Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Malam sebelum berangkat, semua perlengkapan telah tersusun rapi di dekat pintu. Tara memandang tas besar itu cukup lama. Baru kali ini ia sadar bahwa sebuah tas bisa terasa begitu berat, bukan karena isinya, melainkan karena perjalanan yang akan ditempuh oleh pemiliknya. Ia mengusap pelan bagian atas tas itu, lalu tersenyum tipis.

"Temenin Abangku baik-baik ya," gumamnya pelan, seolah tas itu bisa mendengar.

Sarif yang berdiri di belakangnya tak kuasa menahan senyum. Ia merangkul pundak Tara dari belakang. "Sayang."

"Hm?"

"Terima kasih."

"Buat apa lagi?"

"Karena selalu membuatku merasa punya rumah untuk pulang."

Tara membalas pelukan itu sambil mengangguk pelan. Air matanya memang masih mudah jatuh, tetapi kini bukan lagi karena ketakutan semata. Ia ingin melepas kepergian suaminya dengan doa dan keyakinan. Sebab ia percaya, setiap perlengkapan yang dipersiapkannya dengan penuh cinta bukan hanya bekal untuk perjalanan dinas Sarif, tetapi juga simbol harapan agar suaminya kembali pulang dengan selamat ke pelukannya dan kepada anak yang sedang mereka nantikan.

***

Malam sebelum keberangkatan, setelah memastikan Tara benar-benar tertidur, Sarif tidak langsung memejamkan mata. Ia duduk sendiri di meja kerja kecil di sudut ruang tamu. Lampu belajar menjadi satu-satunya penerangan di rumah yang telah sunyi. Di hadapannya tergeletak selembar kertas putih.

Sebagai seorang prajurit, ia memahami bahwa setiap penugasan selalu disertai kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan. Karena itulah, dengan tangan yang tenang, ia mulai menulis sebuah surat. Bukan karena ia menyerah pada keadaan, melainkan karena ia ingin memastikan bahwa apa pun yang terjadi, orang yang paling ia cintai tidak akan pernah meragukan isi hatinya.

Di bagian paling atas, ia menulis satu nama. Tara. Lalu kalimat demi kalimat mengalir begitu saja.

Ia menuliskan rasa syukurnya karena dipertemukan dengan perempuan yang dulu datang melalui perjodohan, tetapi kemudian menjadi cinta terbesar dalam hidupnya. Ia menuliskan betapa bahagianya mendengar detak jantung calon anak mereka untuk pertama kali. Ia juga meminta maaf atas setiap ulang tahun pernikahan yang mungkin akan terganggu oleh tugas, setiap makan malam yang batal, dan setiap malam ketika Tara harus menunggu sendirian di rumah.

Hampir di setiap paragraf, nama Tara kembali tertulis. Seolah-olah seluruh isi surat itu memang dipenuhi olehnya. Di bagian akhir, Sarif menuliskan satu kalimat yang membuat tangannya sempat berhenti beberapa saat.

"Kalau suatu hari aku terlambat pulang, jangan pernah salahkan tugas yang kujalani. Karena setiap kali berangkat, yang ada di pikiranku hanya satu, bagaimana caranya agar aku bisa kembali memelukmu dan anak kita."

Ia menatap lama tulisan itu. Kemudian melipat surat tersebut dengan rapi, memasukkannya ke dalam sebuah amplop, dan menuliskan di depannya, Untuk Tara. Dibuka hanya bila benar-benar diperlukan.

Sarif menyimpan amplop itu di dalam laci meja kerja, di tempat yang mudah ditemukan jika suatu hari nanti dibutuhkan. Setelah itu ia berdiri, berjalan menuju kamar, lalu memandangi Tara yang tertidur pulas sambil memeluk bantal kecil.

Perlahan ia duduk di sisi tempat tidur. Jemarinya menyentuh rambut sang istri dengan begitu hati-hati. "Aku akan pulang," bisiknya pelan. Bukan sebuah janji yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, melainkan sebuah tekad yang lahir dari cinta.

Ia kemudian mengecup kening Tara, mengusap lembut perut istrinya yang menyimpan calon buah hati mereka, lalu mematikan lampu kamar. Malam itu, tidak ada yang mengetahui bahwa di sebuah laci sederhana tersimpan sepucuk surat yang dipenuhi satu nama. Bukan karena Sarif ingin mengucapkan selamat tinggal, tetapi karena ia ingin memastikan bahwa dalam keadaan apa pun, Tara akan selalu tahu: sejak awal hingga akhir, dialah rumah yang selalu ingin ia tuju.

***

Pagi itu, halaman markas telah dipenuhi suasana yang berbeda dari biasanya. Barisan kendaraan dinas berjajar rapi, sementara para prajurit telah berdiri dengan perlengkapan lengkap menunggu aba-aba keberangkatan. Di sisi lain, para ibu Persit berbaris dengan seragam organisasi yang dikenakan dengan rapi. Wajah mereka tampak tenang, meski masing-masing menyimpan doa dan kecemasan yang sama. Tidak ada tangis yang dibiarkan pecah di tempat itu. Mereka memahami bahwa kepergian suami untuk menjalankan tugas harus dilepas dengan senyum dan doa, agar para prajurit berangkat dengan hati yang mantap.

Tara berdiri di antara para istri lainnya. Ini adalah pertama kalinya ia melepas Sarif untuk penugasan yang jauh. Tangannya terasa dingin, tetapi ia terus berusaha tersenyum setiap kali mata mereka bertemu. Ia teringat pesan senior-senior Persit bahwa air mata boleh jatuh, tetapi sebaiknya setelah kendaraan keberangkatan tak lagi terlihat. Keberanian seorang prajurit sering kali juga ditopang oleh keteguhan hati keluarga yang ditinggalkan.

Di tengah barisan prajurit, Sarif tampak memeriksa satu per satu kesiapan tim kesehatan. Sebagai perwira di bidang kesehatan, tanggung jawabnya bukan hanya memastikan dirinya sendiri siap bertugas, tetapi juga memastikan pelayanan kesehatan bagi para prajurit berjalan dengan baik. Bersama tim medis, ia membawa perlengkapan yang diperlukan untuk mendukung kesehatan personel selama penugasan, memberikan penanganan medis bila diperlukan, serta menjaga agar para prajurit tetap berada dalam kondisi terbaik untuk menjalankan tugasnya. Baginya, setiap prajurit yang kembali ke keluarganya dalam keadaan sehat adalah keberhasilan yang tak ternilai.

Ketika aba-aba keberangkatan diberikan, seluruh kendaraan mulai bergerak perlahan meninggalkan markas. Para ibu Persit mengangkat tangan, melambaikan perpisahan dengan senyum yang dipaksakan tetap tegar. Tara ikut melambaikan tangan kepada Sarif. Dari balik kaca kendaraan, Sarif membalas lambaian itu sambil membentuk isyarat hati kecil dengan jemarinya. Seketika mata Tara kembali memanas, tetapi ia mengingat pesan yang terus diulang dalam hatinya.

"Menangislah nanti. Sekarang, antarkan dia dengan doa."

Ia pun menarik napas panjang, mengusap perutnya yang menjadi tempat tumbuh harapan baru, lalu berbisik lirih, "Papa akan pulang. Kita tunggu Papa bersama-sama."

Kendaraan itu semakin jauh hingga akhirnya menghilang di balik gerbang markas. Barulah Tara menundukkan kepala, menggenggam kedua tangannya erat, dan mengirimkan doa terbaik untuk suaminya. Sebab mulai hari itu, bukan hanya Sarif yang sedang menjalankan pengabdian. Tara pun menjalankan pengabdiannya sendiri, menjaga rumah, menjaga calon anak mereka, dan menjaga harapan agar lelaki yang dicintainya kembali pulang dengan selamat.

Usai melepas keberangkatan para prajurit, rombongan ibu-ibu Persit perlahan kembali ke kompleks rumah dinas. Sepanjang perjalanan, suasana jauh lebih sunyi dibandingkan saat mereka berangkat menuju markas tadi pagi. Beberapa ibu masih saling menguatkan dengan obrolan ringan, sebagian lagi memilih diam sambil berjalan pelan. Tara ikut melangkah di antara mereka dengan senyum tipis yang terus ia pertahankan. Sesekali ada ibu senior yang menepuk bahunya lembut, seolah berkata tanpa kata bahwa perasaan seperti ini pernah mereka alami juga.

1
Rian Moontero
mampiirr👍👍🤣
Jumi Eko
Bagus
falea sezi
lanjut
falea sezi
lanjut donk
Hara Hari
orang yang iri dengki itu wajahnya bakalan kusut🤣🤣🤣
Hara Hari
Syok ga tuh Ratna hahahahaha, makanya tobat, jangan iri dengki
Hara Hari
beruntungnya punya ibu mertua yang baik
lin sya
apakah ratna akan mnjdi antagonis buat sepupunya tara, hnya krn iri dan gk bersyukur pdhl udh dinasehatin sm nenek dan ibunya, smga gk jdi pelakor ya, pdhl masa remaja tara susah pas dewasa dia beruntung dpt suami dan mertua baik plus kaya💪
lin sya
lbih baik tara fokus sm kelahiran anak dan suami, klo berkunjung kermh nenek jgn trllu dkt tp bkn sombong ya, tkutnya ratna msih pnya sft iri dan mngkin krma krn pernah nyinyirin tara gk kuliah sedangkan ratna gk lulus kuliahnya
Hara Hari
Hara Hari
InshaAllah ✓
Hara Hari
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!