Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Suara guntur terdengar, hujan lebat menghantam rumah yang terbuat dari bahan dasar kayu---nampak berdiri kokoh di tengah perkebunan desa terpencil.

Di sebuah rumah, yang jendelanya berbingkai kayu nampak berembun.

Aliran hujan turun membasahi bumi, sehingga menciptakan aroma tanah basah membuat udara yang dingin dan sejuk.

Di dalam rumah yang berbahan dasar kayu jati itu, Asri tengah berdiri di tengah ruangan dengan tubuh basah.

Terlihat Asri sudah menggigil kedinginan akibat hawa yang sangat dingin, dengan bibir dan wajah yang pucat.

Kemeja warna putih yang di kenakannya terlihat ketat, memperlihatkan semi transparan siluet pakaian dalamnya warna hitam jelas.

Bawahnya mengenakan celana hitam yang tak memperlihatkan dalamnya.

Cahaya lilin dan lampu minyak yang di nyalakannya, nampak menambah kesan sexy dalam diri Asri.

Rambutnya yang hitam legam dan panjang, nampak basah menempel acak pada pipi dan bahunya.

"Di-dingin sekali...," ucap Asri dengan tubuh menggigil.

Melihat tubuh Asri yang menahan rasa dingin yang menyiksa, Mayor Angga Pratama tiba-tiba muncul dengan mengenakan baju outdoor taktis dengan banyak kantung fungsional di bagian lengan atasnya.

Bahan bajunya ringstop warna hijau tua.

Pria itu mendekati Asri dengan tatapan penuh kelembutan, tanpa sepatah kata pun---tangannya melingkar di kedua lengan kokohnya seolah menghangatkan tubuh mungil Asri.

Asri merasa nyaman dalam dekapan dada bidang itu, hawa hangat mulai mengalir di tubuhnya---dalam dekapan hangat tanpa batasan.

Rasa benci, trauma dan rasa bersalah hilang seketika.

Asri menengadahkan wajahnya, menatap lekat-lekat manik mata milik Angga. Pelukan tangan Angga yang kokoh nampak terasa hangat dan nyaman, hingga hasrat mereka menggebu-gebu selayaknya nyala api.

Perlahan Angga menundukkan kepalanya, mencium leher Asri dengan lembut, Asri merasakan bibir Angga tengah melakukan sebuah kehangatan yang layak di dapatnya.

Di leher jenjangnya ini, Asri merasa bibir jambang halus dan bibir yang basah tengah menjalar di area leher sampai bahunya.

Angga melepas kancing satu persatu pada kemeja yang basah itu, memperlihatkan tangtop yang di kenakan Asri warna hitam.

Gelombang gairah muncul begitu saja di tengah badai hujan ini, cahaya lampu minyak dan lilin menjadi saksi kesan romantis di antara keduanya.

Angga membalikan tubuh kecil Asri sehingga keduanya berhadapan, lalu merengkuh manisnya ciuman yang ada di bibir wanita itu.

Keduanya melakukan manisnya peraduan lidah satu sama lain, sampai Angga melepas jacket oudoornya tubuhnya mengenakan kaos polos warna hijau dengan lambang kesatuannya---tempatnya bertugas.

Asri terlena akan kehangatan yang di berikan Angga, karena tubuhnya saat ini butuh kehangatan---pria itu melepas kaosnya yang kering memperlihatkan tubuhnya yang atletis.

Persilatan lidah keduanya mendorong melakukan hal lebih di atas meja depan, Angga mencumbu tubuh Asri satu persatu.

Namun, sialnya---Asri terlena seolah tak bisa menolak setiap sentuhan Angga, entah apa yang terjadi.

Angga menyusuri dua gunung milik Asri dan mencumbunya lembut, lalu mendakinya untuk menghisap bunga kuncup yang ada di tengah gunung.

Bunga kuncup yang semanis madu, di hisapnya, di gigit, sampai Asri mengigit bibirnya.

Tubuh wanita itu atasnya tanpa sehelai benang, sementara bawahnya masih memakai celana hitamnya yang basah.

"Ma-mas...," desah Asri seolah menikmati permainan yang di ciptakan oleh Angga.

Angga dengan rakus mencumbu setiap inci bagian tubuh indah itu layaknya dewi Yunani---Aprhodite.

Bagian perut, sampai bawahnya---dengan tak sabar tangan pria itu melepas celana hitam yang basah itu lalu menaruhnya di atas kursi.

Menyisakan gorden penutup di antara dua pilar yang terlihat----untuk menuju lembah tersembunyi milik wanita ini, lalu Angga membuka gorden itu---memperlihatkan lembah tersembunyi milik Asri.

Angga melakukan sapaan dengan lidah dan bibirnya, kedua tangannya menahan dua pilar itu---Asri merasa ada aliran listrik saat Angga melakukan pemujaan padanya.

Di atas altar meja kayu jati ini, Angga melakukan pemujaan terhadap tubuhnya-----dengan menggali sebuah aliran air di lembah tersembunyi miliknya, menggunakan lidah dan bibirnya.

Asri berusaha menahan tangannya agar tak menyentuh kepala Angga, karena keadaan masih sangat canggung.

Hari ini dengan kemeja putih yang sama, keduanya melakukan hubungan lagi---namun dalam keadaan hujan dan cuaca yang dingin di luar sana menambah gairah di antara keduanya.

Waktu terus berlalu, menit demi menit dan detik demi detik---Sampai Asri menjerit tak sanggup lagi dengan pemujaan yang Angga buat.

Pemujaan yang Angga buat dengan lidah dan bibirnya di lembah tersembunyi miliknya ini, membuat Asri menjerit---refleks tangannya memegang kepala Angga---meremas rambutnya yang potongannya gaya buzzcut.

Rambut Angga sangat tipis sehingga sulit di raih, kini ada aliran yang terasa menggelinjang---aliran listrik dari pangkal paha hingga puncak dua gunung miliknya.

Asri menjerit teriak, tubuhnya setengah duduk---tubuh tanpa sehelai benang itu terduduk dan Angga menyingkir, saat Asri mendorong kepalanya.

"Akhhh!!" jerit Asri, yang kakinya di gerak-gerakan untuk menetralkan tubuhnya.

Nampak wanita itu menjerit, dan tubuhnya ke samping---sementara Angga terlihat atas kaosnya sudah tak ada hanya menyisakan celananya warna hitam.

Angga menarik Asri, sehingga terduduk di atas meja.

Pria itu membimbing gadis ini untuk melingkarkan kedua kakinya di pinggang miliknya, lalu Angga bertanya pada Asri.

"Dimana kamarnya?" tanya Angga.

Wajah Asri sudah memerah, dengan mata berair---karena menahan ledakan nikmat yang terbumbung.

Asri dengan rambutnya yang masih basah, dan tubuhnya tanpa sehelai benang---akhirnya menunjuk ke arah pintu.

Pintu yang terbuat dari kayu jati, Angga tersenyum lalu memeluk erat tubuh Asri dengan posisi kedua kaki wanita ini melingkar di pinggang Angga----lalu kakinya berjalan menuju kamar itu.

Angga membaringkan tubuh Asri yang ramping ini di atas ranjang, lalu melepas celana yang di kenakannya dengan tergesa-gesa.

Sementara Asri hanya terdiam, merasakan hawa dingin menusuk kulitnya lalu keduanya melanjutkan berpetualang di atas ranjang itu.

Angga melakukan penjelajahan dengan menancapkan kedua patok pada dua pilar itu dengan pelan, lalu berkuda di lembah tersembunyi milik Asri.

Keduanya berkuda memacu kudanya dengan erat, sampai Angga menjerit dan melakukan pelepasan.

Keduanya akhirnya menyerahkan seluruh jiwa dan raga mereka malam itu dalam keintiman fisik yang penuh cinta—sebuah penyatuan yang terasa begitu nyata, hangat, dan membebaskan Asri dari segala belenggu penderitaan yang selama ini menyiksa batinnya.

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
Putri Sabina: udah lanjut kak, sehari sekali yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!