Indonesia
NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahagia yang Sederhana

"Gas pol, Sean! Awas aja lo kalau sampai disalip sama mobil merah di belakang itu!"

Teriakan Aira melengking nyaring. Suaranya membelah kebisingan area pit lane sirkuit balap internasional pagi ini.

"Taruhannya harga diri montir Veloctra Motors yang udah nyetel mesin lo ini, ya!" tambah Aira lagi dengan penuh semangat.

Angin pagi menerpa wajahnya dengan kencang, membawa aroma khas aspal panas dan bensin. Bagi Aira, bau bau menyengat ini adalah aroma kebebasan yang sesungguhnya.

Hari ini, Aira tampil beda dari biasanya. Tidak ada gaun anggun atau pakaian formal yang melelahkan. Dia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak merah-hitam yang sengaja dibiarkan terbuka melapisi kaos putih polos di dalamnya.

Penampilannya dipadukan dengan celana jeans sobek-sobek di bagian lutut yang membuatnya nyaman untuk bergerak, serta sepatu sneakers tinggi. Rambutnya diikat rapi gaya kuncir kuda yang tinggi, memberikan kesan segar dan sangat sporty.

Aira berdiri tegak di dekat pagar pembatas besi. Matanya berbinar-binar, menatap bangga ke arah mobil sport hasil modifikasi tangannya yang kini dikendarai oleh Sean.

Sean, yang sudah berada di dalam kokpit dengan baju balap lengkap, tertawa lepas dari balik helmnya.

"Siap, Kakak Ipar! Tenang aja, adik ipar lo yang paling ganteng sedunia ini nggak bakal bikin lo malu," sahut Sean dengan percaya diri.

"Duduk manis aja di tribun dan tonton gimana gue bakal ngehancurin rekor waktu lap hari ini!" lanjut cowok itu bersemangat.

VROOOMMM!

Deru mesin mobil itu menderu liar saat lampu hijau di lintasan menyala. Mobil Sean melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya.

Sorakan ribuan penonton langsung terdengar ramai di seluruh penjuru sirkuit. Jantung Aira berdegup kencang, berdetak selaras dengan raungan mesin V8 yang memekakkan telinga.

Di tempat ini, di tengah riuhnya sirkuit, Aira bisa melupakan semuanya. Dia lupa pada sosok Evan yang menyebalkan. Dia lupa pada dinginnya paviliun sayap timur yang terasa mencekik.

Hanya ada adrenalin yang berpacu tinggi dan kebanggaan luar biasa saat melihat hasil kerja kerasnya di bengkel kini melesat memimpin di lintasan balap.

Bendera kotak-kotak hitam-putih akhirnya dikibarkan di garis finis.

Posisi pertama!

Sean keluar dari pintu mobilnya yang terbuka lebar. Keringat tanpa membasahi pelipis dan lehernya, namun senyuman lebarnya menjadi obat paling mujarab bagi jiwa Aira yang sempat tertekan.

Setelah bersusah payah lolos dari kerumunan para penggemar yang mengerubunginya, Sean berjalan cepat menghampiri Aira. Napasnya masih terdengar berat dan memburu, tapi matanya bersinar sangat cerah.

"Gila, Kak... gerah banget hari ini! Gue butuh yang seger-seger sekarang," keluh Sean sambil menurunkan ritsleting bagian atas baju balapnya bumi mendapat sedikit udara segar.

"Yuk, kita cari es krim di kedai dekat sini. Gue yang terakhir sebagai perayaan kemenangan kita hari ini!" ajak Sean.

Aira tertawa renyah. Dia memukul pelan bahu Sean sambil merapikan kerah kemeja flanelnya.

"Gaya lo sok mau traktir! Ya udah yuk, gue juga haus banget nih gara-gara ikutan tegang nonton lo balapan tadi. Tapi inget ya, jangan pesen yang terlalu manis, gue nggak suka gigi gue copot," canda Aira.

"Mau pesan es krim rasa pahit juga ada kalau lo mau, Bos," sahut Sean jahil sambil merangkul pundak Aira secara akrab, menuntun cewek itu keluar dari area sirkuit.

***

Kedai es krim minimalis yang mereka kunjungi terasa sangat sejuk dan tenang. Kontras dengan kebisingan sirkuit beberapa menit lalu.

Mereka memilih duduk di sudut ruangan yang agak tersembunyi, menikmati dua mangkuk besar es krim varian vanila dan cokelat yang diberi taburan buah stroberi segar di atasnya.

Tawa lepas mereka sesekali mengisi ruangan yang sepi itu, menciptakan sebuah gelembung kebahagiaan kecil di tengah-tengah dunia mereka yang rumit.

Tiba-tiba, Sean mencondongkan tubuhnya ke depan meja. Wajah jahil yang biasanya menghiasi cowok itu mendadak berubah menjadi serius.

"Eh, Kak Aira... sekali-kali gue mau nanya serius deh sama lo," ucap Sean, menatap wajah Aira dengan lekat.

"Gimana rasanya jadi istri dari kakak robot gue itu? Lo sebenarnya bahagia nggak sih tinggal di paviliun timur sama dia? Jujur aja deh sama gue," tanya Sean, menyelidiki.

Gerakan tangan Aira langsung terhenti seketika. Sendok es krim yang dipegangnya melayang kaku di udara.

Bayangan wajah dingin Evan dan untaian kata-kata kejam yang diucapkan pria itu mendadak muncul sekilas di benaknya. Mengingat bagaimana Evan menyebutnya sampah dan berlalu membuat dada Aira mendadak terasa sesak.

Tapi, Aira dengan cepat menepis semua ingatan buruk itu. Di depan Sean, dia ingin tetap terlihat kuat dan tidak mau kelihatan menyedihkan.

Aira memaksakan sebuah senyuman santai di wajahnya, meski hatinya terasa sedikit perih.

"Ya... Biasa aja, Sean. Nggak ada yang spesial juga," sahut Aira dengan nada yang dibuat secuek mungkin.

"Kakak lo kan emang sibuk banget sama urusan angka-angka sahamnya di kantor. Gue juga sibuk seharian di bengkel. Jadi ya kami punya dunia masing-masing aja. Nggak usah dipikirin amat."

"Halah, bohong banget itu mukanya," ledek Sean usil, tidak percaya begitu saja.

"Lo kelihatan kayak lagi menutupi sesuatu, Kak. Nggak ada orang yang bisa setenang itu kalau harus tinggal satu atap sama tembok beton berjalan kayak si Evan," cecar Sean lagi.

Melihat Sean yang mulai mendesaknya dengan pertanyaan sensitif, Aira memutuskan untuk segera memotong pembicaraan karena dia mulai merasa tidak nyaman.

"Udahlah. Ngapain juga lo sibuk mikirin si Robot itu kalau kita lagi enak-enakan makan es krim begini? Mending habisin tuh es krim lo," alih Aira cepat, berusaha menghindar dari topik itu.

Melihat perubahan raut wajah air yang langsung memasang benteng pertahanan, Sean sadar kalau dia sudah melangkah terlalu jauh. Dia memutuskan untuk mencairkan kembali suasana yang sempat menegang.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan tidak terduga, Sean mencolek sedikit es krim vanila di mangkoknya menggunakan ujung jari.

Colek!

Jari Sean mendarat dengan mulus di ujung hidung Aira, meninggalkan noda putih bulat di sana. Karena gerakan mendadak itu, jarak wajah mereka berdua sempat menjadi sangat dekat selama beberapa detik.

Mata mereka beradu langsung. Ada keheningan singkat yang terasa canggung namun manis di antara mereka.

"Eh! Sialan lo, Sean!" seru Aira yang tersentak kaget sambil memundurkan kepalanya, lalu kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

Refleks yang cepat langsung bekerja. Aira tidak mau kalah, dia segera mencomot es krim cokelat dari mangkuknya sendiri menggunakan jari telunjuk.

"Oh, lo ngajak perang? Oke, gue terima tantangan lo!" seru Aira dengan tatapan menantang yang usil.

Toel!

Aira menoelkan jarinya yang berlumur cokelat tepat di pipi kanan Sean yang bersih.

"Woy! Curang banget lo!" protes Sean sambil tertawa, berusaha menghindar namun terlambat.

"Nggak ada aturan main yang adil dalam perang es krim!" balas Aira, tertawa lepas tanpa beban.

Mereka pun saling melempar lelucon konyol dan saling menodai wajah masing-masing dengan es krim, tertawa lepas layaknya dua orang sahabat karib yang tidak punya beban hidup.

Untuk sesaat, Aira benar-benar bisa melupakan pernikahan sialan itu. Dia melupakan Evan yang kejam, dan melupakan rasa kesepian yang selalu menghantuinya di paviliun besar itu.

Di kedai ini, dengan noda es krim di hidungnya dan suara tawa renyah Sean di telinganya, Aira akhirnya merasa hidup kembali. Benar-benar hidup sebagai dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!