Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 30: Bisikan di Tengah Malam
...MENGULANG LUKA...
...Bab 30: Bisikan di Tengah Malam...
Suasana di dalam kamar utama yang megah dan berinterior elegan itu tiba-tiba terasa amat canggung. Ruangan yang sangat luas dengan langit-langit tinggi itu mendadak terasa sempit, sesak, dan memanas. Hawa hangat seolah melingkupi area sekitar tempat tidur, menghimpit dua insan yang kini duduk bersebelahan di atas satu kasur king-size yang sama.
Valencia tahu betul sejak tadi suaminya memperhatikannya tanpa berkedip sedikit pun. Gerak-gerik Julian yang menguncinya lewat sepasang mata elang itu membuat kulit Valencia merinding halus. Namun, Valencia memilih berpura-pura tidak tahu dan tetap bergeming.
Dengan jemari yang diusahakan tetap stabil meski gemetar tipis, wanita itu menyelesaikan kegiatannya. Dia merapatkan kembali tutup tempat lotion, menaruhnya pelan-pelan ke atas nakas ukir di samping tempat tidur, lalu memutarkan tubuhnya sedikit. Valencia membaringkan diri dan menarik selimut sutra tebal hingga menutupi sebatas dadanya. Wanita itu bersiap untuk tidur, berusaha keras mempertahankan raut wajah yang tenang walau detak jantung di dalam dadanya terus-menerus mengkhianatinya dengan berdebar liar tak beraturan.
Di sampingnya, Julian yang mengenakan piyama gelap menyatukan kedua tangannya di atas pangkuan. Pria bertubuh tegap dan tinggi besar itu menelan ludah dengan kaku. Tatapannya tertuju pada profil samping wajah Valencia yang membisu dan tampak menawan di bawah terpaan lampu tidur.
Pria yang biasanya tak pernah ragu menaklukan papan atas dunia bisnis itu kini mendadak kehabisan rasa percaya diri. Julian membasahi bibirnya yang terasa kering, menata kata-kata di dalam kepalanya yang mendadak kacau balau hanya karena kehangatan sisa ciuman mereka di mobil tadi masih membayang jelas di benaknya.
"Valencia... apa malam ini kamu mau melakukannya?" gumam Julian ragu.
Suaranya amat sangat pelan, bergetar tipis, dan nyaris seperti bisikan halus angin malam yang langsung tenggelam di balik keheningan kamar. Julian menahan napasnya setelah kalimat itu meluncur, jantungnya berdegup kencang menantikan respons.
Namun, karena gumaman Julian terlalu kecil dan samar, Valencia sama sekali tidak mendengarnya. Sama sekali tak ada satu suku kata pun dari pertanyaan ambigu suaminya yang tertangkap oleh indra pendengaran Valencia. Pikiran wanita itu saat ini hanya tertuju pada satu hal mendesak: mengakhiri atmosfer yang mematikan rasa ini dan segera memejamkan mata agar tidak perlu menatap wajah Julian lagi.
"Tuan Edgar... tolong matikan lampunya," ucap Valencia datar tanpa memutar tubuhnya ke arah Julian, membiarkan matanya menatap lurus ke langit-langit kamar.
Julian tersentak kecil mendengar permintaan itu. Di dalam kepalanya, Julian menyambungkan respons Valencia dengan gumaman pelannya barusan. Pria itu menyangka Valencia mendengar gumamannya dan memberikan lampu hijau secara terselubung—sebuah bentuk persetujuan dengan syarat suasana harus gelap gulita.
Sepasang mata elang Julian berkedip ragu. Dadanya mendadak bergejolak hebat, bercampur antara rasa terkejut, panik, sekaligus antisipasi yang tak terduga. Pria bertubuh 190 sentimeter itu mendadak membayangkan hal-hal yang tidak-tidak atas respons sang istri.
Dengan gerakan canggung dan tubuh yang sedikit kaku, Julian menggeser posisi duduknya mendekat ke arah sakelar nakas di sisi tempat tidur. Jemarinya yang besar menyentuh tombol sakelar, namun dia menahannya sejenak.
"Oh... hmm, apa kamu lebih suka jika gelap?" tanya Julian dengan nada intonasi bariton yang berat, sedikit gugup, namun terdengar amat sangat ambigu di telinga Valencia.
Pertanyaan aneh yang meluncur dari bibir Julian itu mendadak memaksa otak Valencia bekerja jauh lebih keras dari biasanya.
Valencia mengernyitkan dahi dalam-dalam di balik selimut sutranya. Rasa kantuk yang mulai membelai mendadak menguap begitu saja, berganti dengan perasaan bercampur aduk antara bingung, heran, dan kebas. Apa maksud pertanyaan pria ini? Memangnya ada cara matikan lampu yang lain?
Valencia memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran selimut. Dia hanya ingin tidur! Tentu saja jika lampu utama dan lampu nakas di kamar ini menyala benderang, dia tidak akan bisa mengistirahatkan matanya dengan nyaman. Kenapa pertanyaan sesederhana mematikan lampu kamar tidur bisa terdengar serumit, serancu, dan se-ambigu itu jika keluar dari mulut seorang Julian Edgar?
...****************...
...Hallo pembaca setiaku sayang...karna tiap bab aku buat kurang dari 1000 kata jadi aku usahkan update 6 sampai 7 bab sehari....
...Jangan lupa tinggalkan like and koment ya...
...boleh kasih ulasan juga biar aku semangat nulisnya. dan bisa nulis ampe tamat...
...#Park ha...