Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Aku nggak mau pulang ke rumah Pak Bintang, ternyata di rumahmu bukan hanya ada kamu, Mentari, aku dan Talita," Bulan menatap Bintang kecewa dan menyesal, ia tidak berpikir matang saat memutuskan menikah. Apa lagi dengan pria beristri tentu saja menimbulkan banyak masalah dan tidak menyukainya karena predikat "pelakor" pasti akan melekat meski semua ini bukan maunya.
"Tidak bisa begitu Bulan, aku ini sekarang suami kamu, masa nggak ikut pulang ke rumah" ucap Bintang sembari membuka pintu, satu tangannya mendorong pelan tubuh Rembulan agar masuk.
"Lebih tepatnya suami pura-pura."
"Tidak ada yang pura-pura karena pernikahan kita di hadapan Tuhan Bull," potong Bintang tegas.
Bulan melengos tajam, tapi akhirnya mengalah, duduk di sebelah kemudi walaupun menahan kesal, kenapa ban mobilnya pakai acara kempes? Jika ia membawa kendaraan sendiri tentu saja ada alasan untuk menolak pulang bareng bersama Bintang.
Bulan sadar bahwa Bintang memang suaminya, tapi bagaimana jika tiba di rumah nanti Ratih akan bertindak seperti penguasa.
"Kok kamu diam saja? Sariawan ya?" Bintang mencoba bergurau, memecah keheningan.
"Tidak usah pura-pura tidak tahu, harga diri saya diinjak-injak orang tua Mentari tapi Pak Bintang tidak tegas!" Protes Bulan, menoleh sekilas dengan tatapan datar.
"Kata siapa saya tidak tegas," jawab Bintang tanpa menoleh karena fokus dengan jalan tol yang sedang lancar.
"Mana tegas, hormat sama orang tua itu harus, tapi jika sikapnya seperti tadi orang tua juga harus diberi pengertian," Dengus Rembulan, matanya menyorot tajam ke wajah Bintang yang tampak serius.
"Aku juga tegas Rembulan, kamu tidak tahu saja bagaimana sikap saya tadi. Tapi aku belum bisa jujur kalau kamu istri aku, aku berharap kita bisa merahasiakan pernikahan ini untuk sementara waktu."
"Kenapa" potong Rembulan cepat.
"Demi kita, demi Mentari agar kemarahan mertua sedikit mereda dulu baru kita bicarakan," Bintang tidak ingin sikap mertuanya kepada Bulan lebih brutal lagi jika tahu ia benar-benar menikah.
"Yang namanya watak itu susah dihilangkan dan saya yakin, mertuamu tidak bisa berubah. Ada yang perlu kamu ingat ya, sesuai kesepakatan sebelum kita menikah, tidak boleh ada yang berhak mengatur hidup saya termasuk mertua kamu!" balas Rembulan, ia menikah hanya setelah menunggu Mentari sembuh, selanjutnya ia akan minta cerai.
Bintang terdiam, tangannya mencengkeram setir, tidak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya entah apa yang pria itu pikirkan.
Kendaraan yang di kemudian Bintang melaju sedang membelah jalanan utama. Bulan duduk menatap luar jendela demi mengurangi kecanggungan yang sejak seminggu terakhir selalu mengisi hari-harinya.
Mungkin beginilah pernikahan yang dilakukan karena terpaksa. Tidak ada debar asmara yang manis seperti pengantin baru pada umumnya, yang ada hanya rasa canggung dan kaku.
Tiba-tiba mobil Bintang belok tajam ke arah tempat parkir di tikungan jalan. Yakni menuju sebuah restoran. Tubuh Bulan terdorong ke samping, refleks tangan Bintang melingkar di pinggang Rembulan untuk menahan tubuh istrinya agar tidak membentur pintu, Bulan seketika menoleh ke arah Bintang dengan tatapan tajam.
"Maaf," Bintang menarik tangannya cepat, lalu kembali memegang setir membetulkan posisi parkir.
"Kamu sengaja ya?" tanya Bulan yang masih deg-degan tidak menentu. Dia pikir Bintang sengaja mencari kesempatan untuk memeluknya.
"Kecelakaan mana ada yang disengaja," bantah Bintang.
"Lagian mau apa sih?! Belok kesini?!" Bulan terus ngomel-ngomel tapi Bintang selalu menanggapi dengan santai.
"Kita makan di restoran itu rasanya enak sekali loh, sebentar saja ya. Belum makan sore kan? Sekalian kita ngobrol berdua." Jawab Bintang kemudian mematikan mesin.
"Tidak mau. Mana ada makan sore, aku mau pulang. Anak dan istrimu pasti sudah menunggu." Tangan Rembulan hendak memegang pintu mobil, tapi Bintang tiba-tiba mengait jemari Rembulan yang putih bersih itu.
"Ayo dong Bull, sebentar saja," potong Bintang, jika tidak mencari momen untuk berdua, kapan mereka saling mengenal. Ia sengaja tidak memberi tahu dari awal, karena yakin Bulan akan menolak mentah-mentah.
Rembulan akhirnya pasrah, menyerah tanpa kata-kata. Apa salahnya menerima tawaran Bintang? Daripada cepat tiba di rumah sore-sore dan akhirnya bertemu Sherly sudah dipastikan tidak mungkin akan istirahat dengan nyaman, toh pria itu masih lebih baik dibandingkan dua tamunya.
Bintang tersenyum saat membuka pintu tanpa Bulan sadari. Kemudian turun lebih dulu berjalan memutar membuka pintu untuk Bulan.
Ia berjalan di samping Bulan, walaupun langkah istrinya itu lambat dan malas. Bulan menatap lurus ke depan, seolah dinding kaca restoran di depannya jauh lebih menarik daripada pria di sebelahnya.
"Jangan cemberut gitu dong, Bull," Bintang menggandeng lengan Bulan seperti ingin pamer kemesraan di depan pengunjung restoran yang rata-rata membawa pasangan.
"Jangan macam-macam," lirih Bulan agar tidak di dengar pengunjung lain, ia hendak menjauhkan tangannya dari genggaman Bintang, tapi pegangan tangan Bintang lebih kuat.
"Tidak macam-macam kok Bull, hanya satu macam saja," Bintang melirik ke samping mengulum senyum.
"Bal, Bull, memang tidak ada panggilan lain apa?!" Ketus Bulan.
Bintang pun akhirnya terkekeh, entah berapa lama ia tidak pernah bisa tersenyum lagi seperti hari ini. Jelas semenjak vonis penyakit kanker stadium empat yang menggerogoti Mentari terdengar di telinganya. Rupanya ini alasan Mentari menjodohkan dirinya dengan Bulan, karena ingin membuatnya tersenyum lagi.
Tiba di dalam, Bulan segera mencari tempat duduk dan memilih pojok yang paling tenang. Bintang menyusul lalu menyerahkan buku menu.
Rembulan hanya melirik sekilas lalu menulis dua menu tanpa bicara. Sup bening, lauk tanpa mengandung unsur minyak menjadi pilihannya.
"Jadi makanan kamu seperti itu ya? Uh, dasar Dokter," kelakar Bintang gantian menulis menu pilihan.
Bulan sama sekali tidak tertarik untuk mendebat, lalu melipat tangan di atas meja, menatap keluar jendela. Hingga akhirnya hidangan tersedia di atas meja, mereka pun mulai makan dalam keheningan.
Bintang sesekali melirik Bulan dan piring di depannya. Menu makan istrinya ternyata seperti itu. Pantas saja wajah bersih bahkan tampak licin, wajah seperti itu nyamuk pun pasti tidak berani singgah karena takut terpeleset.
Bintang berusaha mencari kata yang pas untuk membuat hati Bulan merasa nyaman, tapi hanya menelan ludah saat melihat ekspresi datar di wajah istrinya, sikap terpaksa tidak bisa Bulan sembunyikan.
Deerttt Deerttt Deerttt...
Handphone di saku Bintang bergetar, ia izin Bulan untuk mengangkat. Sebelum istrinya itu menjawab, Bintang meninggalkan meja.
Bulan melanjutkan makan hingga habis tapi Bintang belum juga kembali. Namun, Bulan masih menunggu sambil makan buah segar hingga tidak tersisa.
"Kemana pria itu?" Batin Bulan menatap makanan Bintang di piring yang baru dia makan sedikit. Dengan sabar, Bulan menunggu hingga terdengar suara adzan magrib, tapi Bintang seolah menghilang entah kemana.
Bulan mencoba untuk menghubungi Bintang karena tidak diangkat, lalu membayar makanan sendiri sebelum akhirnya ke tempat parkir.
"Dasar pria tidak punya perasaan!" Bulan marah karena kendaraan Bintang pun sudah tidak ada.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌