Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Pasang badan
Sore harinya, hujan gerimis membungkus ibu kota dengan kabut tipis. Di kamar atas, Aura berdiri di depan cermin yang besar.
Setelah melewati pergolakan batin yang panjang, ia memilih menolak mengenakan gaun-gaun glamor milik Keisya yang tergantung di lemari utama.
Sebaliknya, ia memakai gaun miliknya sendiri, sebuah gaun anggun berwarna dusty rose dengan potongan sederhana namun elegan.
Aura memoles wajahnya dengan riasan tipis dan alami, hanya untuk menyamarkan jejak lelah serta lingkaran hitam di bawah matanya.
Ketika jam menunjukkan pukul enam sore, deru mesin mobil Fadil terdengar memasuki halaman rumah.
Aura menghela napas dengan cukup panjang untuk menguatkan hatinya, lalu berjalan turun menuruni tangga.
Di ruang tengah, Fadil sudah berdiri menunggu. Pria itu tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuksedo hitam yang terpotong rapi.
Namun saat pandangannya terangkat dan mendapati Aura melangkah turun, langkah Fadil mendadak terhenti.
Matanya mengunci sosok Aura dari atas hingga bawah. Ada sedikit keterkejutan di sorot matanya saat melihat Aura memilih menjadi dirinya sendiri alih-alih tampil dengan gaya Keisya yang biasa ia kenal.
"Sudah siap?" tanya Fadil dengan suara rendahnya, seraya merapikan lengan kemejanya.
"Sudah, Mas," jawab Aura sambil menundukkan pandangannya.
"Ingat pesanku," ujar Fadil seraya melangkah mendekat, dan memberikan arahan dengan nada yang sangat formal. "Di dalam nanti, cukup tersenyum dan jawab seperlunya. Jangan melakukan apa pun yang memancing pertanyaan dari kolega bisnisku."
"Baik, Mas. Aku paham."
_______
Gedung resepsi mewah di kawasan Jakarta Selatan itu dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari kalangan pengusaha dan pejabat. Lampu kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan yang megah, diiringi alunan musik orkestra yang lembut.
Saat melangkah memasuki area ballroom, Fadil mengulurkan siku tangannya. Aura sempat ragu, namun akhirnya ia melingkarkan jemarinya secara perlahan di lengan jas Fadil.
Sentuhan itu terasa dingin dan kaku, namun di mata publik yang melihatnya, mereka tampak seperti pasangan pengantin baru yang serasi.
"Fadil! Wah, akhirnya datang juga!"
Seorang pria paruh baya berkacamata, rekan bisnis utama Fadil, menyapa hangat seraya menjabat tangan Fadil. Matanya kemudian beralih menatap Aura dengan senyum yang ramah. "Dan ini... istri barumu? Cantik sekali, Fadil. Selamat atas pernikahan kalian ya ..."
"Terima kasih, Pak Haryo," jawab Fadil dengan senyum profesional yang diukir dengan sangat sempurna di bibirnya. "Maaf, saat itu terlalu sibuk jadi saya tidak terlalu menyambut kedatangan Anda."
"Ah, tidak apa-apa! Yang penting kalian berdua sudah sah dan bahagia," puji Pak Haryo seraya menepuk bahu Fadil.
Aura hanya mengulas senyum tipis yang sopan, sambil mengangguk kecil tanpa menambahkan kata-kata, persis seperti yang diminta Fadil.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Dari sudut ruangan lain, beberapa rekan wanita dari lingkaran pertemanan Keisya kini melangkah mendekati mereka. Salah satu dari mereka menatap Aura dengan pandangan yang menilai.
"Lho, ini bukannya Aura? Adiknya Keisya?" bisik salah satu wanita bergaun merah itu cukup nyaring. "Bukannya kemarin yang mau nikah sama Fadil itu Keisya, ya?"
Atmosfer di sekitar mereka mendadak tegang. Jemari Aura yang melingkar di lengan Fadil refleks meremas kain jas pria itu, karena rasa panik mulai menguasai hatinya.
Fadil pun merasakannya. Tanpa merubah raut wajahnya yang tenang, Fadil menggeser posisinya sedikit ke depan, lalu merangkul pinggang Aura dengan gerakan yang begitu protektif dan alami di hadapan orang-orang tersebut.
"Keisya mendadak harus fokus pada studinya di luar negeri," potong Fadil dengan suara yang tegas. "Dan Aura adalah wanita yang dipilih oleh keluarga kami untuk mendampingiku. Kami sangat bahagia."
Tatapan mata Fadil yang mengintimidasi membuat para wanita itu bungkam seketika dan memilih mengundurkan diri seraya mengucapkan selamat yang kaku.
Aura nampak tertegun. Ia lalu menengadah dan menatap rahang tegas Fadil dari samping. Ada desiran aneh di dalam hatinya saat merasakan rangkulan hangat di pinggangnya serta cara pria itu pasang badan membela statusnya di depan publik.
Meskipun ia tau jika itu semua hanyalah sandiwara demi menyelamatkan reputasi.
Saat mereka berdua berjalan menuju sudut ruangan yang lebih sepi untuk mengambil minuman, Fadil perlahan melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Aura.
"Terima kasih sudah tidak membuat keributan," ujar Fadil terdengar datar, lalu memalingkan wajahnya seraya meminum segelas air mineral.
Aura menatap suaminya dengan sorot mata yang melunak dan membalas, "Terima kasih juga, Mas... sudah membelaku tadi."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣