Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENDAPAT ALAMAT

Matahari pagi hari Minggu telah naik cukup tinggi, menyinari permukaan lantai kamar Kristin melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Di dalam kamar itu, Kristin masih terlelap nyenyak di balik selimut tebalnya. Tubuhnya terasa begitu lelah dan berat, seakan setiap inci otot di dalamnya masih mengingat rasa pegal akibat latihan fisik berat yang mereka jalani kemarin. Karena hari Minggu dan tidak ada kegiatan kuliah maupun pertemuan organisasi, Kristin pun membiarkan dirinya menikmati waktu istirahat yang panjang itu, membiarkan matanya terpejam dan tubuhnya beristirahat sepenuhnya. Hingga akhirnya, suara panggilan lembut dari lantai bawah terdengar menembus pintu kamarnya.

"Kristin... Nak, sudah bangun belum?"

Suara Mamanya terdengar berulang kali memanggil namanya. Perlahan-lahan, Kristin membuka matanya yang terasa berat. Ia menguap panjang, meregangkan kedua tangannya ke atas, lalu perlahan bangun dari tempat tidur. Langkah kakinya yang masih terasa berat melangkah keluar dari kamar, menuruni tangga perlahan-lahan menuju ruang tengah tempat Mamanya sedang menunggunya.

Sesampainya di bawah, Mamanya tersenyum menyambut kedatangan putrinya yang tampak masih sedikit mengantuk. "Wah, baru bangun ya? Ayo duduk dulu, Mama sudah siapkan air cucian dan sarapan untukmu."

Kristin pun duduk di kursi meja makan, mengucek matanya pelan sambil tersenyum malu. "Ma, tadi malam tubuhku terasa sangat pegal sekali. Latihan fisik kemarin ternyata lumayan berat untukku," ucap Kristin sambil menghela napas panjang.

Mamanya mengangguk paham, lalu duduk di hadapan putrinya dengan wajah yang tampak sedang memikirkan sesuatu. "Ngomong-ngomong, Kristin... Mama berencana akan pergi sebentar ke rumah Kakakmu, Jerry. Kemungkinan besar sekitar dua minggu lagi atau paling lambat bulan depan. Mama berencana menginap di sana cukup lama, mungkin sekitar dua minggu."

Mendengar itu, mata Kristin seketika terbuka lebar. Wajahnya yang tadi masih terlihat mengantuk seketika berubah bersemangat. "Wah, kalau begitu aku mau ikut bersama Mama! Aku sudah lama tidak bertemu Kak Jerry," seru Kristin penuh antusias.

Namun Mamanya justru tersenyum sambil menggeleng pelan. "Tidak bisa begitu, Sayang. Kau masih kuliah dan belum masuk masa libur. Bagaimana mungkin kau meninggalkan kuliah hanya untuk ikut Mama berlibur? Itu tidak baik untuk nilai dan kehadiranmu."

Kristin pun terdiam. Ia memutar bola matanya pelan sambil berpikir dalam hati. Kalau Mama pergi... berarti aku akan sendirian di rumah ini selama dua minggu? batinnya bergumam. Rumah yang besar dan sepi ini akan terasa begitu sunyi tanpa Mama di sini.

Kristin menatap wajah Mamanya sejenak, lalu menarik napas panjang seakan hendak mengeluarkan sesuatu yang selama ini memendam di hatinya.

"Aku mau cerita, Ma..." ucap Kristin pelan namun dengan nada yang tulus.

Mamanya tersenyum lembut, lalu menatap putrinya penuh perhatian. "Ceritalah, Nak. Mama siap mendengarkan apa pun yang hendak kau sampaikan."

Kristin pun menatap kedua matanya Mamanya, lalu mulai bercerita dengan jujur. "Kemarin... ada seseorang yang menyampaikan perasaannya kepadaku, Ma."

Mamanya yang sedang menyesap teh hangatnya seketika menatap putrinya dengan mata yang berbinar penuh tanya. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya. "Wah, benarkah? Lelaki itu... apakah dia Doni? Pemuda yang datang ke rumah ini malam itu?" tanya Mamanya dengan penuh selidik.

Wajah Kristin seketika memerah padam mendengar tebakan Mamanya. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan, bukan Doni, Ma! Yang menyampaikan perasaan itu adalah Ari. Dia teman sekelasku, dan juga satu organisasi MAPALA bersamaku. Dia orang yang baik, sopan, dan sangat menyenangkan untuk diajak berbicara," jelas Kristin dengan sedikit tergesa-gesa.

Mamanya tertawa renyah mendengar penjelasan putrinya. Tawanya terdengar begitu tulus dan hangat. "Jadi ternyata bukan hanya satu orang saja yang menyukai putriku yang cantik ini ya? Mama senang mendengarnya. Berarti kau memang gadis yang disukai banyak orang."

Kristin pun tersenyum bangga, lalu mengangkat sedikit dagunya dengan percaya diri. "Wajar saja kalau aku disukai, Ma. Bukankah putri Mamanya ini cantik, menarik, dan menyenangkan?" ucap Kristin sambil tersenyum lebar.

Mamanya langsung tertawa lebih keras lagi mendengar ucapan putrinya itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Kristin penuh kasih sayang. "Aduh, putri Mamanya ini... terlalu percaya diri sekali ya. Baru saja dikatakan sesuatu, langsung membusungkan dada begitu. Jangan terlalu percaya diri, nanti cantiknya luntur lho," canda Mamanya sambil tersenyum geli.

Namun seketika itu juga, Mamanya kembali menatap Kristin dengan tatapan yang sedikit lebih serius namun tetap lembut. "Tapi jujur saja, Mama sebenarnya mengira Doni lah yang akan menyampaikan perasaannya kepadamu. Jujur saja, Mama sangat menyukai pribadi pemuda itu. Sopan, santun, dan pandai berbicara."

Mendengar itu, hati Kristin seketika teringat pada apa yang sering ia lihat di kampus. Ia pun mulai bercerita dengan nada yang sedikit bingung dan ragu. "Tapi Ma... sebenarnya aku bingung dengan Doni. Saat di kampus, terkadang penampilannya sangat berbeda dari saat dia datang ke rumah kita. Terkadang dia berpakaian sederhana dan terlihat seperti pemuda yang tidak peduli penampilan, bahkan terkesan seperti berandalan. Dan... aku juga sering melihatnya merokok, Ma. Itu membuatku semakin bingung, karena sikap dan penampilannya seakan berubah-ubah tergantung di mana dia berada."

Mamanya tetap tersenyum tenang mendengar cerita putrinya. Ia tidak terlihat terkejut sedikit pun. Setelah Kristin selesai berbicara, Mamanya baru membuka suaranya dengan lembut dan penuh pengertian.

"Kristin... coba kau pikirkan baik-baik. Jika Doni memang pemuda yang berkelakuan buruk dan tidak tahu tata krama, apakah mungkin saat dia datang berkunjung ke rumah ini, dia tampil dengan rapi, sopan, dan berbicara dengan kata-kata yang begitu bijak dan teratur? Jika dia memang pemuda yang tidak tahu diri, pasti dia akan datang dengan penampilan apa adanya dan berbicara sesuka hati, bukan?" ucap Mamanya pelan namun penuh makna. "Menurut penilaian Mama, Doni itu justru pemuda yang pandai menempatkan dirinya. Dia tahu kapan harus rapi dan sopan, dan di mana dia bisa bersikap lebih santai. Itu bukan berarti dia berandalan, melainkan dia tahu bagaimana menyesuaikan diri dengan tempat dan situasi. Dan soal merokok... itu memang kebiasaan yang kurang baik, tapi belum tentu menjadikannya pemuda yang buruk. Ingatlah, saat dia menasehatimu malam itu... bukankah kata-katanya begitu dalam dan menyentuh hati? Itu bukan perkataan orang yang tidak berpikir jauh ke depan."

Kristin terdiam mendengar penjelasan Mamanya. Mulutnya sedikit mengerucut seakan merasa sedikit cemburu karena Mamanya justru membela Doni. "Yah... kenapa Mama justru membela Doni sih? Padahal aku sedang bercerita tentang apa yang aku lihat sendiri," ucap Kristin sambil memalingkan wajah pura-pura merajuk.

Mamanya tertawa melihat tingkah putrinya itu, lalu menepuk pelan punggung tangan Kristin. "Sudah, jangan merajuk begitu. Mama tidak membela siapa-siapa. Mama hanya mengajarkan kau untuk melihat seseorang secara keseluruhan, bukan hanya dari penampilan luar atau satu kebiasaan saja. Ayo lekas mandi dan bersiap. Bau sekali lho, belum mandi saja sudah lama duduk di meja makan. Cepat bersihkan dirimu, lalu sarapan."

"Mama ini saja yang berlebihan! Mana bau apa pun!" bantah Kristin sambil tertawa kecil. Namun ia pun segera bangkit dan melangkah menuju kamar mandi, menyadari bahwa Mamanya ada benarnya juga. Namun rasa penasaran itu tetap ada di hatinya, seakan ingin segera mengetahui siapa sosok Doni yang sebenarnya.

 

Setelah selesai mandi, berganti pakaian rapi, dan menyantap sarapan yang disiapkan Mamanya, Kristin pun duduk santai di ruang tamu sambil memegang ponselnya. Baru saja ia membuka layar pesan, muncul notifikasi pesan masuk dari Cintya. Kristin pun segera membacanya.

"Cieee... ada yang makan siang berduaan kemarin ya? Asyik sekali tampaknya. Hati-hati lho, kalau Kak Doni sampai tahu, bisa-bisa Ari kena marah dan dihukum."

Wajah Kristin seketika memerah membaca pesan yang penuh selidik dan candaan itu. Ia pun segera mengetik balasannya.

"Aduh, berita ini menyebar begitu cepat sekali ya? Seakan terbang dibawa angin saja. Bagaimana kau bisa tahu?"

Tak lama kemudian, pesan balasan dari Cintya kembali masuk.

"Sebelum kami semua pulang kemarin, Ari sudah meminta tolong kepada Joel, Jeki, Bobi, dan aku. Dia bilang ingin mengajakmu makan siang berdua saja, jadi kami langsung paham dan membiarkan kalian berdua duluan. Kami berempat langsung pulang setelah itu. Jadi kami semua sudah tahu rencananya sejak awal."

Kristin tersenyum geli membaca balasan itu. Ia pun mengetik kembali pesannya.

"Jadi rupanya kalian berempat sudah sepakat membuat aku dan Ari berduaan ya? Benar-benar kalian ini."

Pesan balasan Cintya kembali masuk disertai gambar wajah tertawa terbahak-bahak.

"Tapi tetap saja... menurutku Kak Doni tetap yang paling keren lho!"

Membaca kalimat itu, hati Kristin kembali teringat pada sosok Doni dan rasa penasaran yang terus mengganggunya. Ia pun menarik napas panjang, lalu mengetik pesannya dengan hati-hati.

"Cintya... apakah kau tahu alamat rumah Doni? Sebenarnya aku segan menanyakan hal ini kepada para senior, jadi aku bertanya padamu saja."

Tak lama, pesan balasan Cintya masuk.

"Aku sendiri tidak tahu persisnya. Tapi tunggu sebentar ya, aku akan coba cari tahu. Memangnya ada urusan apa? Jangan bilang-bilang siapa-siapa dulu ya!"

Kristin tersenyum membaca pesan itu, lalu membalas singkat.

"Ada sesuatu yang perlu aku tanyakan padanya. Pokoknya ada urusan penting saja."

Hanya berselang beberapa menit, pesan balasan dari Cintya kembali masuk. Kali ini pesannya berisi alamat lengkap sebuah rumah di salah satu jalan di pinggiran kota, tak terlalu jauh dari pusat kota namun juga tidak terlalu dekat. Di bagian akhir pesannya, Cintya menambahkan pesan lain.

"Ini alamatnya ya. Aku tanya langsung kepada Kak Kevin tadi, aku bilang ingin membahas tugas kelompok dan buku bacaan yang dipakai Kak Doni. Jadi kau harus mentraktirku makan enak sebagai imbalannya lho!"

Kristin tersenyum lebar membaca pesan itu. Ia segera menyimpan alamat tersebut di dalam catatan ponselnya, lalu mengirim pesan balasan penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih banyak, Cintya! Baiklah, nanti aku traktir makan sepuasmu. Sekali lagi terima kasih ya!"

Setelah pesan itu terkirim, Kristin menatap layar ponselnya dalam diam. Alamat itu kini tersimpan rapi di sana. Di dalam hatinya, satu tekad mulai menguat perlahan-lahan.

Sore ini... sore ini aku akan pergi ke rumah Doni, batin Kristin berjanji dalam hatinya. Aku akan pergi ke sana dan menanyakan semuanya secara langsung. Aku akan melihat sendiri siapa sosok Doni yang sebenarnya, dan mengapa sikap serta penampilannya bisa terasa begitu berbeda-beda. Dan biar bukan hanya dia yang tahu alamat rumahku, aku pun kini tahu di mana tempat tinggalnya. Seimbang begitu, kan?

Penasaran yang terus memendam sejak lama akhirnya menemukan jalan keluar. Kristin pun tersenyum kecil menatap jendela yang terbuka lebar, menatap langit yang cerah di atas sana. Sore nanti... sore nanti semuanya akan menjadi jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!