaniat jah
at orang yng serakah
Sri Yekti
Endingnya bagys.
Nereka semua bahagia.
Ditunggu karya yg lain thor....
Sri Yekti
😄😄😄 sifat org kaya mmg begitu.
Sri Yekti
seorang kakak biasanya mmg begitu, ktk mendengar ia akn punya adik.
ia akn takut kasih sayang org tuanya akn terbagi
Sri Yekti
d
slmt tuk pasangan Dino Mela.
Akhirnya Allah kabulkan keinginan mereka.
meskikehamilan diusia 49 th itu beresiko tinggi.
Sri Yekti
Mungkin kamu hamil Mel....sge periksa ke dr.
Sri Yekti
mg kebahagias sll menyertaimu Mela
Sri Yekti
Ternysta benar, Camila orangnya
Dasar p💪er💪empuan syirik.
Kerjanya cuma bikin kisruh
Sri Yekti
gak usah didengerin ocehan meteka Mel. Biarkab sj anjing menggonggong, kafilah ttp berlalu
Sri Yekti
untung Mela sdh tdk pernah membuka akunnya.
Jangan main² dgn tuan Dino.
kalian skn digilas habis
😄😄😄
Sri Yekti
siapa perempuan itu? Camilakah?
atau perempuan lain yg menyukai Dino?
Sri Yekti
kwk..kwk...kwk...bahagianya mereka...
slmt ya Mel....slmt tinggal luka, slmt tinggal derita.,.👍👍👍
Sri Yekti
Lanjut thor.....tambah penasaran ni..
Sri Yekti
😄😄😄 sadar jg kamu Rahman..
Sri Yekti
lolah....emang kamu mau dipecat Dino ya Man.....ayo ngomong, kl mau hidupmu majin menderita
Sri Yekti
lah...Kamu mau ngacau kehidupan mela lagi ya man?
emang kamu g tau, siapa yg ngasi kerjaan pd mu?
Yuyun Zampiet
akhir yg bahagia, cerita yg bagus keren thor 👍
Yuyun Zampiet
pasti dah hamidun mela nya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!