Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Pagi hari di kediaman Halvar berjalan seperti biasanya.
Aroma sarapan memenuhi ruang makan. Danendra sibuk membaca berita dari tablet miliknya, sementara Livia sesekali melirik Lionel yang sejak tadi memainkan sendok di tangannya.
“Kalau sendok itu sampai rusak, Mama suruh kamu beli sendiri, Lio.”
Lionel yang masih memainkan sendok tersebut langsung berhenti. Ia meletakkannya di atas meja sambil memasang wajah polos.
“Aku cuma memastikan kualitasnya, Ma.”
Livia langsung menatapnya.
“Memastikan kualitas atau mencari alasan?”
“Dua-duanya boleh, kan?”
“Banyak alasan.”
Leonard yang duduk di sebelahnya hanya menggeleng pelan. Entah dari mana Lionel selalu punya jawaban untuk setiap teguran yang diberikan kepadanya.
Sementara itu, Faresta dan Lucas yang baru bergabung beberapa menit lalu terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. Sepertinya, urusan di rumah sakit sudah cukup menguras tenaga keduanya.
Livia kemudian melirik ke arah kursi yang masih kosong.
“Oh iya, dimana Elara?”
“Sepertinya masih bersiap,” jawab Faresta sambil mengambil gelas di hadapannya. “Pintu kamarnya masih tertutup.”
Livia mengangguk kecil.
“Lio, tolong panggil Elara.”
Lionel yang baru saja hendak mengambil makanan langsung berhenti.
“Kenapa harus aku, Ma?”
“Karena Mama menyuruh kamu.”
“Tapi Elara bisa datang sendiri.”
Livia menghela napas. “Panggil adikmu sekarang, Lio.”
Lionel memasang wajah malas. “Dia bisa muncul tanpa dipanggil kalau mau.”
Danendra akhirnya menurunkan tabletnya dan menatap putranya.
“Lakukan saja apa yang Mama suruh.”
Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Lionel langsung mengurungkan niatnya untuk membantah.
“Iya, iya.”
Ia bangkit dari kursinya dengan berat hati.
Sebelum pergi, Lionel sempat menatap meja makan yang penuh makanan dengan tatapan penuh penyesalan.
“Padahal aku baru mau makan.”
Leonard terkekeh kecil.
“Kalau kelamaan, nanti makanannya habis.”
Lionel langsung menoleh tajam.
“Sudah sana, cepat!" ujar Leonard.
Dengan langkah malas, Lionel akhirnya meninggalkan ruang makan. Sesekali ia masih menoleh ke belakang, seolah lebih berat meninggalkan sarapan daripada menjalankan perintah ibunya.
Namun, baru beberapa langkah Lionel berjalan meninggalkan ruang makan, suara keras tiba-tiba terdengar dari arah depan rumah.
Semua orang langsung terdiam.
Lucas menoleh ke arah pintu. “Suara apa itu?”
“Entahlah.” Faresta langsung berdiri. Tatapannya mengarah ke ruang depan. “Sepertinya ada yang membuka paksa pintu utama.”
“Jangan-jangan maling!” seru Lionel panik.
Pemuda itu langsung berlari lebih dulu tanpa menunggu siapa pun.
“Lio, tunggu!” teriak Leonard.
Namun Lionel sudah lebih dulu menghilang dari pandangan.
Keluarga Halvar yang lain akhirnya ikut menyusul dengan langkah cepat.
“Astaga, Elara!” Teriakan Lionel terdengar dari ruang tamu.
Langkah mereka semua semakin cepat. Begitu sampai di sana, mereka langsung mengerti kenapa Lionel berteriak.
Elara berdiri dengan tenang di depan pintu.
Sementara di lantai, seorang wanita dalam kondisi berantakan sedang berusaha melepaskan diri. Tangan dan kakinya terikat, sedangkan mata serta mulutnya tertutup.
Entah bagaimana caranya Elara membawa wanita itu kemari, tetapi melihat kondisinya, sepertinya gadis itu memang tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk wanita tersebut melawan.
Lucas langsung membeku. Ia mengenali wajah itu dalam sekejap.
“Vanessa?”
Mendengar namanya dipanggil, Vanessa langsung bergerak semakin liar. Ia berusaha mengeluarkan suara dari balik penutup mulutnya, tetapi tidak ada satu kata pun yang terdengar jelas.
Sementara Elara hanya berdiri di sampingnya dengan wajah tenang.
Seolah membawa seorang wanita yang baru saja menjadi buronan ke rumah bukanlah sesuatu yang aneh.
Livia menatap Lucas dengan bingung. “Lucas, kamu kenal wanita ini?”
Lucas tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Vanessa.
“Dia anak direktur rumah sakit.”
Mata Livia langsung membesar. Sesaat kemudian, amarah mulai terlihat jelas di wajahnya.
Jadi, wanita inilah yang berusaha menghancurkan nama baik putranya.
Livia langsung melangkah menghampiri Vanessa. Dengan gerakan cepat, ia menarik penutup yang menutupi mata wanita itu.
Vanessa bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi ketika tangan Livia sudah lebih dulu mendarat di pipinya.
Plak!
Kepala Vanessa langsung menoleh ke samping.
“Apa maksud kamu ingin menjatuhkan anak saya, hah?” bentak Livia.
Vanessa hanya terdiam. Pipinya terasa semakin panas.
Livia menatapnya dengan penuh amarah.
“Apa hidup kamu tidak punya hal lain yang lebih berguna sampai hanya karena ditolak, kamu hampir membuat anak orang lain kehilangan nyawa?”
Vanessa mengepalkan tangannya yang masih terikat.
Livia kembali mengangkat tangan. Namun, tepat saat tamparan kedua hendak mendarat, gerakannya mendadak terhenti.
Tangannya kaku di udara.
Livia mencoba menggerakkannya, tetapi tetap tidak berhasil. Keningnya langsung berkerut sebelum akhirnya menoleh ke arah Elara.
Mata hijau gadis itu menyala terang, sementara ekspresinya tetap tenang seperti biasa.
“Elara, lepaskan tangan Mama, Nak.” Livia masih terbawa emosi saat kembali menatap Vanessa. “Mama belum selesai memberi wanita ini pelajaran.”
“Polisi sebentar lagi datang.”
Suara Elara terdengar datar.
“Aku membawanya ke sini hanya untuk memperlihatkan wajah pelakunya kepada kalian, bukan untuk menyiksanya.”
Perlahan, cahaya di mata Elara mulai meredup. Warna hijau itu kembali seperti semula, menenangkan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
“Lagipula, aku sudah memberinya pelajaran.”
Tatapan Elara beralih pada Vanessa.
“Wajah cantik yang dia banggakan itu sudah dipenuhi lebam. Dia akan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih.”
Ucapan itu membuat semua orang kembali menatap Vanessa.
Barulah mereka benar-benar memperhatikan kondisi wanita tersebut.
Wajahnya terlihat mengenaskan. Bibirnya pecah, salah satu matanya membiru, sementara beberapa bagian wajahnya dipenuhi memar yang belum menghilang.
Bahkan luka lebam yang pernah dialami Arga waktu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kondisi Vanessa sekarang.
Sepertinya Elara benar-benar memberikan pelajaran yang akan diingat wanita itu seumur hidup.
Lucas kemudian melangkah mendekat. Tanpa mengalihkan pandangan dari Vanessa, ia melepaskan kain yang menutupi mulut wanita itu.
“Katakan,” ujar Lucas dingin. “Kenapa kamu melakukan hal segila ini kepadaku?”
Vanessa mengangkat wajahnya perlahan.
Pipinya masih terasa panas akibat tamparan Livia, tetapi sorot matanya tetap tajam.
Beberapa detik kemudian, wanita itu justru tertawa.
Tawanya menggema di ruang tamu yang sebelumnya dipenuhi keheningan. Membuat seluruh anggota keluarga Halvar saling berpandangan.
“Karena aku membencimu.” Tawanya berhenti. Nada suara Vanessa berubah dingin. Tatapannya menatap Lucas penuh dendam.
Lucas mengernyit. “Kamu membenciku hanya karena aku menolakmu?”
“Lebih dari itu!” Vanessa langsung membentak. “Kamu membuatku terlihat seperti orang bodoh, Lucas!”
Napasnya terdengar berat. Namun, ia tetap menatap Lucas tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.
“Aku mencintaimu selama bertahun-tahun. Semua orang tahu bagaimana aku mengejarmu. Tapi kamu selalu menghindariku.”
Vanessa tertawa kecil, tetapi kali ini terdengar getir.
“Berkali-kali aku mencoba mendekat, dan berkali-kali juga kamu menolakku.”
Tatapannya semakin tajam.
“Kenapa?”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Kenapa kamu tidak pernah mau memilihku, padahal aku sudah ada di depan matamu selama ini?”
Lucas terdiam sesaat.
Ia mengembuskan napas kasar. Entah harus dengan cara apa lagi ia menjelaskan hal yang sama kepada wanita ini. Berkali-kali sudah ia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah memiliki perasaan apa pun kepada Vanessa, tetapi wanita itu seolah tidak pernah mau mendengarkan.
“Dengar, Vanessa.”
Lucas menatapnya tajam. “Aku tidak pernah memiliki perasaan seperti itu kepadamu. Sedikit pun tidak pernah.”
Ia berhenti sejenak, berusaha menahan emosinya.
“Fokusku sekarang hanya mengejar karier, bukan percintaan. Harus berapa kali aku mengatakan hal yang sama? Apa kamu benar-benar tidak bisa memahami kalimat sesederhana itu?”
Wajah Vanessa seketika semakin pucat. Namun, bukannya sadar, ekspresinya justru berubah semakin keras.
Vanessa tertawa kecil. “Lihat? Kamu selalu seperti itu.”
Lucas mengernyit. “Seperti apa?”
“Merendahkanku.”
“Aku tidak merendahkanmu.” Lucas menghela napas pelan. “Aku hanya mengatakan kenyataan.”
“Kenyataan?” Vanessa kembali tertawa. Kali ini tawanya terdengar getir.
“Kenyataannya, aku sudah melakukan segalanya untukmu!”
Lucas menggeleng pelan. “Tidak. Kamu melakukan semua itu untuk dirimu sendiri.”
Vanessa langsung terdiam.
Lucas kemudian melangkah mendekat. Ia membungkukkan tubuhnya, menyamakan posisi wajah mereka.
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan mencoba menghancurkan hidupku.”
“Aku—”
“Dan kalau kamu benar-benar mencintaiku...” potong Lucas dengan suara yang semakin dingin, “...kamu tidak akan mempertaruhkan nyawa orang lain hanya karena aku menolakmu.”
Vanessa menatapnya tanpa Berkedip.
Lucas mempertahankan tatapannya.
“Vanessa, itu bukan cinta.”
Tatapannya semakin tajam. “Itu obsesi.”
Untuk pertama kalinya, ketegangan di wajah Vanessa perlahan melemah.
Namun, hanya sesaat.
Beberapa detik kemudian, wanita itu kembali mengangkat dagunya. Sudut bibirnya bahkan terangkat membentuk senyum tipis.
“Kalau begitu, aku tidak menyesal.”
Kening Faresta langsung berkerut.
“Apa maksudmu?”
Vanessa mengalihkan pandangannya kepada Faresta.
Senyumnya tidak menghilang. “Aku tidak menyesal sudah melakukannya.”
Ruangan seketika hening. Tidak ada satu pun anggota keluarga Halvar yang langsung mampu memberikan jawaban.
Sementara Vanessa hanya tersenyum kecil.
Seolah apa yang telah dilakukannya bukanlah sesuatu yang perlu disesali.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔