Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 HARI PEMAKAMAN ATAU PERNIKAHAN

Sudah lewat tengah malam ketika Bara mengantarnya kembali ke apartemen.

Perjalanan pulang lebih senyap daripada saat berangkat, kalau itu memang mungkin. Bara tak menyalakan musik. Tak menyalakan radio. Tak berbicara. Mobil meluncur di jalanan lengang bagai hantu mekanis, dan Maya hanya memandang ke luar jendela, jari-jarinya masih ternoda tinta dari pulpen perak itu.

Sebelum turun, Bara menahannya dengan satu tangan di lengan. Sentuhan itu singkat, nyaris tak terasa, namun Maya merasakan kehangatan jemarinya menembus kain jaketnya.

"Besok pukul sembilan," katanya. "Saya tunggu Anda di pengadilan."

"Bagaimana Anda tahu saya akan datang?"

Bara menatapnya. Untuk pertama kalinya sepanjang malam itu, ada sesuatu yang berkilat di mata kelabunya. Bukan kehangatan. Bukan pula keramahan. Melainkan kepastian.

"Karena Anda tak punya pilihan lain."

Dan ia benar. Maya memang tak punya.

Maya menaiki tangga apartemen bagai boneka tanpa jiwa. Anak-anak tangga terasa lebih berat daripada biasanya. Bau sampah dari gang menampar wajahnya begitu ia membuka pintu. Kasur ibunya berderit ketika ia duduk di tepinya.

Ratna tertidur. Napasnya masih tersengal-sengal, tapi setidaknya ia bernapas. Maya membelai rambutnya, perlahan, agar tak membangunkannya.

"Semua akan baik-baik saja, Mama," bisiknya. "Maya janji."

Ia tak tahu apakah itu benar. Tak tahu apakah ia berhak mengucapkan janji itu. Tapi hanya itu yang bisa ia katakan.

* * *

Ia nyaris tak tidur, hanya dua jam.

Jam menunjukkan pukul empat dini hari ketika Maya menyerah pada kenyataan bahwa kantuk takkan datang. Ia bangkit, menghampiri jendela, dan menatap ke jalanan. Kawasan itu masih hidup, bahkan pada jam seperti ini. Ada yang bertengkar di apartemen bawah. Sebuah mobil lewat dengan musik menggelegar. Seekor anjing melolong ke bulan.

Maya duduk di ambang jendela, kedua kakinya berayun ke arah kehampaan, dan memandang jauh ke cakrawala. Di suatu tempat, di seberang kota, berdiri mansion Bara Prakoso. Di suatu tempat, ayahnya tidur di sebuah sel. Di suatu tempat, pamannya, Mahendra, merayakan kemenangannya tanpa tahu apa yang sedang mendekat.

Ia bertanya-tanya apakah ia telah mengambil keputusan yang benar.

Ia bertanya-tanya apakah ia sedang menjerumuskan jiwanya sendiri.

Desas-desus tentang Bara Prakoso sungguh mengerikan. Katanya, ia membunuh lawan pertamanya pada usia sembilan belas tahun, dengan tikaman pisau, dalam perkelahian jalanan. Katanya, ia pernah membakar gudang gerombolan musuh dengan orang-orang yang masih terkurung di dalamnya.

Katanya, tangannya berlumur darah yang takkan pernah bisa dibersihkan. Katanya, katanya, katanya. Di kalangan atas, semua orang membicarakannya dengan berbisik, seolah menyebut namanya keras-keras bisa memanggil kehadirannya.

Tapi katanya juga, ia tak pernah sekali pun ingkar janji. Bahwa mereka yang bekerja untuknya setia sampai mati karena ia pun setia kepada mereka. Bahwa ia berasal dari sebuah panti asuhan, pernah kelaparan, pernah tidur di jalanan, dan karena itulah ia begitu kejam tanpa ampun.

Mereka yang tak punya apa pun untuk hilang adalah yang paling berbahaya, ayahnya pernah berkata, waktu itu tentang seseorang yang kini tak lagi ia ingat. Sekarang Maya paham siapa yang dimaksud.

Maya menyandarkan dahi pada kaca yang dingin.

Ya Tuhan,* batinnya, aku tak tahu apa yang sedang kulakukan. Aku tak tahu apakah ini keberanian atau kegilaan. Tapi aku tak punya jalan lain. Aku tak punya apa-apa. Aku tak punya siapa-siapa.*

Dan laki-laki itu, Bara Prakoso, adalah satu-satunya yang berdiri di antara ayahku dan kegelapan.

Aku hanya berdoa semoga ia bukan monster seperti yang mereka bilang. Aku hanya berdoa semoga hal ini tak menggerogoti jiwaku.

Sebab ia sudah kehilangan rumahnya. Hartanya. Masa depannya. Nama baiknya. Kawan-kawannya.

Namun jiwanya... jiwanya adalah satu-satunya yang tersisa.

* * *

Matahari mulai mengintip ketika Maya mendengar bunyi di pintu.

Mula-mula ia mengira itu hanya khayalannya. Tapi bunyi itu terulang. Tiga ketukan tegas, berjeda, penuh keyakinan.

Ini bukan polisi. Polisi mengetuk dengan kasar, dengan wibawa. Ini bukan tetangga. Tetangga tak mengetuk, mereka berteriak. Ini bukan pengacara. Pengacara menelepon, tak muncul langsung di depan pintu pukul enam pagi.

Maya bangkit perlahan, otot-ototnya kaku akibat posisi buruk dan kurang tidur. Ia menyeberangi ruangan dengan meraba-raba, menghindari sofa, meja lipat, kardus-kardus yang belum sempat ia bongkar. Ia meletakkan tangan di gagang pintu, ragu sejenak, lalu membukanya.

Bara Prakoso berdiri di ambang pintu.

Setelan baru, kelabu tua, tersetrika sempurna. Rambut hitamnya disisir ke belakang, bekas luka di alisnya memutih di bawah cahaya remang lorong. Di tangannya, sebuah map kulit hitam. Map yang sama seperti malam sebelumnya.

"Pukul sembilan," ujarnya, seolah itu jawaban paling gamblang di dunia. "Saya tak mau Anda terlambat."

Maya mengerjap. Ia melirik jam dinding dapur: pukul enam lewat seperempat pagi.

"Masih ada dua jam empat puluh lima menit lagi."

Bara mengangkat bahu.

"Saya orang yang tepat waktu."

Maya nyaris tersenyum. Ia tak melakukannya. Tapi nyaris.

"Saya perlu berganti pakaian."

"Saya tunggu di bawah."

Bara berbalik dan menuruni tangga tanpa menoleh. Gema langkahnya bergaung di rongga lift yang rusak, memudar sedikit demi sedikit hingga lenyap.

Maya menutup pintu. Ia berdiri sejenak, bersandar pada daun pintu kayu, jantungnya berdebar keras di dada. Ini nyata,* batinnya. Semua ini nyata. Aku akan menikahi seorang mafioso. Ayahku akan keluar dari penjara. Ibuku akan tinggal di sebuah mansion. Dan aku... aku akan menjadi Nyonya Prakoso.*

Ia memandang bayangannya di cermin retak kamar mandi. Pantulannya terpecah, terbelah menjadi kepingan-kepingan yang tak sama. Satu Maya memandang ke atas. Yang lain ke bawah. Yang lain lagi miring, terpuntir, nyaris tak dikenali.

Ia menarik napas. Menyisir rambutnya dengan jari. Mengenakan pakaian paling tidak kusut yang ia temukan di dalam tasnya.

"Ayo, Maya," katanya pada diri sendiri, dengan ketegasan yang tak ia rasakan. "Tak ada jalan kembali."

Ia keluar dari apartemen, mengunci pintu, dan menuruni tangga.

Di luar, Maserati hitam itu menantinya dengan mesin yang sudah menyala.

Bara Prakoso bersandar di pintu penumpang, map terjepit di ketiak dan raut wajah yang bisa saja bermakna sabar atau bosan. Mustahil dibedakan.

"Siap?" tanyanya.

Maya mengangkat dagu.

"Tidak. Tapi tetap kita jalan."

Bara mengangguk, seolah itulah jawaban yang ia perkirakan. Ia membuka pintu, dan Maya naik ke mobil itu untuk kedua kalinya dalam kurun kurang dari dua belas jam.

Ketika Maserati melaju dan menghilang di jalanan kawasan yang masih terlelap, Maya tak menoleh ke belakang. Ia tak ingin melihat apartemen itu. Tak ingin melihat kawasan itu. Tak ingin melihat apa pun yang mengingatkannya pada semua yang ia tinggalkan.

Sebab di depan sana, di suatu tempat antara pengadilan dan kantor catatan sipil, sebuah hidup baru sedang menantinya.

Sebuah hidup yang ia pilih karena putus asa.

Sebuah hidup yang ia belum tahu apakah bisa ia lalui dengan selamat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!