Indonesia
NovelToon NovelToon
Pendekar Buta : Sang Penyair Kematian

Pendekar Buta : Sang Penyair Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update tiap hari dijam 12.00 WIB.

Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.

Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.

Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.

Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Es dan Bait Kedua

Melodi seruling bambu itu melengking tajam, memecah kesunyian Lembah Hitam bagaikan sayatan pisau belati yang mengiris udara hampa. Nada-nada yang ditiupkan Ji Mo-Xian bukan lagi sekadar getaran sonik biasa, melainkan manifestasi nyata dari energi dewa naga air yang selama ini ia redam rapat-rapat di balik kain sutra hitamnya.

Seketika, kabut tebal yang tadinya menyelimuti lembah tersedot ke dalam pusaran angin dingin yang berputar liar di sekeliling Mo-Xian. Permukaan tanah batu hitam yang tadinya gersang kini mendadak diselimuti lapisan es tipis yang merambat cepat ke akar-akar pohon mati.

Di atas dahan-dahan pohon, wajah kedua belas anggota Pasukan Darah Biru langsung berubah drastis. Senyuman meremehkan di wajah Bai Cang lenyap seketika, berganti dengan kepanikan luar biasa. Tekanan Qi yang dilepaskan oleh melodi seruling itu begitu menekan dada mereka, membuat aliran darah di dalam tubuh seolah berhenti mengalir.

"Tahan pertahanan energi kalian! Jangan biarkan gelombang suara itu menembus meridian!" bentak Bai Cang dengan suara parau, mengerahkan seluruh tenaga dari alam Penyucian Roh untuk membentuk perisai energi kebiruan di sekeliling tubuhnya.

Namun, peringatan itu terlambat.

Melodi bait kedua dari syair kematian Ji Mo-Xian mengalun semakin cepat, membawa gelombang kejut sonik yang jauh lebih mematikan daripada sebelumnya. Suara itu tidak hanya terdengar oleh telinga, melainkan langsung beresonansi di dalam pikiran dan sumsum tulang para penyerang.

BZZZRT! CRACK!

Perisai energi kebiruan yang dibangun oleh Pasukan Darah Biru pecah berkeping-keping bagaikan kaca yang menghantam batu karang. Tiga orang kultivator di barisan depan bahkan tidak sempat mengeluarkan teriakan terakhir mereka; tubuh mereka mendadak kaku, disusul oleh suara retakan hebat dari dalam tulang belulang mereka.

BARRR!

Dalam sekejap mata, ketiga tubuh itu meledak menjadi serpihan es dan kabut darah, melebur bersama hembusan angin dingin Lembah Hitam.

Bai Cang melotot ngeri, matanya hampir keluar dari rongganya melihat anak buah tewas semudah membalikkan telapak tangan. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya tiba-tiba mencengkeram jantungnya. Monster. Rumor tentang pendekar buta ini sama sekali tidak melebih-lebihkan kenyataan. Pemuda itu adalah bencana berjalan.

"Keparat... apa sebenarnya kau ini?!" teriak Bai Cang histeris, melesat turun dari dahan pohon dengan belati kembar di tangannya, mengarahkan serangan bunuh diri langsung ke arah titik mematikan di leher Ji Mo-Xian. Ia tahu, jika ia terus bertahan, ia hanya tinggal menunggu waktu untuk mati berkeping-keping.

Ji Mo-Xian tidak bergeming sedikit pun dari posisinya. Jari-jemarinya masih lincah menari di atas seruling bambu yang retak. Ketika bayangan Bai Cang melesat mendekat dengan kecepatan penuh, membawa aura racun mematikan yang menghitamkan udara, Mo-Xian sedikit memiringkan kepalanya.

Tepat sebelum belati kembar itu menembus jubah putihnya, Ji Mo-Xian berhenti meniup seruling. Ia membuka mulutnya, melantunkan bait syair kedua dengan suara yang begitu lembut namun menggema bagaikan guntur di langit malam:

“Es membeku di atas sumsum tulang...”

“Tiada tempat berlari bagi yang datang...”

“Roda takdir berputar mengundang malang...”

“Menghapus nama dalam keabadian yang tenang.”

BOOM!

Sebuah gelombang kejut sonik bertekanan tinggi meledak langsung dari mulut Ji Mo-Xian, menghantam dada Bai Cang secara telak.

Wajah Bai Cang membeku di udara. Matanya menatap kosong ke depan saat gelombang energi itu meremukkan seluruh organ dalamnya dalam sepersekian detik. Belati kembar di tangannya hancur menjadi serpihan debu besi. Tubuhnya terpental mundur sejauh puluhan meter, menembus tiga batang pohon besar sebelum akhirnya jatuh terkulai di atas tanah yang membeku.

Nyawa sang pemimpin Pasukan Darah Biru melayang seketika, tanpa meninggalkan sisa perlawanan berarti.

Delapan anggota tersisa yang melihat komandan mereka tewas seketika kehilangan keberanian. Mereka berbalik arah, mencoba melarikan diri dengan mengerahkan seluruh teknik lompatan bayangan mereka. Mereka tidak lagi mempedulikan misi dari Klan Ji; pikiran mereka hanya satu—keluar hidup-hidup dari neraka bernama Lembah Hitam ini.

Namun, Ji Mo-Xian tidak berniat membiarkan satu pun saksi hidup lolos.

Ia mengangkat tangan kirinya perlahan, mengarahkan dua jarinya ke udara. Aliran Qi kebiruan dari mata dewa naga air berdenyut kuat di balik kain hitamnya. Dalam sekejap, tetesan embun es di sekitar lembah berubah menjadi ribuan jarum es transparan yang melesat bagaikan hujan panah mematikan.

Syuuuup! Syuuuup! Syuuuup!

JLEP! JLEP!

Jeritan kesakitan bergema singkat sebelum akhirnya terputus. Delapan kultivator yang melarikan diri itu jatuh berguguran dari udara, tertusuk ribuan jarum es yang menembus jantung mereka tanpa ampun. Jasad mereka langsung membeku seketika, berubah menjadi patung es sebelum akhirnya hancur lebur diterpa angin lembah.

Kesunyian kembali mencekam Lembah Hitam. Bau darah segar bercampur dengan aroma es yang pekat mengambang di udara.

Ji Mo-Xian menarik napas panjang, meredakan gejolak energi di dalam tubuhnya. Setetes darah kebiruan kembali menetes dari balik kain sutra hitamnya, menandakan bahwa penggunaan kekuatan mata dewa naga air tadi telah membebani meridiannya hingga batas kritis. Ia meraba dadanya yang terasa sesak, lalu menyeka noda darah di bibirnya dengan ujung lengan jubahnya.

"Kalian tidak akan pernah berhenti, ya..." gumam Mo-Xian lirih, suaranya terdengar begitu lelah namun dipenuhi tekad yang tidak tergoyahkan. Ia tahu, kematian Pasukan Darah Biru ini akan segera sampai ke telinga para tetua agung Klan Ji di markas utama. Gelombang musuh berikutnya pasti akan jauh lebih mengerikan, mungkin melibatkan para ahli di alam Nirwana yang sebenarnya.

Ia memungut seruling bambunya yang kini semakin banyak retakan. Instrumen itu mungkin tidak akan bertahan pada pertempuran berikutnya. Namun, Ji Mo-Xian tidak gentar. Ia kembali membenarkan letak kain hitam di matanya, berbalik badan, dan melangkah perlahan meninggalkan lembah mati tersebut, menyusuri jalan panjang penuh darah yang telah ia pilih untuk menegakkan keadilannya sendiri.

1
Iskandar Muda
seru cerita ny ..
ᵣₕyₜₕₘ.ₒf.ᵣₐᵢₙ: makasih kak🤩🤩 akan lebih seru selanjutnya karena Ji Mo-Xian akan berpetualang menjelajahi dunia dewa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!