Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:256.2k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Enam Belas

Vania masih berdiri di depan meja resepsionis dengan wajah yang jelas-jelas dongkol. Tangannya meraih kartu kamar yang tadi diberikan Azka.

“Sudah. Aku mau ke kamar,” ucapnya ketus.

Tanpa menunggu jawaban Azka, Vania langsung berbalik dan berjalan cepat menuju lift. Reatha yang melihatnya hanya tersenyum kecil.

Entah kenapa melihat Vania marah seperti itu justru membuat hatinya sedikit geli.

“Kenapa senyum?” tanya Azka tiba-tiba.

Reatha langsung menggeleng. “Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu menertawakannya?” tanya Azka.

“Enggak," jawab Reatha.

Azka menyipitkan mata.

Reatha mengangkat bahu dan membalas, “Dia cuma kelihatan lucu kalau sedang marah.”

Azka menghela napas panjang. “Sudahlah. Ayo ke kamar.”

Reatha mengangguk lalu mengikuti Azka menuju lift. Namun, sepanjang perjalanan menuju kamar, pikiran Reatha kembali pada ucapan Azka tadi.

Belum sah sebagai suami istri. Entah kenapa kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

---

Keesokan paginya, setelah sarapan, mereka bertiga akhirnya pergi ke pantai. Udara pagi terasa begitu menyenangkan. Angin laut berembus pelan, sementara suara ombak terdengar menenangkan.

Vania langsung memilih tempat di bawah payung besar. “Azka, duduk sini,” panggilnya.

Azka menurut. Tak lama kemudian, dua buah kelapa muda sudah berada di tangan mereka.

Vania tersenyum manja sambil menyandarkan tubuhnya ke bahu Azka.

“Enak banget di sini," ucap Vania manja.

Azka tersenyum tipis. “Iya.”

“Kamu senang liburan sama aku?” tanya Vania.

“Tentu," jawab Azka singkat.

Vania langsung tersenyum puas. Sementara itu, beberapa meter dari mereka, Reatha memilih duduk di pasir.

Ia melepas sandal lalu mulai memainkan pasir dengan tangannya. Sesekali ia membuat bentuk sederhana, kemudian menghancurkannya lagi.

Ia sama sekali tidak memperhatikan Azka dan Vania. Atau mungkin sengaja tidak memperhatikan. Reatha sudah terbiasa sendiri. Keluarganya tak pernah menganggapnya ada.

Namun, ketika sedang asyik bermain pasir, sebuah suara tiba-tiba terdengar.

“Mbak ...," panggil seorang pria.

Reatha menoleh. Matanya langsung membesar. “Kamu ...," ucapnya.

Pemuda itu tersenyum dan membalas, “Ternyata benar. Aku nggak salah lihat.”

Reatha ikut tersenyum. “Kamu yang kemarin bantu ambil koperku di pesawat, kan?” tanyanya.

“Iya.” Pemuda itu menunjuk pasir di samping Reatha. “Boleh duduk?” tanyanya.

Reatha mengangguk. “Silakan.”

Pemuda itu kemudian duduk tidak jauh darinya. “Namaku Reno,” katanya.

“Raisa ...," balas Reatha. Ia tak mau menyebut nama aslinya, takut Azka mendengar. Ia tetap memakai nama kembarannya. Penyamarannya belum saatnya terbongkar.

Reno tersenyum. “Raisa. Nama yang bagus.”

“Terima kasih," ujar Reatha.

Mereka kemudian berbincang ringan. Mulai dari perjalanan, hotel, sampai tempat-tempat menarik di sekitar pantai. Reatha beberapa kali tertawa.

Dan tawa itu ternyata terdengar sampai ke tempat Azka duduk. Pria itu yang awalnya sedang mendengarkan Vania tiba-tiba menoleh.

Tatapannya langsung tertuju kepada Reatha. Ia melihat istrinya sedang tertawa bersama seorang pria. Wajah Azka seketika berubah. Rahangnya mengeras. Tangannya bahkan tanpa sadar mengepal.

“Azka ...," panggil Vania.

Azka tidak menjawab.

“Azka!” ulang Vania lagi.

“Hmm ... iya," jawab Azka terkejut.

“Kamu lihat apa?” tanya Vania.

Azka masih menatap ke arah Reatha. “Tidak ada.”

Vania mengikuti arah pandang Azka. Begitu melihat Reatha bersama Reno, ekspresi Vania berubah.

“Oh .…”

Azka akhirnya berdiri. “Aku mau ke sana.”

Namun, baru satu langkah, tangan Vania langsung menarik lengannya.

“Kamu mau apa, Azka?” tanya Vania.

Azka menoleh dan menjawab, “Aku cuma mau—”

“Jangan bilang kamu cemburu melihat Raisa dengan pria lain!" seru Vania.

Azka terdiam. “Siapa yang cemburu?” bantahnya.

Vania tersenyum sinis. “Lalu kenapa mau menghampirinya?” tanyanya.

Azka menghela napas. “Aku hanya nggak mau nanti ada yang mengetahui kalau dia istriku. Bisa salah paham.”

Vania mengangkat alis dan membalas ucapan pria itu, “Kalau memang ada orang yang mengenalinya, berarti orang itu juga kenal kamu.”

Azka diam.

“Bagaimana kalau mereka melihat kita berdua?” lanjut Vania. “Sama saja, kan?”

Azka tidak langsung menjawab. Vania kemudian tersenyum tipis.

“Justru itu lebih baik.”

“Apa maksudmu?” tanya Azka.

“Kalau ada yang melihat kita dan Raisa berdua dengan orang lain, nanti bisa jadi alasan perceraian kalian.”

Azka langsung menoleh tajam. “Apa?”

“Kamu sendiri bilang pernikahanmu dengan Raisa cuma sementara," ucap Vania.

“Vania .…”

“Apa salahnya dipercepat?” tanya Vania lagi.

Azka mengembuskan napas kasar. “Tidak secepat itu juga aku harus berpisah dari Raisa.”

“Kenapa?” tanya Vania.

Azka menatap laut di hadapannya. “Sudah aku katakan, Vania. Aku akan mempertahankan pernikahan ini sampai aku bisa berdiri sendiri.”

Vania terdiam.

“Aku harus memiliki perusahaan sebagai jaminan hidup,” lanjut Azka. “Biaya hidupmu bukan sedikit.”

Kalimat itu membuat wajah Vania berubah. “Jadi kamu merasa aku ini beban yang menghabiskan banyak uangmu?” tanyanya dengan nada tinggi.

“Bukan begitu," jawab Azka.

“Lalu apa?” tanya Vania lagi.

Azka mengusap wajahnya frustasi.

“Biaya hidup sekarang bukan sedikit, Vania.”

“Jadi?”

“Apa kamu mau dan siap hidup susah?” Azka balik bertanya.

Vania langsung menatapnya tidak percaya. “Jadi kamu berpikir aku ini cewek matre yang cuma mau uangmu?”

“Vania, aku nggak pernah bilang begitu.”

“Tapi maksudmu jelas!”

Azka menarik napas panjang. Ia berusaha menahan emosinya.

“Sudahlah, Vania. Jangan bertengkar. Kita ke sini mau liburan," ucap Azka akhirnya.

“Kamu yang mengajak bertengkar!”

“Aku—”

Belum sempat Azka menyelesaikan ucapannya, terdengar suara dari arah pantai.

“Aduh!”

Azka langsung menoleh. Reatha! Perempuan itu sedang memegangi kakinya. Reno yang berada di sampingnya langsung berdiri.

“Kenapa?” tanya Reno.

“Kakiku .…”

Reatha meringis. Reno melihat ke bawah. Ada darah yang mulai keluar dari telapak kaki gadis itu.

“Kamu keinjak sesuatu?” tanya Reno.

Reatha mengangguk dan menjawab, “Sepertinya kulit kerang.”

Raka langsung berjongkok. “Jangan berdiri dulu.”

Namun, sebelum Raka sempat membantu lebih jauh, Azka sudah berlari menghampiri mereka.

“Raisa!” panggil Azka.

Reatha mendongak. Azka sudah berdiri di hadapannya dengan wajah panik.

“Kakimu kenapa?” tanya Azka.

“Keinjak kerang,” jawab Reatha pelan.

Azka melihat darah di kaki istrinya. Wajahnya langsung berubah tegang.

“Kenapa kamu nggak hati-hati?” tanya Azka.

Reatha mengerucutkan bibir. “Namanya juga kecelakaan.”

Azka tidak menjawab. Ia justru langsung membungkuk dan mengangkat tubuh Reatha ke dalam gendongannya. Gadis itu terkejut.

“Azka!” panggil Reatha.

“Diam!" seru Azka.

“Aku bisa jalan," ucap Reatha.

“Kakimu berdarah," balas Azka.

“Aku nggak apa-apa.”

“Aku bilang diam.”

Reatha akhirnya terdiam. Dari belakang, Vania hanya bisa menatap dengan wajah kaku. Sementara Reno berdiri terpaku.

Azka membawa Reatha meninggalkan pantai menuju hotel. Sesekali gadis itu mencoba turun.

“Aku bisa jalan sendiri," ucap Raisa. Belum pernah ada yang menggendongnya begini.

“Jangan banyak bergerak," ucap Azka.

“Tapi—”

“Raisa!" seru Azka.

Nada suara Azka membuat Reatha kembali diam. Begitu sampai di hotel, Azka langsung bertanya kepada petugas. “Di mana klinik terdekat?”

“Di samping hotel ada klinik, Pak.”

Tanpa membuang waktu, Azka membawa Reatha ke sana. Vania mengikuti mereka dari belakang. Begitu sampai, seorang petugas medis langsung menghampiri.

“Lukanya cukup dalam. Silakan duduk.”

Reatha duduk di ranjang pemeriksaan. Azka berdiri tepat di sampingnya. Matanya terus memperhatikan ketika petugas membersihkan luka di kaki Reatha.

Reatha meringis ketika cairan antiseptik menyentuh lukanya.

“Sakit?” tanya Azka.

Reatha mengangguk kecil. Azka mengepalkan tangannya. Entah kenapa melihat Raisa kesakitan membuat dadanya ikut terasa sesak. Padahal beberapa jam lalu ia bahkan tidak peduli perempuan itu bermain pasir sendirian.

Tapi sekarang, ia bahkan tidak bisa mengalihkan pandangan sedikit pun. Vania berdiri di ambang pintu, menatap keduanya. Tatapannya perlahan berubah. Ada sesuatu yang mulai ia sadari. Sesuatu yang mungkin bahkan belum disadari oleh Azka sendiri.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Naufal Affiq
kamu wanita yang baik rea,jadi sudah sewajar nya kamu mendapatkan kasih sayang yang utuh dari mama mertua mu,kalau masalah orang tua mu gak usah kau dengar kan rea,anggap aja angin lalu
Sri Supriatin
ikut seneng buat Azka sm Reatha 👍👍😍😍
Teh Euis Tea
semoga secepatnya kalian menikah dan ortunta reatha ga bikin drama yg menyalahkan reatha lg
Patrick Khan
akhirnya. 👏👏👏👏rea azka bersatu
.kawal sampai sahh
Teh Euis Tea
achhhh meleleh hati ade bang 🤣🤣🤣🤣🤣
Cicih Sophiana
jgn bilang klo orang tua mu akan menjegal pernikahan kamu Reatha... seandai nya iya kamu harus bisa melawan jgn cuma nangis atau mengalah..
Patrick Khan: siap siap demo aja kak.
klo sampai emaknya rea ngereog🔨🔨🔨
total 1 replies
Cicih Sophiana
wadau so sweet deh kalian... terus lah bahagia untuk kalian... klo ada cobaan pun kalian tetap bergandengan tangan jgn lepas kan... pasti ujian yg lebih berat lg akan datang
vania larasati
lanjut kak
Sri Angga
davidd patah hati donk
ken darsihk
Saat nya bahagia 👏👏👏
Nar Sih
kira,,gimana reaksi org tua mu ya reatha klau kmu dtg minta restu mereka ,
Sri Supriatin
Air mataku bombay, pasti ortunya Azka seneng banget 👍👍🙏🙏🙏
Novita Sari
setelah ini..muncul vania
Nar Sih
alhamdulilah lamaran diterima wah...ikutan seneng nih dgn azka dan reatha
Naufal Affiq
Romantis banget kamu azka,cepetan nikahin reatha azka,sebelum di ambil orang
Lusi Hariyani
akhir y perjuanganmu berhasil aska
Eka ELissa
Ahir nya rea ktmu orang yg cinta dgn nya secara ugal ugalan...♥️♥️♥️♥️
tinggal Risa nih ksian yg mengenaskan.....🤦
Apriyanti
Alhamdulillah di terima Azka semoga lancar sampe hari h nya
Linda Ayu Tong-Tong
aaaa meleleh..tp kak itu si azka ceraiin dlu npa yg sah secara negara sama raisa...gmn ya konsepnya aduh gk tau dah pokoknya selesain dlu urusan pernikahannnya sma raisa dlua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!