Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Mentari yang Membawa Sial

Kereta tiba di Surabaya ketika matahari sudah tinggi.

Laras berdiri di depan Stasiun Pasar Turi dengan ransel satu-satunya dan alamat yang tintanya hampir hilang. Udara terasa berbeda dari Bekasi, lebih asin, lebih dekat pada ingatan yang selama ini ia kubur.

Ia naik angkot lalu ojek menuju sebuah warung di gang lama. Bangunannya sudah dicat hijau. Papan namanya berganti, tetapi pohon mangga di samping sumur masih sama.

Seorang perempuan setengah baya sedang menata kerupuk ketika Laras datang.

"Cari siapa?"

Laras menelan ludah. "Keluarga yang dulu tinggal di sini. Punya anak kembar, namanya Mentari dan Surya."

Tangan perempuan itu berhenti.

"Kamu siapa?"

"Saya Laras."

Seorang lelaki keluar dari dapur. Ia memandang Laras dari rambut cepak sampai bekas oli di kuku, lalu wajahnya berubah.

"Matamu mirip ibumu," katanya. "Kamu Mentari?"

Nama itu menghantam lebih keras daripada yang Laras bayangkan.

Ia tidak mendengar nama Mentari sejak berumur tujuh tahun.

"Saya Laras," ulangnya.

Kerabat itu menyuruhnya duduk. Pertanyaan datang bertubi-tubi: tinggal di mana, siapa yang membesarkan, mengapa baru pulang, apakah benar hilang ingatan. Tidak ada yang lebih dulu bertanya apakah ia hidup dengan baik.

"Dulu kami cari," kata sang paman. "Tapi kamu memang anaknya susah diatur. Pergi sendiri."

"Umur tujuh tahun disebut susah diatur?"

Perempuan tadi meletakkan teh terlalu keras. "Jangan bicara seolah keluargamu sengaja membuang. Waktu itu semua orang sibuk urus Surya. Dia sakit-sakitan."

"Saya ingat."

Dua orang itu saling pandang.

"Katanya kamu amnesia."

Laras memegang cangkir tanpa minum. "Surya di mana?"

Keheningan menjawab lebih dulu.

Surya meninggal setahun lalu akibat gagal ginjal. Bertahun-tahun keluarga mencari pengobatan dan donor yang sesuai. Tidak ada yang berhasil. Ia dimakamkan di dekat makam kakek mereka.

Dada Laras seperti dilubangi. Ia tidak tahu harus berduka sebagai kakak, saudara kembar, atau orang asing.

"Sebelum sakit parah, Surya sering tanya kamu," kata pamannya. "Dia nggak pernah percaya kamu bawa sial."

Kata itu akhirnya muncul.

Laras menatap tajam. "Siapa yang pertama bilang?"

Mereka menyebut seorang orang pintar yang dulu dimintai pendapat keluarga saat bayi Surya terus sakit. Orang itu mengatakan Mentari menyerap keberuntungan saudara kembarnya. Sejak itu, setiap demam Surya menjadi kesalahan Mentari. Porsi makan terbaik diberikan kepada bocah laki-laki. Mentari dilarang mendekat saat adiknya kambuh. Ibunya memandangnya seperti sumber musibah.

"Orang sedang takut bisa percaya apa saja," kata sang bibi. "Jangan salahkan ibumu terus."

"Saya tujuh tahun," jawab Laras. "Siapa yang harusnya melindungi siapa?"

Tak ada jawaban.

Seorang sepupu yang lebih tua datang setelah mendengar kabar. Ia membawa kotak plastik berisi barang-barang Surya: kartu pelajar, gelang rumah sakit, dan buku gambar. Di halaman terakhir ada dua sosok anak berdiri di bawah matahari kembar. Salah satunya berambut pendek dan memegang benda mirip kunci pas.

"Dia gambar ini waktu SMP," kata sepupunya. "Katanya kalau ketemu Mentari, dia mau kasih."

Laras menyentuh garis pensil itu. Surya mengingatnya bukan sebagai pembawa sial, melainkan kakak yang suka membongkar mainan.

"Ibu saya di mana?"

"Pindah ikut keluarga baru. Setelah Surya meninggal, dia jarang ke sini."

"Dia tahu saya datang?"

Pamannya menggeleng. "Belum. Mau kami telepon?"

Laras menutup kotak. "Nggak usah."

Ia mengambil buku gambar saja. Gelang rumah sakit dan kartu pelajar tetap ditinggalkan, bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia belum siap membawa seluruh hidup Surya dalam satu tas.

Laras pergi sebelum teh dingin disentuh. Ia mencari alamat lama orang pintar tersebut dan hanya menemukan rumah yang sudah ditempati keluarga lain. Tetangga mengatakan lelaki itu telah meninggal. Laras berdiri di depan pagar beberapa menit, lalu sadar tidak ada jawaban yang bisa ia tuntut dari bangunan kosong.

Ia memilih pergi ke makam Surya setelah Zuhur. Di dekat pemakaman ada musala kecil. Laras berwudu, menunaikan salat, lalu membeli bunga tabur dari penjaga makam. Ia tidak meminta penjelasan pada kematian. Ia hanya duduk di samping nisan bertuliskan nama kembarannya.

SURYA.

Nama yang berarti matahari, seperti Mentari.

"Mereka kasih kita nama sepasang," bisiknya. "Tapi sejak kecil kita dibuat seperti harus rebutan cahaya."

Angin menggerakkan rumput. Laras membersihkan tanah kering dari tepi nisan.

Seorang penjaga makam lewat dan mengingatkan agar bunga tidak menutupi tulisan. Laras mengangguk, merapikan taburan, lalu membaca doa yang masih dihafalnya sejak kecil. Ia tidak menyalahkan agama atas ucapan orang pintar atau keputusan keluarganya. Yang melukai dirinya adalah orang-orang dewasa yang memakai ketakutan sebagai alasan untuk pilih kasih.

Setelah berdoa, ia membuka buku gambar Surya. Kertasnya sudah menguning. Pada gambar dua matahari, satu matahari diberi nama TARI dan satu lagi SURYA. Di bawahnya ada kalimat anak-anak: kalau dua-duanya ada, siang lebih terang.

Laras menekan buku ke dada sampai sudutnya menusuk kulit.

Ia ingat bocah kurus yang selalu menyisakan separuh biskuit untuknya. Ingat Surya menangis saat ia dilarang masuk kamar. Ingat malam ketika ia pergi, Surya sedang demam dan semua orang menuduhnya membuat keadaan memburuk.

"Maaf gue nggak balik."

Air matanya jatuh tanpa suara.

Ponselnya bergetar. Rayhan menelepon untuk keenam kalinya sejak pagi. Laras mematikan panggilan. Ia belum sanggup bicara.

Malamnya, di penginapan murah dekat stasiun, Laras membeli sebotol minuman dari toko. Ia jarang minum dan tubuhnya cepat terasa panas. Setelah gelas kedua, nomor Rayhan muncul lagi.

Kali ini ia mengangkat.

"Halo."

"Kamu di mana?"

"Penginapan."

"Alamatnya kirim."

"Mau ngapain? Terbang ke sini?"

"Biar aku tahu kalau kamu hilang."

Laras tertawa hambar. "Gue udah pernah hilang. Mereka tetap hidup biasa."

Rayhan diam. "Kamu ketemu keluarga kamu?"

"Ketemu."

"Terus?"

"Nama gue Mentari. Bagus, kan? Gue punya saudara kembar namanya Surya. Dua matahari dalam satu rumah. Katanya kebanyakan."

Ia menceritakan semuanya dengan kalimat patah: tentang Surya yang sakit, orang pintar yang menyebutnya pembawa sial, makanan yang dibedakan, pintu kamar yang selalu ditutup, dan malam ketika ia naik kendaraan umum tanpa tahu tujuan sampai demam di dekat terminal.

Rayhan tidak menyela. Hanya napasnya terdengar dari seberang.

Di Bekasi, Rayhan duduk di lantai bengkel dekat kursi Pak Darto. Ia mengecilkan volume telepon agar rahasia Laras tidak bocor. Pak Darto bertanya apakah Laras sudah sampai; Rayhan mengangguk dan berkata ia sedang bersama teman, meneruskan kebohongan dengan perasaan bersalah.

Mbah Surti mengirim sepiring nasi dari warung. Rayhan tidak menyentuhnya. Ia takut bunyi sendok membuat Laras sadar ada orang lain dan menutup telepon.

Saat suara Laras mulai kacau, ia berdiri dan pindah ke gang gelap. Nyamuk menggigit lengannya, tetapi ia tetap menempelkan ponsel ke telinga.

"Surya meninggal," kata Laras. "Gagal ginjal. Mereka masih bilang mungkin kalau gue nggak pergi, hidupnya beda. Lucu, ya? Gue pergi salah. Gue ada juga salah."

"Nggak lucu."

"Gue ketawa, kok."

"Kamu nangis."

Laras menyentuh pipinya. Basah.

"Sok tahu."

"Aku dengar napas kamu."

Laras meneguk minuman lagi. Rayhan menyuruhnya berhenti, minum air, dan mengunci pintu. Nada bocah itu tegang, tetapi tidak menggurui.

"Pak Darto tahu?" tanyanya.

"Nggak."

"Kenapa?"

"Karena gue amnesia."

Keheningan panjang terbentang.

"Laras," kata Rayhan akhirnya. "Kamu nggak pernah amnesia, kan?"

Jemari Laras membeku pada bibir gelas.

"Kamu ingat semuanya," lanjutnya pelan. "Kamu cuma pura-pura lupa supaya mereka berhenti cari, supaya Pak Darto nggak mengembalikan kamu."

Gelas terlepas dari tangan Laras dan jatuh ke karpet. Tidak pecah, tetapi cairannya menyebar gelap.

Ia kembali menjadi anak tujuh tahun di bangku terminal, tubuh panas, nama dan alamat masih utuh di kepala. Saat Pak Darto bertanya rumahnya di mana, ia menatap wajah lelaki asing yang memberinya air dan berbohong untuk pertama kali.

Lupa.

Ia bilang tidak ingat apa-apa.

Pak Darto membawanya ke polisi, memasang pengumuman, menunggu berbulan-bulan. Laras selalu takut seseorang dari Surabaya datang. Ketika tidak ada yang muncul, kebohongan itu menjadi hidup barunya.

"Kenapa lo tahu?" suaranya pecah.

"Karena orang yang lupa nggak akan takut setiap kali ditanya. Kamu selalu marah sebelum orang selesai bicara."

"Jangan bilang Bapak."

"Aku nggak akan bilang."

"Janji."

"Aku janji. Tapi kamu harus pulang."

"Kalau Bapak marah setelah tahu?"

"Pak Darto mungkin marah karena kamu bohong. Bukan karena kamu memilih dia."

"Lo nggak ngerti. Kalau waktu itu polisi nemu keluarga gue, Bapak pasti ngembaliin."

"Tapi mereka nggak datang mencari sampai ketemu. Pak Darto yang tinggal. Itu faktanya."

Kalimat faktanya terdengar sangat Rayhan. Dingin, sederhana, tidak memberi ruang bagi tuduhan lama untuk berputar lagi.

Tangis yang sejak siang ditahan akhirnya pecah. Laras menutup mulut dengan tangan, malu suaranya terdengar oleh bocah yang selalu ia anggap harus dilindungi.

Rayhan tidak menyuruhnya kuat. Tidak berkata semua akan baik-baik saja. Ia hanya tetap di telepon.

"Tarik napas," katanya. "Pelan. Aku di sini."

Laras menurut.

Setelah tangis mereda, Rayhan memintanya mengirim lokasi, minum air, dan tidur. Ia berjanji tidak akan menutup telepon sampai Laras benar-benar tenang.

"Ray."

"Iya?"

"Kalau gue bilang gue bukan Mentari lagi, itu jahat nggak?"

"Nggak. Nama itu milik kamu. Kamu boleh pilih mau pakai yang mana."

"Gue Laras."

"Iya. Kamu Laras."

Di kamar murah dengan noda minuman di karpet dan suara kereta lewat dari kejauhan, nama itu terasa seperti tangan yang menariknya pulang.

Namun satu rahasia paling keras dalam hidup Laras kini berada di tangan Rayhan.

Dan bocah itu menggenggamnya tanpa menekan sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!