Indonesia
NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Mawar Hitam

Balas Dendam Sang Mawar Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.

Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.

Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.

Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.

Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.

Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.

Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tato

Setelah berganti baju, Elena keluar dari kamar Leon. Ia berdiri sejenak di depan pintu, menatap lorong yang begitu sunyi.

Ini pertama kalinya, Elena tidak tahu harus melakukan apa.

Sebagai seorang pelayan, selalu ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tapi, sekarang statusnya sudah berubah. Ia bukan lagi seseorang yang harus membersihkan kamar, menyiapkan makanan, atau melayani keluarga Bianchi.

Sekarang, ia adalah Nyonya Muda Bianchi.

Tapi, gelar itu justru membuatnya bingung.

Elena tidak mungkin hanya berdiam diri di kamar sepanjang hari. Tetapi, ia juga tidak mungkin mencari informasi tentang tragedi dua puluh tahun lalu.

Ini belum waktunya.

Ia masih membutuhkan waktu untuk mengamati keadaan.

Lagipula, setelah ia pikir-pikir, hubungan antara Leon dan keluarga Bianchi, cukup menarik.

Perbedaan perlakuan mereka pada Leon jelas memberikannya sebuah celah. Jika ia bisa mengetahui alasan di balik hubungan mereka, mungkin ia akan menemukan sesuatu yang selama ini tersembunyi di keluarga Bianchi.

Tapi, Elena tidak ingin gegabah. Satu kesalahan saja bisa membuat semua penyamarannya terbongkar. Terlebih lagi, di rumah ini ia sendirian. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa ia percaya. Bahkan, para pelayan yang sebelumnya ia anggap sebagai teman.

Elena menarik napas panjang, lalu mulai menuruni tangga.

Sesampainya di lantai bawah, suasana rumah terasa begitu sepi.

Victor dan Daniel pergi ke perusahaan. Leon masih berada di markas The Raven, sementara anggota keluarga lainnya memilih beristirahat di kamar masing-masing.

Yang tersisa hanyalah beberapa pelayan yang berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka.

Elena memperlambat langkahnya. Tatapannya menyapu ruangan.

Ia mengenali hampir semua wajah yang ia lihat. Mereka adalah orang-orang yang dulu bekerja bersamanya.

Orang-orang yang pernah makan bersamanya, berbincang dengannya, bahkan beberapa di antaranya pernah membantunya saat ia masih menjadi pelayan. Tapi, semuanya berubah sejak status mereka berbeda.

Saat Elena berjalan melewati mereka, para pelayan langsung menundukkan kepala. Tidak ada yang berani menyapanya seperti dulu.

Elena terus berjalan. Tapi, setelah ia menjauh, terdengar suara bisikan dari belakang.

"Dia benar-benar berubah."

"Siapa sangka seorang pelayan bisa menjadi istri Tuan Muda Leon?"

"Menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Entahlah."

Elena menghentikan langkah, tapi ia tidak langsung menoleh.

"Jadi, mereka masih membicarakan ku," batin Elena.

Beberapa detik kemudian, Elena kembali berjalan seolah tidak mendengar apa pun.

Ia tidak tersinggung. Justru, bisikan-bisikan itu membuatnya semakin yakin bahwa status barunya sudah mengubah posisi dirinya di rumah ini.

Elena melirik sekilas ke arah para pelayan yang masih berkumpul, sebelum kembali melangkah menuju ruang tengah.

Tapi, sebelum sampai di sana, pandangannya tiba-tiba menangkap sosok yang berdiri di ujung lorong.

Seorang pelayan laki-laki.

Pria itu sedang memperhatikannya.

Tapi, saat tatapan mereka bertemu, pria itu buru-buru menundukkan kepala dan berbalik pergi.

Mata Elena menyipit. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi, ia tidak langsung mengejarnya. Ia hanya berdiri diam sambil menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.

Elena sadar betul bahwa dirinya sedang diawasi. Dan, ia tahu siapa dalang di balik semua itu.

Leon.

Bukan hanya kamera pengawas yang diam-diam dipasang di kamar, pria itu juga menempatkan seorang pelayan laki-laki untuk mengawasinya.

Tapi, ia tetap bersikap tenang dan menjalankan perannya sebagai istri baru yang tidak tahu apa-apa.

Namun, hal itu justru membuat Leon semakin frustrasi.

Di salah satu ruangan markas The Raven, Leon menatap layar laptop di hadapannya. Rekaman kamera menampilkan Elena yang sedang berjalan keluar dari kamar.

Tidak ada yang aneh, tidak ada gerakan mencurigakan ataupun tanda-tanda bahwa wanita itu sedang menyelidiki sesuatu.

Bahkan, setelah berkeliling, wanita itu kembali ke kamar dan tidak pernah keluar lagi.

Leon menggeram pelan. "Kalau begini terus, bagaimana aku bisa tahu siapa wanita itu sebenarnya?"

Sean yang sejak tadi berdiri di hadapannya akhirnya angkat bicara.

"Kenapa Anda tidak bertanya langsung saja?"

Leon mengangkat wajahnya.

"Sekarang, Elena adalah istri Anda. Anda berhak tahu siapa dia sebenarnya."

Tatapan Leon berubah tajam. "Apa menurutmu dia akan mengaku?"

Sean terdiam.

Leon bersandar di kursinya. "Dia hanya seorang pelayan, tetapi dia tetap tenang melihat seseorang dibunuh tepat di depan matanya. Cara bertarungnya juga sangat terlatih. Refleksnya cepat, gerakannya terukur, dan kewaspadaannya terlalu tinggi untuk ukuran seorang pelayan biasa."

Leon menyipitkan mata. "Tapi, aku masih ragu kalau dia mata-mata dari pihak musuh."

"Kenapa Anda masih ragu?"

Leon terdiam. Pertanyaan Sean membuatnya berpikir beberapa saat.

"Entahlah." Ia menggeleng pelan. "Aku sendiri tidak tahu. Tapi, setiap kali melihatnya, ada sesuatu yang aneh." Leon mengangkat tangannya dan menyentuh dadanya sendiri. "Entah bagaimana menjelaskannya. Aku hanya merasa familiar tapi, di saat yang sama juga merasa asing."

Sean menatap Leon beberapa detik. Kemudian, sebuah senyum jahil muncul di wajahnya.

"Jangan-jangan, Anda menyukainya."

Leon langsung melirik tajam. "Jangan bicara sembarangan."

"Ma-maaf, Tuan." Sean buru-buru menutup mulut.

Leon menghela napas panjang. Ia kemudian melirik jam tangannya.

Leon bangkit dari kursinya dan meraih jas yang tersampir di sandaran kursi.

"Sudah malam. Aku pulang dulu." Ia menatap Sean. "Kamu tetap di sini. Kalau ada masalah lagi, hubungi aku."

Sean membungkuk. "Baik, Tuan."

Leon mengambil kunci mobilnya lalu meninggalkan ruangan.

Meskipun bukan pemimpin resmi The Raven, Leon adalah orang yang menangani hampir semua urusan organisasi.

Saat terjadi masalah, dia akan turun tangan langsung. Saat sebuah misi membutuhkan seseorang untuk berada di garis depan, Leon juga yang pertama maju.

Sementara Victor?

Pria itu hampir tidak pernah ikut campur.

Bahkan, pria tua itu jarang sekali menginjakkan kaki di markas The Raven. Sebagian besar waktunya justru dihabiskan untuk mengurus perusahaan.

Leon tidak pernah benar-benar memahami apa yang ayahnya inginkan.

Bahkan, Daniel yang selama ini digadang-gadang akan menjadi penerus The Raven, hampir tidak pernah datang ke markas.

Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepala Leon.

Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mobil Leon akhirnya berhenti di depan kediaman keluarga Bianchi.

Leon turun dan segera memasuki rumah.

Suasana di dalam sudah begitu sepi. Sebagian besar lampu utama sudah dimatikan. Hanya lampu-lampu temaram yang menyala di beberapa sudut ruangan, menciptakan suasana tenang sekaligus sedikit suram.

Leon tidak membuang waktu. Ia langsung menuju kamar. Tapi, begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti saat melihat Elena masih terjaga.

Wanita itu duduk santai di sofa sambil membaca majalah.

Leon memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Kenapa? Kamu menungguku?"

Elena membalik halaman majalah tanpa sedikit pun mengangkat wajah.

"Anda terlalu percaya diri, Tuan."

Leon mendekat dan berhenti tepat di depan Elena. "Kalau begitu, kenapa kamu belum tidur?"

Elena menghela napas. "Seharian ini aku hanya tidur."

Leon tersenyum miring. "Baguslah kalau begitu." Ia berjalan menuju ranjang. "Kamu tidak perlu tidur lagi."

Elena langsung menyadari maksud perkataan pria itu. "Eh, tunggu!" Ia buru-buru bangkit. "Aku tidak mau tidur di sofa."

"Bukan urusanku."

Elena menggeram kesal. Ia meletakkan majalah dengan kasar di atas meja, kemudian mengejar Leon dan hendak meraih lengannya.

Tapi, Leon sudah menyadari gerakannya dan menghindar tepat sebelum tangan Elena menyentuh lengannya.

Alhasil, tubuh Elena kehilangan keseimbangan dan tubuhnya hampir terjatuh. Tapi, Leon bergerak cepat menangkap pinggangnya dan menariknya sehingga tubuh Elena menabrak dada Leon.

Keduanya terdiam. Tatapan mereka bertemu dari jarak yang sangat dekat.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Tapi, wanita itu segera sadar dan mundur dua langkah.

"Aku tidak mau tidur di sofa," ucap Elena.

Leon mengerutkan kening. "Tapi, ini kamarku. Aku juga tidak mau tidur di sana."

Elena mengangkat bahu. "Kalau begitu, kita tidur di ranjang yang sama saja."

"Kamu..."

Leon menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya.

"Aku tidak sudi tidur denganmu."

"Kamu pikir aku mau?"

Elena berbalik dan hendak naik ke ranjang. Tapi, Leon tiba-tiba meraih bagian belakang kerah piyamanya.

"Berhenti di situ!"

"Lepaskan!" Elena meronta.

"Tidak akan. Aku tidak—"

Ucapan Leon mendadak terhenti. Tatapannya tertuju pada bagian belakang bahu Elena.

Ada sesuatu di sana. Sebuah pola hitam.

Leon menyipitkan matanya.

Pola itu tidak terlihat jelas karena sebagian tertutup kain piyama. Tapi, ia cukup yakin jika itu adalah sebuah tato. Dan, bentuknya terasa begitu familiar.

1
Kustri
pengen'a kasih yg hitam spy sesuai... sayang'a gk ada🌹
+44
bentar lagi.. aku mencintaimu 🌚
Alissia
cemburu bilang dong jangan di geden gengsinya🤣🤣
Kustri
☕lah thor biar kalap UP'a😉
🇦 🇵 🇷 🇾👎
bucin lho kn cmbr kn😃
🇦 🇵 🇷 🇾👎: bnr😫😫😫
total 2 replies
Kustri
cemburu bilang boss! 🤣
💖💖💖
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Gengsi keknya, kak🤭
total 1 replies
Kustri
eummm.... ternyata leon bukan anak kandung victor
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Iyesss
total 1 replies
🇦 🇵 🇷 🇾👎
cp kh mrk
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Coba tebak!😌
total 1 replies
Kustri
owh owh siapa diaaa....
nyogok biar dobel up🤭
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Hari ini, udah q kasih double 😌
total 1 replies
Kustri
mgkin benar the reavan pelaku'a 20th yg lalu leon umur brp🤔
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Gak jauh sama Si El
total 1 replies
Kustri
siapa yg ngasih senjata ke elena!
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Aq/Grin/🤭
total 1 replies
Kustri
mgkin maria dijodohkan & daniel anak kekasih victor🤔
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Bukan gitu 🤧
total 1 replies
Kustri
itu viona apa perawan tua? apa dia gk ada kerjaan lain? apa gk punya tmpt tinggal?
huh benalu menyusahkan👊
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Dia udah berkeluarga 😃. Habis pesta, makanya nginep dulu di rumah mas Piktor🤭
total 1 replies
Kustri
wkwkkkk... kau laki" sejati, gk mgkin akan melewatkan itu🤣🤣🤣
Kustri
tenang leon bs jd el akan membantumu dlm sgl hal
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Atau, sebaliknya 😃
total 1 replies
Kustri
betul kata leon, qu jg bertanya" dr mana keahlian el didpt klo sehari" ada dipanti... tlg beri penjelasan sedikit thor mgkin 1 part u/perjalanan el🥺
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Belum ada penjelasan, tapi udah ada dugaan kalau identitas di palsukan 😌
total 1 replies
Kustri
eummm... daniel si munaf, serakah & pecundang👊👊👊
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
🇦 🇵 🇷 🇾👎
sk crtvny
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Thankiyu, kak 💜
total 1 replies
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!