Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Xuan Ling
"Apakah kau akan memberikan Lempengan itu kepada Serangga Pelangi?" tanya Ping Yue tak percaya, matanya melirik lempengan yang semula digenggam Ye Hu.
"Tidak," jawab Ye Hu tenang, lalu menyimpannya kembali ke dalam cincin penyimpanannya.
"Bagaimana kau tahu bahwa lempengan itu terbuat dari batu yang jatuh dari langit?" Ru Shun tak kuasa menahan rasa penasaran.
"Dalam catatan sejarah Xuan Ling, lempengan itu ditemukan dari batu yang jatuh dari langit," ucap Ye Hu santai. Ia tentu saja tak akan mengaku bahwa dialah yang menemukannya sendiri sepuluh ribu tahun silam, ketika batu meteor itu menghantam puncak gunung tempat ia bertapa. "Batu itu memiliki struktur energi yang berbeda dari apa pun yang ada di dunia fana ini. Itulah sebabnya ia bisa berubah ukuran sesuka hati."
"Baiklah, sekarang bagaimana kita melewati kawanan serangga itu?" Ping Yue kembali menatap ribuan makhluk berwarna-warni yang melayang tak jauh dari mereka, seakan menunggu saat yang tepat untuk menyerang.
"Ada dua cara," jawab Ye Hu tegas. "Pertama — menaklukkan Ratunya."
Ye Hu lalu berdiri tegak, menatap lurus ke arah pusat kawanan. Ia melepaskan sedikit aura, dan perlahan seekor serangga yang jauh lebih besar dari yang lain melayang mendekat. Tubuhnya memancarkan tujuh warna pelangi yang berkilauan — Ratu Serangga yang baru. Dulu, Xuan Ling pernah menaklukkan pendahulunya, namun kini Ratu lama telah tiada, digantikan penguasa baru yang jauh lebih kuat.
Ye Hu menggigit ujung jarinya, membiarkan darah segar menetes keluar. Ia mengulurkan tangan ke arah Ratu itu, menawarkan darahnya sebagai tanda perjanjian. Ratu Serangga itu melayang mendekat, menatapnya sejenak dengan sepasang mata permata, lalu perlahan berbalik dan kembali ke tengah kawanan.
"Dia… menolak," kata Ping Yue sambil menahan tawa tipis, namun nada suaranya penuh kekaguman terhadap makhluk itu.
"Kekuatanku masih terlalu rendah baginya," ucap Ye Hu tanpa kecewa. "Dia tak tertarik."
"Kalau begitu biar aku yang mencoba," Ru Shun maju selangkah, hatinya berbisik — jika ia bisa menaklukkan makhluk ini, maka akan mendapatkan dukungan binatang ilahi maka lawan diatas tingkatnya pun bukan jadi masalah, Ia juga menggigit jarinya dan menawarkan darahnya. Ratu itu kembali mendekat, mencium bau darah itu, lalu sekali lagi berbalik pergi. Ia pun ditolak.
"Cara pertama gagal, bahkan darah Core Formation pun di tolaknya," sambung Ping Yue. "Sekarang coba cara kedua."
"Cara kedua — kita berlari menyeberangi lapangan ini sambil melemparkan Batu Roh sebanyak-banyaknya," ucap Ye Hu. "Jangan pelit. Semakin banyak semakin baik!"
Mereka semua paham bahwa serangga itu akan memilih antara memakan manusia atau batu roh.
Tanpa menunggu jawaban, Ye Hu langsung berlari masuk ke area lapangan. "Jangan ada yang terbang! Biarkan Batu Roh jatuh di tanah dan memancing mereka!"
"Kau tidak memberi aba-aba dulu, brengsek!" seru Ping Yue yang segera mengikuti berlari di belakangnya sambil tertawa sekaligus kesal.
Ye Hu tersenyum tipis. Ia memiliki tumpukan Batu Roh hasil lelang sebelumnya, jadi baginya membuang puluhan batu roh bukan masalah. Ping Yue seorang Puteri Kerajaan tentu juga tak kekurangan. Hanya Ru Shun yang mengerang dalam hati — ia merasa sangat sayang membuang Batu Roh berharga begitu saja.
Serangga-serangga pelangi itu langsung bergerak mengejar mereka, namun begitu Ye Hu melemparkan segenggam Batu Roh, seluruh kawanan itu berbelok dan menyelimuti batu itu, melahapnya dalam sekejap mata. Ye Hu terus melemparkan lagi dan lagi, memberi jarak bagi mereka untuk berlari.
"Serangga ini tidak beracun!" seru Ye Hu di tengah lari. "Tapi jika terkena gigitannya maka tubuh akan bentol-bentol dan membesar lalu sirkulasi energi dalam tubuh akan terganggu dan butuh waktu lama untuk pulih! Dan hati-hati — perisai energi pun bisa mereka makan!"
"Paman yang paling kuat energinya diantara kita, itu akan menjadi sasaran empuk. " Mendengar itu, Ru Shun yang tadinya berniat hemat langsung melemparkan Batu Roh dalam jumlah besar. Ia tak ingin jatuh di tempat ini karena pelit.
Mereka akhirnya sampai di ujung lapangan walau mengorbankan banyak batu roh. Mereka melangkah masuk ke sebuah terowongan panjang yang lantainya dihiasi formasi kuno. Begitu kaki mereka melangkah masuk, batu-batu penerang di dinding langsung menyala satu per satu secara otomatis, menerangi jalan yang telah gelap ribuan tahun. Di ujung terowongan itu terdapat ruangan yang sangat terang — ruangan yang diimpikan banyak orang sepanjang hidup mereka. Di tengah ruangan itu berdiri empat patung raksasa yang menjaga empat penjuru.
Ru Shun dan Ping Yue mengaggumi pemandangan itu.
Patung Yang pertama adalah pria gagah memegang pedang panjang di pangkuannya.
Yang kedua seorang wanita memegang botol labu sambil meneguk arak.
Yang ketiga seorang wanita berdua pedang, mengenakan zirah lengkap, dan sekumpulan anak panah terselip di punggungnya.
Yang keempat seorang pria berwajah jenaka, duduk bersila di atas tungku api berkaki tiga.
"Ini adalah keempat murid Xuan Ling," ucap Ye Hu pelan namun penuh hormat.
Ru Shun tak terlalu tertarik pada sejarah — matanya terpaku pada sepasang pintu besar di dinding tepat di belakang keempat patung itu. Itu pasti jalan menuju ruang harta. Namun Ping Yue justru berjalan mendekati patung ketiga.
"Itu Kwan Cen," kata Ye Hu mendekat. "Murid ketiga Xuan Ling. Dan salah satu pemilik lempengan yang kau pegang."
Ping Yue terpaku menatap wajah patung itu seakan ada kenangan yang terbangun.
"Kau pernah berjanji akan menceritakan bagaimana kau mendapatkan lempengan itu," ucap Ye Hu lembut.
Ping Yue mengangguk pelan, "Baiklah ... Aku akan menceritakan sekarang. "
lalu mulai bercerita.
"Aku dulunya adalah murid dalam di Sekte Mega Biru. Di tengah sekte kami berdiri sebuah patung raksasa wanita yang sangat dihormati. Di dadanya tertempel plakat emas bertuliskan 'Sekte Mega Biru'. Semua orang menyebut patung itu Leluhur Peri Mega Biru — pendiri sekte kami yang dikatakan telah naik ke dunia atas seribu tahun lalu."
Ping Yue berhenti sejenak, matanya menerawang ke masa lalu.
"Namun sejak aku mencapai Foundation Establishment, hal aneh mulai terjadi. Setiap kali aku mendekati patung itu, aku mendengar namaku dipanggil. Tak ada orang lain yang mendengarnya. Suatu malam saat aku bermeditasi di sana, kesadaranku tiba-tiba terseret masuk ke dalam lautan jiwa — dan di sana, Leluhur Peri Mega Biru berdiri di hadapanku. Dia menyuruhku mencabut plakat emas di dadanya dan mengambil benda di baliknya. Dia juga berpesan bahwa benda itu ada sepasang, dan suatu hari nanti aku harus menemukan pasangannya."
Ping Yue menarik napas panjang. "Di balik plakat itu, aku menemukan lempengan pertama. Dan anehnya — setiap kali aku bermeditasi memegangnya, aku bisa merasakan keberadaan lempengan satunya lagi. Aku mencari jawaban di perpustakaan sekte, namun tak ada satu catatan pun tentang benda itu. Akhirnya aku pulang ke Kerajaan dan bertanya kepada ahli sejarah. Mereka menduga itu adalah bagian dari peta harta karun kuno. Saat aku hendak berangkat mencarinya, Ibu mengutus Paman Ru Shun untuk mengawal. Jejak lempengan itu membawaku ke Kota Awan — ke tempat lelang Kakak Mu Yan, dan di sanalah kita akhirnya bertemu."
Ye Hu tersenyum tipis. "Sedangkan lempengan kedua… pemiliknya adalah seorang petani yang menemukannya di ladangnya. Ia menjualnya ke seorang pandai besi, namun pandai besi itu tak bisa meleburnya menjadi senjata. Hingga seorang pedagang senjata datang berkunjung hendak membeli senjata namun secara tak sengaja dua melihat lempengan itu dan membelinya. Lalu dibawa ke Kota Awan untuk dilelang, karena ia yakin benda itu bukan benda biasa."
"Jika lempengan pertama milik Kwan Cen… lalu siapa pemilik lempengan kedua?" tanya Ping Yue.
"Itu milik murid kedua — Lin Cing," jawab Ye Hu sambil menunjuk patung wanita yang sedang memegang labu arak.
Ping Yue terdiam sejenak, lalu berkata, "Jika Leluhur Kwan Cen memilihku untuk datang ke sini… berarti ada sesuatu yang ditujukan untukku di tempat ini."
Ye Hu mengangguk. "Mari kita tukar lempengan. Yang kau pegang adalah milik Lin Cing. Dan yang kupunya milik Kean Cen, leluhurmu. Mungkin Leluhurmu ingin menyampaikan sesuatu lewat lempengan itu. ."
Mereka saling bertukar lempengan. Begitu lempengan itu berpindah tangan, cahaya tipis menyala di permukaannya seakan mengenali tuannya.
"Sekarang, bermeditasilah di hadapan patung ini," kata Ye Hu. "Gunakan lempengan itu bersama beberapa Batu Roh tingkat menengah atau tinggi. Biarkan lempengan itu menuntunmu."
Ping Yue duduk bersila tepat di depan patung Kwan Cen, meletakkan lempengan di pangkuannya, dan mulai bermeditasi. Sementara itu, Ru Shun kembali bertanya sambil menunjuk pintu besar di belakang patung-patung itu, "Bagaimana dengan pintu ini? Sudah kubuktikan tak bisa dibuka dengan cara biasa."
Ye Hu tersenyum tipis, menatap pintu itu dengan tatapan penuh kenangan. "Bersabarlah. Semua punya waktunya sendiri."
"Sungguh tak sabaran. " pikir Ye Hu dalam hati.